"Sebaiknya kalian tidak usah berhubungan, berteman saja. Kita ini berbeda segalanya."
"Tapi mi."
"Philip, kamu akan mami dan papi jodohkan dengan anak dari teman kami. Sebaiknya kamu antar perempuan ini pulang!."
"Mi, kami saling mencintai satu sama lain."
"Philip, dengarkan mami mu bicara. Perempuan ini tidak pantas masuk ke dalam keluarga kita."
"Pi, apa salahnya kalau Philip mencintai dia?"
"Maaf om, tante, saya permisi."
"Tri tunggu, jangan pergi."
"Tri..."
"Haaah."
"Hhhh."
"Hhhh."
Dokter Philip terbangun dari mimpinya yang begitu menyesakan dada. Sudah enam belas tahun berlalu, namun ia masih saja teringat pada peristiwa hari itu. Bahkan masih terbawa sampai ke dalam mimpi.
Padahal ia adalah dokter spesialis kejiwaan, namun terkadang ia tidak bisa menghandle permasalahan dalam jiwanya sendiri.
Gayatri Dewantari selalu hidup dalam ingatannya, meski ia tak pernah tau dimana kampung halaman perempuan itu. Dan meski ia tak pernah menghubungi Philip sama sekali sejak kepulangannya ke sana.
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Handphone Philip bergetar, ternyata panggilan dari Enrico.
"Ya bro?" ujar Philip dengan suara masih setengah mengantuk.
"Phil, lo ke rumah sakit sekarang!"
Suara Enrico terdengar panik.
"Kenapa emangnya?"
Philip pun kini mulai cemas, ia menduga telah terjadi sesuatu yang serius pada sahabatnya itu.
"Pokoknya lo kesini, sekarang!. Gue nggak bisa jelasin di telpon, karena lo nggak akan ngerti." ucap Enrico.
Philip diam untuk beberapa detik.
"Ric, ini lo serius nyuruh gue datang?. Lo nggak lagi ngerjain gue kan?" tanya pria itu.
Sebab Enrico adalah salah satu teman yang cukup jahil dan suka mengerjai orang.
"Phil, tolong!"
"Oke, gue kesana sekarang."
Philip bergegas ke kamar mandi, untuk mencuci muka dan menyikat gigi barang sejenak. Tak lama berselang dokter tampan bertubuh tinggi dan berbadan six pack tersebut, terlihat sudah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Meski ia tau resikonya sangat berbahaya, namun pikirannya kini sudah kemana-mana. Ia takut terjadi sesuatu pada diri Enrico.
Beberapa saat berlalu.
"Ric."
Philip berlarian menghampiri Enrico yang tampak resah menunggu di depan instalasi gawat darurat. Sebab tempat itu sangat dekat dengan area parkir yang biasa digunakan oleh Philip setiap hari.
"Ric, ada apa?" desaknya kemudian.
Saat itu wajah Enrico terlihat sangat kacau.
"Ikut gue!" ujarnya lalu melangkah cepat.
Philip berjalan mengikuti sahabatnya itu dengan tempo yang sama. Enrico membawa Philip masuk ke sebuah ruangan dan seketika waktu pun membeku.
Philip berdiri dengan tubuh yang gemetaran. Pasalnya kini dihadapannya, ia seolah melihat dirinya di 20 tahun yang lalu. Tepat pada saat ia dan Enrico masih SMA.
"Ric."
Gemetar suara yang keluar dari bibir Philip. Ia masih tak percaya saat menatap remaja laki-laki yang kini ada dihadapannya tersebut.
"Selamat malam, dok." ujar remaja itu lalu berdiri.
Jantung Philip seakan berhenti berdetak. Tanpa sadar ia melangkah ke arah remaja itu.
"Who are you?" tanya nya dengan nada suara yang bergetar.
"Nama saya Kala Wisnu, dok." terdengar sebuah jawaban yang begitu asing ditelinga.
"Kala Wisnu?"
"Iya, saya datang kesini karena memiliki masalah serius dengan kesehatan saya. Keluarga saya bilang, ada teman ibu saya yang bisa menolong. Namanya dokter Philip Imanuel, apa itu anda?"
"Siapa ibu kamu?" Suara Philip masih saja bergetar.
"Gayatri Dewantari."
Petir seakan menggelegar, kunci mobil yang digenggam erat pria itu kini terjatuh ke lantai. Ia dan Enrico sama-sama membeku.
"Ibumu mana?" tanya nya kemudian.
"Ibu meninggal waktu melahirkan saya, dok. Katanya ada komplikasi selama kehamilan."
Tubuh Philip seperti ditusuk pedang tajam. Jantungnya seakan telah benar-benar berhenti berdetak, sementara nafasnya mendadak terasa sesak.
Perlahan, bayangan akan pertemuan terakhirnya dengan Gayatri kembali melintas dalam ingatan.
"Aku nggak bisa, Phil. Aku sudah menceritakan semua tentang kamu ke orang tuaku. Mereka juga sama tidak setuju. Maafkan aku, Phil."
"Tri, aku akan perjuangkan semuanya. Tunggu aku selesai koas dulu dan aku bisa cari kerja ditempat lain. Kita bisa pindah dan hidup sama-sama."
"Aku nggak bisa, Phil. Aku nggak mau mengecewakan keluargaku."
Air mata pun mewarnai malam itu. Untuk terakhir kali keduanya berpelukan, namun bukan sekedar berpelukan semata. Keduanya membiarkan diri mereka tenggelam ke dalam dosa yang lebih dalam.
"Ayahmu?" tanya Philip.
Ia masih ingin memastikan semuanya.
