Ningrum

"Jangan bilang ayah ya Gan, soal ini." Kala gantian berujar pada Egan.

Egan lalu menghela nafas dan menatap temannya itu.

"Om Philip pasti udah di kasih tau. Sekolah ini gercep kalau soal pengaduan ke orang tua." ujarnya.

Kala terdiam, itu artinya ia harus bersiap untuk kena marah siang nanti.

"Tapi lo tenang aja, om Philip pasti ngerti koq kalau lo jelasin. Ntar gue bantu ngomong deh, kalau emang keadaannya jadi kacau."

"Oke." jawab Kala kemudian.

"Tapi emang bukan lo yang nyolot duluan kan?" Egan memastikan.

"Nggak, tanya temen-temen gue." ujar Kala.

Egan pun tertawa kecil.

"Udah punya temen lo sekarang?" tanya remaja itu.

"Ee, iya, ada." jawab Kala sambil membalas tawa Egan.

"Kal."

Seseorang terdengar memanggil dari suatu arah, ternyata Andy dan yang lainnya. Lagi-lagi Egan pun tertawa.

"Sana!" ujarnya pada Kala.

Kala lalu mendekat ke arah teman-temannya tersebut, sedang Egan kembali ke kelas.

Lo belum makan, Kal." ujar Heru kemudian.

"Pasti udah nggak enak kan mie ayamnya. Karena gue tinggal lama." ucap Kala.

"Nggak koq, tadi mie ayam punya kita kebetulan masih ngantri untuk dibuat. Jadi akhirnya kita tunda dulu aja semuanya."

"Lah, lo pada nggak jadi makan?" tanya Kala pada mereka semua.

"Gimana mau makan, lo nya aja masih di marahin guru." jawab Niko.

Kala sedikit terdiam, ia kini benar-benar merasakan sebuah pertemanan yang nyata.

"Udah mau masuk belum sih?" tanya nya lagi.

"Masih ada 10 menit. " jawab Andy.

"Masih mau makan nggak?. Atau nanti pas pulang aja?" Kala kembali bertanya pada teman-temannya tersebut.

"Kayaknya kalau sekarang seru deh, kejar-kejaran sama waktu."

Heru memberi ide yang kedengarannya menarik. Mereka pun saling bertatapan satu sama lain. Tak lama mereka sudah terlihat berlarian ke arah kantin.

***

Siang hari.

"Ayah dengar dari pihak sekolah, katanya kamu berkelahi."

Philip akhirnya menginterogasi anaknya, ketika mereka sudah berada di jalan pulang. Kala hanya diam dan sedikit membuang pandangan ke sisi jalan.

"Kala, ayah tanya. Telinga kamu masih berfungsi dengan baik kan?"

"Dia yang mulai duluan, yah." jawab Kala.

Philip tersentak mendengar semua itu.

"Apa kamu bilang?" tanya nya kemudian.

"Dia yang mulai duluan." Kala menegaskan.

"Ujungnya?" tanya Philip lagi.

Kala merasa bingung dengan perkataan ayahnya tersebut.

"Ulangi ucapan kamu yang pertama tadi."

"Dia yang mulai duluan."

"Ujungnya, ujung dari ucapan kamu tadi apa?"

Kala menoleh ke arah Philip, tak lama ia pun mengerti apa yang dimaksud oleh ayahnya itu.

"Yah." ujar Kala seraya membuang pandangannya ke dashboard mobil.

"Yang lengkap." pinta Philip.

Kala pun menghela nafas dan,

"Ayah." ujarnya kemudian.

Ia berkata dengan nada dingin dan mata yang masih menatap ke arah dashboard mobil. Namun itu cukup membuat hati Philip merasa hangat.

Pria itu tersenyum menatap Kala, meski kala tak membalas tatapannya sedikitpun dan meski ia harus kembali berkonsentrasi dalam mengemudikan mobil.

"Kamu pukul anak itu di bagian mana?" tanya Philip lagi.

"Di bagian tulang pipi dekat mata." jawab Kala.

"Berapa kali?"

"Tiga kali."

"Perkara?"

"Dia tarik bahu Kala, nyuruh Kala sama temen-temen pergi dari kursi yang dia pengen tempati."

"Kamu pengen pukul dia lagi?"

"Iya, tadi masih kurang rasanya."

Philip sedikit terdiam. Ia seorang dokter jiwa yang memahami banyak hal dari siapapun lawan bicaranya.

"Kita makan yuk, belum makan siang kan?" Philip mengalihkan topik pembicaraan.

"Mau makan dimana?" tanya Kala.

"Mmm, suka fast food nggak?" Philip balik bertanya pada anaknya itu.

"Emang, ayah makan begituan juga?"

Kala berkata seraya menatap ke arah Philip dengan wajah yang penasaran.

"Kenapa emangnya?"

Lagi-lagi Philip balik bertanya, namun kemudian ia menyadari sesuatu.

"Oh, kamu pikir karena ayah dokter, terus ayah nggak makan fast food gitu?"

