Egan

Pengaruh obat bius itu mulai menghilang, Kala kini perlahan mendapatkan kesadarannya kembali. Namun penglihatan pemuda itu masih berbayang dan ia masih merasa pusing.

"Egan?"

Kala bergumam, sebab ia melihat ada sosok yang berdiri mematung di ujung tempat tidur. Cahaya remang lampu kamar membuat sosok itu tak begitu jelas terlihat. Sementara jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.

Ia pingsan tak begitu lama. Namun karena kejadian tadi berlangsung di waktu yang cukup malam, maka ia terbangun di jam yang sudah larut.

"Egan?"

Kala memanggil Egan.

"Apa Kal?"

Egan menjawab, namun suara remaja itu terdengar dari luar kamar. Sedang sosok Egan yang berdiri di ujung tempat tidur, tetap berdiri mematung. Menatap Kala dengan dingin.

Kala pun mengucek mata dan melihat sosok itu sekali lagi. Sosok yang ia lihat benar adalah Egan yang tengah terdiam membisu.

"Egaaan."

Suara Kala makin keras memanggil.

"Lo kenapa?. Gue nggak akan buka pintu sebelum papa pulang."

Jawaban Egan tetap terdengar dari luar kamar, meski sosoknya ada di dalam. Dan tiba-tiba saja sosok yang di ujung tempat tidur itu tertawa, lalu mendekat secara cepat. Sontak Kala pun panik dan melempar apa saja yang ia raih dari sekitar.

"Baaak."

"Buuuk."

"Braaak."

"Praaang "

Egan membuka pintu, tampak Kala begitu panik sambil melihat ke suatu arah.

"Lo kenapa Kal?" tanya nya kemudian.

"Lo..." ujar Kala dengan suara terengah dan penuh ketakutan.

"Lo tadi berdiri disini, Gan. Lo tadi berdiri disini." ujarnya mengulangi.

Kala terlihat kacau. Egan pun terdiam, sebab tak ada siapa-siapa disana kecuali dirinya dan Kala. Tak lama bik Marni muncul dan bertanya.

"Ada apa mas Egan, mas Kala?" tanya bik Marni pada mereka.

Egan masih menunggu penjelasan lanjutan dari Kala, sementara wajah Kala kian bertambah pucat. Tak ada yang menjawab pertanyaan bik Marni.

"Maksud lo apa, Kal?" Egan tak sabar mengetahui kejadian yang sebenarnya.

"Lo tadi berdiri disini, di depan gue. Tapi lo diem aja, dan malah bersuara dari luar." jawab Kala.

"Emang gue lagi ada di luar kan." ujar Egan.

"Tapi lo disini, di depan gue." Kala bersikukuh.

"Oke, lo tenang dulu. Bik tolong bikinin minuman hangat buat Kala." pinta Egan.

"Baik, bibik buatkan sekarang." ujar bik Marni kemudian berlalu.

"Lo duduk, tarik nafas dalam-dalam." Egan meminta pada Kala.

Remaja itu lalu duduk di pinggiran tempat tidur. Egan memberinya segelas air putih dari galon dan dispenser, yang tadi sudah ia pindahkan ke kamar tersebut.

"Nih minum!" ujarnya kemudian.

Kala pun mengambil dan mereguk air putih tersebut hingga nyaris habis.

"Tadi lo ngeliat ada sosok kayak gue?" tanya Egan.

Kala mengangguk.

"Dia ngapain?" tanya nya lagi.

"Dia diem aja disini, tapi mukanya pucat. Gue pikir emang elo, makanya gue panggil. Tau-taunya lo jawab dari luar."

"Lo mimpi kali." ujar Egan.

"Gue nggak mimpi, Gan. Gue tuh udah bangun."

"Pengaruh obat bius tadi mungkin."

Kala menghela nafas. Apa mungkin efeknya bisa membuat orang berhalusinasi, gumamnya.

"Nggak tau deh, pokoknya tadi gue ngeliat lo tadi disini jelas banget." jawab Kala.

Egan masih memperhatikan sekitar dan memang tak ada siapapun disana. Bahkan ia sampai mengecek ke kamar mandi. Tak lama kemudian bik Marni datang.

"Ini bibik buatkan susu untuk kalian berdua." ujar wanita itu.

"Makasih bik." tukas Egan .

"Tadi itu kenapa?" tanya bik Marni penasaran.

"Kala bik, dia ngeliat Egan disini. Padahal Egan di luar." Egan menjelaskan.

"Maksudnya, makhluk lain menyerupai mas Egan gitu?" tanya bik Marni lagi.

Kala mengangguk.

"Tempo hari dia ngeliat yang menyerupai bik Marni. Malam-malam di tangga dan di atas." lanjut Egan.

Bik Marni yang masih percaya hal gaib itu pun mendadak merinding.

"Bahaya kalau sampai bisa menyerupai seperti itu, mas. Kayak kejadian di kampung bibik." ujar bik Marni.

Kala dan Egan kini menoleh dan memperhatikan bik Marni.

"Emang ada cerita apaan bik, di kampungnya?" tanya Egan.

