"Bukankah poligami itu sunnah, kamu orang yang taat agama kan pasti juga tahu, apa kamu tidak ingin menjalankan sunnah yang satu ini?" ujar Ita pada sang suami
Ammar awalnya hanya ingin menolong seorang wanita namun sebuah kejadian yang tak terduga membuat orang lain salah paham dan bahkan istrinya sendiri tak mempercayainya
Bukan, bukan karena sepenuhnya kejadian itu yang membuat Ammar menikah lagi, tapi juga karena rumitnya rumah tangga yang saat ini ia jalankan bersama istri pertamanya karena sang istri masih terbelenggu oleh masa lalunya
"Kalian hanya ingin bermain rumah-rumahan kan, ok saya akan temani kalian bermain" ujar Zofa lantang
Namun ketika Zofa telah memasuki rumah tangga Ammar dan Ita maka saat itu pula hati Ita berubah, terombang-ambing mengikuti arus permainan. Dan kini Ita baru menyadari bahwa ia telah menaruh hati pada suaminya sendiri
____
Hay semua Jan lupa mampir ke novel saya ya, jika sudah mampir tolong tinggalkan jejak kalian baik berupa like, comment maupun vote, thanks a lot guys, ala kuli sukri askuruki
follow ig 👉 habr_zayf
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AFI_18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Cemburu Lebih Tepatnya Iri
Zofa berjalan-jalan di sebuah mall untuk menghilangkan penatnya, sebenarnya tak ada yang ingin ia beli namun ia hanya ingin berada pada sebuah keramaian, ia ingin melihat orang lain yang tengah berbahagia pada saat berbelanja, makan bareng keluarga serta pasangan yang saling bergandengan tangan, tanpa sadar seulas senyum tipis tercetak pada bibirnya kala melihat itu semua
"Katanya pingin yang ini"
"Ya pingin tapi gak sekarang tunggu sampai tabungan ku cukup"
"Aku yang nombokin yank"
"Jangan ih, tadi kan kamu dah neraktir aku"
"Gak pa pa kok"
Zofa tersenyum tipis kala tak sengaja mendengar perdebatan pasangan yang masih remaja, ah ingatannya kembali mengingat kala ia remaja
"Iki" gumam Zofa kala melihat sosok yang sangat ia kenal di salah satu restoran, Iki nampak menikmati makanannya dengan gelisah sedangkan di depannya ada seorang perempuan yang ntah itu siapa karena perempuan itu memunggungi tubuhnya
"Akhirnya kamu ada kemajuan" batin Zofa sumringah
Namun beberapa menit kemudian wanita yang duduk di depan Iki berdiri dan langsung meninggalkan restoran, Zofa dapat melihat wajah Iki yang nampak frustasi dari balik kaca
"Berantem kah?" batinnya
Bukkk
"Maaf mbak saya gak sengaja"
"Eh iya.... loh kak Fisa" ujar Zofa, jadi wanita yang bersama Iki adalah Fisa, kakak kelasnya dulu waktu SMA
"Zofa... kamu..." Fisa menoleh ke arah restoran tadi, ia melihat Iki dari balik kaca "Apa mereka sudah janjian" batin Fisa
"Kirain dia makan sama gebetannya ehhh tau taunya sama kak Fisa, tuh anak benar-benar gak ada kemajuan ya" Zofa terkekeh pelan
"Eh kak Fisa...." Zofa baru menyadari mata Fisa yang sudah memerah dan berkaca-kaca
"Aku duluan ya, bye" Fisa memotong ucapan Zofa dan bergegas pergi
"Tunggu kak"
"Ahhh ada masalah apa lagi tuh anak bikin nangis anak orang aja" gerutu Zofa, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran
"Hebat ya, bikin gadis perawan nangis" ujar Zofa yang telah berdiri di depan meja Iki
Iki terkejut ia mendongakkan kepalanya menatap ke arah Zofa "Lo kok bisa di sini?" tanya Iki
Zofa menarik kursi dan duduk di hadapan Iki "Bisalah punya kaki"
"Lo apain kak Fisa?" tanya Zofa sinis yang langsung masuk ke inti pembicaraan
"Gak aku apa apain"
"Benarkah? tapi kok kayaknya dia habis nangis"
"Salah liat kali, dia tadi kelilipan"
"Jangan bohong, aku tahu dia habis nangis"
"Udah lah biarin aja, udah gede juga dia"
"Ki.... lo suka kan sama kak Fisa?"
