Beberapa saat kemudian Anita sudah si dalam pesawat penerbangan ke Surabaya. Duduk termenung memikirkan nasibnya,air matanya terus mengalir di pipi mulusnya dan penampilan yang kacau matanya sembab hidungnya merah dan muka terlihat sendu.
Ia tak peduli dengan tatapan disekitarnya ada yang mentap aneh dan ada yang merasa iba,yang dia fikirkan adalah bagaimna kehidupan kedepannya adakah yang mau dengannya yang usianya sudah tak muda lagi? Waktunya ia habiskan untuk menunggu Bram lelaki brengsek yang telah menghianatinya
sakit sungguh sakit tapi tak berdarah.
"Mengapa rasanya sakit sekali" isak Anita.
"Dan disini juga sesak sekali" memukul mukul dadanya sendiri sambil terus menangis.
Setelah hampir dua jam perjalanan menuju Surabaya akhirnya Anita sampai di depan rumahnya.
Rumah minimalis tetapi asri yang dihuni dia dan ibunya ( Diana) seorang single parent dan ayahnya (pak Samsul) sudah meninggal dunia 5 tahun yang lalu karena penyakit komplikasi.
Berjalan perlahan memasuki rumah
"Assallamuallaikum ibu,Nita pulang" Salam Anita ketika memasuki rumah.
"Waallaikumus sallam" jawab Diana dari dapur karena Diana sedang memasak,berjalan kedepan dan melihat putri kesayangannya itu masih berdiri dan menundukan kepala.
"Lohh Nita kok sudah pulang,katanya mau di Jakarta satu minggu? apa nak Bram ikut?" tanya Diana antusias sambil melihat kedepan tapi nihil orang yang diharapkannya itu tidak ada padahal Diana rindu dengan bram yang sudah di anggap anaknya sendiri.
Mendapat pertanyaaan dari ibunya lidahnya kelu dan tak terasa air mata yang sudah ditahannya dari tadi menetes begitu saja.
Membuat Diana pun kaget bercampur bingung.
"Kamu kenapa nak? Kenapa menangis? Apakah ada yang menyakitimu nak?? " tanya Diana lagi.
Anita menjawab dengan gelengan kepala dan itu semakin membuat Diana bingung.
"Ayo duduk dulu nak,ceritakan sama ibu jangan bikin ibu takut" ucap Diana sambil menuntun anaknya untuk duduk di sofa ruang tamu.
Melihat putrinya tetap diam Diana mengusap kepala Anita lembut dan memeluknya. Diana tau kalau putrinya sedang tidak baik baik saja.
"Ceritakan keluh kesahmu kepada ibu nak" ucap Diana sambil menepuk punggung putrinya yang terisak kecil karena menahan tangisnya.
Anita melepaskan pelukkan ibunya dan melihat wajah ibunya yang terlihat sangat cemas.
Menarik nafas dalam dan menghembuskan perhalan dan Anita pun menceritakan semua yang dialaminya secara detail dan seketika itu tangis Anita pecahh.
"Hiks hiks hiks apa salahku bu? Hingga aku disakiti seperti ini? S-epuluh tahun aku menunggunya untuk siap menikahiku tapi ternyata hiks hikss" isak Anita tak mampu melanjutkan ucapnya.
Diana pun tercengang mendengar semuanya dan tak menyangka lelaki yang sudah sudah berpacaran dengan putrinya selama sepuluh tahun lamanya dibalas dengan penghianatan.
Sebelumnya Diana sangat berharap kepada Bram menjadi menantunya tapi harapan tinggalah harapan semua sudah sirna dan meninggalkan luka yang teramat dalam.
"Sudah sayang jangan menangis,ibu tau kamu sakit hati tapi mungkin ini takdir dari-NYA jika kalian tidak berjodoh,lebih baik mengetahui sekarang dari pada nanti jika kamu jadi istrinya itu akan lebih menyakitkan" ucap Diana menenangkan putrinya yang terus menangis.
"Sudah nak lupakan Bram,jalanmu masih panjang" ucap Diana sambil mengelus punggung putrinya.
Mendengar nasihat ibunya Anita pun menghapus air matanya dan melepas pelukan ibunya.
"Ibu benar aku harus melupakan Bram lelaki baj**ngan itu" ucap Anita
'Aku yakin aku bisa melupakan dia walaupun akan sulit tapi akan aku coba'. Batin Anita
"Harusnya tadi aku hajar baj**gan itu dan aku tendang itunya". Kesal Anita.
Melihat anaknya yang termenung Diana merasa iba dan air mata yang dari tadi ditahan pun mengalir juga tapi dengan cepat Diana menghapusnya.
"Ya sudah nak sudah pukul 22:10 WIB kamu mandi dulu biar putri ibu ini tambah cantik" ucap Diana sambil menoel hidung mancung Anita dan membuatnya tersenyum.
"Nah gitu donk senyum kan tambah cantik jadinya".
"Ya udah ibu mau nyiapin makan malam buat kamu dulu ya ,pasti belum makan kan?" ucap Diana sambil beranjak dari duduknya.
"Heheee belum bu" cengir Anita sambil berjalan ke kamarnya.
Didalam kamar Anita menatap nanar foto dirinya dan Bram yang tengah berpelukan mesra.
'Kamu tega Bram' batin Anita.
"Aku akan melupakanmu" ucap Anita sambil mengambil foto dan barang barang pemberian Bram dan memasukannya ke kardus setelah selesai dia bergegas mandi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
Lies Atikah
hadir thor
2025-01-07
0
Eli Elieboy Eboy
𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚗𝚒𝚝𝚊
2024-08-10
0
Zaim Jepara
sama akupun 10 tahun dan berakhir tragis...namun lebih baik mengetahui sekarang dari pada belakangan
2022-08-19
0