Arini dituduh melakukan penganiyaan terhadap atasannya. Dipecat secara tidak hormat hingga nyaris membuatnya dipenjara.
Seolah takdir buruk itu belum cukup untuknya. Ia harus menikahi lelaki yang terang-terangan mencintai wanita lain tapi mengambil keuntungan darinya.
Akankah takdir baik menghampiri kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laylatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJUTAN
Sejatinya, cinta itu memberimu kekuatan disaat engkau rapuh
Memberimu cahaya saat jalan hidup perlahan-lahan gelap
Dan membuat hatimu yakin bahwa setelah hujan dan badai reda, pelangi pasti akan menyapa
( Arini Valencia)
_________________
Lelaki itu mencoba menguasai diri. Sorot mata dengan iris kocoklatan tersebut tak lepas dari menatapku. Garis wajah tegas dengan rahang kuat itu semakin menegang.
Perlahan-lahan ia mulai melangkah. Memangkas jarak di antara kami. Aku menebaknya, ia marah lalu segera keluar dari kamar ini. Ternyata aku salah.
"Apa yang engkau lakukan?"
"Lep ... pas!!" Sekuat tenaga aku berusaha melawan.
Bukannya melepaskan, ia malah menjadi semakin liar dan panas. Tanpa meminta persetujuan, Riski menyerangku dengan sentuhan tangan dan bibirnya. Bertubi-tubi. Bahkan tanpa sepatah katapun. Sorot matanya masih mematikan namun ada sesuatu yang berbeda dari cara ia memandang.
Jika bukan sedang dipenuhi amarah, mungkin saat ini aku telah tersesat ke dalam manik mata yang memabukkan tersebut.
"Aku mencintaimu." ucap Riski tiba-tiba.
Aku terpaku. Kalimat terakhir itu seperti aliran listrik yang mulai menyengat seluruh tubuhku. Perlahan tapi pasti. Tak terfikir lagi untuk memberi perlawan. Aku seperti terhipnotis. Bahkan sampai tubuhku ia geser pelan-pelan menuju ranjang dengan seprei bermotih bunga tulip itu.
Aku tak lagi melawan.
Pertahananku benar-benar lemah.
"Arini!! I love you, Sayang!"
****
"Abi!! Tangkap aku, ayo cepat tangkap!"
Pandanganku menyapu hamparan padang ilalang yang terbentang luas. Suara anak kecil yang sedang bermain terasa menusuk gendang telinga. Namun anehnya, aku tidak menemukan siapapun di sini. Membuatku terus mencari.
"Abi payah! Masa nangkap aku aja enggak bisa. Ayo, Bi, tangkab, ayo!!
Aku semakin penasaran, dari mana sebenarnya asal suara keriyuhan itu dan siapa mereka. Kenapa aku begitu ingin melihatnya?
"Ummi!! Ayo kita main kejar-kejaran,"
Entah dari mana asalnya, seorang anak kecil yang sangat menggemaskan tiba-tiba saja menarik tanganku, ia menyeretku bersamanya untuk menemui seorang lelaki muda yang dipanggilnya, Abi. Aku menurut begitu saja.
Entah mengapa di dalam rasa penasaranku, terselib kebahagian yang sangat menggebu-gebu. Ya Allah! Apakah ini nyata??
Tiba-tiba saja sosok pria tampan yang sangat mirip dengan Riski muncul dari balik semak ilalang. Wajahnya bersinar dengan bibir yang terus saja memberiku senyuman.
"Riski!!" Aku terhenyak. "Sedang apa kau di sini?"
Lelaki itu hanya tersenyum, membuatku semakin penasaran.
"Ummi!! Abii!! Ayo, cepat kejar putri kesayanganmu ini." seru gadis kecil itu sambil berlari.
Ucapan gadis kecil tersebut membuat mulutku menganga, aku menatap Riski dengan penuh tanta tanya. Lelaki itu mengangguk, seolah ia paham dengan pertanyaanku.
"Ummi!!
Aku terkejut dari tidur lelap, suara teriakan itu masih tergiang di gendang telingaku. Ah! Ternyata semua itu hanya mimpi. Tapi kenapa terlihat begitu nyata. Aku bahkan masih bisa mengingat seperti apa wajah kecil tadi. Matanya bulat, hidung menjulang dan pipinya yang putih begitu cubby.
"Selamat pagi, Sayang!!"
Suara Riski bersamaan dengan pintu kamar terbuka mengagetkanku. Ah! Aku baru ingat jika semalam itu kami ... kami menghabiskan malam bersama, merengkuh kenikmatan surga dunia.
Riski melangkah pelan, di tangannya telah ada nampan berisi segelas susu dan beberapa potong sandwich. Pandangannya tertuju padaku sambil terus terseyum lalu meletakkan nampan tersebut di atas nakas. Aku hanya menatapnya dengan bingung. Apa sebenarnya yang telah terjadi. Kenapa pagi ini aku seperti terbangun di tengah-tengah taman syurga.
"Bersihkan diri sana, setelah itu makanlah sesuatu. Kasian isi nampan ini menganggur begitu saja." ucapnya sambil terkekeh.
Jujur saja, situasi seperti ini membuatku merasa canggung. Aku merasa seperti pengantin baru yang baru saja menghabiskan malam pertama. Perasaan yang bahkan tidak aku rasakan saat pertama kami melakukannya dulu.