Deg
"Gak tuh, sok tau lu"
"Benarkah ak...... emmmppp" Iki menyumpal mulut Zofa dengan desert yang ada di atas meja
"Enak kan, itu rasa pandan favorit kamu" ujar Iki
***
"Aku tuh gak punya masalah apa apa fa, pikirin tuh diri kamu sendiri, gimana nasib rumah tangga kamu kedepannya, mau di bawa kemana"
Zofa hanya diam termenung menatap ke kesamping, memandang jalanan dengan tatapan kosong
"Menurutmu jodoh itu bener ada gak sih?" tanyanya
"Kenapa tiba-tiba nanya kayak gitu"
"Ahh gak pa pa, penasaran aja"
"Mungkin itu beneran, buktinya kamu nikah sama orang yang bukan pilihan kamu"
"Ohhhh"
"Cerai aja gih kasian juga aku lihat kamu kayak gini"
Zofa melirik ke arah Iki dengan tatapan aneh "Bantuin" ujarnya
"Hah bantuin gimana, tinggal minta cerai aja, masak kalian udah saling jatuh cinta sih?"
"Cinta?" Zofa kembali menoleh ke samping, ke luar jendela
"Fa, apa kamu udah jatuh cinta sama dia?" tanya Iki, tangannya tak berhenti menyetir mobil, namun sesekali ia melirik ke arah Zofa
"Menurutmu?" bukannya menjawab ia malah balik bertanya
"Belum" jawab Iki mantap
"Belum? itu artinya apa suatu saat aku akan akan jatuh cinta padanya?"
"Bisa jadi"
"Seyakin itu diri anda"
"Ayolah Zofa, pernikahan bukan seperti orang pacaran, pernikahan lebih baik di lakukan sekali seumur hidup, mmmm.... Zofa apa kamu pernah cemburu dengan suami kamu saat suami kamu sedang mesra mesraan dengan istri pertamanya?"
"Pernah"
"Berarti kamu sudah mulai ada rasa sama dia" ujar Iki kaget
"Bukan cemburu sih, lebih tepatnya iri, rasanya sama kayak dulu ketika aku dan kakakku melihat ayah dan bunda lebih sayang dan perhatian ke Incess"
"Bagaimana jika kamu ada di posisiku?" tanya Zofa
"Ntalah, aku hanya seorang pria yang terkadang tak memakai perasaan, bisa di bilang aku lebih sering menggunakan akal, jika aku membayangkan berada di posisimu sudah pasti aku minta pisah dari awal, namun aku tidak tahu jika seandainya diri ku benar-benar seorang perempuan mungkin aku seperti kamu yang mempertimbangkan itu semua kembali dengan perasaan"
"Halah bohong, kamu gunain dengkul kok untuk berfikir" timpal Zofa
"Zofa kita lagi membicarakan hal yang serius" tegur Iki
"Gak usah serius serius paling juga ujung-ujungnya aku yang bakal di tendang dari rumah ini" Zofa memandang sebuah rumah dari balik kaca mobil, mobil baru saja berhenti tepat di depan gerbang rumah Ammar
"Makasih ki udah nganterin aku, alangkah baiknya kamu memberikan aku sumbangan untuk memperbaiki motor buntutku" ujar Zofa ia membuka pintu turun dari mobil
"Zofa" panggil Iki, ia juga ikut turun dari mobil dan menghampiri Zofa
"Kenapa?" tanya Zofa bingung, tangannya berhenti membuka pagar
Grebbb
Iki memeluk Zofa dengan erat "Aku hanya ingin kamu bahagia" bisiknya lembut
Setelah membisikkan itu ia melepas pelukannya dan melambaikan tangan "Jaga diri baik-baik, jaga juga perasaannya jangan sampai terluka lebih dalam, kalau gak kuat mohon lambaikan tangan dan kaki ok"
Zofa mengangguk kemudian ia segera masuk ke dalam rumah
***
"Assalamualaikum"
Iki mendongak sembari mengucap salam "Waalaikumsalam" dahinya mengernyit kala melihat pria yang ada di hadapannya ini
"Iki kan?"
"Jangan panggil nama gue seperti itu membuat geli saja, panggil Rizki"
"Baik Rizki boleh saya duduk di sini?"
"Sepertinya tak ada sesuatu yang perlu kita diskusikan"
"Ada, saya ingin membahas sesuatu dengan kamu tentang.."
"Zofa" potong Iki, ia sudah menduga hal tersebut
Pria itu mengangguk
"Jadi bolehkan saya duduk di sini?" tanyanya lagi
"Heem"
Pria itu duduk dihadapan Iki, nampaknya ia menyimpan cukup banyak pertanyaan
***
🧟🧟🧟