Zalika Azzalea adalah gadis cantik yang berusia dua puluh dua tahun, dirinya memutuskan untuk menikah dengan sang kekasih Arga Pramana diusia muda dengan harapan sebuah kebahagiaan
Pil pahit harus ia telan, karena pernikahan tak berjalan seperti yang dirinya impikan. mimpi sederhana untuk biduk rumah tangga yang sempurna nyatanya harus ia kubur dalam-dalam
Pernikahan yang hanya berlangsung tiga hari itu berakhir dengan menyisakan trauma mendalam, mengubah gadis ceria menjadi seorang yang takut akan cinta
Akankah ada pria yang dikirim tuhan untuk menyembuhkan lukanya? lalu Cinta yang akan memberinya kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan
Pria itu kembali mengangkat tongkat baseball itu tinggi, Zalika yang takut menutupi wajahnya dengan tangan. Saat hendak diayunkan tiba-tiba saja terdengar suara bel rumah membuat Arga menghentikan aksinya
"Siapa yang datang pagi-pagi gini!" Gerutu Arga, dengan malasnya pria itu keluar dari kamar lalu mengunci pintu agar istrinya itu tidak mencoba meminta pertolongan
Pintu dibuka, Arga segera merubah raut wajahnya saat tiga orang pria berdiri dihadapannya
"Kalian kesini?"
"Ada apa kakak ipar? Apa kita tidak boleh kesini?" Tanya Rayn dengan senyum menyebalkan
"Bukan gitu! Tapi tumben aja!" Kecemasan jelas terlihat dan Akbar menyadari hal itu
"Apa kita boleh masuk? Astaga kakak ipar, aku kangen banget sama kalian" tanpa menunggu si empunya rumah mengizinkan, Rayn dengan santainya melangkah masuk
"Dimana kak Zal?" Pemuda itu berbalik menatap kakak iparnya yang kini berdiri dibelakang
"Zalika masih tidur, jangan diganggu!" Ujar Arga, tentu saja ketiga pria itu tidak percaya
"Oh ya, padahal kak Zal nggak pernah bangun siang" Rayn mulai berteriak memanggil nama sang kakak
"KAK ZAL.."
"Zalika kelelahan, Rayn. Kalian pasti mengerti kan!" Arga harus berusaha membuat tiga pilar bagi Zalika ini untuk pergi
"Kau melakukan apa hingga kakakku kelelahan?"
"Kau masih terlalu kecil untuk mengerti, Rayn"
"Apa harus dengan menggunakan tongkat baseball?" Arga mengumpat dalam hati, karena terburu-buru ia sampai lupa untuk menyimpan tongkat tersebut
"Ryan!" Kedua saudara kembar itu saling memberi kode membuat Arga waspada
"Kak Zal.." kini suara Ryan yang terdengar, suara itu sedikit lebih lembut
"Jangan ganggu Zalika, Ryan. Kakakmu sedang istirahat" Arga melangkah, mencoba mencegah Ryan yang hendak naik kelantai atas
"Ettss.. kau lebih baik tunggu disini saja, kakak ipar!" Dengan mudahnya Rayn menekan bahu pria itu dengan tangannya
Bukan tanpa alasan Akbar mengajak pemuda ini, Rayn memang menjadi perwakilan sekolah untuk kejuaraan taekwondo
"Berikan tongkat itu!" Dengan kasar Akbar mengambil alih tongkat baseball itu dari tangan Arga
Jika bisa, ingin rasanya Akbar melayangkan tongkat ini pada kepala pria yang telah menyakiti adik perempuannya
"Ka Zal.. kak Zal ada didalam? Buka pintunya kak!" Ryan mengetuk pintu kamar tersebut, namun tak ada sahutan dari pemiliknya
"DOBRAK RYAN!" teriak Rayn dari lantai bawah
"Cih, berisik!"
"Kalau Lo nggak kuat, biar gue aja!" Jika dirinya tidak bertugas untuk menjaga Arga, maka pintu kamar itu telah rusak karena tendangannya
Ryan masih berusaha untuk memanggil sang kakak, setelah tidak ada jawaban barulah pemuda itu mencoba mendobrak
Wajah Arga seketika berubah pias, buliran keringat mulai membasahi keningnya saat melihat bagaimana adik iparnya itu mencoba menghancurkan pintu kamar
"Tenanglah kakak ipar! Kau sampai berkeringat"
Setelah tiga kali percobaan barulah pintu terbuka, Ryan mengedarkan pandangannya mencari sosok kakak perempuannya yang katanya sedang beristirahat
"Astaghfirullah, kak Zal.." Ryan melangkah cepat menghampiri sang kakak yang telah terbaring diatas lantai dalam keadaan tak sadarkan diri
Pemuda itu meletakkan kepala wanita itu diatas pangkuannya, mencoba membuatnya bangun dengan menepuk pelan pipinya
"Kak, bangun kak!"
