Lucas, pembunuh bayaran paling mematikan dari Akademi Bayangan Utara, adalah master pisau dengan elemen air yang tak tertandingi. Obsesinya untuk menjadi yang terbaik dan persaingannya dengan Diana, senior ahli pedang es, membentuk dirinya. Namun, kedamaian hancur saat akademi diserang. Master Loe dan Niama gugur, memicu amarah Lucas yang melepaskan kekuatan airnya menjadi badai penghancur. Di tengah reruntuhan, Lucas bersumpah membalas dendam atas kematian mereka. Dengan sebuah lambang spiral gelap sebagai petunjuk satu-satunya, ia memulai misi pencarian dalang di balik kehancuran ini. Akankah balas dendam mengubahnya atau ia menemukan kebenaran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan Yang Tak Terduga
Raven nyaris tak sempat bereaksi. Pisau Lucas sudah menempel di punggungnya, dingin dan mematikan. Pengawal di sisi kanan yang tadi menghadap klon air Lucas, terkejut dan mencoba berlari menolong, tapi klon air Lucas yang satunya langsung melesat. Dengan gerakan cepat, klon itu menghujamkan pisau air ke dada pengawal. Pengawal itu tersentak, lalu ambruk tak bernyawa, tubuhnya perlahan larut bersama percikan air.
"Sialan!" Raven membentak. Dia merasakan pisau Lucas menusuk sedikit kulitnya. Raven tahu Lucas tidak main-main. Energi gelap memancar dari tubuh Raven, mendorong Lucas mundur sesaat. Ini adalah trik yang sering ia gunakan untuk mendapatkan sedikit ruang gerak. Klon air Lucas di sisi kanan yang tadi pecah, kini kembali terbentuk sempurna, siap menyerang lagi.
Raven berbalik dengan cepat, mengayunkan belatinya ke arah Lucas. Lucas menghindar, sementara kedua klon airnya melancarkan serangan berantai. Mereka bergerak beriringan, menciptakan badai pisau air yang memaksa Raven bertahan. Belati Raven berputar lincah, menghalau setiap serangan, tetapi tekanan dari tiga Lucas sekaligus mulai membuatnya kewalahan.
Pengawal Raven yang terakhir, yang tadi berada di sudut, kini mencoba mendekat. Dia mengeluarkan sebuah pedang besar dan mengayunkannya ke arah klon air Lucas. Klon air itu dengan cekatan menghindari serangan, lalu dengan gerakan memutar, pisau airnya menyayat leher pengawal. Darah muncrat, dan pengawal itu jatuh tak bergerak di antara peti-peti kayu.
"Kau membunuh mereka!" teriak Raven, matanya memancarkan kemarahan. Aura gelap di sekelilingnya semakin memekat, dan tanah di bawah kakinya mulai retak. "Kau akan membayar mahal untuk ini, bocah!" Belatinya kini mengeluarkan kilatan ungu, tanda ia akan menggunakan serangan yang lebih berbahaya.
Lucas tidak gentar. Ia tahu ini adalah kesempatan terbaiknya. Raven sekarang sendirian, tanpa pengawal. "Kalian yang memulai," balas Lucas dingin, "dan kalian akan mengakhirinya." Ia dan kedua klonnya kembali menyerang, kali ini dengan kecepatan yang lebih mengerikan, menargetkan celah sekecil apa pun dalam pertahanan Raven.
Raven melepaskan gelombang energi gelap. Gelombang itu menyebar cepat, mencoba mendorong Lucas dan klonnya menjauh. Lucas menggunakan kontrol airnya untuk menciptakan perisai air tipis yang meredam sebagian besar serangan. Meski terdorong sedikit, mereka tetap berdiri tegak.
"Aku akan mengulitimu hidup-hidup!" desis Raven, melompat tinggi. Ia berputar di udara, meluncurkan dua belati ungunya ke arah Lucas. Belati itu berputar seperti bumerang, membawa energi gelap yang pekat, dan siap menghantam Lucas dari dua arah berbeda.