Kala hanya diam, seperti biasa ia memang tak terlalu banyak berekspresi bila di dekat Philip. Bisa memanggil Philip dengan sebutan ayah saja, Philip sudah senangnya bukan main.

"Ayah juga makan koq, tapi nggak sering." ujar Philip.

"Kirain dokter itu cuma makan daun-daunan doang." tukas Kala.

Philip terbahak, meski sang anak tak ikut tertawa.

"Itu mah nggak usah dokter, orang vegetarian dan vegan juga makan. Ya walaupun ada yang bentuknya sudah di jadikan mirip dengan makanan tertentu."

"Kalau ibu, dia suka makan apa?"

Kala melontarkan pertanyaan yang membuat hati Philip seperti di sengat listrik. Menatap mata Kala saja sudah melumpuhkan hatinya, karena Kala memiliki mata Gayatri. Dan kini anak itu menyinggung soal sang ibu, yang sejatinya enggan Philip bahas terlalu banyak.

"Ibu kamu, dia suka makan rendang sama sate Maranggi." jawab Philip.

"Sate apa?" tanya Kala seraya mengerutkan kening.

"Maranggi."

"Sate apa itu?"

"Sate daging sapi yang rasanya sedikit manis, dan dimakan dengan ketan bakar."

Kala diam, ia tak tau ada makanan seperti itu.

"Cek aja di google." ujar Philip.

Kala pun melihatnya untuk sejenak.

"Disini, ada yang jual tapi kurang enak. Yang paling enak itu yang di puncak."

"Bogor?" tanya Kala.

"Iya."

Kala kembali diam.

"Ada lagi yang mau kamu tanya tentang ibu kamu?"

"Apa ibu..." Kala memberi jeda pada ucapannya seraya melirik ke arah Philip.

"Cantik?" lanjutnya lagi.

"Emangnya kamu nggak pernah liat foto ibu?"

"Pernah, tapi kan kadang orang beda sama di foto. Di foto cantik, aslinya biasa aja."

"Ibu kamu di foto cantik, tapi lebih cantik aslinya." jawab Philip.

Lalu hening menyeruak.

"Kita bicara hal lain aja ya." lanjut Philip kemudian.

"Kenapa?" tanya Kala heran.

"Ayah jadi inget dia."

Philip membuat Kala kembali terdiam. Mobil yang mereka tumpangi terus melaju, dan pada akhirnya membawa mereka ke sebuah restoran cepat saji.

***

Esok hari, Kala kembali ke sekolah seperti biasa. Saat tengah menunggu bel tanda masuk berbunyi, ia dan teman-temannya berkumpul di suatu sudut.

"Kal, lo diliatin sama Cindy tuh."

Andy berujar sambil menoleh ke suatu arah. Kala mengikuti arah pandangan temannya itu. Cindy sendiri adalah gadis populer di angkatan Egan.

Dan sejak perkelahian dengan Faraz kemarin, perhatian Cindy selalu tertuju pada Kala. Karena ia berada di kantin, saat kejadian itu berlangsung.

"Dia kakak kelas populer."

Niko berujar seraya mendaratkan siku tangannya di bahu Kala.

"Cantik kan, bro?" ujar Ben seraya tersenyum.

Kala pun balas tersenyum meski tipis.

"Cantik, tapi lebih cantik kak Ningrum yang di belakangnya." ujar Kala.

Teman-teman Kala melihat ke arah belakang Cindy, namun tak ada siapa-siapa disana.

"Dia tadi negur gue dan ngajak gue kenalan. Kita ngobrol pas gue abis dari toilet. Orangnya baik dan cukup asik." ujar Kala lagi.

Tak lama handphone Kala berbunyi, ternyata dari Philip.

"Bentar ya." ujar Kala seraya menjauh, lalu menjawab telpon tersebut.

"Perasaan nggak ada deh kakak kelas yang nama Ningrum, terus cantik di sekolah kita." Heru berujar pada teman-temannya.

"Iya, lagian namanya lawas banget. Kayak dekade 1990 an." timpal Niko.

"Eh 1990 an udah lumayan aesthetic namanya." Andy yang semula telah diam, kini kembali berbicara.

"Ningrum tuh vibes nya kayak 1950-1980 an tau nggak." lanjutnya lagi.

"Tapi siapa tau aja emang ada. Anak baru mungkin, yang keluarganya emang suka sama nama-nama vintage." ujar Ben.

"Tadi aja kita ngeliat nggak ada siapa-siapa kan." ucap Heru.

"Ada kali, pas kita liat udah pergi atau gimana." lanjut Ben lagi.

Tak lama bel tanda masuk pun berbunyi. Mereka semua lalu bergegas menuju kelas.

Terpopuler

Comments

Ai Emy Ningrum

Ai Emy Ningrum

aku Ningrum #sambildadah2 👋👋😄😄

2022-01-31

4

Sky Blue

Sky Blue

Pas seru2ny Ningrumny nibrung, kn jdi srem bgetttt🥲🥲🥲

2022-01-02

0

Mila Samilah

Mila Samilah

lanjut.....

2021-12-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!