Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?
Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.
Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Keluarga Ramon III
Setelah empat Dekekuoi dicabik hingga lehernya robek dan mengeluarkan darah hitam yang banyak lalu seketika mengering dan mati menyisakan tengkorak hitam, sisanya melihat dengan wajah yang ketakutan, ya, Pemburu memang seharusnya sangat bengis saat melihat perburuan mereka di depan mata bukan?
“Kalian ingin berakhir begini, atau ikut kami?” Er si sulung bertanya, pemuda yang paling kuat meminta semua sisa Dekekuoi yang masih hidup untuk berada di belakangnya.
“Jangan bergerak, apapun yang terjadi, jangan bergerak!” Pemuda Dekekuoi itu berkata pada yang lain sementara Jagabaya Kasipin dari keluarga Ramon tertawa, karena meraka tahu, ini pasti langkah ingin menyerah dan takut.
Saat Er bergerak, dia melihat pemuda itu menunjuk tongkat ke arah samping dan meneriakkan kata-kata yang tidak dipahami oleh mereka.
Zivara kelun, stavelah!
Kavren talak, ambara taked!
Vara min, vara aswalham!
Sakara Zivara kelun!
Vara min, cara aswalham!
DARRRR! Suara tembakan terdengar, Ar melihat ke sekeliling, para tentara seperti mayat hidup berjalan ke segala arah membawa senapan, pisau dan bahkan kapak, kepala mereka menengok kiri dan kanan seolah mencari sesuatu.
“Er! Mama!” Ar berteriak pada kakak sulungnya, ibu mereka ternyata tertembak pada bagian dada.
“Tidak!” Er belari ke arah ibunya, ayahnya menahan mereka dan berkata, “Kalian bantai Dekeluoi biadab itu, bantai mereka!” Ramon berteriak, tapi seketika para tentara yang masih hidup tapi bersikap seperti mayat hidup itu mendekati Ramon dan keluarganya yang sedang melihat keadaan Nyonya Ramon, ada yang menembak, ada yang melempar kapak ada juga yang menghunuskan golok, mereka menyerang membabi buta pada keluarga Ramon.
“Sihir! Mereka pakai sihir!” Or berteriak, dia memang yang paling cepat tanggap dan pintar.
Sementara keluarga Dekekoi hanya melihat dengan sikap yang aneh, ya! Mereka tak bergerak sama sekali, mereka hanya memperhatikan Jagabaya Kasipin dibantai oleh para tentara.
Anehnya juga, tak ada satu pun yang menghampiri keluarga Dekekuoi, seolah mereka tak terlihat, apakah ini gendam?
Tidak, tentu saja bukan karena mereka bukan dukun nusantara, mereka adalah Dekekuoi penyihir yang nenek moyangnya datang dari Bulgaria, atau desa Dekekuoi, jadi mana mungkin mereka belajar gendam, tapi mungkin ini mirip, tapi mereka menggunakan perpaduan antara Sila dan mantra kuno.
Zivara kelun, stavelah!
Kavren talak, ambara taked!
Vara min, vara aswalham!
Sakara Zivara kelun!
Vara min, cara aswalham!
Adalah mantra untuk memerintahkan para tentara mengambil senjata di depan mereka apapun itu dan membantai siapa pun yang bergerak tanpa ampun. Ya! Bisa juga dibilang mereka seketika menjadi seperti mayat hidup yang pikirannya tak terkendali dengan satu perintah.
Mirip dengan gendam, tapi tentu saja berbeda konsep.
Pak Roman berusaha menarik istrinya sambil terus menghubuskan pedang pada apapun atau siapa pun yang datang mendekat.
Pak Roman berusaha menarik istrinya sambil terus mengayunkan pedang pada apa pun atau siapa pun yang datang mendekat.
“Cabik mereka! Jangan hanya diam!” teriaknya kepada anak-anaknya.
Namun keadaan sudah berubah.
Tentara yang sebelumnya menjadi pasukan mereka kini justru menjadi musuh yang tidak bisa diajak berpikir. Mereka bergerak tanpa rasa takut, tanpa peduli siapa yang berada di depan mereka. Senapan ditembakkan begitu saja, membuat suara letusan memenuhi hutan.
DARR!
Ur melompat ke samping saat peluru melesat melewati bahunya. “Kurang ajar!”
Ia menerjang seorang tentara dan menjatuhkannya, tetapi dua tentara lain langsung datang dari belakang dengan golok terangkat.
Ur berbalik.
Trang!
Pedangnya menahan golok pertama. Golok kedua hampir mengenai tubuhnya jika Ar tidak datang dari samping dan menebas tangan yang memegangnya.
“Jangan lengah!” Ar berteriak.
“Aku tahu!”
Namun mereka tidak memiliki waktu untuk berbicara karena jumlah tentara terlalu banyak dan mereka datang dari segala arah, sementara Er masih berada di dekat ibunya dan darah terus membasahi pakaian Nyonya Ramon, meskipun wanita itu belum kehilangan kesadaran.
