"Nak mungkin ini semua sangat sulit kau terima. Namun percayalah Nak, semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Jujur Ayah sangat menyesal dengan semua yang terjadi, namun mau bagaimana lagi semuanya telah terjadi Nak.
Dan yang berusaha kami lakukan selaku orang tuamu hanya tak ingin kau jatuh ke dalam kubang dosa seumur hidupmu Nak. Ayah tak ingin dengan menyembunyikan semua ini, kau akan merasakan kedamaian dan kenikmatan di dunia. Namun selanjutnya kau akan merasakan dahsyatnya siksaan atas semua yang kau rasakan di dunia ini.
Nak bagaimanapun kau tetaplah anak Ayah, dan Ayah melakukan ini semua karena Ayah sangat menyayangimu dan tak ingin menjerumuskanmu ke dalam kemaksiatan tiada henti seumur hidupmu."
Aisyah menghirup nafas sangat panjang. Ia menoleh ke arah Bunda-nya. Pikirannya melayang ke masa lalu. Ia juga membayangkan betapa berat beban yang ditanggung Bunda-nya saat itu. Ia kembali menatap Ayahnya.
"Sekali lagi Ayah meminta maaf karena Ayah tak mampu menikahkanmu dengan pria yang kau cintai Nak-"
Putrinya itu terlihat memejamkan matanya, semua yang baru diketahuinya pastilah akan menjadi boomerang bagi kehidupan putrinya kelak. Ia tahu bahwa ini semua pasti akan sangat berat untuk dijalani.
"Nak kau tahu kan, pernikahan yang tidak sah maka selamanya suaminya akan tetap haram untuk menyentuhmu. Semua yang harusnya bernilai ibadah malah akan menjadi dosa zina seumur hidup."
Aisyah menatap ke langit-langit ruangan tersebut. Berusaha meraup kekuatan untuk tetap bertahan dengan ini semua.
"Nak Ayah mohon maafkan Ayah,"
a
Aisyah membelalakkan matanya, ia sangat tak bisa jika mendengar orang tuanya mengatakan maaf. Biar bagaimanapun jasa-jasa yang orang tua berikan, tak mampu ia bayar hingga lunas. Meski dengan seluruh hidupnya sekalipun.
"Ayah kumohon jangan pernah katakan hal itu lagi. Aku sungguh tak sanggup jika harus mendengarnya. Akulah yang seharusnya meminta maaf pada Ayah. Maaf sikapku begitu kurang ajar hingga membuat Ayah merasa seperti ini." Ujarnya dengan memeluk sang Ayah.
Fahmi merasa terharu mendengar putrinya, dengan cepat pula ia membalas pelukan erat dari putrinya. Ia juga memandang ke arah istrinya, senyum terukir di wajahnya. Menunjukkan betapa bangganya ia pada didikan sang istri pada buah hati mereka.
Aisyah melepas pelukannya dan menatap sang Ayah. Wajahnya masih belepotan karena air mata. Untung saja ia bukanlah perempuan yang suka bermake-up tebal, jadi riasannya yang luntur tidak terlihat terlalu mencolok.
"Yah, Bun, Aish minta ridho-nya ya. Semoga apapun langkah yang Aish ambil adalah jalan yang benar, dan apapun yang Aish lakukan bernilai ibadah." Ujarnya sembari berjongkok di hadapan kedua orang tuanya.
Air mata Melati semakin deras saja meluruh, sikap Aisyah padanya begitu membuatnya merasa dihargai dan dihormati meski ia dan suaminya melakukan sesuatu hal yang mmebuat anaknya kecewa. Ia memegang kedua bahu sang anak dan memeluknya erat. Dengan ini, ia semakin tak rela saja, putri yang telah ia besarkan untuk diserahkan kepada suaminya. Seorang lelaki yang kelak menjadi tanggunga jawab untuk putrinya.
"Tentu Nak, ridho Bunda-mu dan Ayahmu selau mendampingi setiap langkahmu."
Aisyah mengangguk, perlahan ia menarik nafasnya pelan. Senyum terukir di wajahnya, "Ya sudah Bun, Aish mohon undur diri dahulu. Lihat, sudah masuk waktu Isya' Yah." Tunjuknya ke arah jam di dinding.
