dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.
Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.
Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.
Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.
Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.
Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Menjadi Laki-Laki Yang Bertanggung Jawab
Arsen baru saja sampai setelah mengantarkan Nayla pulang kini suasana rumah terasa sepi, sang adik Alena sudah masuk ke kamarnya sang Mama juga sedang membersihkan diri di kamar.
Senyuman itu masih tersisa di wajahnya sejak perjalanan pulang dari rumah Nayla, hari ini berjalan dengan sangat baik bahkan lebih baik dari yang Arsen bayangkan. Nayla terlihat nyaman, tertawa lepas bahkan Nayla berbicara lebih banyak dari biasanya, dan yang paling membuat Arsen bahagia ketika Nayla benar-benar diterima baik oleh keluarganya.
" Kak..." baru saja Arsen hendak naik ke kamarnya, suara bariton itu seketika menghentikan langkahnya.
" Ayah, kok belum tidur?" Arsen menoleh ke arah sumber suara.
" Duduk sebentar Kak, Ayah mau ngobrol dulu boleh?" Ayah Arsen berdiri di ruang keluarga, ditangannya ada dua cangkir kopi siap minum.
" Siap, Yah" Arsen tersenyum kecil, memutar arah menghampiri sang Ayah.
Kini dua lelaki berbeda generasi dan usia telah duduk santai diteras belakang rumah, tempat favorit Ayah Arsen sejak dulu. Udara malam terasa sejuk, sesekali terdengar suara jangkrik dari taman belakang membuat suasana semakin hangat, tenang dan nyaman.
" Nih, Kak diminum dulu... udah lama ya kita gak ngopi bareng" Ayah Arsen menyerahkan satu cangkir kopi kepada sang anak.
" Terimakasih, Yah..." Arsen menerima dengan sopan.
Beberapa saat suasana sempat hening, tidak ada suara yang keluar dari mulut Arsen dan juga sang Ayah. Keduanya terlihat seperti tengah menikmati suasana malam
" Kamu serius sama Nayla, Kak?" Akhirnya sang Ayah membuka obrolan dengan pertanyaan yang sederhana.
" Serius, Yah... ehh enggak sangat serius malahan" Arsen langsung memahami makna pertanyaan dari sang Ayah.
Bukan sebuah basa-basi semata, namun pertanyaan sang Ayah kepada anak laki-lakinya dengan penuh makna.
" Syukurlah, Ayah senang dengarnya kalau kamu memang serius" Ayahnya tersenyum kecil.
Arsen menoleh menatap wajah sang Ayah, ia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban semudah dan secepat itu. Biasanya orang tua akan bertanya banyak hal tentang urusan anaknya, tentang usia, pekerjaan, tentang perbedaan yang dihadapi, namun... Sang Ayah tidak melakukan itu semua.
" Ayah enggak keberatan kan, Nayla usianya tiga tahun diatas aku?" pertanyaan itu keluar juga dari mulut Arsen, selama ini diam-diam sering sekali muncul dalam pikirannya.
" Loh, memangnya kenapa kalau usianya di atas kamu?" Ayah Arsen tertawa.
" Entahlah, tapi biasanya orangtua ajan mempermasalahkan hal itu. Apalagi pihak perempuan yang lebih diatas usianya" Arsen mengangkat bahu.
" Kalau kamu mau tanya pendapat Ayah..." Ayahnya menggelengkan kepalanya pelan, menatap langit malam saat menghentikan ucapannya.
" Usia itu cuma bentuk angka... Yang penting bukan siapa yang lebih tua, Kak..." ucap sang Ayah.
" Lalu?" tanya Arsen.
" Tapi siapa yang lebih dewasa ketika menghadapi masalah, karena menikah itu bukan ajang perlombaan mencari yang lebih muda... Tapi menikah itu mencari teman hidup" Ayahnya tersenyum, sedangkan Arsen langsung menanam kalimat itu dalam kepalanya.
" Ayah mau tanya, apa kamu merasa bahagia saat bersama Nayla?" tanya sang Ayah.
" Bahagia banget, Yah..." jawab Arsen.
" Apa dia bisa membuat kamu menjadi pribadi yang lebih baik?" lagi, sang Ayah bertanya.
" Tentu dong, Yah. Kurang jelas apa ucapan anak bungsu Ayah tadi waktu dia mempermalukan aku dihadapan Nayal?" jawab Arsen.
" Apa kamu menghormatinya?"
" Sangat dong, Yah"
" Kalau begitu tidak ada masalah bukan?" Ayah Arsen tersenyum puas.
Arsen menunjukkan sebentar kepalanya dengan senyuman kecil, jujur saja mendengar dukungan dari sang Ayah langsung membuat dadanya kini terasa hangat. Namun beberapa detik kemudian ekspresi sang Ayah berubah sedikit lebih serius, Arsen yang menyadari langsung merasa heran.
" Tapi ada satu hal yang harus kamu ingat, Kak" ucap sang Ayah yang terdengar tegas namun tetap tenang.
" Nayla bukan perempuan biasa, dia perempuan yang pernah kehilangan kepercayaan diri" Ucap sang Ayah yang dijawab anggukan oleh Arsen.
