Menceritakan tentang seorang wanita berusia 25 tahun yang memiliki 2 pekerjaan yang bertolak belakang. Pekerjaan yang sepertinya hanya bisa dilakukan oleh wanita tersebut. Sebuah pekerjaan yang memiliki resiko tinggi jika terungkap salah satunya. Dibalik itu semua, dia memiliki alasan kuat kenapa memilih untuk melakukannya.
"Layani aku, atau aku sebar rahasiamu."
Hanya suara desahan dan erangan kenikmatan yang terdengar di sebuah kamar yang minim penerangan. Seorang wanita berusaha keras memuaskan sang dominan. Mereka memang menyatu, tetapi mereka melakukannya demi tujuannya masing-masing. Kepuasan dan uang.
Bertahun-tahun wanita itu menjaga rahasianya. Tetapi seiring berjalannya waktu, apa yang dia jaga mulai terungkap satu persatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Rasa
Ayana memejamkan matanya, kedua tangannya bertumpu pada sisi meja agar tidak terjatuh. Perutnya terasa begitu nyeri. Ini pasti akibat karena dia menunda siklus bulanannya. Darah yang seharusnya keluar justru tertahan. Dia sudah bersiap untuk pergi ke apartemen Sean, tetapi rasa sakit ini kembali menyerangnya.
Dengan sisa kekuatan yang dia punya, dia mengambil obat penahan nyeri dan kembali merapikan penampilannya untuk memenuhi panggilan Sean. Hanya tinggal seminggu dia akan terlepas dari kontrak dengan pria itu. Jadi dia tidak ingin meninggalkan kesan buruk nantinya.
Kali ini Ayana lebih memilih menaiki taxi untuk menuju tempat Sean. Dia tidak ingin mengambil resiko jika perutnya kembali sakit saat sedang menyetir.
"Aunty!!"
Baru saja dia membuka pintu apartemen Sean, di depannya sudah ada sosok mungil yang selalu dia rindukan. Sudah lama sekali dia tidak melihat Sky ketika dirinya menjadi Zendaya.
Zendaya tersenyum lebar dan berjongkok, lalu merentangkan kedua tangannya. Jika dia menjadi guru, dia tidak bisa memeluk anak ini sembarangan. Syukurlah, dia mengenakan pakaian yang tidak begitu vulgar. Lagi pula dia juga mengenakan jaket.
Sky langsung masuk ke dalam pelukan Aunty kesayangannya itu. "Kenapa Aunty tidak pernah menemui Sky?" tanya Sky dengan bibir yang mengerucut lucu.
Zendaya terkekeh dan mengelus lembut puncak kepala anak itu. "Maaf ya. Aunty sibuk," balasanya. Wanita itu melirik Sean yang sedang menyandar pada dinding tak jauh darinya.
"Aunty harus menemani Sky bermain!" ujar Sky yang masih berada di pelukan Zendaya. Wanita itu kembali melirik Sean dan di berikan anggukan oleh pria itu.
Tanpa Zendaya sadari, Sean tersenyum tipis. Sangat tipis. Pria itu memang memanggil Zendaya khusus untuk anaknya, bukan dirinya. Anak tunggalnya itu terus menerus merengek ingin bertemu dan bermain dengan wanita itu.
Sekarang kedua orang yang tadinya berpelukan itu sudah pindah ke ruang tamu. Kali ini Sky ingin di temani menggambar dan mewarnai. "Aunty! Sky belum tau nama Aunty!" celetuk anak itu.
Zendaya terkekeh dan mencubit hidung Sky pelan. "Nama Aunty Zendaya. Sky cukup panggil Aunty Aya."
Anak yang tadi bertanya nampak berpikir, pensil warna yang ada di tanganya dia letakkan di pelipisnya. "Aya? Nama Aunty, Aya?" tanya Sky memastikan. Zendaya mengangguk singkat.
Sky melotot dan berteriak heboh. " Daddy! Daddy! Nama Aunty ini mirip nama guru Sky di sekolah!"
Skakmat!
Zendaya lupa akan hal itu. Wanita berusia 25 tahun itu seketika merubah ekspresinya. Hal itu tak luput dari penglihatan Sean yang sedang duduk di sofa. Pria itu merasa bosan sedari tadi. Tetapi ketika mendengar anaknya bertanya nama wanita itu, dia menjadi sedikit tertarik. Sedikit ya, sedikit.
"Selain wajah, nama kalian juga sama!" ujar Sky yang sudah berpindah tempat menjadi lebih dekat dengan Zendaya. Zendaya tersenyum kikuk menanggapi ucapan anak itu. Selain pintar anak itu juga kritis.
"Lanjutkan gambarmu, Sky!" ujar Sean. Dia tau jika wanita itu merasa gugup. Dia juga tau dengan betul bagaimana sifat anaknya. Jika sudah penasaran akan sesuatu, anak itu pasti tidak akan berhenti bertanya.
Sky cemberut dan mengganguk mendengar ucapan ayahnya dan kembali melanjutkan gambarnya. Dia tidak ingin di bentak oleh ayahnya seperti dulu.
Zendaya menghela napas lega, tetapi tetap ada yang mengganjal di hatinya. Melihat ekspresi Sean yang menampilkan raut datar, membuatnya khawatir jikalau pria itu juga ikut berpikiran yang sama seperti anaknya.
