Di Balik Gorden.

"Kala, buka pintunya!"

Philip mengetuk pintu kamar anaknya tersebut, namun tak ada jawaban. Kala ada didalam, duduk sambil menekuk kakinya dan bersandar pada pintu.

Tatapan mata remaja laki-laki tampan itu terlempar jauh ke depan, ia bahkan nyaris tak bergerak sama sekali. Hanya matanya yang berkedip, itupun memiliki jeda yang cukup lama.

Kala seakan membeku, sedang perasaan Philip kini campur aduk. Ia benar-benar bingung bagaimana caranya meluluhkan hati anak itu. Ia tau ia salah, sudah menelantarkan Kala selama ini. Namun ia juga tidak bisa disalahkan, karena ia tidak pernah tau jika anak itu ada.

"Kala, nak. Buka pintu, ayah mau bicara."

Kala masih saja diam, sementara di bawah Egan terus berusaha meminta maaf pada Enrico.

"Pa, Egan bener-bener nggak tau kalau kejadiannya bakalan kayak gitu. Mana Egan tau Kala bakal masuk-masuk ke ruangan om Philip sampe jauh, terus ketemu foto itu."

Enrico menghela nafas.

"Kamu tau nggak, papa sama om Philip itu udah punya rencana. Udah kita susun dengan rapi, bagaimana om Philip nantinya mau membuat Kala perlahan menerima dia sebagai ayahnya. Tapi sekarang tau-tau semuanya buyar. Kala udah pasti syok, udah pasti dia banyak prasangka buruk terhadap om Philip. Akan susah lagi untuk memberi pengertian terhadap dia."

Egan menunduk. Ia ingin menegaskan sekali lagi, jika ini semua benar-benar di luar kontrolnya. Namun lidah remaja berusia 16 tahun itu kelu. Ia tak pernah bisa melawan sang ayah, sebab Enrico adalah ayah yang sangat baik dan sangat ia hormati serta ia sayangi selama ini.

"Kamu ajak Kala kemana sebelum itu?"

Enrico melontarkan pertanyaan yang benar-benar membuat Egan tersentak. Bagaimana mungkin ayahnya bisa berfikir ke arah situ.

"Papa tau kamu lagi nggak di rumah waktu papa telpon. Papa dengar suara teman kamu meski bisik-bisik. Tapi saat itu papa nggak expect kalau kamu ajak Kala. Dan sekarang papa bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi."

Egan makin diam.

"Kamu ketemu teman-teman kamu dari komunitas ghost photography?"

Egan masih bungkam, namun remaja itu mengangguk perlahan. Lagi-lagi Enrico menghela nafas, cukup lama ia terdiam sampai kemudian.

"Ya sudah, semua sudah terjadi."

Egan mengangkat kepalanya dan menatap Enrico.

"Yang penting kamu mau mengakui kesalahan kamu. Entah itu di sengaja maupun nggak, kesalahan tetaplah sebuah kesalahan."

Egan mengangguk sekali lagi.

"Sana tidur, ini udah malam."

"Iya pa." jawab Egan.

Remaja itu pun kembali ke atas. Saat ia hendak membuka pintu kamar, ia melihat Philip tengah terduduk lesu. Pria itu berbicara sambil bersandar di pintu kamar, tempat dimana Kala berada. Egan kemudian masuk lalu menutup pintu, sementara Philip lanjut berbicara pada anaknya.

"Kal, ayah bener-bener nggak tau kalau kamu itu ada. Ibu kamu nggak pernah kasih tau ayah kalau dia hamil. Tolong maafkan ayah, nak. Ayah janji akan jaga kamu dengan baik, kamu akan aman sama ayah."

Kala benar-benar teguh hatinya, sama seperti Gayatri yang begitu keras. Kini Philip pun hanya bisa terdiam. Ia masih bersandar pada pintu kamar Kala, dengan wajah yang lesu.

Detik demi detik berlalu, tak terasa malam jadi semakin larut. Enrico sudah masuk ke dalam kamarnya sejak tadi.

Ia juga sempat mengatakan pada Philip untuk segera beristirahat. Ada sebuah kamar yang sering ditempati Philip, apabila ia sedang menginap di rumah sahabatnya itu.

Namun Philip tertidur di depan pintu kamar Kala, sambil bersandar disana. Sedang Kala tertidur di atas tempat tidur.

Angin bertiup kencang di luar, kemudian masuk melalui celah kusen kaca jendela kamar. Menerbangkan gorden panjang yang menutupi area tersebut.

"Kala Wisnu."

Sebuah suara seperti berbisik terdengar oleh Kala. Remaja laki-laki berusia 15 tahun itu terbangun mendadak, matanya kini melirik ke sana kemari.

"Kala Wisnu."

Suara itu terasa seperti persis di samping telinga kanannya. Kala pun menoleh, namun tak ada siapa-siapa.

"Kala Wisnu."

