NovelToon NovelToon
Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.

​Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.

​Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LIMA

​"Kamu tahu tidak, Ra?" Erin membuka suara dengan nada berbisik yang sarat akan sensasi heboh. Ia memajukan tubuhnya ke tengah meja. "Tadi pagi aku lihat dengan mata kepalaku sendiri di koridor lantai dua gedung utama!"

​Adinda menghentikan suapannya, menyenggol lengan Erin. "Ada apa lagi? Soal siapa?"

​"Soal Bu Manda, asisten dosen MIPA yang cantik itu!" seru Erin dengan mata membelalak. "Dia tertangkap kamera mata aku sedang mengejar Profesor Zain! Dia membawa kotak makanan, lalu berpura-pura menyodorkannya ke Profesor Zain. Yang paling parah, dia bahkan sampai memegang dan menarik lengan kemejanya Profesor Zain!"

​Amara yang sedang mengaduk minuman dinginnya mendadak menghentikan jemarinya. Hatinya mencelos pelan.

​"Ah, masa sih?" tanggap Adinda dengan raut tak percaya. "Bukannya Bu Manda itu terkenal elegan ya?"

​"Elegan bagaimana!" sahut Erin gemas. "Memang sih Bu Manda itu cantik sekali, modis, dan pintarnya bukan main. Tapi kalau sudah di depan Profesor Zain, kelakuannya berubah jadi agresif sekali! Mau memegang-megang tangan segala di tempat umum. Untung saja Profesor Zain langsung menepis tangannya dengan kasar. Sukurin! Malu kan dia jadinya!"

​Adinda tertawa pelan, lalu menghela napas panjang sembari menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tapi ya tidak heran sih. Bukan cuma Bu Manda saja yang bertingkah seperti itu. Kamu ingat Bu Silvi dari bagian tata usaha?"

​Erin mengangguk cepat. "Tentu saja! Kenapa dengan Bu Silvi?"

​"Bu Silvi juga sama saja!" celetuk Adinda sambil menopang dagunya. "Setiap hari Jumat, dia selalu mencari-cari alasan untuk datang ke ruang kerja Profesor Zain. Kadang membawakan berkas yang sebenarnya tidak penting, kadang sengaja menyisipkan bekal makan siang buatan sendiri. Nggak dosen, nggak pegawai administrasi, sampai adik-adik tingkat kita yang mahasiswa baru, semuanya seperti berebut ingin menempel pada Profesor Zain."

​Amara meremas sedotan plastiknya erat-erat di balik gelas. Setiap kata yang keluar dari mulut kedua sahabatnya terasa seperti jarum halus yang menusuk-nusuk dadanya.

​"Tapi wajar sih kalau dipikir-pikir," lanjut Adinda dengan nada penuh kekaguman yang jujur. "Pria mana lagi di kampus ini yang selevel dengan Profesor Zain? Sudah sukses, mapan, tampan luar biasa, jenius pula sampai bisa menyelesaikan gelar doktor S-3 di usia baru dua puluh tujuh tahun. Keren banget, kan? Kalau aku sih sadar diri, cuma bisa mengagumi beliau dari jauh saja."

​"Iya, benar sekali!" timpal Erin menyetujui dengan semangat membara. "Siapa pun wanita yang nantinya beruntung jadi istri Profesor Zain, pasti hidupnya bakal disirami kebahagiaan dan kebanggaan setiap hari. Dijaga oleh pria sempurna seperti dia!"

​Amara menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan senyum sumbing yang penuh amarah dan kepedihan di balik deretan rambutnya yang terurai.

​Dijaga oleh pria sempurna? Disirami kebahagiaan? batin Amara berteriak histeris. Mereka tidak tahu saja kalau pria yang mereka puja-puja itu adalah monster dingin yang menganggap istrinya sendiri seperti kotoran! Pria yang bahkan tidak mau menyentuh tanganku dan mencuci tangannya sampai memerah setiap kali kulit kami tak sengaja bersentuhan!

​Rasa cemburu yang membakar dan kekesalan yang menggulung menyatu menjadi gumpalan panas di dalam tenggorokan Amara. Rasa tak terima bergejolak hebat di dalam dadanya. Betapapun kejam dan dinginnya Zain kepadanya, kenyataan pahit bahwa pria itu adalah suaminya tetap tak bisa dihapus.

