Stella yang anak konglomerat hanya berpura-pura miskin di hadapan mertuanya. Dia menikah dengan Soni,yang merupakan karyawan swasta di sebuah bank ternama yang ternyata punya Stella sendiri. Tetapi Soni tidak tahu kalau bank itu milik mertuanya.
Semenjak Stella menikah dengan Soni,mertuanya mengira dia anak orang biasa. Dan di rumah dia di suruh kerja layaknya pembantu.
Kalau ada kesalahan sedikit dia di marahin dan di maki sama ibu mertuanya sendiri. Stella dan Soni sudah empat tahun menikah dan mempunyai putri yang sangat cantik. Sebenarnya Stella sudah capek hidup di rumah mertuanya seperti di neraka. Tetapi demi anak dia bertahan sampai akhirnya dia jenuh.
Akankah rumah tangga Soni dan Stella akan bertahan. Atau Stella memutuskan untuk bercerai dari Soni?
Ini hanya ringkasan cerita saja ya. Untuk selengkapnya silahkan di baca per bab nya ya. Terima Kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Soni mengajak Celia dan Evan menggunakan mobil keluarga yang jarang di pakai. Mobil lama Leo. Sudah lima tahun mobil tersebut Leo beli dan Leo sengaja tidak menjual mobilnya karena masih bagus.
Soni tadinya memesan taxi online tapi tidak di perbolehkan Leo dengan alasan keamanan. Karena Soni mengajak kedua cucunya.
Dan mau tidak mau Soni menurut. Dan mobil yang dikendarai Soni sudah sampai di hotel.
Soni membuka pintu belakang untuk Celia dan Evan. Kebetulan mobil yang dikendarai Soni mobil sedan.
Mereka bertiga masuk ke hotel dengan Soni ditengah menggandeng Celia dan Evan. Salah satu resepsionis yang sudah tahu Soni. Dia menyapa Soni.
"Malam pak. Mau ke lantai lima ya."
"Malam juga. Iya,saya mau ke lantai lima."
"Baik kalo begitu. Silahkan pak."
"Terima kasih."
Soni menekan lift ke lantai lima. Setelah lift terbuka mereka masuk dan waktu lift naik ke lantai lima,lift terbuka. Soni,Celia dan Evan keluar dari lift.
Sesampai di kamar yang Dika dan Vanda tempati,Soni membunyikan bel.
Pintu terbuka dan Dika yang membuka pintunya.
"Eh,ada keponakan uncle. Ayo masuk dulu",ajak Dika.
Mereka masuk dan Soni menyapa Vanda. Soni menyuruh Celia dan Evan menyapa Dika dan Vanda.
Celia dan Evan Salim kepada Dika dan Vanda.
Dika dan Vanda bingung ada anak cowok yang ikut Soni dan Celia.
"Dia siapa kak",tanya Dika.
"Keponakan Stella. Dia lebih dekat ke Celia. Makanya ku ajak saja biar Celia ada temannya."
"Namanya siapa",tanya Vanda dengan lembut.
"Evan",jawab Evan dengan malu-malu.
"Jangan malu. Kamu juga sama kayak Celia tetap memanggil kita uncle dan aunty ya."
Evan mengangguk.
"Gimana Van,nyaman nggak tinggal di sini",tanya Soni.
"Nyaman kak. Enakan tinggal di sini. Aku juga nggak tahu kalo hotel ini milik keluarga kak Stella",ucap Vanda.
"Iya,aku juga tahu setelah Stella cerita. Kadang aku malu mama memperlakukan Stella seperti pembantu. Padahal Stella anak konglomerat."
"Iya kita juga kaget setelah kakak cerita. Padahal waktu di Palembang dia terlihat sederhana. Ku pikir dia sama kayak kita anak seorang sederhana",ucap Dika.
"Dan ternyata keluarga Stella di Palembang itu om dan tantenya. Bukan orang tuanya. Dan waktu aku dan Stella married yang jadi walinya Tante dan omnya. Karena orang tua Stella waktu itu nggak mau datang. Karena orang tua Stella juga belum merestui hubungan aku dan Stella."
"Ya sudahlah. Sekarang ini jadikan pembelajaran saja. Lagian juga hubungan kakak dan kak Stella juga baik-baik saja sekarang ini. Bahkan keluarga kak Stella juga baik sama kak Soni kan. Kak Stella mau hidup sederhana juga mungkin nggak mau kakak minder",Vanda memberi pendapatnya.
"Iya ku pikir juga begitu. Makanya waktu dia mengajak ke rumah orang tuanya,itu saja aku sudah minder. Ternyata ku nikahi dulu anak seorang konglomerat. Benar-benar membuatku malu dengan ulah mama."
"Ya sudah. Mungkin mama itu tertutup hatinya karena dipengaruhi temannya.
Aku lihat juga teman mama yang suka ngajak jalan itu tidak baik. Dia suka mempengaruhi mama dengan pikiran yang negatif. Dia juga mau menjodohkan anaknya sama kakak kan. Jangan mau ya. Dika juga sudah bilang ke mama tapi ya itu mama keras kepala dan maunya semua orang harus menuruti mama. Itu yang membuat aku tidak suka. Tapi sayangnya aku hanya menantu kak. Makanya aku tidak mau ikut campur. Cuma satu saran aku,kakak harus tegas dengan mama. Jangan mau menuruti kemauan mama. Kakak bukakan mata dan hati mama. Biar mama sadar jika temannya tidak baik. Dan selalu merusak pikiran mama",Vanda memberi nasehat ke Soni.
Soni hanya mengangguk. Dia setuju dengan pendapat Vanda.
"Ya sudah yuk kita makan di bawah saja. Stella juga sudah bilang ke kepala koki khusus memasak untukmu."
"Ya udah yuk."