Mata bulat itu perlahan terbuka, samar Zalika dapat melihat wajah yang begitu ia kenali
"Ryan.." suaranya lirih bahkan hampir tak terdengar
"Iya kak, ini Ryan. Kakak bertahan sedikit ya! Kita akan kerumah sakit"
"Kakak takut disini Ryan. Tolong bawa kakak pergi!" Pinta wanita itu dalam keadaan lemah
"Ryan pasti akan bawa kakak dari sini, kakak harus bertahan, oke!"
Tubuh mungil itu tentu saja dengan mudah dibopong, walau tak sekuat Rayn tapi pemuda ini juga tidak selemah itu
Dari lantai bawah dapat terlihat jika Ryan turun dengan menggendong seorang wanita yang mereka yakini adalah Zalika
"Ada apa Ryan?" Akbar menghampiri Ryan demi bisa melihat keadaan sang adik "Astagaa, dek. Kenapa bisa seperti ini Ryan?"
"Aku nggak tau bang, saat masuk keadaan kak Zalika udah gini!" Jelas Ryan
Rayn yang baru bisa melihat keadaan sang kakak naik pitam saat melihat kondisi Zalika yang begitu memprihatinkan
Dapat dirinya bayangkan bagaimana penderitaan yang dialami gadis malang ini selama tiga hari terakhir
"Breng__" Tanpa aba-aba pemuda tampan dengan segala kekuatannya itu menghantam wajah kakak iparnya
Arga tak bisa mengimbangi adik iparnya itu, kepalan tinju Rayn menghantam wajahnya berkali-kali dan itu rasanya sakit sekali
"BANGUN ANJ__!" Maki Rayn tepat didepan wajah Arga "Jangan beraninya cuma mukul perempuan! Ayo lawan gue!"
"Kamu bawa Zalika kerumah sakit sekarang, Ryan! Kamu pake mobil Abang! Abang sama Rayn akan urus baji___ itu dulu" titah Akbar pada Ryan
"Oke bang!" Sahut Ryan
"Setelah itu kamu kabarin ayah" Ryan mengangguk, lalu dengan cepat ia membawa tubuh lemah sang kakak keluar dari rumah tersebut
Ryan meletakkan Zalika dikursi samping kemudi, setelah memasang seat belt pada tubuh wanita itu kemudian sedikit membuat sandaran kursi turun hingga Zalika setengah berbaring, setelah memastikan semuanya barulah Ryan masuk kedalam mobil, duduk dibalik kemudi dan mengendarai kendaraan roda empat itu meninggalkan rumah yang bak neraka bagi sang kakak itu
Mungkin benar kata Rayn, Arga hanyalah pria pengecut yang beraninya pada perempuan. Bahkan untuk berdiri melawan remaja itu saja ia tidak sanggup
Andai Akbar tidak datang dan menjauhkan pemuda yang tengah berselimut kabut amarah itu dari atas tubuh Arga mungkin pria tampan itu sudah tiada ditangan adik iparnya sendiri
"Cukup Rayn! Kita bawa baji__ ini ke kantor polisi!" Saat terlepas barulah Akbar mengambil alih Arga yang sudah terbaring dilantai karena ulah pemuda itu
"Kita habisin aja dia sekarang bang!" Bagi Rayn kematian sepertinya lebih pantas didapatkan oleh pria pengecut seperti Arga ini
"Negara ini negara hukum Ray, kalau dia mati, kita yang akan kena masalah. Jadi jangan buang waktu lagi!" Kata Akbar
"Sekarang kemu keatas! Cari kunci mobilnya! Kita akan bawa baji___ ini ke kantor polisi!" Titah Akbar pada sang adik
"Oke bang!" Tanpa mengulur waktu Rayn menaiki anak tangga dan tak berapa lama pemuda tampan itu telah kembali dengan membawa kunci mobil milik Arga
"Ayo bang!" Akbar memilih untuk membawa Arga, karena jika diberikan pada Rayn maka akan lain ceritanya
Rayn mengemudi, sementara Akbar duduk dikursi belakang dengan memegangi adik iparnya yang sepertinya sudah sadar
"Lepasin gue breng__!" Arga berusaha memberontak dengan wajah yang telah babak belur
"Jangan macam-macam Arga! Masih untung Lo sama gue! Lo mau mati sia-sia ditangan Rayn?" Bukannya ingin menakuti tapi memang itulah kenyataannya
Pria itu memilih diam, benar kata Akbar. Jika saja kakak iparnya itu terlambat mungkin dirinya sudah tewas di tangan bocah bau kencur itu, pikirnya