​Ada dorongan liar di dalam diri Amara yang ingin membuat seluruh orang di kantin ini diam. Amara ingin menggebrak meja, berdiri tegak di atas kursi, dan berteriak sekeras-kerasnya kepada Erin, Adinda, Bu Manda, Bu Silvi, serta seluruh wanita di kampus ini bahwa Kaellan Zain Alfatih adalah miliknya. Bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang boleh menyukai atau menyentuh suaminya.

​Namun, Amara hanya bisa meremas jemarinya sendiri hingga memutih, menahan gejolak amarah itu terkurung rapat di balik bibirnya yang terkunci rapat.

​"Amara? Kamu kenapa?" tegur Erin yang menyadari perubahan raut muka sahabatnya yang mendadak menegang. "Kok melamun lagi? Muka kamu merah sekali, kamu masih demam ya?"

​Amara menggeleng cepat, memaksa sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya yang pucat. "Tidak apa-apa. Cuma kepalaku agak sedikit pusing."

​"Kalau pusing, kamu pulang saja, Ra," saran Adinda prihatin. "Nanti materi kuliah jam terakhir aku catatkan deh."

​"Terima kasih ya," bisik Amara pelan. Ia menyambar tas punggungnya dan berdiri dari kursi. "Aku ke kamar mandi sebentar."

​Amara melangkah cepat meninggalkan kantin yang penuh sesak. Langkah kakinya membawa tubuhnya yang lelah menuju koridor belakang gedung rektorat yang sepi dari lalu lalang orang. Kepala Amara terasa berputar hebat, bukan hanya karena sisa demam yang menggerogoti fisiknya, tetapi juga karena tekanan emosi yang siap meledak dari dalam dadanya.

​Ia menyandarkan punggungnya pada dinding tembok yang dingin, memejamkan mata rapat-rapat sembari mengatur napasnya yang memburu.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki berderap teratur memecah hening di ujung koridor.

​Amara membuka matanya. Di ujung lorong yang sepi itu, Zain sedang berjalan sendirian menuju arah tangga privat rektorat. Pria itu tampak sangat rapi, memegang tumpukan berkas di tangan kirinya, dengan raut wajah yang selalu dingin tanpa cela.

​Melihat sosok suami yang baru saja menjadi bahan pembicaraan hangat dan sumber penderitaan batinnya, rasa sesak di dada Amara tak lagi mampu terbendung. Tanpa memikirkan risiko atau aturan kampus, Amara melangkah maju dan melintasi jalan pria itu, berdiri tepat di tengah lorong menghalangi langkah Zain.

​Zain menghentikan langkahnya secara mendadak. Dahi pria itu berkerut tebal saat menemukan Amara berdiri menghadapnya dengan mata yang basah dan napas yang memburu.

​"Amara?" tegur Zain rendah, matanya menyapu sekeliling koridor untuk memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka. "Apa yang kamu lakukan di sini? Kembali ke kelasmu."

​"Kenapa?" bisik Amara, suaranya bergetar menahan tangis yang pecah. "Takut ada orang yang lihat kalau Profesor Zain yang terhormat ini sedang dicegat oleh mahasiswi biasa seperti aku?"

​"Jaga sikapmu, Amara," bisik Zain tajam, melangkah satu pijakan mendekat untuk menekan aura gertakan. "Ini di lingkungan kampus. Jangan buat keributan di sini."

​"Aku tidak peduli!" tegas Amara, menatap lurus ke dalam manik mata Zain yang kelam di balik kaca lensanya. "Aku tidak peduli lagi dengan aturanmu, Kak! Kenapa kamu harus bersikap seperti ini? Kenapa kamu biarkan semua wanita di kampus ini menguntitmu, memujamu, dan memberimu perhatian, sementara kamu selalu memperlakukanku seperti sampah di rumah kita sendiri?"

​Zain mengepalkan tangan kanannya yang bebas. "Saya tidak pernah meminta perhatian dari siapa pun di sini."

​"Tapi kamu tidak pernah menegaskan statusmu!" pangkas Amara dengan dada yang bertumpuk sesak. "Kamu menyembunyikan pernikahan kita karena kamu malu punya istri seperti aku, kan? Kamu malu karena pernikahan ini lahir dari kesalahan yang kamu benci!"

