Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Kecantikan Tersembunyi
Setelah selesai menyiapkan segala bumbu untuk masak besok subuh. Khusus malam ini Dira menuju ke kamar Nimas untuk istirahat. Perkembangan pesat yang ditunjukkan oleh Nimas, membuat Dira tidak mau kehilangan momen berharga itu.
Krieee.
Ketika pintu kamar terbuka, hal pertama yang Dira lihat adalah sosok Nimas menatap ke arahnya. Sambil tersenyum, Dira menghampiri ibunya.
“Ibu belum tidur?” tanya Dira.
“Malam ini Dira temani tidur Ibu, ya?” lanjut Dira.
“Pasti Ibu belum cuci tangan, kaki, dan juga gosok gigi?” tebak Dira tepat sekali.
“Ayo ikut Dira!”
Tanpa banyak kata, tanpa tanya maupun tanpa penolakan dari mulut Nimas. Perempuan paruh baya itu mengikuti ajakan putrinya menuju ke kamar mandi.
“Ini sikat gigi Ibu yang warnanya merah muda. Ibu suka sekali kan dengan warna ini?” tanya Dira yang sama sekali tidak dijawab Nimas.
“Dira sengaja beli pasta gigi khusus untuk Ibu dengan aroma bunga. Biar aromanya harum dan semakin menambah aura kecantikan Ibu,” jelas Dira sambil mengajarkan Nimas gosok gigi.
“Sudah cukup.”
“Sekarang waktunya berwudhu sekalian cuci tangan dan kaki ya, Bu.”
Meskipun kejiwaan Nimas mengalami gangguan. Tetap saja Mbah Sekar maupun Dira mencoba mendekatkan Nimas kepada Sang Pencipta.
Meski reaksi yang diberikan hanya diam saja tanpa sepatah katapun. Tapi, harapan itu tetap ada. Siapa tahu suatu saat nanti Nimas ingat jika telah melahirkan putri cantik bernama Arundaya Dirandra.
“Sudah cukup. Sekarang kita siap-siap tidur, ya, Bu.”
Sambil menggandeng tangan Nimas. Dira membawa ibunya menuju ke kamar.
Saat Dira melihat bayangan Nimas di kaca rias kamar. Senyum di wajah cantik Dira terbit sangat indah sekali.
“Dira sisir rambut Ibu, ya? Biar rapi dan tidak kusut.”
Tanpa menunggu jawaban yang diberikan oleh Nimas, Dira mengambil sisir di atas meja rias. Lalu mengajak Nimas untuk duduk di depan kaca.
“Ibu, ayo duduk sini,” ajak Dira penuh semangat.
Dira menarik kursi untuk Nimas duduk tanpa ada penolakan. Matanya menatap ke arah kaca rias. Kini, Nimas bisa melihat langsung wajah cantiknya.
“Rambut ibu hitam dan juga berkilau. Terlihat sangat bagus sekali.”
Dengan sangat telaten Dira menyisir dan merapikan rambut panjang Nimas. Setelah selesai merapikan rambut Nimas. Tangan Dira terulur mengambil pelembab wajah untuk Nimas.
“Kita pakai pelembab wajah ya, Bu. Agar kulit ibu tidak kering dan tetap cantik.”
Bagi Dira kebutuhan Nimas lebih penting dibandingkan dirinya. Dira rela menyisihkan tabungannya untuk kebutuhan Nimas. Sebab, Dira berharap saat Nimas sembuh, tidak ada perubahan berarti saat masih normal.
Hal jauh berbeda yang Dira lakukan padanya. Dira memilih tanpa adanya polesan makeup. Tujuannya jelas ia tidak ingin menjadi pusat perhatian.
“Ibu cantik sekali,” puji Dira menatap bayangan Nimas di kaca rias.
“Rambut hitam berkilau serta kulit halus ibu. Semakin menambah kecantikan Ibu,” puji Dira sambil memeluk Nimas dari belakang.
“Apakah ibu tahu? Jika Dira bangga terlahir dari rahim Ibu,” ucap Dira.
“Dira bangga mendapat kecantikan, rambut hitam dan halus, kepintaran, serta kulit putih bersih milik Ibu. Terima kasih banyak ya, Bu. Sudah menurunkan kelebihan itu ke Dira,” lanjut Dira.
“Doa Dira hanya satu. Semoga ibu cepat sembuh. Karena Dira ingin dipeluk ibu.”
Ungkapan kasih sayang Dira berikan untuk Nimas dari hati terdalam. Membuat hati dan perasaan mbah Sekar yang sedang mengintip terasa sangat nyeri.
“Cepatlah sembuh Nimas. Putrimu sangat merindukan sentuhan kasih sayang dari ibunya, yang tidak pernah dirinya dapatkan sejak lahir,” lirih Mbah Sekar.
