Lisa Anggraeni , seorang gadis yang tengah berjalan dengan sahabatnya setelah dari aktifitas kuliah mengalami kecelakaan saat dia tengah menunggu bus yang ada di sebrang jalan. Dia menoleh dan melihat ada motor melanu cepat membuatnya mendorong Hani. Dan membuatnya menjadi korban kecelakaan. Lisa yang mengalami luka luka sempat di bawa ke rumah sakit. Namun sayang, saat dirinya sedang di operasi, nyawanya tak bisa di selamatkan.
Lisa yang tahu dirinya mengalami kecelakaan sebelumnya mengira dia selamat, dan berada di salah satu rumah sakit.
Tapi saat dia sadar justru, dia sedang di salah satu ruangan kosong gelap dan pengap.
Namun saat dirinya berusaha mencari jalan keluar, dia justru melihat bayangan seseorang dari kaca hias kecil.
"Aaaaaa... Wajah siapa yang ada di mukaku ini!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira_Mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Mencekam
Rubby duduk terdiam di atas kasur, tangan kanannya memeluk erat lututnya, sementara matanya menatap kosong ke dinding yang penuh hiasan. Hatinya terasa hampa, seolah semua warna kehidupan lenyap tanpa jejak.
Meski pernah melewati masa-masa sulit di kehidupan pertama sebagai Lisa, perasaan kosong ini baru pertama kali menghantui dirinya. Angin malam menyelinap lewat celah jendela, membawa udara yang merayap ke dalam kamar.
Tiba-tiba, sebuah ingatan tajam menusuk pikirannya. Sosok Rubby yang dulu penuh keangkuhan, tanpa ragu membully seorang gadis bernama Jenia di depan seluruh siswa.
Suaranya yang sinis dan kata-kata kasar itu masih terngiang, seolah menorehkan luka di hati siapa pun yang mendengarnya. Namun, ingatan itu segera berubah. Ia melihat dirinya sendiri—Rubby yang sama—duduk terpisah di taman belakang sekolah, tubuhnya terkulai lemah duduk di kursi kayu, dan air mata mengalir deras di pipi.
Rubby yang dulu keras kepala dan sombong itu, kini terlihat rapuh, seolah seluruh dinding kebanggaannya runtuh. Dalam kesendirian itu, ia seakan diberi pelajaran oleh dirinya sendiri, bahwa kekerasan hati tak selalu membawa kemenangan, melainkan kehampaan yang menyiksa. Tubuhnya menggigil, bukan karena dingin, tapi oleh beratnya penyesalan yang merayap masuk tanpa ampun.
Rubby menatap kosong ke dinding kamar, jemarinya gugup mengusap air mata yang baru saja mengalir tanpa sadar dari sudut matanya. Ia tak mengerti mengapa kenangan masa lalu Rubby asli terus menghantuinya, membekas begitu dalam hingga membuat dadanya sesak.
Suaranya hampir berbisik, penuh tekad dan getir, "Kamu tenang aja... Aku di sini buat bikin hidup kamu berubah dan pastinya bahagia seperti yang kamu inginkan." Kata-kata itu seolah ditujukan untuk Rubby yang dulu, yang kini hanya tinggal bayang dalam pikirannya.
Sejak menempati tubuh ini, Rubby hanya dua kali bermimpi tentang Rubby asli. Dalam mimpinya, wajah gadis itu begitu cerah, bahagia, berdampingan dengan seorang wanita cantik yang senyumnya mampu meluruhkan segala kepedihan. Namun kebahagiaan itu terasa jauh, seperti kemewahan yang tak pernah bisa diraihnya.
Tekad Rubby mengeras saat ingat akan janji yang terucap dari bibir Rubby asli yang penuh luka, "Jenia bakalan rasain sakitnya jadi kamu. Aku janji bakal buat Jenia sengsara." Suara itu bergema dalam hatinya, membakar dendam yang selama ini terpendam.
Tatapannya berubah menjadi tajam, bibirnya mengepal, menyimpan amarah yang menunggu waktu untuk dilepaskan. Rubby tahu, balas dendam itu bukan sekadar kemarahan biasa, melainkan sebuah misi untuk menuntaskan rasa sakit yang sudah terlalu lama membelenggunya.
