(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAKENFORD ARC 33 - KEHENDAK TITAN
...Ini bukan kebangkitan biasa... ...
......ini kehendak yang memilih untuk bertindak....
...⚙⚙⚙...
Debu masih berputar perlahan di udara. Butiran batu kecil terus berjatuhan dari lereng yang retak. Di tengah area luas itu, sosok raksasa berdiri tegak. Logam kuno yang selama ini tersembunyi kini bergerak pelan. Cahaya biru menyala dari celah-celah tubuhnya, berdenyut tenang dan dalam.
Arven berdiri beberapa meter di depannya. Tubuhnya penuh debu dan luka, napasnya berat, namun matanya tak bisa lepas. “Dia... benar-benar hidup.“
Mesin itu bergerak lagi. Kepalanya berputar dengan suara gesekan logam tua yang nyaring, lalu menunduk menghadap tepat ke arah Arven. Cahaya di matanya menyala lebih terang.
Suara berat dan bergema keluar, bukan suara manusia, namun juga bukan sekadar bunyi mesin.
“HOST CONFIRMED.“
Udara seakan membeku.
“WELCOME BACK.“
Hening sejenak.
“ARVEN VALEN.“
Arven menatapnya terpaku. Tangannya mengepal erat pada gagang Titan Wrench. Alat itu masih bergetar, tapi kini getarannya terasa berbeda, stabil dan tenang, seolah akhirnya menemukan rumahnya. “Jadi semua ini benar...“ gumamnya pelan.
Tiba-tiba-
“ARVEN!“
Sebuah suara memecah keheningan. Arven menoleh cepat. Sosok itu berlari keluar dari balik bebatuan. Rambut coklat kemerahannya tergerai berantakan, tak seperti biasanya yang selalu diikat rapi.
Liora.
Ia berlari mendekat, tombak di tangan kanan, tameng di kiri.
“Lio-“
Belum sempat Arven menyelesaikan kalimatnya.
FWHACK...
Tameng itu terlepas dari tangan Liora, meluncur cepat seperti cakram. Hantaman keras tepat mengenai kepala Arven.
“Aduh!“ Arven langsung terjungkal, wajahnya membentur tanah berbatu.
Di belakang mereka, Astraeus yang tadi menatap lurus ke depan perlahan memiringkan kepala. Lampu birunya berkedip sekali. Kemudian, ia perlahan memutar badannya sedikit, kakinya menggeser tanah seolah sedang memeriksa dinding gua. Seolah-olah... ia tidak melihat apa-apa.
Liora berjalan mendekat, wajahnya memerah menahan amarah, tapi matanya tampak basah. “Kau idiot!“
Arven mengangkat kepala, tangannya memegang benjolan di dahi. “Apa salahku sekarang?!“
“Aku pikir kau sudah dimakan monster!“ teriak Liora, tangannya terangkat seolah siap memukul lagi.
“Itu bukan salahku-“
“DIAM!“
Arven langsung mengangkat kedua tangan menyerah. “Oke! Oke! Aku minta maaf!“
Liora mendengus kasar.
Di belakang mereka, Astraeus tetap diam memandang ke arah lain, seolah Titan kuno itu memilih tak mau tahu urusan manusia yang aneh ini.
Tiba-tiba tatapan Liora berubah. Matanya melirik ke belakang Arven, menatap sosok raksasa itu. Ia membeku. “...Arven.“
“Ya?“
“...Astraeus?“
Arven menoleh ke belakang. Titan itu masih berdiri tegak, cahayanya berdenyut tenang. “...Aku juga tidak tahu.“
Liora menatapnya datar. “Serius?“
Seolah mendengar percakapan itu, suara berat Astraeus kembali terdengar.
“CLARIFICATION.“
Keduanya menoleh serentak.
“UNIT ASTRAEUS TIDAK 'BARU HIDUP'.“
Nadanya datar, namun terdengar aneh dan polos.
“UNIT ASTRAEUS HANYA... TIDUR LAMA.“
Arven dan Liora saling berpandangan, keduanya sama-sama terbelalak.
“...Apa?“ serentak.
Namun sebelum sempat bertanya lebih jauh, tanah di sisi gua berguncang hebat. Bebatuan runtuh, debu meledak luas.
Sebuah bayangan raksasa bangkit kembali.
