Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 006
Kabar yang Mengejutkan
Louisa baru menyadari Nathanael menahan matahari untuknya ketika mereka sudah duduk di dalam mobil.
Map kulit itu kembali berada di pangkuan Nathanael. Wajahnya tetap tenang, seolah ia tidak baru saja berdiri di bawah panas Jakarta hanya untuk membuat silau di mata Louisa berkurang.
Louisa menatap jendela.
Di kaca mobil, pantulan dirinya tampak asing. Dress putih sederhana, rambut rapi, wajah sedikit pucat, dan di dalam tasnya ada akta nikah sementara dengan namanya berdampingan dengan nama Nathanael Susanto.
Ia sudah menikah.
Kalimat itu belum menemukan tempat di kepalanya.
"Kita harus memberi tahu Darren," ucap Nathanael.
Louisa langsung menoleh. "Sekarang?"
"Dia sudah curiga."
"Darren curiga pada semua orang yang pakai jam mahal."
"Dia adikmu."
Kalimat itu membuat Louisa diam.
Darren memang adiknya. Bukan sedarah, tetapi sejak kecil, anak itu selalu menjadi satu-satunya orang di rumah Lesmana yang mencarinya tanpa alasan. Saat Renata dingin dan Vincent jarang pulang, Darren kecil akan berdiri di depan pintu kamarnya sambil membawa mainan rusak, pura-pura butuh diperbaiki padahal hanya ingin ditemani.
Ia berhak tahu.
Tapi Louisa belum siap melihat mata Darren ketika mendengar kata menikah.
"Dia akan marah," bisiknya.
"Kepadaku?"
"Kepada siapa saja yang ada di dekatnya."
"Kalau begitu biar kepadaku dulu."
Louisa menatap Nathanael. "Ini bukan salahmu."
"Aku suamimu sekarang. Setidaknya di depan orang yang ingin melindungimu, aku harus berdiri dengan benar."
Kata suami terdengar begitu asing sampai Louisa tidak langsung menjawab.
Nathanael tidak memaksanya menyebut kata apa pun. Ia hanya memberi instruksi kepada sopir untuk menuju Kelapa Gading.
***
Darren datang dua puluh menit kemudian ke coffee shop kecil dekat Mal Kelapa Gading dengan pipi yang memarnya mulai menguning dan ekspresi orang yang sudah tahu akan mendengar kabar buruk.
Ia mengenakan kaus hitam, celana jeans, dan topi baseball. Begitu melihat Louisa dan Nathanael duduk di meja pojok, langkahnya berhenti.
"Oke," katanya sambil menarik kursi. "Kalau kalian manggil aku berdua, berarti ini bukan soal biaya pengobatan kemarin."
Louisa menggenggam gelas es teh yang belum ia minum.
"Dar..."
"Ci Lou kelihatan kayak habis ditanya audit pajak." Darren menatap Nathanael. "Dan lo kelihatan terlalu tenang. Gue nggak suka."
Nathanael menerima tatapan itu tanpa berubah. "Ada yang harus kamu tahu."
"Soal apa?"
"Aku dan Louisa sudah menikah."
Beberapa detik pertama, Darren tidak bereaksi.
Ia hanya menatap Nathanael, lalu Louisa, lalu kembali ke Nathanael. Setelah itu kursinya terdorong kasar ke belakang saat ia berdiri.
"Apa?"
Beberapa pengunjung coffee shop menoleh.
Louisa ikut berdiri. "Dar, pelan sedikit."
"Pelan?" Darren menunjuk Nathanael. "Ci Lou, lo baru kenal orang ini berapa lama?"
"Darren."
"Tiga hari lalu dia nganter kita dari Polsek. Hari ini kalian nikah? Nikah beneran? Di Catatan Sipil?"
Louisa tidak bisa menjawab cukup cepat.
Darren tertawa pendek, tidak lucu sama sekali. "Gila. Ini gila."
Nathanael berdiri, tetapi tidak maju. "Kamu boleh marah."
"Oh, terima kasih izinnya." Darren menatap tajam. "Lo siapa, hah? Lo pikir karena punya mobil mahal, jam mahal, terus bisa tiba-tiba ambil kakak gue?"
"Tidak."
"Terus apa?"
"Aku tidak mengambil Louisa. Dia bukan barang."
Kalimat itu membuat Darren berhenti setengah detik, tapi amarahnya belum turun.
"Jangan main kata-kata sama gue."
"Aku tidak main kata-kata."
"Kalau nggak, jelasin. Kenapa nikah? Kenapa diam-diam? Kenapa gue tahu setelah semuanya selesai?"
Louisa membuka mulut, tapi Nathanael lebih dulu bicara.
"Karena aku yang meminta semua diproses cepat."
Louisa menoleh kaget. "Nathanael."
Darren melihat reaksi itu. "Oh, jadi bener. Lo yang dorong?"
Nathanael tetap menatap Darren. "Aku yang bertanggung jawab atas keputusan ini di depan kamu."
"Keputusan apa? Keputusan nikahin orang yang lagi patah hati?"
Kata patah hati mengenai meja seperti gelas jatuh.
Louisa menunduk.
Darren melihatnya, dan amarah di wajahnya berubah bentuk. Bukan hilang. Menjadi lebih sakit.
