Descnya dibaca dulu ya sayang❤️
novel ini dalam masa penulisan ulang untuk mengganti keseluruhan nama tokoh, para pembaca harap maklum atas ketidaknyamanan ini.
Thank you ♥️
***
~Hilangkan perasaanmu, balas dendam akan berhasil ketika kamu tak berperasaan~
.
.
.
Ini karya pertama Author semoga kaka-kaka semua suka.. kalau gak suka skip aja nee🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atika.NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~35 Hari pemakaman
Warning!!
mengandung unsur kekerasan harap bijak dalam membaca dan menanggapi nee🤗🙏 Borahae 💜
next cerita👇👇
****
Plakkk__
Glen menampar keras perempuan yang tadi menentangnya. Mencengkram kuat rambutnya dan hampir saja kulit kepalanya terkupas. Membuat setiap jeritan dari wanita itu semakin kuat dan mengisi seisi rumahnya.
Pria yang merupakan kakaknya terus mangatakan hal hal yang membuat Glen semakin menyiksa adiknya. Mencekiknya hingga wajahnya berubah pucat karena hampir kehabisan nafas. ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan...
Dengan pis4u lipat itu Glen m3ngg0rok leher perempuan itu dan hampir saja membuat kepalanya terlepas dari badannya. D4r4h mengalir membanjiri lantai mewah itu. Pria yang merupakan kakaknya hanya teriak histeris memberontak tapi tetap tidak bisa melepaskan dirinya dari pengawal Glen.
Menjerit dan berteriak dengan perbuatan Glen yang dilakukan pada adiknya. D4r4h terus bercucuran membuat nafasnya tersengal.
"Hentikaaaannn!! B4jing4n!!" Teriak sang kakak.
Seidon yang sudah biasa akan hal itu hanya diam menyaksikan adegan dimana Glen membunuh perempuan itu.
"Malah membuat pertunjukan" gumam Seidon.
"Sekarang giliran mu!!" Tekan Glen menoleh kearah Kakak dari perempuan yang sudah tak bernyawa itu. Menatapnya tajam dan dengan darah menempel di sekujur tubuhnya yang berasal dari perempuan itu, Glen mendekati pria yang kini menangisi mayat adiknya tanpa kepala itu.
Amarahnya benar-benar tidak bisa ditahan lagi, terlebih lagi saat Ah juma berkata bahwa ayahnya sudah tidak bernafas semakin membuat amarahnya menuju level tertinggi yang ia miliki.
"Seidon?!" Panggil Glen penuh penekanan.
"Eum.. ya??"
"Tolong kau habisi pria ini.. bunuh dia dengan caramu.. aku akan mengurus ayahku!!" Tekannya.
"Eum baiklah.. kau tenang saja kak, aku akan baik-baik mengirimnya pada Tuhan" ucap Seidon senyum mendekati pria itu.
"Manusia b1ad4p!!! kalian para ibl1s yang seharusnya mati dan musnah dari muka bumi ini. Hanya kesalahan kecil dari seorang pria tua penjual buah bahkan kalian tega menghabisi nyawanya!!! Dan sekarang kau sudah menghabisi adikku!! Keterlaluan!! Kalian akan mendapat balasan yang lebih besar atas perbuatan kalian!!" Tekan pria itu dengan nada setinggi mungkin.
"Hei hei hei, sstt.. kenapa berteriak? berisik!" Kata Seidon.
Glen hanya mengabaikannya dan terus berjalan kelantai dua untuk mengurus jenazah ayahnya meskipun emosinya masih sangat-sangat meluap tapi ia tidak bisa membiarkan ayahnya begitu saja. Meskipun diantara mereka terdapat sedikit perselisihan tapi ayah tetaplah seorang ayah.
Dan ayahnya sangat berarti dalam hidupnya. Meskipun Glen tau orang yang telah menghabisi nyawa ibunya adalah ayahnya sendiri.
Brukk__
Seidon menendang pria itu hingga tersungkur dan kepalanya terbentur pot yang ada dibelakangnya. Awalnya ia tidak begitu mengambil sisi buruk dari perkataan pria itu.
"Kau! Apa kau ini seorang psikopat? Apa kau orang yang tidak punya hati nurani seperti pembunuh berantai itu? Apa jangan-jangan kalian adalah orang yang sama?!" Teriaknya.
"Apa maksudmu?"
"Serial killer demon! Apa kau adalah dia? Kalian pasti orang yang sama kan?!"