RAAAARGH...
Man-Slayer.
Monster itu berdiri lagi. Bagian dadanya yang hancur bergerak-gerak, daging hitamnya menggeliat menyatu, tulang-tulangnya menyambung kembali dalam hitungan detik. Luka itu lenyap seolah tak pernah ada.
Liora segera mengangkat tombak dan memasang posisi bertahan. Arven mencengkeram Titan Wrench lebih erat.
“Dia... beregenerasi.“ desis Arven.
Man-Slayer menatap lurus ke arah Astraeus. Matanya menyala merah membara, penuh kebencian primitif.
“Kau...“ Ia melangkah maju, lantai batu retak di bawah kakinya. “Titan...“ Cakar panjangnya terbuka lebar. “...Rusak.“
Cahaya di mata Astraeus berubah menjadi lebih tajam. Suara sistemnya kembali terdengar, kali ini lebih dingin dan tegas.
“SYNC RATE : 20%“
Garis biru di tubuhnya mulai mengalir lebih cepat.
“CORE POWER : 36%“
“STRUCTURAL INTEGRITY : 35%“
Arven menelan ludah.
“COMBAT MODE : LOCKED.“
“Locked...?“ tanya Arven dan Liora bersamaan.
Man-Slayer meraung lagi.
RAAAARGH...
Sensor Astraeus menyapu tubuh monster itu.
“ENEMY THREAT LEVEL DETECTED :“
“PRIMORDIAL.“
Udara di dalam gua menjadi dingin. Astraeus perlahan menggerakkan lengannya, membuat batu-batu di sekitarnya ikut bergetar. Ia menatap Arven sekali lagi.
“HOST ARVEN VALEN.“
Man-Slayer berlari kencang. Tanah hancur di setiap langkahnya. Cakar raksasa terangkat tinggi, siap merobek apa saja yang ada di depannya.
Astraeus tidak bergeming. Ia hanya berdiri tegak menantang. Tepat sebelum benturan maut terjadi, suaranya bergema kembali, keras dan megah seperti lonceng perang kuno.
“HOST ARVEN… AND RED WITCH… BE READY.”
Liora langsung menoleh tajam. “Witch?”
Namun sebelum sempat protes lebih jauh, Arven memotong dengan suara tegang. “Dia datang.”
Man-Slayer bergerak. Tubuhnya merendah seperti predator yang siap menerkam. Ia melompat, tanah retak hebat saat kakinya menghantam lantai batu tepat di depan mereka.
Astraeus langsung melangkah maju. Langkahnya berat, setiap pijakan membuat bumi bergetar. Ia berjalan melewati Arven dan Liora, berdiri tegak di depan mereka layaknya dinding baja raksasa.
“SPEAR WITCH.”
“PROTECT HOST ARVEN.”
Liora berkedip bingung. “Apa—”
Kalimatnya terputus. Detik itu juga, Man-Slayer menyerang. Dengan kecepatan luar biasa untuk ukuran tubuhnya, monster itu melompat lurus ke arah Astraeus. Cakar hitamnya terangkat tinggi.
BOOM...
Benturan dahsyat terjadi. Cakar itu menghantam lengan Astraeus yang terangkat sigap menahan. Gelombang ledakan meledak dari titik tumbukan, menyapu seluruh ruangan seperti badai pasir.
Arven dan Liora terdorong mundur beberapa langkah, hampir terjatuh karena hembusan angin yang kuat. Batu-batu kecil beterbangan ke mana-mana.
“Apa kau memanggilku penyihir?!” teriak Liora.
“Dia Titan kuno… sabar saja!” jawab Arven cepat sambil menutupi wajahnya dari debu.
Di depan mereka, kedua raksasa itu masih saling mendesak. Cakar Man-Slayer mencicit keras melawan permukaan logam, percikan api beterbangan di mana-mana.
Tiba-tiba suara datar Astraeus terdengar lagi.
“CORRECTION...”
“...RED SPEAR WITCH?”
Liora hampir meledak. “AKU BUKAN PENYIHIR!”
“STATEMENT RECORDED.” jawab Astraeus datar tanpa emosi.
Arven hanya bisa menghela napas panjang. Tapi situasi tidak memberi waktu untuk berdebat lebih lama.