" Bukan karena kesalahannya, tapi karena jalan hidupnya memang pernah menyakitinya..." ucap sang Ayah lagi.
Arsen menggenggam cangkir kopinya perlahan, kilatan cerita yang pernah Nayla bagikan tentang ibunya, tentang masa kecil, tentang ketakutannya, san tentang alasan mengapa ia begitu sulit untuk membuka hati.
" Dan ketika perempuan seperti itu akhirnya mau membuka pintu hatinya untuk mengizinkan orang lain masuk, maka laki-laki yang masuk ke dalamnya harus tahu arti dari tanggung jawab..." Ayah Arsen berhenti sejenak.
Hening... Arsen menundukkan kepalanya menyimak dan memahami setiap kata yang diucapkan oleh sang Ayah.
" Kak, jangan pernah masuk ke dalam hidup seseorang hanya karena kamu merasa kesepian... Jangan pernah berani memberikan harapan kalau kamu sendiri belum siap bertanggung jawab" ucap sang Ayah pelan namun penuh penekanan didalamnya.
Arsen menganggukkan kepalanya, memahami ucapan sang Ayah.
" Karena harapan yang diberikan oleh laki-laki, terkadang bisa menjadi tempat berlindung perempuan bahkan menjadi tempat aman yang menjadikan seorang perempuan bergantung pada pasangannya" Ayahnya tersenyum tipis.
Malam terasa semakin tenang, namun setiap kalimat yang diucapkan sang Ayah terasa begitu dalam.
" Ayah tahu kamu, Kak... Dan Ayah percaya kalau kamu serius mencintai Nayla. Tapi cinta saja tidak cukup" ucap sang Ayah dengan kini tatapannya menatap wajah sang anak sulungnya.
" Maksud Ayah?" tanya Arsen yang seketika kepintarannya menurun malam ini.
" Kak, dengar Ayah... Cinta itu harus ditemani dengan komitmen, cinta harus ditemani dengan tanggung jawab, dan cinta juga harus ditemani dengan komunikasi" jelas sang Ayah.
" Komunikasi?" Arsen menatap sang Ayah me cari jawabannya.
" Jangan biasakan diam saat ada masalah, jangan berharap pasangan bisa memahami dan membaca pikiran kamu... Tidak ada manusia yang memiliki kemampuan itu" sang Ayah mengangguk.
" Terkadang laki-laki sering berpikir jika diam akan menyelesaikan masalah, padahal diam itu justru membuat perempuan merasa ditinggalkan... " jawaban sang Ayah kali ini membuat Arsen semakin merenung.
" Nayla mungkin terlihat kuat, dia mandiri, cerdas, dan dewasa... tapi jangan lupa dibalik semua itu dia tetap seorang perempuan yang ingin merasa aman" jelas sang Ayah yang semakin membuat Arsen lebih mengerti.
Jantung Arsen berdegup pelan karena ia tahu ucapan sang Ayah sangat benar.
" Aku tidak mau menyakiti dia, Yah" ucap Arsen jujur, inilah komunikasi terbuka antara anak dan Ayah.
" Ayah tahu, Kak... Kamu itu anak Ayah tidak mungkin Ayah tidak mengetahui perasaan kamu" Ayah Arsen tersenyum hangat, lalu menepuk pundak putranya pelan penuh rasa bangga.
" Makannya Ayah bicara seperti ini, karena Ayah melihat keseriusan kamu kepada Nayla" ucap sang Ayah.
Arsen menatap wajah Ayahnya, malam ini ia merasa seperti seorang anak kecil yang sedang diberi bekal oleh Ayahnya untuk menjalani hidup.
" Kalau suatu hari nanti Nayla memilih kamu, pastika dia tidak pernah menyesal atas keputusannya" ucap sang Ayah tersenyum.
Mata Arsen perlahan memanas, bukan karena rasa sedih melainkan karena rasa haru dan tersentuh atas nasihat sang Ayah.
" Aku janji, Yah... Aku akan berusaha memastikan kalau Nayla tidak akan pernah menyesal atas keputusannya untuk mencoba mengizinkan aku masuk kedalam hidupnya " suara Arsen terdengar mantap penuh dengan keyakinan.
" Bagus, memang harus seperti itu jika menjadi seorang laki-laki" Ayah Arsen mengangguk puas atas jawaban sang anak.
" Karena kalau sampai Nayla nangis gara-gara kamu dan Ayah tahu itu... Ayah yang akan memberikan kamu pelajaran lebih dulu dan memastikan kamu tidak akan bertemu lagi dengan Nayla sampai kapanpun" Ayahnya langsung berdiri dari duduknya, tidak lupa senyuman penuh arti.
Arsen tertawa lepas mendengar ancaman sang Ayah, malam ini dibawah langit yang tenang ada seorang Ayah yang sedang mengajarkan kepada putranya bahwa menjadi laki-laki bukan hanya tentang mencintai.
Tetapi juga mengajarkan tentang arti menjaga dan menepati janji, bertanggung jawab atas hati yang telah dipilih.