"Ci," suaranya turun, "ini gara-gara Kevin?"
Louisa meremas ujung blazer. "Bukan cuma gara-gara dia."
"Tapi ada dia."
Louisa tidak menjawab.
Darren mengusap wajahnya dengan kasar. "Gue udah bilang dari dulu, orang itu nggak pernah lihat Ci Lou. Kenapa harus sampai begini?"
"Karena aku yang terlalu lama menunggu," jawab Louisa pelan.
Diam turun di meja mereka.
Nathanael tidak menyela. Ia membiarkan kalimat itu menjadi milik Louisa.
Darren menarik napas keras, lalu kembali menatap Nathanael. "Kalau lo tahu dia patah hati, kenapa lo terima?"
"Karena aku ingin menikahinya."
Jawaban itu datang tanpa jeda.
Louisa memandang Nathanael.
Darren juga.
"Lo sadar kedengarannya makin gila?"
"Sadar."
"Lo suka sama dia?"
Coffee shop terasa mendadak terlalu terang.
Louisa menahan napas.
Nathanael menatap Darren, bukan Louisa. "Aku menghormatinya. Aku tidak akan memaksanya melakukan apa pun. Kami punya perjanjian pranikah, pisah harta, batas waktu satu tahun, dan klausul bahwa tidak ada kontak fisik tanpa persetujuan. Kalau setelah satu tahun Louisa ingin pergi, aku akan mengurus perceraian dengan baik."
Darren menyipitkan mata. "Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban yang perlu kamu dengar sebagai adiknya."
"Dan jawaban yang nggak perlu gue dengar?"
Louisa hampir berkata cukup, tapi Nathanael bicara lagi, suaranya tetap rendah.
"Aku tidak menikahi Louisa karena kasihan. Aku tidak menikahinya untuk mempermainkan Kevin. Aku juga tidak butuh keuntungan dari nama Hartono atau Lesmana." Ia berhenti sebentar. "Aku menikah karena aku ingin berada di sisi dia, selama dia mengizinkan."
Darren tidak langsung membalas.
Di meja, es dalam gelas Louisa mulai mencair. Tetes air turun di sisi kaca, membentuk lingkaran basah di atas tatakan.
Darren duduk kembali perlahan.
"Selama dia mengizinkan," ulangnya sinis, tapi suara itu sudah tidak setajam tadi.
"Iya."
"Kalau Ci Lou berubah pikiran besok?"
"Aku antar pulang ke mana pun dia mau."
"Kalau keluarga lo ngerendahin dia?"
"Aku berdiri di depan dia."
"Kalau Kevin datang?"
Mata Nathanael menjadi sedikit lebih dingin. "Dia bicara dengan aku dulu."
Darren menatapnya lama.
Louisa melihat sesuatu bergeser di wajah adiknya. Darren tidak sepenuhnya percaya. Tentu saja tidak. Tapi ia mulai menilai ulang, seperti saat melihat jam Coisíní dan mobil hitam kemarin. Bedanya, kali ini yang ia nilai bukan harga barang, melainkan cara Nathanael menjawab.
"Ci Lou," kata Darren tanpa melepas tatapan dari Nathanael, "Ci yakin?"
Pertanyaan itu akhirnya membuat tenggorokan Louisa panas.
Tidak ada yang bertanya begitu saat ia mencintai Kevin diam-diam. Semua orang menganggap ia baik-baik saja karena ia selalu tersenyum. Darren, dengan bibir pecah dan emosi berantakan, justru bertanya apakah ia yakin.
Louisa mengangguk pelan.
"Aku nggak tahu apakah ini keputusan paling benar," katanya. "Tapi aku tahu aku nggak mau kembali jadi orang yang nunggu Kevin."
Darren menunduk.
Untuk beberapa saat, ia hanya memutar gelas kosong di depannya.
"Mama tahu?"
"Belum."
"Bagus." Darren mendengus. "Kalau Mama tahu dari orang lain, rumah bisa jadi freezer."
Louisa hampir tersenyum, lalu gagal.
"Aku akan bilang sendiri."
"Kapan?"
"Segera."
"Jangan sendirian."
Louisa menatapnya. "Kamu mau ikut?"
"Nggak. Aku masih mau hidup." Darren melirik Nathanael. "Dia aja yang ikut. Kan suami."
Kata itu membuat pipi Louisa memanas.
Nathanael hanya mengangguk. "Aku akan ikut kalau Louisa mengizinkan."
Darren berdiri.
"Gue belum setuju."
"Aku mengerti," jawab Nathanael.
"Gue juga belum manggil lo Ko."
"Tidak perlu."
"Bagus. Jangan kepedean."
Nathanael mengangguk sekali, sangat serius, seolah ucapan Darren adalah keputusan rapat direksi.
Entah kenapa, Louisa ingin tertawa dan menangis bersamaan.
Darren memakai topinya lagi. Sebelum pergi, ia berhenti di samping Nathanael. Tinggi mereka hampir sama, tetapi aura keduanya berbeda. Darren seperti api yang baru belajar tidak membakar semua hal. Nathanael seperti air gelap yang tenang dan dalam.
"Denger," kata Darren pelan.
Nathanael menatapnya.
"Kalau kamu bikin Ci Lou nangis, aku akan cari kamu."