Man-Slayer menarik cakarnya mundur secepat kilat. Tubuhnya berputar di udara, lalu mendarat dengan hentakan keras yang membuat tanah bergelombang.
Tanpa jeda, monster itu melancarkan serangan bertubi-tubi. Kedua cakarnya bergerak menjadi bayangan hitam, menebas ke segala arah dengan kecepatan gila.
Atas. Bawah. Samping.
KRANG... KRANG... KRANG...
Astraeus berdiri kokoh. Lengan logamnya bergerak lincah, memblokir setiap serangan dengan presisi mematikan. Suara benturan logam dan daging keras bergema tanpa henti, getarannya terasa sampai ke tulang-tulang lereng tambang.
Man-Slayer meraung frustrasi. Ia melompat mundur, lalu menghentakkan kedua kakinya ke tanah dengan sekuat tenaga.
Retakan besar menjalar cepat melintasi lantai batu, langsung menuju ke arah Astraeus. Tanah pecah, bebatuan terlempar ke udara. Keseimbangan Astraeus terganggu, tubuhnya sedikit terguncang.
Itu celah yang ditunggu. Man-Slayer melesat maju. Tubuhnya berputar cepat, lalu mengayunkan cakar kanannya dengan putaran penuh kekuatan.
SLAASH...
Tebasan itu mengenai sisi bahu Astraeus. Logam tebal tergores dalam. Percikan api memancar deras, meninggalkan guratan hitam pekat di bodi Titan. Astraeus terdorong mundur dua langkah, kakinya menyeret tanah hingga membentuk parit dalam.
“Astraeus!” teriak Arven.
Di tangannya, Titan Wrench tiba-tiba bergetar hebat. Cahaya biru samar mulai menyala di sepanjang ukiran mekanisnya, berdenyut seirama dengan cahaya di tubuh raksasa itu.
Suara berat Astraeus terdengar lagi, lebih dalam dan stabil.
“SYNC RATE : 27%”
Arven menatap tajam. “Sinkronisasi…?”
Man-Slayer tidak memberi waktu. Ia melompat tinggi, jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Tubuhnya melayang di udara, mengumpulkan momentum, lalu dengan seluruh berat badannya, ia menghantam tepat ke arah kepala dan bahu Astraeus.
BOOOM...
Dentuman dahsyat mengguncang seluruh tambang. Astraeus terdorong mundur beberapa langkah. Satu lutut logamnya menghantam lantai batu dengan keras. Debu meledak luas ke udara, menutupi pemandangan sesaat.
“STRUCTURAL INTEGRITY : 30%“
Liora menatap dengan mata terbelalak. “Dia jatuh?”
Arven mencengkeram Titan Wrench semakin erat. Cahaya biru di alat itu kini bersinar jauh lebih terang, hangatnya terasa menjalar sampai ke siku.
“SYNC RATE : 30%,” suara Astraeus bergema lagi.
Arven menatap sosok raksasa itu, lalu menoleh cepat ke arah Liora. “Liora.” Ia mengangkat tangan kanannya, Titan Wrench bersinar terang di genggamannya. “Kita bantu Astraeus.”
Cahaya biru itu berdenyut kencang, seolah mesin kuno itu akhirnya menjawab panggilan tuannya.
“SYNC RATE : 32%”
Astraeus menancapkan kakinya ke tanah dan berdiri kembali. Cahaya biru di core Titan itu berdenyut lebih kuat.
“OPERATIONAL PURPOSE... UPDATED.“
Seketika suara berat bergemuruh dari dalam tubuh Astraeus. Panel-panel logam di lengannya bergeser dengan bunyi keras. Celah-celah terbuka, memperlihatkan mekanisme dalam yang mulai berputar. Suara mesin tua meraung pelan, lalu semakin keras, berirama.
Kakinya menghantam tanah lebih dalam. Permukaan batu di bawahnya pecah. Retakan menjalar cepat ke segala arah, membuat kerikil meloncat dan bergeser.
Lengan kanan Astraeus bergerak turun sedikit, lalu berhenti, logam di bagian siku terbuka, memperlihatkan struktur berat yang berputar perlahan. Getaran kuat menjalar dari tubuhnya ke tanah. Debu di sekitarnya terdorong menjauh.
“MINING OVERRIDE ENGAGED.“
...⚙⚙⚙...
A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...
—T28J
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.
"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.
"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)