Lucas bereaksi cepat. Ia memerintahkan klon airnya untuk mencegat salah satu belati. Klon itu bergerak maju, mengorbankan diri untuk menahan serangan. Belati itu menembus klon, menyebabkannya pecah menjadi ribuan tetesan air, sementara belati satunya berhasil dihindari Lucas.
Di saat Raven mendarat, Lucas asli dan klon air yang tersisa langsung melesat. Mereka mengapit Raven, satu dari depan dan satu dari belakang. Pisau Lucas diarahkan ke jantung Raven, sedangkan pisau klon air diarahkan ke punggungnya. Ini adalah serangan jepit yang presisi, dirancang untuk tidak bisa dihindari.
Raven tersentak. Ia tidak menyangka Lucas akan seberani ini. Dengan refleks yang luar biasa, Raven melakukan gerakan memutar tubuh, membiarkan pisau Lucas menyayat lengannya, demi menghindari tusukan fatal di jantung. Pada saat bersamaan, ia menendang klon air itu, menyebabkannya buyar.
Darah menetes dari lengan Raven. Rasa sakit itu membuat amarahnya semakin menjadi-jadi. "Kau membuat kesalahan besar!" raungnya. Ia mengayunkan belatinya dengan kekuatan penuh. Kali ini, bukan hanya energi gelap, melainkan bayangan-bayangan tajam ikut melesat dari belati itu, membentuk cakar-cakar yang tak terlihat.
Cakar bayangan itu menyerang Lucas dari berbagai arah. Lucas menghindar dengan gerakan akrobatik, melompat dan berguling, tetapi beberapa cakar berhasil menggores pakaian dan kulitnya. Rasa perih itu membuatnya menyadari bahwa Raven adalah lawan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia kira.
Lucas menyeringai tipis. Ini justru yang ia inginkan. Sebuah pertarungan yang nyata, yang menguji batas kemampuannya. "Belum selesai," gumamnya, matanya menatap tajam ke arah Raven. Ia mengalirkan lebih banyak energi air ke tubuhnya, bersiap untuk serangan pamungkas.
Raven melihat tekad di mata Lucas. Ia tahu bocah ini tidak akan menyerah sampai salah satu dari mereka tumbang. "Baiklah, bocah," katanya, suaranya dipenuhi ancaman. "Mari kita lihat siapa yang akan bertahan sampai akhir." Ia bersiap, belati ungunya memancarkan aura kegelapan yang lebih pekat lagi, siap untuk pertarungan terakhir.
Tiba-tiba, gudang itu bergetar hebat. Lantai yang tadinya retak kini benar-benar pecah, dan dari celah-celah itu muncul asap hitam tebal yang berbau amis. Asap itu melayang, membentuk sosok-sosok bayangan menyeramkan di belakang Raven. Lucas merasakan tekanan energi gelap yang luar biasa, jauh melampaui apa yang pernah ia rasakan sebelumnya. Ini adalah kekuatan yang berbeda.
"Sekarang kau akan melihat kekuatan yang sebenarnya, bocah!" Raven menyeringai lebar. Gigi-giginya terlihat mengilat di antara jubahnya yang gelap. Ia mengangkat kedua belatinya tinggi-tinggi. Asap hitam di belakangnya menyatu, membentuk dua lengan bayangan raksasa yang siap mencengkeram.
Lucas menyipitkan matanya. Kekuatan ini... ini bukan hanya elemen gelap biasa. Ini adalah sesuatu yang lebih primal dan brutal. Dia tahu ia tidak bisa melawan kekuatan sebesar ini sendirian, apalagi dalam kondisi tubuhnya yang mulai lelah. Kemenangan bukan lagi prioritas, kelangsungan hidupnya yang utama.
Ia harus mengakui, ini adalah saatnya untuk mundur. Tekad balas dendamnya masih membara, namun ia tidak bodoh. Melanjutkan pertarungan ini berarti bunuh diri. Lucas membutuhkan strategi baru. Ia membutuhkan waktu untuk menganalisis kekuatan Raven yang sebenarnya, lalu kembali dengan rencana yang lebih matang.