“E r... ” suaranya sangat pelan.
“Mama, jangan bicara.”
“Aku masih bisa berdiri.” Mamanya berkata dengan lemah tapi tak kehilangan harapan untuk menangkap para Dekekuoi.
Er menggertakkan gigi.
Ia tahu ibunya terluka parah, tetapi tidak mungkin membawa ibunya pergi ketika seluruh tempat itu sudah berubah menjadi medan perang.
Pak Roman berdiri di depan mereka dengan pedangnya yang bergerak cepat, menjatuhkan satu tentara sebelum yang lain datang lagi, lalu ia kembali menebas, namun sebuah tembakan mengenai lengannya hingga membuat Pak Roman terhuyung.
“Papa!”
“Jangan pedulikan aku!”
Ia masih mencoba berdiri.
“Bawa ibumu!”
Er hendak mendekat, tetapi beberapa tentara langsung mengepungnya, ia mengangkat pedang dengan tangan yang gemetar karena marah.
“Kalian semua manusia bodoh!”
Ia menyerang.
Satu demi satu tentara mundur, tetapi mereka terus berdatangan.
Ur mencoba membantu dari belakang, namun sebuah kapak menancap pada perutnya, jika dia manusia biasa, dia pasti langsung menemui ajal, tapi itu cukup melemahkannya.
Ia menoleh saat seorang tentara lain mengangkat senapan.
DARR!
Ur jatuh.
“Ur!”
Ar berlari ke arahnya., peluru lain melesat, Ar menunduk. Tapi tetap saja, peluru itu tepat mengenai kepalanya, seketika Ar jatuh dan mengeluarkan darah.
Ibunya berteriak histeris, 2 anaknya telah kritis, suaminya juga terluka dan 2 anak lagi masih bertarung, ibunya mencoba bangkit tapi darah keluar semakin banyak. Ia kemudian melihat sesuatu yang membuatnya terdiam.
Para Dekekuoi masih berdiri di tempat mereka, tidak bergerak dan tidak menyerang, hanya menyaksikan, pemuda yang menjadi pemimpin mereka bahkan masih menggenggam tongkatnya, tetapi matanya tertuju pada keluarga Ramon, seolah-olah ia sedang menunggu sesuatu.
Nyonya Ramon menyesal karena tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Huron tentang menunda serangan ini, tapi nasi sudah menjadi bubur, 2 anaknya sudah sekarat dan 2 anak lagi terlihat hampir kelelahan.
"Lari!" Ibunya berteriak pada 2 anaknya, Er dan Or melihat ibunya dan tahu kalau kemungkinan mereka menang tidak ada, meski mereka bisa mencabik para tentara tapi jumlah mereka terlalu banyak. Maka seperti yang ibunya bilang, dua anak itu menyerang sambil mencari jalan untuk kabur.
Ramon tahu apa yang istrinya maksudkan, dia mencoba mengalihkan perhatian para tentara agar tak mengejar 2 anaknya yang tersisa dan menjadi menyerang papa dan mama Ramon.
Butuh waktu 1 jam untuk para tentara menghabisi papa dan mama Ramon, meski mereka dicabik oleh taring papa Ramon, tapi mereka tak merasakan apapun karena di bawah kendali sihir, manusia yang otaknya sudah menjadi mode mayat hidup, mana mungkin mereka merasakan sakit.
Di kejauhan, para Dekekuoi tetap diam.
Mereka tidak tertawa, tidak bersorak, hanya melihat, karena bagi mereka ini bukan kemenangan, melainkan peringatan, sebuah peringatan bahwa para pemburu juga bisa diburu.
Mantranya tidak sederhana dan bahkan bisa membuat celaka untuk mereka juga, makanya pemuda Dekekuoi tadi meminta para Dekekuoi untuk tidak bergerak, karena pemuda itu butuh mayat hidup yang tak peduli apapun untuk menghabisi Jagabaya Kasipin.
Di titik di mana dia atau aku yang mati, Dekekuoi jarang sekali kalah, karena mereka tidak hanya memiliki Sila yang tinggi tapi juga mantra kuno yang kuat.
Pemuda pemimpim Dekekuoi itu lalu mengucapkan mantra lagi dan setelah itu para tentara jatuh pingsan, beberapa ada yang mati karena cabikan dari taring keluarga Ramon.
Tentara yang selamat berlarian, tak paham dengan yang terjadi, tapi mereka tahu, kalau tidak lari, bisa jadi mereka ikut mati.
Sementara pemuda pemimpin Dekekuoi itu meminta para Dekekuoi untuk menarik 2 tubuh Kasipin, mereka memastikan apakah 2 Jagabayar Kasipin sudah benar-benar mati. mereka menggorok kepala mama papa Ramon dan mengambil kepala mereka. Kepala itu dikubur jauh dari tubuh agar tidak bangkit menjadi ....