Nadia Prameswari, ibu tunggal driver ojek, terpaksa menikah lagi dengan mantan suaminya Rafi Santoso demi biaya transplantasi sumsum tulang putrinya Aira yang menderita leukemia. Kembali ke rumah keluarga Santoso, ia harus menghadapi Selin yang menggantikan posisinya, dan anak laki-lakinya Raka yang sudah membencinya. Rafi yang dingin terus menghinanya, tapi Nadia hanya punya satu tujuan: menyelamatkan nyawa Aira dengan cara apa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 09 - Bukan Ibuku
Nadia tiba di rumah sakit hampir pukul sepuluh.
Gaunnya masih basah oleh jus. Ia bahkan tidak sempat mengganti sepatu hak tinggi. Setiap langkah di lorong rumah sakit membuat pergelangan kakinya nyeri, tapi ia tidak peduli.
Aira menangis ketika melihatnya.
"Mama..."
Nadia langsung naik ke ranjang, memeluk tubuh kecil itu dengan hati-hati agar infusnya tidak tertarik.
"Mama di sini. Maaf, Sayang. Mama datang terlambat."
"Mama cantik."
Kalimat itu keluar di sela isak tangis.
Nadia hampir pecah.
"Gaun Mama kotor."
"Tetap cantik."
Aira menempelkan pipinya ke dada Nadia. Panas tubuhnya membuat Nadia cemas. Perawat sudah memberi obat, tetapi demamnya belum turun banyak.
"Tadi Aira takut?"
Aira mengangguk kecil. "Bangun, Mama nggak ada."
"Maaf."
"Mama jangan pergi lagi."
Nadia memejamkan mata.
"Iya. Mama di sini."
Ia duduk di ranjang sampai Aira tertidur lagi. Gaun mahal itu kusut, riasannya luntur, rambutnya lepas dari sanggul. Tapi untuk pertama kalinya malam itu, Nadia merasa berada di tempat yang benar.
Rafi tidak datang.
Ia hanya mengirim pesan pukul sebelas lewat.
[Besok pagi Raka harus sekolah. Kamu pulang sebelum jam tujuh.]
Nadia membaca pesan itu tanpa perasaan.
Ia tidak membalas.
Pagi harinya, Nadia pulang ke rumah Santoso setelah memastikan demam Aira turun. Ia memakai cardigan rumah sakit milik perawat yang kasihan padanya, karena gaunnya terlalu kotor untuk dipakai lagi. Rambutnya diikat asal.
Begitu masuk rumah, suara teriakan Raka menyambutnya.
"Dia pulang!"
Nadia baru melepas sepatu ketika Raka berlari dari ruang keluarga. Wajah anak itu merah karena marah. Di belakangnya, Bi Sari terlihat panik.
"Raka, jangan lari-lari, Nak."
Raka tidak peduli. Ia langsung memukul paha Nadia dengan kedua tangannya.
"Kamu ke mana? Kamu harus jemput aku sekolah!"
Pukulan anak kecil tidak seharusnya terlalu sakit.
Tapi Raka memukul dengan seluruh tenaga dan seluruh kebencian yang diajarkan orang dewasa.
Nadia menahan tangannya. "Raka, berhenti."
"Nggak mau!"
Ia menendang kaki Nadia.
"Gara-gara kamu, aku telat! Papa marah sama aku! Tante Selin juga nggak bisa antar karena sakit!"
Nadia menangkap pergelangan tangannya. "Aku di rumah sakit."
"Bohong! Kamu sengaja nggak mau jemput aku!"
"Aira demam."
"Selalu Aira! Aku benci Aira!"
Nadia menegang.
Raka melihat perubahan wajahnya dan seperti menemukan tombol yang ingin ia tekan lagi.
"Aku benci anak sakit itu! Dia bikin Papa nggak sayang aku!"
"Raka."
Suara Nadia rendah.
Bi Sari gemetar. "Bu..."
Raka tidak berhenti. Ia menoleh ke meja sudut, mengambil mainan mobil logam, lalu melemparkannya ke arah Nadia.
Nadia sempat menghindar, tapi mainan itu mengenai pelipisnya.
"Brak!"
Dunia memutih sejenak.
Nadia mundur selangkah, tangannya otomatis memegang kepala. Ketika ia menurunkan tangan, ada darah di jarinya.
Bi Sari menjerit kecil.
Raka terdiam.
Di wajah anak itu ada takut. Hanya sebentar. Setelah itu ia mengangkat dagu, seolah takut terlihat bersalah.
"Salah sendiri," katanya.
Nadia menatapnya.
Anak ini lahir dari tubuhnya.
Tapi saat ini, ia seperti menatap hasil didikan sebuah rumah yang tidak pernah memberi ruang untuk rasa bersalah.
"Raka," katanya pelan, "minta maaf."
"Nggak mau."
"Kamu melukai orang."
"Kamu bukan orang. Kamu jahat."
Nadia menggenggam tangan sendiri agar tidak gemetar.
Saat itulah Rafi masuk.
Ia baru turun dari lantai atas, memakai kemeja kerja, wajahnya terlihat kurang tidur. Selin berjalan di belakangnya dengan cardigan putih dan ekspresi cemas.
"Ada apa ini?"
Raka langsung berlari ke arah Rafi.
"Papa!"
Ia menangis seketika.
"Dia mau pukul aku!"
Nadia mematung.
Rafi memeluk Raka, lalu melihat darah di pelipis Nadia. Seharusnya ia bertanya apa yang terjadi. Seharusnya.
Tapi Selin lebih dulu berseru.
"Mbak Nadia, astaga, kenapa berdarah? Raka nggak apa-apa, kan?"
