Felicya adalah perempuan yang mempunya jiwa yang tenang. Ia memegang prinsip stoik; tidak semua hal harus dilawan, dan tidak semua luka harus dibalas.
Namun prinsip itu diuji ketika ia bertemu seorang laki-laki Machiavellian-cerdas, manipulatif, dan terbiasa memainkan manusia seperti bidak dalam permainan.
Di saat yang sama, Felicya harus berhadapan dengan perselingkuhan suaminya bersama seorang perempuan NPD.
Di antara kebohongan, manipulasi, dan permainan ego, Felicya perlahan menyadari bahwa membalas dengan elegan, bukan berarti jahat. karena mempertahankan boundariesnya dan tidak kehilangan jati dirinya, hanya perbuatan 2 orang yang mempunyai 2 sifat Dark Psichology.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Ayu Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Teror Dari Orang Tak Dikenal
Hari mulai menjelang sore. Matahari tidak begitu terik dan awan cerah berwarna kebiru-biruan. Adzan ashar telah berkumandang di perkomplekannya.
Felicya yang mendengar suara adzan ia langsung terbangun. Lalu menoleh ke arah suaminya. Ia berusaha membangunkan suaminya. Karena baginya di waktu sore di agamanya melarang untuk tidur saat adzan ashar ataupun menjelang sore. Ia berusaha membangunkan suaminya yang sangat terlelap tidurnya.
"Mas Galang, ayo bangun. Ini sudah mau ashar Mas," ujarnya.
"Lima menit sayang nanti aku bangun, aku masih ngantuk," Galang menjawabnya masih setengah sadar.
"Yaudah... Mas, kamu tidur lagi aja nanti aku bangunkan lagi."
Felicya ke bawah ingin membangunkan ibunya.
Seorang penguntit itu masih berada di rumahnya. Masih memantau pergerakan Galang di dalam sana. Penguntit itu duduk di taman menunggu ada seorang di ruang tamu. Tamannya tak begitu jauh dari jarak jendela ruang tamu.
Saat sesampai di bawah Felicya merasa seperti ada yang mengintip ke jendelanya. Saat hendak ingin menyamparinya. Orang penguntit itu melemparkan kertas kepadanya. Felicya kaget dan berteriak.
"Tolong ada maling, tolong ada maling," teriaknya kencang. Karena dia melihat Felicya menteriakinya maling, orang penguntit tersebut lari sekencang mungkin agar tidak ada warga yang menghampiri dirinya ke rumah Galang.
Galang mendengar istrinya teriak maling, akhirnya Galang turun ke lantai bawah dengan langkah yang cepat.
Ia melihat istrinya sedang duduk di lantai depan jendela dengan memegang dadanya dan terlihat pucat disana. Lalu Galang menghampiri istrinya.
"Sayang.. Kamu baik-baik aja kan?" tanyanya khawatir.
"Ya. Aku baik-baik aja mas Galang, aku cuma lemas karena tadi ada orang penguntit di depan jendela. Tapi bentar? jawabanya menggantung. Ia mencoba melihat kertas yang ia genggam. Felicya mencoba memberi kepadanya.
"Ini Mas Galang ada kertas, orang tadi dia melempar kertas kepadaku, tapi aku tidak tahu ada tulisannya atau tidak," Felicya memberi kertas itu pada Galang.
Galang mengambilnya dan membukanya. Galang melihat disitu ada tulisan.
"Galang apa kau ingat dengan janjimu padaku dulu." Galang mengerutkan keningnya saat ia membaca isi tulisan tersebut merasa bingung. Ia tak tahu punya janji dengan siapa.
Felicya yang melihat suaminya mengerutkan keningnya saat membaca kertas tersebut. Lalu felicya mengambil kertas tersebut dari tangan suaminya. Ia melihat ada sebuah tulisan tentang suaminya punya janji. Felicya mencoba bertanya. "Mas punya janji sama siapa emang? sepertinya orang penguntit tadi ada hubungannya dengan dirimu."
Galang yang ditanya seperti itu dengan istrinya. Ia langsung menjawab. "Sayang.. Mas saja gak tahu punya janji dengan siapa. Mas juga bingung siapa orang ini berani menerror kita."
Galang pikirannya saat ini tertuju kepada seseorang wanita yang tidak terima dengan pernikahan dia dengan istrinya.
Seketika ponsel Galang bunyi. Saat ia buka ponselnya terdapat nomor tak dikenal mengirim WhatsApp padanya.
"Hai Galang apa kamu sudah membaca isi kertasnya? jika sudah aku harap kau mengingat tulisan tangan dariku."
Galang yang membaca Chat tersebut. Ia mencoba mengingat tulisan yang ada dikertas. Setelah ia mengingatnya, ia teringat dengan tulisannya, itu tulisan DIO ANANTA teman bisnisnya yang dulu.