"Kenapa diam aja? Apa perlu aku bantu? Atau ada sesuatu yang sakit?"
"Tidak, tidak perlu. A --aku akan segera ke kamar mandi." Pertanyaan Riski membuatku malu, aku tergagap dengan wajah bersemu merah yang tidak dapat ku sembunyikan.
Segera aku meringsut turun, sambil menyeret selimut bersamaku. Namun, lagi-lagi sebuah kejutan kembali menyapa pagiku, membuat jiwaku kembali melambung tinggi.
"Ap --apa yang terjadi di sini? Kenapa ada begitu banyak bunga di dalam kamar ku?"
"Ini kejutan spesial untuk istriku tersayang. Apakah kau menyukainya."
"Kejutan?? Untuk ku?!"
****
Sepanjang hari Riski terus saja memanjakanku. Pernah aku bertanya mengapa ia melakukan semua ini, tapi jawabannya malah membuat mulutku kembali bungkam lalu larut dalam kebahagiaan.
Saat ini tak ada lagi amarah untuknya. Apalagi saat ia meyakinkan hatiku, bahwa pertunanganya dengan Galuh hanyalah temeng dan murni masalah bisnis. Lengkap sudah alasanku untuk melambung tinggi.
"Sayang!"
"Hemmm!"
"Mama tadi nelpon, ia memintaku untuk segera pulang. Kamu mau ikut?"
Aku yang sedang sibuk mengambil potret pemandangan khas pantai, menyipit mata ke arahnya. Sebenarnya tak ada masalah dengan ucapannya tadi. Hanya saja mengingat sikap Mama yang tak pernah menyukaiku, tiba-tiba membuat aku merasa takut.
Hamparan jingga dari matahari terbenam tak lagi membuatku takjub. Saat ini kecemasan telah kembali mendominasi perasaanku. Mungkinkah semua ini akan segera berakhir? Dan kami akan kembali kepada titik awal, titik dimana aku membenci dirinya.
"Tak perlu khawatir, Mama hanya rindu untuk bertemu dengan pria tampannya ini."
Ucapan Riski ada benarnya. Ia seperti paham dengan apa yang sedang aku cemaskam. Lagi pula dari pada mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti, lebih baik mencari cara untuk meluluhkan hati Mama Arumi. Bagaimanapun dia adalah wanita yang telah melahirkan suami yang sangat aku cintai.
****
Kami baru saja sampai di rumah Mama Arumi. Sejak turun dari mobil, tangan kami saling bertautan. Bahkan, di depan mamanya, Riski tetap saja menggemgam tanganku membuat wajahku sedikit bersemu.
"Riski, Mama boleh minta waktu istrimu sebentar?"
"Tentu saja. Ibu mertua memang harus lebih sering mengahabiskan waktu bersama menantunya. Iya kan, sayang?" dengan berat hati aku mengiyakan ucapan Riski.
Aku manatap wajah Mama, mencoba membaca sesuatu yang sedang ia pikirkan. Namun, tak aku temukan apapun selain sebuah senyuman biasa.
Di taman belakang, di temani oleh dua cangkir teh hijau dan beberapa potong cemilan, kami membicarakan banyak hal. Meskipun awalnya sedikit canggung, namun caranya menyikapi setiap ucapanku akhirnya membuatku menjadi nyaman.
Aku baru tahu, jika Riski mempunyai saudara perempuan. Seorang adik yang sangat cantik. Namun, kebersamaan mereka tidak berlangsung lama, karena penyakit yang di deritanya membuat nyawa gadis cantik itu tidak bisa tertolong.
Aku menatap mata Mama Arumi yang mulai basah. Wajahnya sendu, terlihat sekali ia masih merasakan kehilangan. Aku berusaha memberinya semangat.
"Ma, Biar Rini ambil munuman dulu, ya?" ucapku pamit.
Aku berfikir, dengan ia meneguk sedikit air bisa menjadikan perasaan Mama lega. Sedangkan di depan kami, kedua cangkir teh tersebut telah kandas. Maklum, kami telah duduk di taman ini begitu lama.
Aku kembali dengan membawa dua gelas jus jeruk dalam kemasan. Sebenarnya aku ingin membuat jus secara alami, namun karena pembantu Mama sedang sangat sibuk di dapur. Jadi, aku putuskan untuk mengambil jus kemasan, agar tidak mengganggu dirinya.
"Minumlah, Ma! Agar perasaan Mama sedikit lebih tenang."
Wanita paruhbaya itu tersenyum. Ia meraih gelas di tanganku dan langsung menyesap. Aku baru saja ingin meminum jus yang sama, namun sesuatu yang menimpa Mama membuatku menjadi panik.
BRUUKK!!
"Ya Allah, MAMAA!!
Hai Reader!
Jika kamu ingin mendukung cerita CINTA ARINi (Love story is complicated), jangan lupa tinggalkan jejak ya! Berupa like, komen dan vote supaya Author makin semangat dalam menulis.
Semakin banyak dukungan, semakin cepat author up ke episode selanjutnya. hehe
gmn kbr keluargga galuh
Maaf ya author, aku jadi ikutan kesel sama Riski 🙏