Raka menangis makin keras. "Dia pegang tanganku keras banget!"
Rafi menatap Nadia.
"Kamu melakukan apa pada Raka?"
Nadia merasa darah di pelipisnya mengalir turun ke dekat alis.
"Dia melempar mainan ke kepalaku."
Raka langsung berteriak, "Bohong!"
Selin berjongkok di samping Raka. "Sayang, jujur sama Tante. Kamu yang lempar?"
Raka menatap Selin, lalu menangis. "Aku takut. Dia marah-marah. Aku cuma pegang mainan."
Nadia melihat cara Selin mengelus punggung Raka.
Lembut.
Mengarahkan.
Seperti memberi jalan keluar.
Rafi menghela napas panjang. "Nadia, kamu orang dewasa."
Nadia tertawa pelan.
Suara itu membuat semua orang terdiam.
"Aku berdarah, Rafi."
"Aku lihat."
"Dan kalimat pertamamu adalah aku orang dewasa."
Rafi tampak tidak nyaman, tapi ia tetap berkata, "Raka masih kecil. Kalau dia salah, kita bisa bicara baik-baik. Jangan membuatnya trauma."
"Aku yang trauma tidak dihitung?"
"Jangan dramatis."
Selin cepat-cepat berdiri. "Rafi, jangan bertengkar. Mbak Nadia pasti capek dari rumah sakit. Mungkin emosinya tidak stabil."
Nadia menatap Selin.
"Terima kasih sudah menjelaskan emosiku."
Selin menggigit bibir. "Mbak, aku cuma..."
"Ingin membantu?"
Selin terdiam.
Rafi makin kesal. "Cukup, Nadia. Kamu minta maaf pada Raka."
Bi Sari yang berdiri di samping hampir menjatuhkan nampan.
Nadia menoleh ke Rafi.
"Apa?"
"Minta maaf. Kamu membuatnya takut."
"Dia melempar benda ke kepalaku."
"Kamu yang membuat dia marah."
Nadia ingin marah.
Harusnya ia marah.
Tapi tubuhnya tiba-tiba terasa sangat lelah. Kepalanya berdenyut. Perutnya kosong. Matanya panas.
Ia menatap Raka.
Anak itu mengintip dari balik tubuh Rafi. Di balik air matanya, ada kilatan menang.
Nadia berlutut perlahan agar sejajar.
"Raka."
Raka memalingkan wajah.
"Maaf."
Rafi tampak lega.
Selin juga.
Tapi Nadia belum selesai.
"Maaf karena dulu Mama tidak bisa melindungimu dari orang-orang yang mengajarimu membenci."
Rafi langsung menegang. "Nadia."
Nadia berdiri.
"Aku mau obati luka."
"Jangan pergi begitu saja."
"Mau apa lagi? Aku sudah minta maaf."
Rafi menatapnya dengan rahang keras. "Kamu tahu bukan itu maksudku."
"Aku juga tahu bukan itu maaf yang kamu inginkan."
Ia berjalan menuju tangga.
Raka tiba-tiba berteriak, "Kamu bukan ibuku!"
Nadia berhenti.
Kalimat itu menggema di ruang depan.
Selin memeluk Raka dari belakang, wajahnya pura-pura sedih. Rafi diam, seolah menunggu Nadia menangis.
Nadia menoleh perlahan.
"Baik."
Satu kata.
Tidak ada amarah.
Tidak ada air mata.
"Mulai sekarang, kalau kamu tidak mau memanggilku Mama, panggil aku Bu Nadia."
Raka tampak bingung.
Mungkin ia tidak mengharapkan jawaban itu.
Nadia melanjutkan, "Tapi jangan pernah menyentuh Aira. Kalau kamu melukai adikmu, aku tidak akan diam seperti ini."
Wajah Rafi berubah. "Kamu mengancam anakku?"
"Aku memperingatkan semua orang di rumah ini."
Setelah itu Nadia naik ke kamar.
Di dalam kamar tamu, ia duduk di lantai kamar mandi dan membersihkan darah di pelipisnya sendiri. Air mengalir merah muda ke wastafel.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari rumah sakit.
[Bu Nadia, Aira bangun. Dia tanya kapan Papa datang.]
Nadia menatap pesan itu lama.
Dari luar kamar, suara Raka sudah terdengar tertawa lagi karena Selin menghiburnya.
Nadia mengetik balasan.
[Bilang Mama sedang tanya Papa.]
Ia menghapusnya.
Lalu mengetik ulang.
[Bilang Mama segera datang.]
Kali ini ia kirim.
Karena ada kebohongan yang terlalu kejam untuk diucapkan, bahkan lewat perawat.
Nadia mengganti plester, lalu menatap wajahnya di cermin.
Ada luka kecil di pelipis, lingkaran hitam di bawah mata, dan pipi yang makin tirus. Ia menyentuh kaca, bukan karena ingin mengasihani diri, tapi karena tiba-tiba sulit percaya bahwa perempuan di sana adalah orang yang sama dengan Nadia lima tahun lalu.
Dulu ia pernah tertawa di dapur rumah ini, membuat pancake gosong untuk Rafi, menggendong Raka sambil menyanyikan lagu anak.
Dulu ia mengira cinta bisa membuat seseorang dipilih.
Sekarang ia tahu, dalam rumah ini, orang yang paling pandai menangis selalu lebih cepat dipercaya.
Ia mencuci tangan, mengambil tas rumah sakit, lalu membuka pintu.
Di bawah, tawa Raka masih terdengar.
Nadia turun tanpa suara.
Kali ini, ia tidak lagi menunggu seseorang memanggilnya kembali.
Tidak ada gunanya.