"Waahh.. kau langsung bisa menebaknya ternyata, jadi mau mati dengan cara apa?" Kata Seidon.
"Dasar kalian, pembunuh, psikopat kejam, kalian tidak akan pernah bahagia nantinya. Semua orang yang kalian bunuh akan menghantui kalian dan membunuh kalian!" Teriaknya menjadi-jadi.
"Di kehidupan selanjutnya kalianlah yang akan merasakan menjadi korban dari pembunuhan berantai, kalian akan menjadi korban!!!"
Tapi tanpa berbicara apapun, Seidon hanya menatap tajam kearah pria itu berjalan menghampirinya dan menginjak kakinya.
"AAAAAAHHHH" pekik pria itu.
"Kau.. sudah melebihi batasan mu! Perkataan mu itu, jika didengar oleh kelompok kami maka bagian tubuhmu akan sampai di sungai nil!" Tekan Seidon.
"Suatu saat nanti kau akan merasakan rasanya kehilangan!!" Teriaknya pada Seidon.
"Kehilangan.. aku sudah merasakannya bahkan lebih dari apa yang kau bayangkan!!" Tekannya.
Dae Jung memberikan pisau lipat pada Seidon dan ia menancapkan pis4u itu tepat diatas kepalanya.
"Arrghh_"
ia menarik pisaunya, m3nusukan kembali ke d4d4nya, menyanyatnya hingga kebagian perutnya. Membuat organ dalamnya terlihat dengan jelas. Darah adiknya sukses membanjiri rumah mewah itu ditambah lagi oleh darahnya yang terus mengalir bak air sungai.
Jeritannya menggema di seluruh ruangan, membuat Seidon benar-benar menyiksanya. Ditambah lagi bayangan ayah Lisa yang menyiksa orang tuanya muncul dalam pikiran dan terbayang dimatanya.
darah pria itu sukses membuat bercak di seluruh tubuh Seidon, dengan tatapan kosongnya melihat pria yang baru saja ia habisi mengingatkan betapa kejamnya ayah Lisa saat membunuh kedua orang tuanya 20 tahun yang lalu.
"Karena cinta yang Lisa berikan.. aku hampir lupa dengan tujuanku menikah dengannya" gumamnya menatap pria yang sudah tak bernyawa itu.
Seluruh pelayan dan bodyguard hanya bisa terdiam dan memejamkan matanya rapat-rapat. Terutama pelayan wanita dirumah Glen. Melihat Tuannya membunuh seorang wanita dengan sangat kejam ditambah lagi Seidon yang membunuh pria itu seperti membunuh seekor lalat.
"Tuan muda?" Panggil Jerry pengawal Glen.
"Gantilah pakaian dan bersihkan diri anda.. kami telah menyiapkan pakaian baru untuk anda" ucap Jerry.
"Biar aku yang membawakan bajunya" ucap Dae Jung.
Jerry memberikan satu set pakaian pada Dae Jung dan mengantarkan mereka keruang ganti. Glen dan Seidon membuat seluruh pengawal dan pelayan begitu sibuk untuk membersihkan darah dan mayat kakak beradik yang mereka habisi. Serta mengabarkan ke 4 temannya dan Leon untuk menghadiri pemakaman ayah Glen.
Selang waktu 20 menit mereka datang bersama rombongan pengawalnya masing-masing. Tidak perlu orang lain jika mereka bertujuh saja sudah bisa melebihi pemakan satu kampung.
Glen yang menatap peti mati yang diangkat pengawalnya menuju ke pemakaman hanya bisa terdiam dan memorinya tentang keluarga terlintas dalam pikirannya. Membuatnya hampir depresi dan semakin menanam dendam pada orang yang tega melukai orang tua mereka.
ia paling tidak suka dan paling benci dengan pria yang ringan tangan pada wanita terutama seorang suami yang menyiksa istrinya. Bayangan ayahnya yang selalu menyiksa ibunya hingga ibunya mati selalu terlintas dalam pikirannya ketika melihat wajah ayahnya.
Sebenci apapun Glen pada ayahnya, ayah tetaplah ayah dan tidak akan pernah bisa tergantikan. Glen selalu mengingat pesan ibunya sebelum meninggal.
"Glen berjanjilah pada ibumu ini.. jangan pernah membenci ayahmu, seburuk apapun ayahmu, sekejam apapun ayahmu, dia tetap ayahmu.. jangan pernah membencinya karena dia menyiksa ibu.. suatu saat nanti jangan lakukan apa yang ayahmu lakukan pada calon menantuku yang akan menjadi istri mu.. jagalah dia, sayangi dia, cintai dia, dan berikan kebahagiaan padanya.. jangan pernah membuatnya meneteskan air matanya meskipun kau tidak sengaja melakukannya... Tugas utamamu adalah menghargai wanita.. ibu percaya padamu kau bisa melakukannya.. jaga dirimu baik-baik.. jangan pernah lupakan apa yang ibu bilang.. Berjanjilah Glen berjanjilah.. Ibu Mencintaimu.."
Kata-kata yang selalu membuat Glen sadar, sebesar apapun kesalahan ayahnya, dia tetaplah ayah yang membesarkannya sejak ibunya meninggal. Meskipun belum sempat meminta maaf pada ayahnya Glen tetap merasa bersalah karena selama ini telah mengabaikan keberadaan ayahnya.
"Aku telah memaafkan dirimu ayah.. tenanglah di alam sana.. aku berjanji akan menepati janjiku pada ibu.. aku tidak akan lagi membencimu.. percayalah aku selalu menyayangi dirimu" ucapnya dengan menatap peti mati ayahnya.
"Kami turut berduka untukmu" ucap Calfin merangkul Glen.
"Terimakasih" ucapnya masih dengan tatapan yang tertuju pada peti ayahnya.
"Ayah..." Ucap Glen lirih sambil menatap peti ayahnya diturunkan didalam liang lahat.
"Bersabarlah kak" Seidon merangkul Glen.
"Jangan terus-terusan menyiksa Lisa, dia gadis baik Seidon" kata Glen lirih sambil menatap Seidon.
Ia tak mengerti kenapa tiba-tiba Glen mengingat Lisa.
"Apa hubungannya Lisa dengan kepergian ayahnya" gumam Seidon.
..
..
..
3 hari kemudian,
Seidon tengah duduk santai di balkon kamarnya dengan tab yang ada ditangannya. Hari dengan suasana cerah mengawali harinya dengan baik. Sudah tiga hari semenjak kejadian menyeramkan itu Lisa belum kunjung bangun dari tidur panjangnya.
Dengan secangkir kopi yang ada ditangannya Seidon meletakkan tabnya dan menatap birunya langit. Memejamkan matanya dan merasakan setiap sinar matahari tembus hingga menusuk matanya.
Sejak kejadian dirumah Glen saat itu membuat Seidon benar-benar malas untuk melakukan apapun. Semua rapat dengan perusahaan luar negeri pun selalu ditunda dan Seidon jarang kekantor selama 3 hari belakangan ini. Hanya menghabiskan waktu di kamarnya menatap istrinya yang tak kunjung bangun.
Disaat Seidon masih memejamkan matanya seseorang berdiri dihadapannya dan menghalangi sinar matahari yang mengenai wajahnya. Merasa dihalangi, perlahan ia membuka matanya dan melihat sosok wanita yang tengah berdiri dihadapannya. Rambut panjangnya terurai dan tubuh mungilnya sangat tidak asing bagi Seidon.
Seidon belum bisa melihat jelas wajah dari wanita itu, karena birunya langit begitu menyilaukan matanya. Perlahan wanita itu bergeser menutupi seluruh cahaya yang menyilaukan wajah Seidon.
Siapa lagi jika bukan Lisa, wanita yang tertidur selama 3 hari lamanya. Senyuman nya mengembang sempurna dibibir tipisnya membuat pemandangan tersendiri bagi Seidon.
"Selamat pagi Tuan Muda" ucap Lisa tersenyum menampakkan gigi putih yang rapi.
"Heum, rupanya sudah bangun"
"Iya.. aku pikir kau sudah berangkat kekantor, ternyata masih dirumah"
"Aku ambil cuti, 3 hari besok baru kekantor" jawab Seidon.
Lisa beralih duduk disampingnya "besok? Bukankah kau bilang 3 hari, harusnya masih ada 2 hari lagi kan?" Tanya Lisa.
Seidon menoleh, menatap Lisa yang terlihat lucu dihadapannya. Ia menyinggung kan senyumannya.
"Lisa.. aku sudah 2 hari dirumah dan tidak kekantor, ini hari terakhirku dan besok harus bekerja" kata Seidon bohong.
"Benarkah? Tapi, aku.. kenapa aku tidak tau"
"Karena kau tidak memperhatikanku" jawab Seidon singkat.
"Kalau begitu, maafkan aku. Aku akan lebih perhatian lagi denganmu"
"Eum.."
_____________