​"Cukup, Amara," pangkas Zain dengan nada yang teramat dingin, menyiratkan peringatan terakhir yang berbahaya.

​"Tidak! Aku tidak akan pernah cukup!" air mata Amara meluncur deras membasahi pipinya. "Aku benci melihat Bu Manda memegang tanganmu! Aku benci melihat Bu Silvi membawakan makan siang untukmu! Dan aku lebih benci lagi pada diriku sendiri karena sampai detik ini... aku masih merasa tersiksa dan cemburu melihat semua itu!"

​Zain mematung. Kata 'cemburu' yang keluar dari bibir Amara terpantul keras di dinding lorong sepi itu, menghantam batin Zain dengan kekuatan yang tak terduga. Pandangan mata pria itu goyah sejenak, menatap bibir Amara yang bergetar hebat di hadapannya.

​"Kamu... cemburu?" bisik Zain pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin koridor.

​"Iya! Aku cemburu!" pekik Amara pasrah, menyapu air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. "Aku cemburu karena aku ini istrimu yang sah! Tapi kamu membuatku merasa seperti orang asing yang bahkan tidak berhak menatap wajahmu!"

​Amara menarik napas tersengal-sengal, menatap Zain dengan sisa-sisa kekuatan jiwanya yang telah hancur.

​"Pernikahan ini benar-benar neraka buatku, Kak Zain," bisik Amara parau. "Dan aku bersumpah, jika suatu saat aku benar-benar pergi... kamu tidak akan pernah menemukan jejakku lagi di dunia ini."

​Zain terpaku di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak terasa kelu untuk membalas. Sebelum pria itu sempat menggerakkan jemarinya, pandangan mata Amara mendadak kabur. Kepalanya berputar hebat, dan rasa dingin yang luar biasa mendadak menjalar cepat menyelimuti seluruh kesadarannya.

​Tubuh Amara merosot runtuh ke atas lantai dingin koridor.

​"Amara!"

​Sebuah teriakan panik yang tak pernah terdengar dari mulut seorang Kaellan Zain Alfatih bergema keras saat pria itu melempar begitu saja tumpukan berkas penting di tangannya, berlutut menyambar tubuh Amara yang terkulai tak sadarkan diri tepat sebelum kepalanya menghantam lantai.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
wkwkwkw kalo begitu kau cium saja itu suamimu tiap hari biar bisa mendengar suara hati Zain kan lumayanlah tuh🤔🤭🤣🤣🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
lahhhh kok ternyata kakak Amara sendiri yang merencanakannya kejadian empat tahun yang lalu itu 😱🤔
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
kali ini zain menang banyak wkwkw
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
si zain main sosor aja 😭
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
owalah Zain kau itu benar benar menggemaskan sekaligus ngeselin banget cobalah sekali kali bicara yang jelas dan pikirkan perasaan Amara yang merasa dirinya tak cukup pantas berada disisimu🤔
Muft Smoker
gengsi di gedein zaiiin ,, zaiiin ,,
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
Muft Smoker: waah dtggu banget tuh kak dew ,, penasaran ma ekspresi ny si zain ,,
muka doank dingin ,, tp curahan hati ny sangat2 berbahaya 🤭🤭😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
zain peka dikit jd suami ,, sebelum semua terlambat
Muft Smoker
ni dosen kyak ny pake jalur instan nih ,, gx da adab ny
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
apakah ini ciri ciri amara mau pisah?
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Zain tidak bisakah kau turunkan egomu itu jika Amara sudah memasuki fase lelah padamu yang ada kalian akan bubar 🤔🥹
SENJA
mantabs pak wanto 🤣
SENJA
sok tau lo 🤣
SENJA
yeeeeeey huuuu ga tau malu🤣🤣🤣
SENJA
laaaah siapa elu 🤣🤣
SENJA
lu dosen ga ada adab woeee
SENJA
jangan2 zain bisa juga 😳🤣
SENJA
laaah kok timbul tenggelam gitu suara bathinnya🤣
SENJA
perbuatan laki lu 🤣
SENJA
ishh isssh ketagihan🤣
SENJA
kejem amat ihhh ama bini 🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!