Dalam sepersekian detik, Lucas mengambil keputusan. Ia akan melarikan diri, tetapi bukan dengan cara biasa. Ia akan menggunakan inti elemen airnya. Ini adalah teknik yang sangat berbahaya, membutuhkan konsentrasi penuh dan sedikit kesalahan bisa berakibat fatal. Namun, ini satu-satunya cara.
Lucas menatap Raven sejenak, mengukir bayangan pria berjubah gelap itu dalam ingatannya. Ia tahu ini belum berakhir. Balas dendamnya akan segera datang, tapi tidak sekarang. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan semua sisa energinya, dan memfokuskan pikirannya.
Kedua belati Raven bersinar semakin terang, dan lengan-lengan bayangan di belakangnya mulai mengayun. "Terimalah kematianmu!" teriak Raven, melepaskan serangan pamungkasnya. Gelombang energi gelap itu melesat cepat, disusul cakar-cakar bayangan yang tak terhitung jumlahnya, semuanya mengarah ke Lucas.
Namun, Lucas tidak lagi di sana. Dengan kecepatan yang tak terbayangkan, tubuhnya mulai berubah. Kulitnya memudar, otot-ototnya melunak, dan dalam sekejap, ia benar-benar menjadi gumpalan air yang mengalir di lantai gudang. Ia meninggalkan sebuah ilusi tubuh yang terlihat persis seperti dirinya, masih berdiri tegak.
Serangan mematikan Raven menghantam ilusi tubuh Lucas itu. Ilusi itu pecah menjadi ribuan percikan air yang menghilang di udara, seolah Lucas benar-benar lenyap ditelan kegelapan. Gudang itu bergema dengan ledakan keras, dan asap hitam memenuhi ruangan.
Raven menyeringai puas. "Hanya itu kemampuanmu, bocah?" desisnya. Ia melangkah maju, mencari jejak Lucas di antara asap yang mulai menipis. "Sepertinya kau tidak sekuat yang kubayangkan. Master Brian akan senang mendengarnya."
Namun, di tengah puing-puing, tidak ada tanda-tanda tubuh Lucas. Raven mengernyit. Ia yakin serangannya sangat telak. Namun, ia tidak melihat ada darah atau sisa-sisa tubuh. Raven merasa sedikit aneh, tapi dia menepisnya. Mungkin tubuhnya hancur total karena kekuatannya.
Sementara itu, gumpalan air yang adalah Lucas yang sebenarnya, mengalir cepat di antara celah-celah lantai gudang yang rusak. Ia bergerak seperti bayangan, tak terlihat, tak terdengar. Mengikuti aliran udara, ia berhasil menyelinap keluar dari gudang dan menyatu dengan embun di malam hari.
Gumpalan air itu terus bergerak, menjauh dari bekas pelabuhan lama, menembus hutan di pinggir kota. Ia merasakan kelelahan yang luar biasa, tetapi adrenaline memaksanya untuk terus bergerak. Ia harus menemukan tempat yang aman, tempat di mana ia bisa kembali ke wujud aslinya tanpa ketahuan.
Setelah melarikan diri cukup jauh, di sebuah tempat terpencil di dalam hutan, gumpalan air itu mulai melambat. Lucas merasakan sudah aman. Ia bisa mendengar suara-suara malam yang menenangkan, jauh dari hiruk pikuk gudang yang mencekam tadi.
Perlahan, gumpalan air itu mulai memadat. Bentuknya kembali menjadi siluet manusia, kemudian kulit dan ototnya terbentuk sempurna. Dalam beberapa detik, Lucas berdiri tegak di tengah hutan, tubuhnya basah kuyup, napasnya terengah-engah.
Ia melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang mengikutinya. Wajahnya yang pucat menunjukkan kelelahan yang mendalam, tapi matanya tetap tajam, dipenuhi tekad yang semakin membara. Raven memang kuat, tapi Lucas telah belajar sesuatu yang penting.
"Aku akan kembali, Raven," bisiknya pelan, suaranya serak namun penuh ancaman. "Dan kali ini, aku tidak akan melarikan diri." Ia mengepalkan tangannya, merasakan sisa-sisa energi air yang masih melekat di tubuhnya. Pelajaran dari pertarungan ini sangat berharga.