Rubby terdiam, matanya menatap kosong ke arah ponsel yang berada di meja dekat tempat tidurnya. Jantungnya berdetak lebih cepat, pikiran tentang kemungkinan meminta bantuan Rimba untuk menghancurkan Jenia terus mengusik.
“Bagaimana kalau aku minta dia membantu?” gumamnya dalam hati, berharap ada jalan keluar yang lebih mudah.
Namun seketika itu juga ia menggeleng pelan, menahan getar rasa bersalah yang menggerayangi dadanya. “Tidak bisa. Aldra juga butuh keadilan atas perbuatan Jenia,” pikir Rubby dengan tekad yang kembali menguat.
Meski dia dan Aldra masih remaja, keberaniannya dan koneksi yang dimiliki Aldra bisa jadi senjata ampuh. Tapi Rubby tahu, melibatkan Rimba membawa risiko semakin kecil.
Jika balas dendamnya terhadap Jenia sampai diketahui polisi, bukan hanya dia yang akan terjerat, tapi juga Aldra yang tak berdosa. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya, ketegangan merayap di setiap urat nadinya. Dalam bisu, Rubby berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari cara lain, cara yang tak akan melukai lebih banyak jiwa di sekitarnya.
*
*
Aldra berdiri di balik pohon rindang yang menghalangi pandangannya, matanya yang tajam mengawasi setiap langkah Jenia yang berjalan santai menuju asrama. Udara malam yang dingin seakan menambah dingin pula hati Aldra, meskipun sebenarnya di dalam dirinya berkecamuk perasaan yang rumit. Ia menarik napas panjang, mencoba menekan gelombang kenangan pahit yang terus menghantui pikirannya.
"Kau akan tahu bagaimana rasanya memiliki trauma berat," bisiknya lirih, suaranya nyaris tak terdengar kecuali oleh angin yang berhembus pelan.
Tatapannya berubah menjadi dingin dan penuh tekad, menandakan rencana kelam yang tengah ia susun dengan hati-hati. Aldra tahu, ini bukan sekadar balas dendam biasa—ini adalah pelajaran yang akan menghancurkan dunia Jenia, seperti yang dulu pernah ia rasakan.
Namun, di balik rencana itu, terselip kepedihan yang jarang terlihat oleh siapa pun. Aldra mengingat kembali betapa Jenia selalu menyulitkannya di depan orang tua mereka, membuatnya merasa kecil dan tersisih. Luka lama yang belum sembuh itu kini menjadi bahan bakar untuk tragedi yang akan datang. Dengan jari gemetar, ia meremas erat gulungan kertas yang berisi detail rencananya, memastikan semua berjalan sesuai kehendaknya.
Langkah Jenia semakin dekat, tanpa sadar membawa dirinya ke dalam pusaran gelap yang telah Aldra persiapkan. Dalam hati, Aldra berharap meskipun Jenia terluka, suatu saat akan mengerti betapa dalamnya rasa sakit yang selama ini ia pendam. Namun malam ini, hanya satu hal yang pasti—trauma akan segera menjadi bayang-bayang baru dalam hidup Jenia.
Aldra segera mengeluarkan ponselnya dari saku jaket, jari-jarinya menari cepat menekan nomor yang telah dia simpan sebelumnya. Senyum sinis tersungging di bibirnya saat suara di seberang sana menjawab, "Sudah siap, kan?"
"Bagus, buat dia trauma." Aldra mengangguk kecil meski tak ada yang melihat, lalu mengakhiri panggilan dengan suara pelan penuh kepuasan.
Di balik pohon besar yang rindang, Aldra mengintai dengan mata tajam, menatap Jenia yang tampak sedang berjalan santai. Tak jauh darinya, tiga pria berotot mulai mendekat, langkah mereka berat dan penuh maksud. Aldra menyeringai, menikmati pemandangan yang tak lama lagi akan menjadi pertunjukan kegelisahan.
Jenia tiba-tiba berhenti, raut wajahnya berubah waspada saat tiga pria itu merapat, tangan mereka mulai meraba dan menggoda dengan kasar. Tubuh Jenia menegang, matanya mencoba menepis tangan-tangan yang menggerombol, tapi jumlah mereka membuatnya kewalahan.