Kali ini suara itu diakhiri oleh suara cekikikan. Diikuti langkah kaki seperti berlari ke arah kaca jendela kamar.

Angin kembali bertiup, gorden pun lagi-lagi melayang. Namun tiba-tiba gorden itu membentuk sebuah sosok, yang menyerupai manusia. Kala benar-benar terkejut, seperti ada orang yang bersembunyi di baliknya.

"Siapa itu?"

Kala mulai bersuara, dan kembali terdengar suara cekikikan. Kala mengambil lampu tidur besar yang ada di sisi tempat tidurnya. Ia mendekat ke arah gorden dan bermaksud memukul sosok itu dengan lampu.

Karena itu jelas tak mungkin Egan atau siapapun. Ia ingat masih mengunci pintu kamar dari dalam, dan tak ada jalur masuk lain ke kamar tersebut kecuali dari pintu yang sama.

"Siapa kamu?"

Kala kembali bertanya, dan ia menyibak gorden secara serta merta. Namun ternyata tak ada siapapun, padahal jelas-jelas bentuknya seperti orang yang sedang bersembunyi. Kala lalu menarik nafas agak dalam. Namun belum sempat ketegangan itu reda tiba-tiba,

"Kalaaa."

Sebuah suara berikut sentuhan di bahu ia rasakan. Kala menoleh dan terlihatlah sesosok wanita yang sangat menyeramkan. Kala berteriak sambil memukul-mukul sosok itu dengan lampu tidur yang masih ia pegang.

Sosok itu menghilang, lalu muncul di arah lain. Hingga menyebabkan Kala membabi buta, melemparnya dengan segala benda yang ada.

Mendengar kegaduhan tersebut, Philip pun terbangun. Apalagi tak lama kemudian terdengar Kala histeris karena ketakutan.

"Kala, Kalaaa."

Philip mengetuk pintu kamar anak itu, namun ia masih berteriak-teriak. Khawatir terjadi apa-apa didalam, pria itu pun mendobrak pintu kamar dengan sekuat tenaga.

"Braaak."

"Braaak."

"Braaak."

Pintu terbuka, Enrico dan Egan terbangun dari tidur mereka yang lelap. Sontak keduanya pun langsung berlarian.

"Kala."

Philip melihat sang anak berteriak-teriak, sambil menutupi kepalanya di pojok kamar.

"Kala."

"Aaaaaaa."

"Aaaaaaa."

"Kala ini ayah, kala."

Philip memeluk tubuh anak itu, sementara Kala masih histeris dan memberontak. Enrico dan Egan menatap penuh kepanikan kearah mereka berdua.

"Kala ini ayah, ini ayah."

Philip kian erat memeluk Kala, perlahan Kala pun tersadar dan mulai mencoba menarik nafas.

"It's ok, it's ok." ujarnya menenangkan anak itu.

"Ayah disini." lanjutnya lagi.

Kala terlihat sangat lemas dan pucat, secara refleks ia balas memeluk Philip. Layaknya seorang anak yang meminta perlindungan orang tua.

Enrico mendekat, sedang Egan berlarian ke bawah. Tak lama ia kembali dengan segelas air putih dan memberikannya pada Philip. Padahal di dalam kamar Kala masih ada galon. Ia berlari ke bawah saking paniknya.

"Minum dulu."

Philip memberikan air minum tersebut pada Kala. Remaja itu pun lalu menerima dan meminumnya. Tak lama ia kembali diam, karena masih harus mengatur nafasnya yang belum stabil.

Waktu kembali berlalu, Kala kini telah kembali tertidur. Philip ada di samping anak itu sambil mengawasinya. Enrico yang semula sudah keluar, kini kembali masuk ke dalam kamar Kala.

"Lo sebaiknya istirahat, Phil. Besok lo harus kerja. Kala nggak akan kenapa-kenapa." ujarnya.

Philip menghela nafas.

"Gue disini aja." tukasnya kemudian.

"Gue masih takut ninggalin dia sendirian." lanjut pria itu seraya menatap Kala.

Enrico lalu menepuk bahu sahabatnya tersebut dan melangkah keluar. Ada Egan yang berdiri di muka pintu kamar Kala.

"Kala baik-baik aja kan, pa?" tanya remaja itu.

Enrico mengangguk.

"Ada ayahnya yang jaga dia. Kamu tidur gih, besok sekolah."

Egan mengangguk, Enrico lalu menutup pintu kamar Kala dan kembali ke kamarnya. Begitu pula dengan Egan.

Terpopuler

Comments

Enyda Fitri

Enyda Fitri

lah kan dikamar ada galon + dipensernya 🤣 kok malah ambil ke bawah wkwkwkw

2022-05-21

0

rahadi nanto

rahadi nanto

dr awal baca mewek campur tegang,,

2022-02-16

0

Sky Blue

Sky Blue

Mnarik critanya kax..,
Smangat slalu ya kax😶😶😶

2022-01-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!