“Dira tumbuh menjadi pribadi luar biasa. Dia lebih dewasa dibandingkan remaja seusianya. Cepatlah sembuh putriku,” ungkap Mbah Sekar penuh harap.
Mbah Sekar yang tidak ingin mengganggu kedekatan Nimas dan Dira, memutuskan kembali ke kamarnya. Mengistirahatkan tubuhnya untuk menyambut esok hari.
Kriiing!
Suara bunyi alarm dari jam weker milik Dira. Menandakan jika aktivitas pagi buta mulai kembali menggelayut. Dira dan juga Mbah Sekar pergi ke dapur memasak nasi uduk beserta lauk pelengkap serta gorengan.
“Untuk pesanan hari ini minta ditambah Mbah,” ucap Dira mengingatkan.
“Iya, Nduk.”
Hal paling menggembirakan bagi Dira dan Mbah Sekar adalah dagangan habis, hingga minta jumlahnya ditambah.
Meskipun akan terasa capek. Tapi, rasa capek itu langsung menghilang berganti dengan rasa syukur atas nikmat rezeki yang diberikan.
Allahu Akbar Allahu Akbar
Suara adzan Subuh berkumandang menghentikan aktivitas Mbah Sekar. Pandangan perempuan yang masuk usia lansia itu kini menatap ke arah Dira.
“Ayo kita siap-siap sholat berjamaah, Nduk!”
“Maaf, Mbah. Hari ini tidak bisa sholat berjamaah. Karena Dira sedang datang bulan.”
“Oh, ya sudah kalau begitu. Berarti kamu lanjut masak saja. Langsung mandi kalau sekiranya sudah siang.”
“Siap, Mbah.”
Mbah Sekar menuju ke ruang depan untuk sholat subuh. Sedangkan Dira melanjutkan menggoreng lauk sekaligus membungkus nasi uduk.
“Assalamualaikum warahmatullah.”
“Assalamualaikum warahmatullah.”
Setelah mengucap salam. Mbah Sekar melanjutkan berdzikir, lalu menadahkan kedua tangannya meminta keselamatan, kesehatan, dan juga kebaikan untuk keluarganya.
Teg.
Greek.
Suara pagar rumah terbuka mengalihkan perhatian Mbah Sekar.
“Suara apa itu? Apakah ada orang masuk ke teras secara sembunyi-sembunyi?”
Meskipun terdengar cukup samar. Namun, mampu mencuri perhatian Mbah Sekar.
Mbah Sekar buru-buru melipat mukenanya lalu mengambil kerudung bergo miliknya.
Sambil berjalan pelan menuju jendela. Mbah Sekar mengawasi sosok bayangan seseorang di teras rumah.
“Bukankah itu sepeda Dira?” tanya Mbah Sekar sambil mengintip melalui gorden jendela.
Rasa penasaran terlalu tinggi tentang sosok tersebut. Mbah Sekar memutuskan membuka pintu untuk menghampiri.
“Kamu siapa, Le?” tanya Mbah Sekar kepada pemuda di hadapannya. Yang kini menatap kearah Mbah Sekar sambil menundukkan sedikit kepalanya.
“Kenapa kamu mengantar sepeda cucuku pagi-pagi buta? Sama sekali tidak mengucapkan salam,” tutur Mbah Sekar sambil mengawasi sosok pemuda di hadapannya.
Jika dilihat dari penampilan dan juga parasnya. Jelas sosok pemuda tersebut bukanlah seorang maling. Meskipun tubuhnya tertutup jaket berwarna hitam. Tapi, tampangnya menunjukkan dari kalangan orang berada.
“Assalamualaikum, Mbah,” salam Faza.
“Waalaikumsalam,” jawab Mbah Sekar datar.
“Maaf mengganggu waktunya, Mbah. Perkenalkan, nama saya Faza. Kedatangan saya ingin mengantar sepeda Dira,” tutur Faza.
“Kebetulan rantainya sudah diganti lebih cepat dari waktu semestinya. Jadi, Dira tidak perlu mengambil ke bengkel,” jelas Faza sedikit terbata-bata.
Sebab, Faza merasa dirinya seperti seorang maling yang pagi-pagi buta mengendap-endap di kediaman orang.
“Memangnya harus diantar pagi-pagi buta seperti ini? Apalagi tanpa mengucap salam secara benar pula,” tanya mbah Sekar kurang nyaman atas sikap Faza.
Mengingat di rumah kediaman Dira sama sekali tidak terdapat laki-laki. Jelas sangat kurang etis pagi-pagi buta ada laki-laki bertamu.
“Maaf, membuat Mbah serta keluarga kurang nyaman. Saya mengantar pagi-pagi buta karena sepeda sudah selesai diperbaiki lebih cepat. Serta kebetulan juga saya ada keperluan penting di sekitar sini. Jadi, saya berinisiatif mengantar pagi-pagi buta.”