Semua keluar dari kamar hotel dan menuju ke restoran bawah. Sesampai di restoran,pelayan meminta nomor kunci kamar Dika yang berupa kartu.
Dika memberi kunci tersebut. Pelayan melihat nomor kartu tersebut.
Setelahnya pelayan masuk ke dapur dan memberitahu kepala koki.
Kepala koki dan pelayan restoran sudah tahu nomor kamar yang ditempati Dika dan Vanda setelah diberitahu Stella.
Pelayan bilang ke Soni jika tidak usah memesan makanan karena kepala koki sudah memasak khusus untuk mereka.
Mereka hanya diperbolehkan memesan minuman saja. Soni mengangguk mengerti. Karena Soni tahu jika ini perintah dari Stella.
"Kalian mau pesan minum apa",tanya Soni.
"Papa..aku boleh pesan cemilan tidak",tanya Celia.
"Boleh,mau pesan apa",tanya balik Soni.
"Maaf pak,cemilannya sudah di sediakan dari sini sebagai makanan penutup yaitu buah dan kue atau dessert",ucap pelayan restoran.
"Kalo begitu Celia mau spaghetti fettucini",ucap Celia.
"Baik nona muda."
"Ada pizza tidak",tanya Evan.
"Ada. Di sini ada makanan western dan lokal",pelayan memberi penjelasan kepada mereka.
"Baiklah,pesan pizza juga satu loyang saja khusus buat anak-anak",ucap Soni kembali.
"Minumnya es jeruk empat dan satu air putih."
"Baik,ditunggu pesanannya."
Soni mengangguk dan pelayan pergi ke dapur.
Setengah jam kemudian makanan datang. Pelayan membawa nasi dan masakan yang di masak kepala koki.
Kepala koki memasak salad sayur dan pepes ikan gurami khusus untuk Vanda.
Sedangkan yang lain kepala koki memasak udang goreng mayonaise,ikan bakar dan hotpot kangkung.
Tak lama kemudian menyusul pesanan yang di pesan Evan dan Celia yaitu spaghetti dan pizza serta minuman yang dipesan Soni.
"Kalian makan ini saja,tidak mau makan nasi kah",tanya Soni.
"Tidak papa. Celia sama kak Evan makan ini saja."
"Baiklah. Makanlah spaghetti dan pizza dulu. Jika masih lapar masih ada nasi dan sayur."
"Baik pa.
Akhirnya mereka makan dengan tenang dan lahap.
Sedangkan di restoran lain tepatnya di restoran western,Stella akan bertemu dengan Maureen. Mereka makan malam berdua. Maureen di antar sama sopir papanya untuk bertemu dengan Stella.
Stella datang duluan. Dia menatap tab sebagai ganti buku menu. Tab tersebut merupakan isi dari menu makanan dan minuman.
Stella memilih menu minuman terlebih dahulu sambil menunggu Maureen.
Baru juga memilih tiba-tiba Maureen datang dan langsung duduk berhadapan dengan Stella.
"Maaf Tante,Maureen terlambat datang."
"Tidak apa-apa. Tante juga belum lama sampainya."
"Tuch ambil tab untuk memilih menu makanan dan minuman,imbuh Stella."
"Maureen mengambil tab dan memilih menu yang ada di sana."
Stella memanggil pelayan.
Pelayan datang dan menunggu Stella memesan makanan.
Setelah Stella dan Maureen memberitahu makanan yang mereka pesan,pelayan memberi petunjuk menggunakan tab agar menu yang mereka pesan bisa terkirim di kasir.
Stella dan Maureen akhirnya selesai memesan makanan dan minuman melalui tab.
Pelayan pergi meninggalkan mereka dan menuju ke kasir.
"Canggih ya sekarang. Pesan makanan aja melalui tab",gumam Maureen.
"Ya begitu,kalo kita makan di restoran mewah,semua serba canggih",jawab Stella asal.
Kenapa kamu bolos,tanya Stella.
Maureen nggak bolos kok. Cuma ijin lebih lama aja,Maureen nyengir sampai gigi putihnya kelihatan.
"Bukannya kamu sekolah di Bandung,ikut mama kandung kamu",tanya Stella kembali.
"Setelah pulang dari Palembang aku pindah sekolah di Jakarta. Sekolah di Internasional School biar lebih menantang."
Stella hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak remaja sekarang.
"Terus kamu nanti tinggal di mana,apartemen kah?"
"Kalo di bolehin sama papa,sayangnya papa tidak boleh. Jadi,Maureen tinggal di rumah papa sama Oma. Papa juga jarang pulang,dia lebih banyak tinggal di apartemen. Jadinya,kasihan Oma tinggal sendirian sama pembantu."
"Sekarang sudah masuk sekolah di sini?"
"Belum,mama sudah selesai urus surat ijin perpindahan sekolah. Dan sekarang papa lagi urus yang di sini. Mungkin Minggu depan baru masuk sekolah."
Stella mengangguk.
Sayang banget ini pertengahan "semester pindah. Seharusnya tunggu kenaikan kelas dulu baru pindah",nasehat Stella.
Iya,sudah terlanjur juga. Dulu waktu mau naik kelas satu SMP,Maureen mau pindah ke Jakarta mama nggak izinin. Sekarang baru boleh diizinin. Itupun Maureen mengancam mama,ucap Maureen sambil tertawa.
Ada-ada saja anak jaman sekarang. Lain kali nggak boleh begitu lagi ya. Kalo kamu masih melawan orang tuamu,Tante nggak mau ketemu kamu lagi,ancam Stella.
"Jangan begitu dong Tante. Iya,Maureen akan nurut",ucap Maureen sambil cemberut.
Akhirnya makanan mereka datang. Baik Stella maupun Maureen makan dengan tenang.