Mereka tersenyum dan menangguk. Segera saja seluruh keluarga untuk menuju Mushola kecil di rumah itu, kecuali Fahmi beserta para lelaki yang berada di rumah itu. Mereka akan melaksanakan kewajiban mereka di Masjid secara berjama'ah.
Namun tidak dengan Aisyah, karena memang ia yang sedang udzur jadilah ia memilih untuk menuju kamarnya. Di tempat istirahatnya itu, ia menatap ke arah jendela. Sungguh betapa menyesakkan semua kenyataan yang baru diterimanya.
Ia sama sekali tak marah ataupun kecewa pada kedua orang tuanya, hanya saja semua yang baru ia dengar itu begitu berat untuk ia terima. Sejenak, pikirannya melayang ke arah masa depannya. Bagaimana nanti kehidupannya setelah bersuami, bagaimana perlakuan dari mertuanya dan orang-orang yang mengetahui aib keluarganya.
Tidak, dia tidak boleh mengeluh dan menyesal. Apapun kejadian demi kejadian yang akan ditimpanya nanti, itu semua adalah ujian. Yah, bukan saatnya untuk salah menyalahkan karena memang tak akan mungkin baginya untuk menyalahkan kedua orang tuanya.
Drt.., dering ponsel miliknya memecahkan keheningan malam yang mendera di tempat itu. Dengan cepat Aisyah menyambar benda pipih tersebut.
Senyumnya terlukis indah di wajahnya tatkala melihat siapa pemilik nomor yang menghubunginya.
"Hallo Assalamu'alaikum," ucap Aisyah memulai pembicaraan.
"Wa'alaikumsalam.." jawab yang berada di sebrang sana.
"Ada apa yah Mas?" Tanya Aisyah pada lelaki yang telah melamarnya beberapa waktu lalu.
"Ingin mendengar suara bidadari yang sedang menetap di hati Mas." Jawab Yoga yang sukses membuat semburat rona merah di pipi Aisyah.
"Kau ini Mas." Aisyah tersenyum malu-malu.
Terdengar kekehan kecil dari sana. "Kenapa Aish?, Toh juga sebentar lagi kau akan menjadi istriku. Dan selamanya hingga kita bersama-sama menuju ke alam kenikmatan yang abadi Insyaallah."
Wajah Aisyah semakin memerah saja, "Sudahlah Mas, kau ini membuatku malu tahu."
"Baiklah, kau sedang apa the queen my heart?"
"Thinking of you."
Tanpa Aisyah ketahui, dari sebrang sana Yoga membelalakkan matanya. Ia memang sangat jarang mendengar kata romantis atau balasan dari gombalannya. Hatinya bak ditaburi bunga-bunga yang baru bermekaran dan semerbak baunya.
"Ouh sudah pandai berkata ya my queen?"
Aisyah membolakan matanya, ia tak sadar tadi mengatakan hal yang membuat lelakinya tersipu. Seketika ia menutup mulutnya dan mengetuk pelan.
"Eh, itu ti-tidak kok." Ujarnya tergagap.
"Tidak apa?, Kau sedang tidak memikirkan aku?, Jadi kau sudah tak mencintaiku?"
"Eh bukan begitu, aku.." Hati Aisyah semakin tidak karuan. Untunglah mereka hanya berbicara lewat telepon, jika secara langsung entah bagaimana caranya Aisyah menyembunyikan wajahnya.
"Hehe sudahlah aku hanya bercanda."
"Ya sudah dulu yah calon istri. Calon Ibu mertuamu telah memanggilku sekarang. Kau baik-baik saja ya di sana. Jaga hati dan kesehatanmu untuk pernikahan kita nanti."
"Iya tentu saja aku akan menjaga hatiku dan diriku. Kau juga ya, jaga semua hanya untukku."
"Hmm, sepertinya kau sudah tidak sabar ya tuan putri."
"Eh, kau ini.."
"Ya sudah ya, kau tutuplah teleponnya."
"Ya Assalamu'alaikum Mas."
"Wa'alaikumsalam."
Tut, seperti perkataan Gabriel Aisyah terlebih dahulu menutup teleponnya. Berbincang dengan Gabriel membuat jantungnya berdegup kencang.
______________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote.
Terimakasih yang sudah mau mampir ;)
Ig; @nick_mlsft
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments