Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Evelyn berdiri di depan gerbang Mansion Keluarga Shen sambil berbicara melalui alat komunikasi kecil yang terpasang di telinganya.
"Evelyn, jangan masuk sendiri. Tunggu kami tiba," suara Damien terdengar dari seberang.
Wesley ikut menyela.
"Evelyn, Ronald dan Eve sangat licik. Kami baru mendapatkan informasi bahwa Ronald telah menyewa beberapa orang untuk melindunginya. Aku khawatir mereka akan berbuat sesuatu kepadamu."
Evelyn tersenyum tipis.
"Tenang saja. Walaupun aku masih terluka, aku masih mampu menghadapi mereka."
Ia menepuk pinggangnya pelan.
"Jangan lupa, aku masih membawa pistol."
Nada suaranya berubah tegas.
"Tapi sebelum mereka ditahan secara resmi, sebagai anak yang selama ini diperlakukan tidak adil, aku ingin memberi mereka pelajaran terlebih dahulu."
Setelah mengatakan itu, Evelyn melangkah memasuki mansion.
Di ruang makan.
Lucy sedang menata berbagai hidangan di atas meja.
Ronald dan Eve duduk berdampingan sambil menunggu.
"Ma, kenapa hari ini banyak sekali masakannya? Apa ada hari istimewa?" tanya Eve.
Lucy tersenyum.
"Hari ini Evelyn pulang."
Eve dan Ronald saling berpandangan.
"Bukankah Evelyn masih dirawat di rumah sakit? Mana mungkin dia pulang secepat itu?" ujar Ronald.
Lucy menatapnya tenang.
"Aku sudah bilang, putriku sangat tangguh. Luka seperti itu tidak akan membuatnya terbaring lama."
Ia kemudian menoleh kepada Eve.
"Mulai hari ini Evelyn akan tinggal di rumah."
"Eve, pindahkan barang-barangmu ke kamar belakang. Kamar utama akan ditempati kakakmu."
Eve langsung berdiri.
"Apa? Ma, kenapa aku harus pindah? Aku sudah lama tinggal di kamar itu."
Lucy menjawab dengan tenang.
"Kamar utama lebih nyaman. Evelyn masih dalam masa pemulihan dan membutuhkan tempat yang lebih baik."
Ronald langsung menyela.
"Lucy, apa yang kau lakukan tidak adil bagi Eve. Evelyn masih bisa memakai kamarnya sendiri. Tidak perlu mengambil kamar utama."
Lucy menatap Ronald tanpa gentar.
"Rumah ini milikku. Kelak, rumah ini juga akan menjadi milik Evelyn. Jadi tidak ada yang salah jika dia menempati kamar utama."
Tatapannya beralih kepada Eve.
"Kalau kau tidak suka, kau bisa tinggal di kamar belakang."
Lucy kemudian menatap Ronald dengan dingin.
"Kalau kalian berdua sama-sama tidak suka, silakan keluar dari rumah ini dan sewa hotel dengan uang kalian sendiri."
"Lucy, kenapa kau selalu berbicara seperti itu? Bagaimanapun juga, Eve adalah anak yang kau besarkan dengan tanganmu sendiri," kata Ronald.
Lucy menatapnya tajam.
"Ronald Shen, ingat satu hal. Rumah ini dan semua yang ada di dalamnya adalah milik keluargaku. Aku adalah satu-satunya pewaris keluarga Wen."
Tatapannya beralih kepada Ronald dan Eve.
"Sedangkan kau dan anakmu hanya menumpang hidup di sini."
Wajah Ronald langsung mengeras.
"Lucy, jangan lupa. Evelyn juga bukan anak kandungku. Aku menerimanya tanpa pernah mempermasalahkan keberadaannya.Lalu kenapa kau selalu mempermasalahkan Eve?"
Lucy tertawa sinis.
"Karena aku tidak pernah berselingkuh. Sebelum mengenalmu, aku memang sudah melahirkan Evelyn. Tapi setelah menikah denganku, kau justru berselingkuh dengan wanita lain hingga memiliki anak."
Tatapannya semakin dingin.
"Kalau bukan demi menjaga nama baik keluarga Wen dan perusahaan, apa kau pikir aku masih sudi mempertahankan pernikahan ini?"
Eve langsung menyela.
"Ma, jangan salahkan Papa. Kalau Papa lebih mencintai mamaku, itu bukan salahnya. Bagaimanapun juga, mamaku belum pernah menikah dan bukan wanita yang membawa anak."
Ucapan itu membuat wajah Lucy berubah murka.
"Kurang ajar! Ibumu merebut suami orang. Kau masih berani membanggakannya?"
Ronald tersenyum mengejek.
"Lucy, apa yang dikatakan Eve tidak salah. Walaupun ibunya tidak sekaya dirimu, setidaknya dia tahu menjaga harga dirinya. Sedangkan kau..."
Ronald menatap Lucy dengan sinis.
"Anak orang kaya, tetapi tidak punya harga diri."
Plak!
Lucy mengangkat tangannya hendak menampar Ronald.
Namun Ronald lebih dulu menangkap pergelangan tangannya.
"Kau memang tidak pernah berubah."
Ronald menepis tangan Lucy dengan kasar.
"Kalau bukan karena harta keluargamu, apa kau pikir aku ingin melihat wajahmu setiap hari?"
Lucy terhuyung satu langkah ke belakang.
Tepat saat suasana memanas, terdengar suara langkah kaki dari arah pintu masuk.
"Jadi..."
Suara dingin Evelyn menggema di ruang makan.
"Akhirnya kalian menunjukkan sifat asli kalian."
Semua orang spontan menoleh.
Evelyn berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam.
"Ayah dan anak memang sehati sejiwa. Sama-sama tidak tahu malu. Makan dan tinggal di rumah keluarga Wen masih saja tidak sadar diri."
"Kakak, kenapa kau pulang? Bagus juga. Lagi pula rumah ini sebentar lagi akan menjadi milik kami. Aku dan mamaku akan menjadi tuan rumah di sini, sedangkan kau dan ibumu harus angkat kaki," ujar Eve sambil melangkah maju dengan senyum sinis.
Evelyn menghampirinya dengan tersenyum, lalu tanpa ragu langsung menampar wajah adik tirinya.
Plak!
"Aah!"
"Evelyn, baru datang kau sudah berani menampar adikmu!" bentak Ronald.
"Jangan lupa siapa nona besar di rumah ini. Dia hanya anak dari wanita yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain. Berani bersikap sombong padahal tidak memiliki apa pun. Kalau kau tidak bisa mendidik anakmu, maka aku yang akan mendidiknya," kata Evelyn.
"Evelyn Shen, sebentar lagi kau akan diusir dari sini. Rumah ini akan menjadi milikku," kata Eve.
Plak! Plak!
Dua tamparan kembali mendarat di pipi kiri dan kanan Eve hingga wajahnya memerah.
"Kau berani menamparku!" teriak Eve.
"Aku memang menamparmu. Wajahmu memang pantas ditampar supaya kau tahu malu," ujar Evelyn.
"Evelyn, bawa ibumu angkat kaki dari rumah ini!" bentak Ronald.
"Atas dasar apa aku harus mengikuti perintahmu?" tanya Evelyn.
"Jangan mencari masalah denganku. Kau sendiri bukan anak kandungku. Kau hanyalah anak yang tidak jelas asal usulnya. Ibumu hamil sebelum menikah, jadi kau bukan darah dagingku," bentak Ronald.
"Ronald!" seru Lucy dengan marah.
Evelyn melangkah menghampiri Ronald.
"Jadi... aku memang bukan anak kandungmu?" tanya Evelyn.
"Benar! Anak kandungku hanya Eve," jawab Ronald dengan tegas.
Plak!
Tamparan keras kembali mendarat di wajah Ronald.
Lucy dan Eve hampir tidak percaya melihat tindakan Evelyn.
"Aku ayahmu! Kau berani menamparku?" bentak Ronald.
"Kau baru saja mengatakan bukan ayahku. Jadi kenapa aku tidak boleh menamparmu? Apa kau tahu, sudah sejak lama aku merasa jijik melihatmu. Dalam hati aku selalu berharap, semoga kau memang bukan ayahku. Kalau itu benar, mungkin aku akan hidup jauh lebih bahagia," ujar Evelyn." Bukan hanya menamparku, tapi aku juga akan membuat kalian jatuh miskin."