Entah apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Faza. Tapi, yang jelas tindakan Faza benar-benar terlihat sangat janggal di mata Mbah Sekar.
Membuat Mbah Sekar mengawasi Faza dengan sangat seksama. Mencoba mencari kejujuran atas ucapan dan juga tindakan yang dilakukan oleh Faza.
“Kamu orang bengkel?”
“Bukan, Mbah. Saya teman Dira.”
“Lah kok bisa? Memangnya ada bengkel buka pagi buta?” tanya Mbah Sekar beruntun.
“Kebetulan orang bengkel harus menemani istrinya di rumah sakit. Jadi, saya memutuskan mengambil sepeda Dira pagi-pagi buta.”
Obrolan yang terjadi antara Mbah Sekar dengan seseorang. Mencuri perhatian Dira yang ada di dapur.
“Mbah bicara sama siapa?” gumam Dira berjalan ke arah teras.
Tapi, niat untuk mencari tahu sosok yang sedang berbicara dengan Mbah Sekar harus diurungkan. Ketika matanya mengawasi jam dinding yang sebentar lagi menunjukkan waktu dimana Nimas akan berteriak histeris.
“Ibu.”
Dira yang menyadari reaksi marah sekaligus ketakutan Nimas. Dengan buru-buru menuju ke kamar Nimas. Jangan sampai kegaduhan yang terjadi membuat tetangga Dira datang sambil meluapkan kekesalan.
Dan apa yang dikhawatirkan oleh Dira benar-benar kejadian.
“ARRRRG!”
“PERGI!”
PYARR!
Teriakkan histeris dan juga barang pecah memenuhi kamar Nimas. Dira buru-buru masuk ke kamar mencoba menenangkan.
“IBU!”
Suara teriakan kencang Dira dari dalam rumah. Menghentikan Mbah Sekar dengan Faza.
“Nduk!”
Tanpa memperdulikan keberadaan Faza yang masih berdiri di teras. Mbah Sekar lari tergopoh-gopoh masuk ke rumah. Meninggalkan Faza yang tampak kebingungan.
Jelas Faza merasa bingung apa yang harus ia lakukan. Mengingat Mbah Sekar sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Jadi, jika Faza masuk di kediaman Mbah Sekar tanpa izin jelas semakin tidak sopan.
“AARRGH!”
“IBU BERHENTI! JANGAN PEGANG PECAHAN KACA ITU!”
“Nimas!”
Dengan segala kegalauan menyelimuti Faza. Apalagi teriakkan Dira dan juga Mbah Sekar. Faza memberanikan diri masuk di kediaman Mbah Sekar tanpa izin.
“Persetan dengan kemarahan mbahnya Dira padaku. Yang jelas keselamatan mereka paling utama dibandingkan apapun.”
Faza langsung berlari masuk di kediaman Mbah Sekar. Mencari sumber suara yang ternyata berada di kamar belakang.
“Ibu!”
“Nduk, berhenti! Di depanmu ada pecahan kaca.”
Karena Dira hanya fokus pada Nimas. Membuat Dira tidak menyadari jika di depan kakinya terdapat pecahan kaca.
Dengan cepat Faza menarik selimut yang ada di atas ranjang untuk menutupi pecahan kaca. Agar kaki Dira terlindungi saat melangkah mendekati Nimas.
“ARRRRG!”
Nimas yang masih tampak histeris. Membuat Faza menarik selimut lain yang ada di atas ranjang. Lalu mendekati Nimas untuk membalut seluruh tubuhnya agar tidak berontak.
“Peluk dan tidurkan di atas ranjang!” perintah Faza kepada Dira yang belum menyadari keberadaan laki-laki lain di kediamannya. Sebab, fokus Dira hanya pada ibunya.
“Balutkan selimut agar tetap tenang!” perintah Faza kembali sambil membantu Dira mengikat Nimas.
Saat Nimas sudah tampak tenang. Kini pandangan Dira dan Faza saling bertemu menatap satu sama lain.
Deg.
Jantung Faza terasa terhenti saat itu juga. Saat matanya memperhatikan Dira.
Faza jelas kaget. Sebab rambut hitam, panjang, tebal dan juga lurus. Tampak kontras dengan kulit putih bersih dengan bibir merah muda milik Dira.
Dira sosok gadis sederhana berjilbab dalam kesehariannya. Ternyata memiliki kecantikan yang sangat terjaga hingga tidak ada satupun laki-laki melihatnya.
Tapi, itu semua dulu sebelum Faza mampu melihatnya tanpa ada halangan sedikitpun. Membuat detak jantung Dira berdetak tidak karuan hingga sulit bernapas.
“Dia,” gumam Dira tidak percaya dengan penglihatannya. Tangannya bergetar hebat hingga sulit dikendalikan.
Ceritanya keren 👍