Aura, seorang sekretaris teladan, dan Arkan, CEO dingin yang perfeksionis, terpaksa menikah setelah dijebak dalam sebuah skandal memalukan saat perjalanan bisnis di Bali. Pernikahan paksa ini memaksa mereka menjalani peran sebagai atasan-bawahan di kantor sekaligus suami-istri di rumah. Di balik kerumitan perasaan yang mulai tumbuh, keduanya harus bersatu memburu dalang konspirasi yang sengaja menjebak mereka sebelum karier dan nyawa mereka menjadi taruhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Pagi yang Menghancurkan
Dunia Aura Diratama runtuh dalam satu kedipan mata yang menyakitkan.
Suara hantaman pintu yang didobrak bukan lagi bagian dari mimpi buruk; itu adalah kenyataan yang menghantam indranya seperti gelombang tsunami. Cahaya lampu kamera yang meledak-ledak memenuhi ruangan, memantul di cermin-cermin suite yang mewah, menciptakan kilatan putih yang membuat matanya perih.
"Jangan bergerak! Tetap di posisi Anda!" teriakan itu berasal dari seorang pria berseragam polisi yang berdiri di depan, sementara di belakangnya, sekerumunan orang dengan kamera dan mikrofon saling sikut untuk mendapatkan sudut pandang terbaik.
Aura membeku. Tubuhnya yang hanya tertutup pakaian dalam terasa sangat dingin, bukan karena AC, melainkan karena rasa malu yang seketika membekukan aliran darahnya. Ia menarik selimut dengan gerakan panik, berusaha menutupi tubuhnya, namun selimut itu tertahan oleh tubuh Arkan yang masih setengah sadar di sampingnya.
"Pak... Pak Arkan..." suara Aura gemetar, hampir tidak terdengar di tengah kebisingan jepretan kamera yang tidak berhenti. "Bangun, Pak..."
Arkan Mahendra mengerang. Kepalanya terasa seperti dihantam palu godam. Rasa pening yang luar biasa membuatnya sulit membuka mata sepenuhnya. Namun, aroma parfum yang menyengat, suara teriakan, dan kilatan cahaya yang mengganggu akhirnya memaksa kesadarannya kembali secara paksa.
Saat Arkan akhirnya membuka mata dan melihat kerumunan orang di ambang pintunya, ekspresi wajahnya berubah dari bingung menjadi kemarahan yang murni. Ia langsung terduduk, mengabaikan fakta bahwa kemejanya terbuka lebar, memperlihatkan dada bidangnya yang selama ini tersembunyi di balik setelan jas mahal.
"Apa-apaan ini?!" suara bariton Arkan menggelegar, mencoba mengambil kembali otoritasnya yang baru saja diinjak-injak. "Siapa yang memberi kalian izin masuk ke sini? Keluar! KELUAR!"
Namun, kemarahan Arkan justru menjadi umpan bagi para pemburu berita.
"Pak Arkan, apa benar Anda melakukan pesta narkoba di sini?" "Siapa wanita ini, Pak? Apakah dia sekretaris Anda?" "Bagaimana tanggapan Mahendra Group mengenai skandal asusila di Bali ini?"
Pertanyaan-pertanyaan itu menghujam seperti anak panah beracun. Aura menenggelamkan wajahnya di balik bantal, bahunya terguncang hebat karena tangisan yang tidak bisa lagi ditahan. Ia merasa kotor, merasa hina, dan yang paling menyakitkan, ia merasa hancur. Semua kerja kerasnya membina reputasi sebagai sekretaris teladan lenyap dalam hitungan detik.
"Diam kalian semua!" Arkan berteriak lagi, kali ini ia berdiri dan menyambar jubah mandi hotel yang tergeletak di lantai, lalu dengan cepat melemparkannya ke arah Aura. "Pakai ini, Aura. Tutup matamu."
Arkan berdiri di depan tempat tidur, menjadi perisai hidup bagi Aura. Matanya yang merah menatap tajam ke arah petugas polisi yang berdiri paling depan. "Inspektur, atas dasar apa Anda melakukan penggerebekan tanpa izin ini? Di mana surat tugas Anda?"
Pria berseragam itu melangkah maju dengan wajah kaku. "Kami menerima laporan anonim mengenai adanya penyalahgunaan zat terlarang dan aktivitas ilegal di kamar ini, Pak Mahendra. Mengingat bukti-bukti yang ada di depan mata—kondisi Anda dan saksi—kami harus mengamankan lokasi."
"Bukti apa? Kami dijebak!" Arkan menggeram. Ia melirik ke arah meja samping tempat tidur dan jantungnya hampir berhenti. Di sana, di samping gelas-gelas minuman semalam, terdapat beberapa bungkus plastik kecil berisi bubuk putih yang sangat asing baginya.
Seseorang benar-benar ingin menghancurkannya secara total. Bukan hanya skandal seks, tapi juga narkoba.
Berita itu menyebar lebih cepat daripada api di musim kemarau. Hanya dalam waktu tiga puluh menit, foto-foto Arkan dan Aura yang tampak "kompromistis" sudah menghiasi halaman depan situs berita online dan akun-akun gosip media sosial dengan judul yang bombastis.