"Saya nggak punya ayah, dok." jawab Kala.
"Mmm, maksud saya, saya nggak tau dia siapa dan ada dimana." lanjut remaja laki-laki itu kemudian.
Philip lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan tersebut. Kini nafasnya kian bertambah sesak.
"Phil."
Enrico menyusul dan memanggil namanya, namun ia tak menggubris. Philip benar-benar syok dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
***
"Kala."
Enrico kembali ke ruangan tempat dimana Kala berada. Sedang Philip entah kemana, pria itu tampak belum bisa menerima semua ini, terutama soal kematian Gayatri.
"Iya dok." jawab Kala kemudian.
"Panggil om aja, om Rico." ujar Enrico.
"Oh, oke." jawab Kala seraya menatap pria itu.
"Kamu menginap di mana?" tanya Enrico.
"Belum tau om, saya belum cari penginapan. Tadi saya memang fokus mau mencari rumah sakit ini dulu." jawab Kala.
"Ya sudah, kamu ikut om saja. Di rumah ada anak om, dia kira-kira seusia kamu."
"Saya nggak enak ngerepotin, om. Biar saya cari penginapan aja. Lagipula saya dibekali uang koq sama nenek saya."
"Terserah kalau besok, tapi malam ini sebaiknya kamu di rumah om aja dulu. Ini masih jam 1 malam loh, lagipula kan kamu belum ada KTP. Kamu akan sulit mencari hotel yang mau menerima anak dibawah umur." ujar Enrico.
Kala berpikir sejenak.
"Mmm, oke deh." jawab remaja itu kemudian, meski terdengar agak ragu.
Dokter Enrico pun membawa anak sahabatnya itu ke rumah. Karena Philip sendiri belum bisa memberikan keputusan atas remaja tersebut.
Sesampainya disana, kebetulan anak Enrico masih bermain game mobile Legends dengan teman-temannya. Teman-temannya menginap setiap dua minggu sekali.
"Egan."
Enrico memanggil anaknya yang tengah berada dilantai dua. Tak lama Egan pun turun.
"Iya, pa." ujar Egan kemudian.
Ia melihat ke arah Kala dan begitupun sebaliknya.
Enrico sedikit menarik Egan ke suatu arah.
"Ini anaknya om Philip." tukas pria itu dengan nada pelan.
"Hah, serius pa?" Egan tampak begitu terkejut.
"Om Philip punya anak?. Sama siapa?. Kan belum nikah."
"Sssttt."
Enrico berusaha mengecilkan volume suara anaknya. Lalu Egan pun mengangguk dan mendekati Kala.
"Hai, bro. Gue Egan." ujar Egan seraya mengulurkan tangannya dan tersenyum.
Kala sedikit terdiam, karena ia tidak terbiasa dengan keramahtamahan seorang teman. Selama ini nyaris tak ada yang mau berteman dengannya, karena ia di anggap aneh. Namun pada akhirnya ia membalas uluran tangan tersebut.
"Kala." jawabnya kemudian.
"Kita ke atas aja yuk!" ajak Egan.
Kala melihat sekilas ke arah Enrico dan Enrico pun mengangguk. Mereka lalu melangkah ke arah tangga. Untuk selanjutnya Egan bersikap sesuai sifatnya selama ini, ia adalah anak yang friendly dan sangat baik.
Egan merupakan anak angkat dari sejak Enrico masih menjalani koas. Ia dan Philip memiliki sahabat lain, yakni Joan. Joan dan kekasihnya menikah di usia 19 tahun, lantaran saat itu Joan di vonis menderita kanker dan hidupnya tidak akan bertahan lama.
Saat istrinya hamil, Joan sudah berpesan pada Philip dan Enrico untuk menjaga anaknya kelak. Joan meninggal tak lama setelah Egan dilahirkan. Istri Joan yang terpukul, pergi meninggalkan negri ini dan entah kemana. Kabar terakhir ia bekerja di sebuah negara di Eropa.
Egan sendiri di ambil oleh Enrico dan turut dibantu biaya pengasuhannya oleh Philip. Enrico menjadi orang tua tunggal untuk Egan.
Pada saat ia menjadi dokter umum, ia menikah dengan seorang dokter pula selama beberapa tahun. Mereka sempat memiliki anak yang meninggal saat dilahirkan. Tak lama mereka bercerai, karena banyaknya perbedaan.
"Bro."
Egan berseru pada teman-temannya yang tengah asik bermain game online.
"Iya, bro."
Teman-temanya serentak memperhatikan.
"Ini Kala, anaknya temen bokap gue." ujar Egan.
Kala bingung dengan pernyataan tersebut, tetapi ia pikir mungkin Egan berkata seperti itu agar teman-temannya tak banyak bertanya.
"Oh, hai bro." ujar mereka semua dengan ramah.
Kala hanya tersenyum tipis, kemudian Egan mengantar Kala ke sebuah kamar.
"Nah ini kamar lo, karena ini satu-satunya yang kosong dan nggak pernah dipakai. Tapi ini dibersihkan tiap hari koq. Kalau nanti lo suntuk, gabung aja ke gue sama yang lain." ujar Egan.
Kala mengangguk, kemudian Egan pamit untuk kembali pada teman-temannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Zaid Abdillah Sopyan Gans
kak semangat biar cepat tau kelanjutannya
2022-09-19
0
Sky Blue
Mntap Jiwa..🥰🥰🥰
Smngat slalu kax untuk ljutannya🥰🥰🥰🥺🥺🥺🥺👍👍👍👍👍👍👍👍👍😅👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
2022-01-02
1
wibowo andhika
aku masih nyimak thor😁
2021-12-21
1