"Kampung bibik itu jauh dari mana-mana, termasuk dari pusat kesehatan. Hanya ada satu puskesmas yang mencakup wilayah beberapa kecamatan. Nah disana, karena akses menuju puskesmas itu jauh. Masih banyak orang yang menggunakan jasa dukun beranak, kalau ada yang mau melahirkan." jawab bik Marni.

Kala dan Egan menyimak.

"Terus ada kejadian orang mau melahirkan, suaminya manggil dukun beranak. Tapi tiba-tiba dukun beranaknya datang sendiri. Dia pikir suaminya saat itu sedang pergi ke belakang, jadi dia nurut saja waktu dukun beranak itu menolong dia. Ternyata dukun beranaknya itu kuntilanak, anaknya dibawa pergi ke atas pohon sambil cekikikan."

Bulu kuduk Kala dan Egan kian merinding.

"Terus bik, gimana akhirnya?" tanya Egan.

"Untungnya si dukun beranak yang asli sama suaminya si perempuan itu datang, nggak lama setelah kejadian. Akhirnya si suami minta tolong warga dan orang pintar. Istrinya masih selamat dan bayi itu kembali."

"Duh, parah sih." ujar Egan.

"Tiiin."

Tiba-tiba terdengar suara klakson dari luar pagar. Bik Marni, Kala, dan Egan sontak terkejut.

"Itu siapa bik yang datang?" tanya Egan seraya keluar dari kamar Kala, bik Marni pun demikian.

"Bapak mungkin." jawab bik Marni, lalu turun.

Tak lama ia membuka pintu, dan Enrico masuk bersama Philip. Terdengar suara dua orang pria itu tengah berbicara sesuatu, sementara Egan melihat dari lantai atas.

"Braaak."

Tiba-tiba pintu kamar Kala ditutup dan dikunci dari dalam, Egan kaget lalu mendekat.

"Kal, kala."

Egan mengetuk pintu kamar remaja itu, namun ia tak menjawab. Egan tau ini bukan perkara makhluk halus lagi, tapi Kala sendirilah yang menutup pintu kamarnya. Lantaran ia tampaknya telah mendengar suara Philip.

"Kal, buka pintunya!. Lo nggak boleh kayak gini, jangan sampai papa tau kalau lo udah tau siapa om Philip."

Kala tetap tak menjawab.

"Kal."

"Egan."

Enrico baru tiba di lantai dua bersama Philip dan ia menyapa sang anak.

"Pa." ujar Egan seraya menyimpan ketakutan di wajahnya.

Ia takut ayahnya akan mempertanyakan perihal Kala, sedang Kala saat ini sedang tidak mau bertemu dengan Philip.

Egan mengetuk pintu kamar Kala tadi, karena ingin menyuruh anak itu untuk bersikap biasa saja. Serta berpura-pura tidak tahu jika Philip adalah ayahnya.

Namun agaknya Kala tak bisa menyembunyikan kemarahannya terhadap Philip.

"Kala mana?" tanya Enrico pada Egan.

Remaja itu pun sedikit gelagapan.

"Mmm, Kala di dalam pa." jawabnya kemudian.

"Tidur apa gimana?. Papa sama om Philip mau bicara sama dia."

Enrico mendekat ke arah pintu kamar Kala.

"Pa."

Egan menghalangi ayahnya itu.

"Kenapa?" tanya Enrico heran.

Egan sepertinya hendak mengatakan sesuatu, namun berat. Sementara Philip memperhatikan keduanya.

"Ini salah Egan, pa." ujar Egan kemudian.

"Iya kenapa?" tanya ayahnya penuh curiga.

Egan diam.

"Egan?"

Egan menghela nafas, lalu menjawab.

"Kala udah tau kalau om Philip ayahnya dia."

Seketika Enrico dan Philip pun kaget mendengar semua itu. Padahal sepanjang perjalanan pulang, mereka berdua sudah menyiapkan rencana secara matang. Dimana mereka akan mengatakan hal tersebut pada Kala secara bertahap dan perlahan.

"Gimana bisa, Egan?"

Enrico tampak kecewa pada puteranya itu. Egan pun sejatinya sangat-sangat merasa bersalah akan hal ini.

"Kala ikut, waktu Egan ngambil file di apartemen om Philip. Dan dia liat foto om Philip waktu masih seumur dia."

Enrico menghela nafas sambil memejamkan matanya sejenak.

"Turun ke bawah, kita perlu bicara." ujar Enrico dengan nada tegas, sambil menahan emosi.

"Ric, udahlah. Biar gue yang bicara sama Kala." tukas Philip kemudian.

Enrico mengangguk, ia sempat melirik sekilas ke arah Egan sebelum akhirnya berlalu meninggalkan tempat itu. Egan yang merasa bersalah, mencoba menyusul Enrico untuk meminta maaf. Sedang kini Philip mendekat ke arah kamar sang anak.

Terpopuler

Comments

Sky Blue

Sky Blue

deg deg aq bcanya🥲🥲🥲

2022-01-02

3

Jodi Wek Wek

Jodi Wek Wek

kayak uji nyali ya

2021-12-22

1

mommytwins

mommytwins

baca nya berasa lagi ikut uji nyali..🤭🤭

2021-12-18

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!