sebagian dari kisah ini terinspirasi dari kejadian nyata..
Armala Anggun, ingin menguji takdir, sejauh mana takdir mempermainkan kehidupan cintanya.
Menikah dengan seseorang yang bahkan dia tidak tau namanya, apalagi rupanya. tapi dia berusaha menerima laki-laki asing itu sebagai suaminya.
Jemicko Putra Nawar, dan Gama Maziantara Gundala, sama-sama memendam perasaan
kepada Mala. keduanya terus berusaha mendekati Mala.
diantara mereka, siapakah suami Mala yang sebenarnya?
Follow
Ig ➡️ makee949
fb ➡️ Si (Mak Ee)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Ee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 32.
Dewi mengikuti Micko dengan perasaan yang was-was. pandangannya terus menatap punggung Micko, sementara kakinya mengikuti langkah Micko yang tergesa-gesa. dia juga jadi tergesa-gesa.
Mereka sampai di lantai bawah. Micko segera mengedarkan pandangan, menyapu keseluruh ruangan mencari sosok Mala. emosi Micko tak bisa dibendung lagi. ia melihat Gama yang sedang mencengkeram lengan Mala. dan membuat Mala nampak tidak nyaman. seketika otaknya mendidih.
"lepaskan tanganmu darinya.!!!!!" teriak Micko. membuat para pengunjung yang ada disana melihat kearahnya. begitu juga dengan Mala dan Gama.
dengan wajah yang memerah padam, Micko berjalan mendekati Mala dan Gama. kedua tangannya mengepal karna emosi. aura disekitar Micko nampak sangat panas. matanya memerah dan giginya bergemeretak.
bukkkk.!!!!
Micko meninju wajah Gama begitu ia sampai di depan pria itu. membuat pegangan tangannya di lengan Mala terlepas. Gama tersungkur menabrak tumpukan buku-buku yang ada disampingnya. buku-buku itu langsung berhamburan ke segala arah.
"mas.!!!" teriak Mala. ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Micko tidak mempedulikan teriakan Mala yang panik. dia menarik Mala untuk berlindung dibelakangnya. seperti ada orang yang akan menyakiti gadis itu.
"kubilang lepaskan tanganmu dari istriku." kata Micko tegas. dia menatap tajam kearah Gama yang sedang berusaha berdiri. tatapannya benar-benar menakutkan.
Gama merasakan sakit di tulang pipinya, dia menggerak-gerakkan pipinya dan membuka mulutnya berulang-ulang. menatap Micko dengan heran, juga marah.
Dewi yang menyaksikan itu hanya menganga dikejauhan. tidak tau harus membela siapa. sementara orang-orang sudah berkerumun disekitar mereka. beberapa bahkan sempat merekam kejadian itu.
"beraninya kau memukulku.?" Gama menatap Micko dengan tatapan tak kalah emosi. siapa yang tidak emosi jika dipukul secara tiba-tiba begitu? bahkan Gama tidak tau apa masalahnya.
"aku sudah pernah memperingatkanmu Gama. tapi kau masih bertingkah dan terus mendekati istriku."
jadi benar Mala sudah menikah? dan suaminya adalah Micko? batin Gama tidak percaya. bukti nyata dihadapannya tak bisa lagi dia bantah.
Mala hendak keluar dari punggung Micko, tapi Micko mencegahnya. tangannya menghalangi Mala agar tidak menjauh darinya.
"mas, kamu salah faham." ucap Mala yang mulai menangis.
"kamu membelanya?"
Mala tidak membela Gama, tapi juga tidak membenarkan tindakan Micko yang tiba-tiba datang dan langsung memukulnya. tanpa mengetahui permasalahannya lebih dulu.
"ada apa ini??" dua orang security datang menghampiri mereka. salah satu dari mereka nampak menanyai saksi yang ada disana.
"maaf mas, tapi kalian harus ikut ke kantor. kalian sudah menimbulkan kegaduhan ditempat umum."
Micko dan Gama digiring oleh kedua security itu. manajer toko yang juga ada disana segera meminta maaf kepada pengunjung dan menyuruh mereka melanjutkan aktifitas mereka. orang-orang yang tadi berkerumun mulai membubarkan diri sambil berbisik-bisik. Mala melihat Dewi dengan tatapan bersalah. baru saja ia hendak mendekati temannya itu, Dewi sudah berlari pergi sambil menangis. nampak raut kekecewaan diwajah gadis itu.
bingung, Mala memutuskan mengikuti petugas security itu ke kantornya. kenapa masalahnya malah jadi seperti ini? dimana letak kesalahannya?
beberapa saat kemudian datanglah dua orang berpakaian polisi. dan langsung membawa Micko dan Gama masuk kedalam mobil. Mala ingin ikut, tapi tidak diperbolehkan oleh mereka. polisi itu membawa Micko dan Gama menjauh dari pandangan Mala.
Mala segera memberhentikan taksi dan menyuruh supir taksi itu untuk pergi ke kantor polisi dimana Gama dan Micko dibawa. sesampainya disana, Mala segera masuk kedalam sebuah ruangan. ia melihat kedua pria itu sedang di tanyai oleh seorang polisi.
"biarkan aku menelfon pengacaraku." ujar Gama kemudian.
"mas.. kau baik-baik saja?" Mala menghambur kepada Micko. ia memperhatikan wajah suaminya itu barangkali ada yang terluka.
"aku baik-baik saja, maaf sudah membuatmu terkejut." ucap Micko. ia membelai lembut rambut Mala.
Gama hanya melihat kedua orang itu yang sedang berpelukan. hatinya terasa sangat sakit. kini kesempatannya untuk mendapatkan Mala hilang sudah. dia sama sekali tidak menyangka kalau mereka benar-benar sudah menikah. nyeri di ulu hatinya semakin terasa. dadanya sesak menyaksikan penolakan yang telak.
sakit di tulang pipi Gama tidak seberapa. padahal ada memar disana. hatinya terasa lebih sakit berkali-kali lipat. dia sangat terluka. penolakan pertama ini meninggalkan luka yang luar biasa. entah bagaimana dia akan sembuh nantinya.
dia sengaja mungkin ngawal kamu tuh makanya ngikutin trus balik lg 🤣