"Ini hanya pembalasan kecil, aku tak akan membuatmu dalam kesusahan," bisik Aldra dengan suara dingin dan penuh hinaan, seolah merendahkan perlawanan jenia.
Tawa Aldra pecah, bergema di antara ranting dan dedaunan. Dia terpaku melihat jenia yang mulai gemetar, matanya sembab menahan khawatir dan takut. Aldra tahu, trauma yang dia tanamkan malam ini akan terus menghantui jenia, dan itu memberinya kenikmatan yang tak tergantikan.
"Buat dia takut. Jangan lakukan apapun yang tidak ku perintahkan."
itulah perintah Aldra ke orang suruhan yang tengah membuat Jenia begitu ketakutan saat ini. dan nanti dia akan muncul sebagai penolong dan membuat drama yang nantikan akan membuat Jenia tunduk kepadanya.
Aldra segera mengikuti kemana ketiga orang itu menarik Jenia, dia begitu senang bagaimana Jenia memberontak saat kedua tangannya di cekal oleh dua orang.
"tolong.. tolong,,"
Itulah suara yang dia dengar dari sisi Jenia yang sudah di bawa ke sebuah gang yang gelap. Aldra berdiri tak jauh dari sana, dia melihat bagaimana Jenia sedang berusaha meloloskan dirinya.
pakaiannya ada beberapa yang sudah robek karena salah satu pria, dan itu membuat Aldra bersiap untuknya muncul sebagai penolong di waktu yang tepat.
"siapa disana"
Suara lantang Aldra membuat gerakan mereka berhenti, dan Jenia langsung berteriak minta tolong. Tapi pipinya justru di tampar hingga sudut bibirnya terluka.
"kalian. apa yang kalian,, astaga Jenia!" pekik Aldra yang seolah kaget melihat keadaan Jenia.
gadis itu menangis tersedu sedu melihat saudaranya ada di sana. dia berharap Aldra menolongnya dari ketiga pria yang sedang mabuk itu.
"mau apa mau? mau bergabung dengan kita?"
hahahahaha...
ketiganya tertawa, tapi salah satunya menatap Aldra dengan mengode. dan Aldra sedikit mengangguk kecil.
"enggak. kalian pergi baik baik apa,"
"enak aja. kau ingin menikmatinya sendiri, cih."
"udah bos, serang aja."
Salah satu di antara mereka maju dan hendak memukul Aldra. tapi sebelum pukulan mengenai wajahnya, Aldra mengeluarkan senjata. dan ketiganya langsung diam panik.
"pergi bos."
Ketiganga tahu akan itu, segera menetralkan wajahnya. lalu melewati Aldra dengan posisi menepi seolah takut.
"awas kalian, jika kita lagi ketemu. akan ku habisi nanti." ucap Aldra yang masih menodongkan senjata.
"Aldra, Aldra." pekik Jenia yang sudah lemas.
"kau baik baik? kenapa kamu bisa gini?"
Aldra menahan mulutnya supaya tidak muntah, dia benci bau menyengat dari parfum milik Jenia.
"aku- aku baru saja ke supermarket tapi mereka menghadangku"
"ayo ku antar ke asrama."
Jenia menggeleng, "jangan. tolong bujuk papa biar mau jemput aku, dan aku bisa kembali ke rumah."
Aldra terdiam, "tapi papa udah mutusin kamu tinggal di asrama. aku nggak bisa"
Jenia menggeleng cepat, "aku bakal lakuin apapun buat kamu. asal kami ngomong ke papa, kalo perlu aku bakalan ngomong papa kalo warisan yang aku minta biar buat kamu semua."
Inilah yang Aldra tunggu tunggu, ucapa Jenia yang membuatnya tenang. harta sebagian milik Aldra yang di kuasa nanti oleh Jenia.
"tapi aku- aku nggak bisa janji. papa terlalu keras"
"aku mohon, aku bakalan urus harta milik aku."
"bagus Jenia. itu memang milik Aldra bukan milikmu semua. tapi kini kau memberikan itu agar membuatmu bisa kembali ke rumah."