Di Jakarta, Sari menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Air mata mulai mengalir di pipinya saat melihat foto sahabatnya, Aura, yang tampak sangat rapuh dengan wajah tertutup bantal sementara polisi berdiri di sekelilingnya.
"Nggak mungkin... Aura nggak mungkin kayak gini," isak Sari. Ia segera mencoba menelepon Aura lagi, namun hasilnya tetap sama. Ponsel Aura sudah disita oleh pihak berwajib.
Sementara itu, di kediaman Mahendra yang megah, Oma Widya—sang matriark keluarga—duduk tegak di kursi kebesarannya. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap layar televisi yang menyiarkan berita penggerebekan itu dengan tatapan yang sangat tajam. Di sampingnya, Danu Wijaya berpura-pura panik.
"Oma, ini gila. Arkan benar-benar sudah keterlaluan. Bagaimana mungkin dia membawa sekretarisnya ke Bali dan melakukan hal serendah ini?" Danu memanas-manasi dengan nada prihatin yang dibuat-buat. "Saham perusahaan akan anjlok pagi ini. Kita harus melakukan sesuatu sebelum dewan komisaris mengambil tindakan ekstrem."
Oma Widya terdiam sejenak, lalu ia menoleh ke arah Danu. "Panggil pengacara keluarga. Dan pastikan Bimo segera ke Bali. Aku tidak peduli apa yang terjadi di kamar itu, tapi tidak ada satu pun anggota keluarga Mahendra yang boleh masuk penjara karena skandal murahan seperti ini."
"Tapi Oma, fotonya—"
"Tutup mulutmu, Danu!" suara Oma Widya memotong dengan tegas. "Aku tahu Arkan. Dia kaku, dia sombong, tapi dia tidak sebodoh itu untuk melakukan hal ini secara terbuka. Ada yang bermain di sini. Tapi sampai kita tahu siapa, kehormatan keluarga adalah prioritas utama."
Kembali di Bali, suasana di kantor polisi setempat sangat mencekam. Arkan dan Aura dipisahkan di ruang pemeriksaan yang berbeda.
Aura duduk di kursi kayu yang keras, masih mengenakan jubah mandi hotel yang kini dilapisi jaket milik salah satu petugas polisi yang merasa kasihan padanya. Ia hanya menatap lantai, pikirannya kosong. Bayangan wajah ibunya yang sedang sakit di rumah sakit terlintas di benaknya. Apa yang akan terjadi jika ibunya melihat berita ini? Bagaimana dengan sekolah adiknya?
"Miss Aura, Anda bisa menceritakan kronologi bagaimana Anda bisa berakhir di ranjang yang sama dengan atasan Anda?" tanya seorang polwan dengan nada yang cukup sopan namun mendesak.
Aura menggeleng lemah. "Kami... kami makan malam dengan Mr. Wong. Setelah minum cocktail, kepala saya pusing. Setelah itu... saya tidak ingat apa-apa. Saya bangun karena suara pintu didobrak."
"Apakah Anda sadar ada zat amfetamin di dalam kamar tersebut?"
"Tidak! Saya tidak tahu! Saya tidak pernah menyentuh barang seperti itu!" Aura berteriak frustrasi.
Di ruangan sebelah, Arkan sedang melakukan hal yang sama. Namun, alih-alih bersikap defensif, ia menyerang dengan argumen hukum.
"Panggil pengacara saya. Saya tidak akan bicara sepatah kata pun sampai Bimo dan tim hukum saya sampai di sini. Dan satu hal lagi, pastikan sekretaris saya mendapatkan perlindungan. Jika sampai ada satu helai rambutnya yang terluka karena tekanan ini, saya pastikan karir Anda berakhir hari ini juga," ancam Arkan pada petugas di depannya.
Arkan tahu, posisinya sangat sulit. Jebakan ini dirancang dengan sangat rapi. Minuman itu pasti mengandung obat bius, dan barang bukti narkoba itu diletakkan setelah mereka tidak sadarkan diri. Tapi siapa yang bisa melakukannya di hotel dengan keamanan setinggi Royal Amarilla?
Jawabannya hanya satu: seseorang yang memiliki akses internal.
Pagi itu, matahari Bali yang biasanya hangat terasa sangat membakar. Reputasi Arkan sebagai CEO jenius hancur, dan hidup Aura sebagai wanita baik-baik tamat. Mereka berdua kini terperangkap dalam jaring laba-laba yang sama.
Arkan mengepalkan tangannya di bawah meja pemeriksaan. Ia bersumpah dalam hati, siapa pun yang melakukan ini—baik itu Danu, musuh bisnisnya, atau bahkan orang dalam hotel—akan membayar harganya dengan sangat mahal. Tapi untuk saat ini, ia harus menemukan cara untuk menyelamatkan Aura dan dirinya sendiri dari amukan publik yang sudah haus akan skandal.
"Aura..." gumam Arkan pelan. Untuk pertama kalinya, rasa bersalah menyelinap di antara egonya. Ia telah menyeret wanita itu ke dalam lubang hitam kehidupannya yang penuh musuh. Dan sekarang, ia harus bertanggung jawab.
Kehancuran ini baru saja dimulai, dan bau konspirasi semakin menyengat di udara pagi yang menyesakkan itu.