Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Kalung yang Membuka Masa Lalu
Malam itu, Damar Prasetya masih memandangi foto Aluna yang dikirim seseorang tanpa nama. Tatapannya tidak tertuju pada wajah gadis itu, melainkan pada kalung berbentuk bulan sabit yang tergantung di lehernya.
Tangannya perlahan bergetar.
"Kalung itu..."
Suara Damar terdengar lirih.
Ia berdiri, lalu berjalan menuju ruang kerja pribadinya. Dari dalam brankas, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu tua yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dibuka.
Di dalamnya terdapat sebuah foto usang.
Foto itu memperlihatkan seorang bayi perempuan yang sedang tertidur pulas. Di leher bayi tersebut tergantung kalung yang bentuknya sama persis dengan milik Aluna.
Damar memejamkan mata.
"Mustahil..."
Kenangan delapan belas tahun lalu kembali memenuhi pikirannya. Penyesalan yang selama ini ia kubur mulai muncul kembali.
Keesokan paginya, Aluna berangkat ke sekolah seperti biasa. Meski gosip tentang dirinya belum sepenuhnya hilang, ia tetap berusaha tersenyum.
"Luna!"
Siska berlari kecil menghampirinya.
"Kamu baik-baik saja?"
"Iya."
"Kalau ada yang mengganggumu lagi, bilang saja padaku."
Aluna tersenyum hangat.
"Terima kasih."
Persahabatan mereka semakin erat. Bagi Aluna, Siska sudah seperti saudara sendiri.
Namun, dari kejauhan, Keisha memandangi mereka dengan tatapan penuh rasa iri.
"Aku tidak percaya dia bisa tetap tersenyum setelah semua gosip itu."
Salah satu temannya mendekat.
"Keisha, apa kita lanjutkan rencana kita?"
Keisha mengangguk pelan.
"Tentu. Aku ingin semua orang melihat siapa Aluna sebenarnya."
Padahal, Keisha sendiri belum mengetahui siapa sebenarnya Aluna.
Di kantor Mahardika Group, Rangga kembali memberikan laporan kepada Arsen.
"Pak, ada perkembangan."
"Apa?"
"Saya berhasil menemukan orang yang pertama kali mengunggah foto Bapak bersama Aluna."
"Siapa?"
"Akunnya palsu. Tapi jejaknya mengarah pada seseorang yang masih berstatus pelajar."
Arsen menghela napas.
"Jangan lakukan tindakan apa pun dulu."
"Bapak ingin menunggu?"
"Aku tidak ingin membuat masalah itu semakin besar."
Rangga mengangguk memahami keputusan atasannya.
Sore hari, Aluna membantu Ratih menata dagangan.
Saat sedang melayani pembeli, seorang perempuan paruh baya tiba-tiba berhenti di depan lapak mereka.
Tatapannya langsung tertuju pada kalung di leher Aluna.
"Gadis itu..."
Perempuan tersebut tampak terkejut.
Aluna menyadari tatapan itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?"
Perempuan itu menunjuk kalung bulan sabit yang dikenakan Aluna.
"Dari mana kamu mendapatkan kalung itu?"
Aluna tersenyum kecil.
"Kalung ini sudah saya pakai sejak masih bayi."
Perempuan itu tampak berpikir keras.
"Kalung seperti itu sangat langka."
Ratih yang mendengar percakapan mereka langsung terlihat gelisah.
"Maaf, Bu. Mungkin hanya kebetulan."
Perempuan itu mengangguk pelan sebelum pergi.
Namun, sebelum meninggalkan pasar, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah Aluna.
Tatapannya dipenuhi rasa penasaran.
Ratih menarik napas panjang setelah perempuan itu benar-benar pergi.
"Nek?"
"Iya?"
"Nenek kenal dengan Ibu tadi?"
Ratih menggeleng cepat.
"Tidak."
Meski begitu, Aluna merasa jawaban Ratih terdengar tidak meyakinkan.
Malam harinya, setelah Aluna tertidur, Ratih duduk sendirian di ruang tamu.
Ia membuka sebuah kotak kecil yang selama ini selalu disimpannya.
Di dalamnya terdapat secarik surat dan selembar kain bayi berwarna putih.
Air mata Ratih perlahan menetes.
"Maafkan Nenek, Luna."
"Nenek belum sanggup mengatakan semuanya."
Ratih tahu, rahasia itu tidak mungkin disembunyikan selamanya.
Cepat atau lambat, Aluna pasti akan mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Di tempat lain, Arsen kembali memperhatikan foto lama bayi yang mengenakan kalung bulan sabit.
Semakin lama ia melihatnya, semakin kuat firasatnya bahwa Aluna memiliki hubungan dengan sebuah keluarga besar yang pernah dikenalnya.
Ia mengambil ponsel lalu menghubungi Rangga.
"Besok, kita pergi ke desa tempat Aluna tinggal."
"Ada sesuatu yang ingin Bapak cari?"
Arsen menatap foto itu sekali lagi.
"Aku ingin menemukan jawaban."
Tanpa mereka sadari, pencarian itu akan membawa mereka pada rahasia yang telah terkubur selama delapan belas tahun. Dan ketika kebenaran mulai terungkap, hidup Aluna tidak akan pernah sama lagi.