Karena lelah bermain, Sky langsung meminta Zendaya untuk menemani dan memeluknya ketika tidur. Rasa nyeri di perutnya kembali datang. Kali ini lebih parah dari sebelumnya, dengan pelan dia turun dari kasur untuk menuju kamar mandi.
Keringat dingin mulai mengucur di wajah wanita itu. Dia harus segera pulang. Dia tidak mungkin melayani Sean dengan keadaan seperti ini. Dia akan meminta pria itu untuk menambah masa kontraknya satu hari, karena hari ini dia tidak bisa melayaninya. Dengan tertatih dan merambat pada dinding di sekitarnya, Zendaya keluar dari kamar mandi.
"Ada apa denganmu?"
Wanita itu tidak menyadari jika "Tuannya" sudah berada di dalam kamar. Zendaya mencengkeram kuat perutnya. Dia harus kuat.
"Aku tanya. Ada apa denganmu?" Sean bertanya kembali karena tidak ada jawaban yang keluar dari mulut wanita itu. Sean mendekati Zendaya dan melihat jika wajah wanita itu sudah di penuhi dengan keringat.
Sean langsung saja menggendong Zendaya dan membaringkannya di sebelah Sky yang sedang terlelap. Zendaya sudah tidak memiliki tenaga untuk menolak. "Aku akan memanggil dokter ke sini," ujar Sean setelah membenarkan posisi serta menyelimuti Zendaya.
...****************...
"Apa kau sedang datang bulan?" Zendaya menggeleng pelan menanggapi ucapan dokter yang di panggil Sean tadi.
"Apa ini sudah masuk siklus bulananmu?"
Kali ini Zendaya mengangguk. Tak ada gunanya juga dia menutupi hal ini, yang ada di hadapannya ini adalah seorang dokter yang sudah pasti tau hanya dengan melihat gejalanya.
Dokter itu mengangguk paham, dia melihat Sean dan Zendaya bergantian. "Aku hanya bisa memberimu obat pereda nyeri. Jika besok belum membaik datanglah ke rumah sakit. Tidak baik sesuatu yang seharusnya kau keluarkan, justru kau tahan," ucap dokter berjenis kelamin laki-laki yang terlihat masih muda itu.
Obat itu dia taruh di atas nakas. Dengan bantuan dari Sean, Zendaya merubah posisinya menjadi bersandar pada headboard. Dengan telaten, Sean juga membantunya meminum obat tersebut. Satu nyawa lain yang berada di dalam kamar itu hanya mengamati dengan diam.
Setelah membantu Zendaya, Sean mengantar dokter itu keluar. "Apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Sean saat sudah sampai di ruang tamu.
"Apakah dia pemuasmu yang baru?" dokter itu balik bertanya. Sean mengangguk menanggapi pertanyaan dari temannya itu. Ya, dokter ini adalah temannya, lebih tepatnya anak dari dokter keluarga yang akrab dengannya.
Dokter itu menghela napas kasar. "Sepertinya dia menahan masa datang bulanannya. Karena darah yang seharusnya di keluarkan justru dia tahan. Hal itulah yang menyebabkan dia merasakan nyeri pada perut bawahnya."
"Aku tidak paham," balas Sean. Dia hanya orang awam dan juga seorang pria, mana dia tau bagaimana siklus bulanan dari seorang wanita.
"Bodoh!!" hardik sang dokter.
Sean memutar bola matanya dengan malas. "Jelaskan!"
"Kau tau jika setiap wanita mendapatkan siklus bulanan, kan?" Sean mengangguk sebagai jawaban.
"Sepertinya dia sudah mendapatkan sikus itu dari beberapa hari yang lalu, tetapi karena dia harus memuaskan nafsu bejatmu itu, dia memilih untuk menghentikan siklus itu bulan ini," ucap dokter yang bernama Marcel itu. Dia juga sudah tau jika Sean akan menyewa wanita jika memang benar-benar menginginkan kepuasan.
"Apakah akan ada dampak buruk jika dia melakukan itu?" tanya Sean penasaran. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya.
"Jika hanya sekali tak masalah, tetapi jika dia sudah berulang kali menghentikannya setiap bulan, maka akan berdampak buruk untuk reproduksi kewanitaannya," jawab Marcel. Hening melanda keduanya.
"Sudahlah. Aku akan pulang," ucap Marcel lalu menguap lebar. Dia tadi sedang enak-enaknya mengarungi dunia mimpi, dan teman sekaligus bos tidak tau diri itu menyuruhnya datang karena ada masalah urgent.
Sebelum benar-benar keluar, Marcel berceletuk. "Sepertinya dia bukan hanya sekedar mainan untukmu."
Sean seketika menatap Marcel dengan sengit. Tetapi jauh di lubuk hatinya dia memang mulai tertarik dengan wanita itu. Jika tidak tertarik, kenapa dia harus repot-repot memanggil dokter saat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam? Dia juga tidak mengenal jauh maupun akrab dengan wanita itu.
BERSAMBUNG
Bagian menghentikan siklus bulanan ini aku tau dari ibu aku ya, dia pakai pil KB. Jadi tiap bulan puasa dia selalu lewatin pil yang warna merah, katanya biar gak datang bulan. Dampaknya punggung sama perutnya sakit.
Jika ada yang salah mohon koreksinya ya, ini hanya cerita fiksi. Terimakasih