Galang mengepalkan tangannya. "Sialan ternyata DIO yang menerror disore hari. Mau dia apa sebenarnya," gumamnya pelan. Tatapannya tajam saat ia mengingat itu tulis tangan DIO. Namun, sayang sekali Galang tetap salah menebaknya. bahwa itu bukan DIO ANANTA.
Tadinya ia berpikir bahwa itu seseorang wanita yang ia kenal menerrornya. Ia tetap mengira itu adalah tulisan dari DIO ANANTA. Siapa sangka pikirannya akan membawa dia menebak-nebak siapa pemilik kertas ini. Selama sang penguntit itu belum memberitahu namanya.
Felicya yang dari tadi memperhatikan ekspresi wajah suaminya. Ia mencoba bertanya lagi.
"Mas aku lihat wajahmu kesal banget habis baca chat, emang kamu lagi ada masalah sama siapa? Felicya penasaran dengan reaksi suaminya tambah lagi dengan tulisan di kertas tersebut. Ia ingin tahu apa suaminya sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Namun Galang hanya meliriknya sebentar lalu ia melangkah meninggalkan istrinya. Ia ingin kembali ke kamarnya. Karena suasana hatinya sedang buruk saat ini. Ia tidak ingin meledak di hadapan Felicya.
Felicya yang ditinggal begitu saja di ruang tamu, ia bingung dengan sikap suaminya. Ia bertanya dalam hatinya. "Ada apa denganmu Mas hari ini?"
Ia termenung disana sendirian dengan raut wajah sedih dan menundukan kepalanya. Ketika ibunya bangun dari tidur, ibunya keluar kamar ia tidak tahu bahwa sedang terjadi sesuatu di sore ini.
Saat ibunya keluar kamar. Ia melihat putrinya sedang duduk di lantai sendirian dengan raut wajah yang sedih. Ibunya segera melangkah padanya. Ia tidak tega melihat putrinya sedih sendirian disana. Ia tidak tahu ada apa yang terjadi pada putrinya Felicya dengan suaminya Galang.
Lalu ibunya bertanya. "Neng kok duduk di lantai sendirian,eneng kenapa? eneng teh lagi berantem sama suami eneng si Galang?" ibunya sangat khawatir melihat anaknya menangis dalam diam.
Felicya tahu ibunya sedang bertanya padanya. Namun. Ia tidak ingin menunjukan wajahnya yang sedang bersedih. Ia tidak ingin ibunya khawatir memikirkannya. Felicya hanya menunduk dan diam saja. Ia tidak bisa menjawabnya sekarang. Felicya lalu pamit kepada ibunya untuk ke halaman belakang rumah. "Ibun neng mau ke belakang rumah yah." lalu ia mengambil sweater dan roknya di kamar ruang tamu ia melangkah keluar sebelum ibunya menjawab. Entah suasana hatinya sedang kacau dengan kejadian tadi dan atas perubahan sikap suaminya begitu saja. Felicya lalu duduk di kursi taman ia mengusap air mata di kelopak matanya itu. Ia tidak ingin ada tetangga ataupun ibunya melihat dirinya sedang bersedih. Felicya menarik napas dan mencoba menetralkan dirinya agar ia tidak terus-menerus bersedih.
"Hah... Huft," ia melakukannya berulang kali.
Felicya yang sudah merasa tenang sedikit. Ia mencoba memberi afirmasi untuk dirinya.
"Fel. ini hanya masalah kecil, kamu gak akan kenapa-kenapa. Anggap ini bumbu di rumah tangga barumu. Siapa tahu cuma sementara, gak akan seterusnya kayak sekarang," gumamnya.
Lalu Felicya masih diam duduk di kursi taman.
Namun. Ia tidak tahu bahwa si sang penguntit itu masih ada di sana, penguntit itu sedang memperhatikan Felicya.
"Istrimu cantik juga Galang, sayang sekali ia menikah denganmu yang tidak tahu perilaku aslimu seperti apa, aku lihat istrimu terlihat agamais dengan baju gamis dan kerudung panjang. Andai dia yang menjadi istriku, aku tak akan memperlakukannya buruk," gumamnya. Entah si penguntit laki-laki itu terbesit dihatinya merasa kasihan dengan Felicya. Apalagi dia menilai Felicya perempuan yang muslimah. Namun. Laki-laki penguntit itu terlintas dipikirannya. "Kalau kamu menyakiti istrimu aku akan merebutnya darimu Galang," gumamnya lagi dengan senyum tipis di bibirnya.
Felicya masih diam disana dan melamun. Ibunya yang mengintipnya di jendela ikut merasa sedih melihat putrinya sedang memendam rasa sedihnya sendirian. Ibunya sangat berharap bahwa pernikahan putrinya tetap bahagia. Ia anggap ini ujian pertama rumah tangga anak kesayangannya itu.