Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Lucy, kau selalu saja membelanya dan menganggap Eve berbohong. Kalau memang tidak benar, kenapa Eve bisa bicara seperti itu?" ujar Ronald.
Lucy menatapnya dingin.
"Kau yang tidak pernah percaya pada Evelyn. Mereka berdua sama-sama dibesarkan oleh tanganmu sendiri. Sejak kapan kau pernah benar-benar peduli padanya?"
"Lucy, kenapa selama ini kau selalu tidak percaya pada Eve?" Ronald membalas dengan kesal.
"Jangan hanya karena dia bukan anakmu, lalu kau mencoba menggunakan cara ini untuk membalasnya."
Lucy terdiam sejenak, lalu menatap Ronald dengan kecewa.
"Karena dia bukan anakku, aku masih menerimanya tinggal di rumah ini."
Suaranya terdengar semakin dingin.
"Tapi kau yang tidak pernah sadar diri. Apa selama ini yang aku lakukan masih belum cukup? Aku mengeluarkan biaya untuk pendidikan anakmu, bahkan mengirimnya sekolah hingga ke luar negeri."
Lucy menggenggam kotak makanan di tangannya.
"Tapi setelah dia kembali, dia selalu saja mencari masalah dengan Evelyn."
Ia menatap Ronald tajam.
"Sebagai ayah mereka, yang kau lakukan hanya membela Eve tanpa pernah melihat kesalahan yang dia lakukan."
Setelah mengatakan itu, Lucy berbalik dan melangkah pergi membawa bekal makanan untuk Evelyn.
Ronald hanya berdiri diam.
"Sama-sama tidak masuk akal," gumamnya kesal.
Eve menatap punggung Lucy yang menjauh.
"Pa, jangan salahkan Mama."
Ia tersenyum pahit.
"Tidak ada salahnya kalau Mama lebih menyayangi Kak Evelyn."
Eve menunduk. "Bagaimanapun juga... aku adalah anak dari hubungan Papa dan wanita lain."
"Eve, jangan sedih."
Ronald menatap putrinya.
"Bagaimanapun juga, kau adalah anak kandungku. Sedangkan Evelyn... dia bukan anak kandungku. Lucy bahkan tidak tahu siapa ayah kandung Evelyn sebenarnya. Kalau bukan karena keluarga dan hartanya, mana mungkin aku menikahinya."
Eve menunduk, lalu tersenyum tipis.
"Kalau begitu kita harus lebih bersabar, Pa."
Tatapannya berubah penuh perhitungan.
"Setelah semuanya jatuh ke tangan Papa, baru kita usir mereka dari rumah itu."
Ronald mengangguk, tetapi wajahnya terlihat khawatir.
"Tapi ada satu halangan. Damien Lu."
Ekspresi Ronald berubah serius.
"Dia sudah mengetahui sebagian perbuatanku. Kalau dia ikut campur lebih jauh, rencana kita bisa gagal."
Eve berpikir sejenak.
"Pa, bagaimana kalau kita langsung bertindak?"
Ronald menatapnya.
"Jual data perusahaan dan saham secara diam-diam. Setelah mendapatkan uangnya, kita bisa membawa Mama pergi ke luar negeri."
Eve tersenyum. "Saat mereka menyadari semuanya, sudah terlambat."
Ronald terdiam mempertimbangkan perkataan putrinya. "Tidak semudah itu."
Ia menarik napas.
"Kita harus mencari tahu dulu kondisi perusahaan. Kalau sampai ada kesalahan sedikit saja, mereka bisa mencurigai kita."
Ronald menatap Eve.
"Kita cari celah perusahaan dulu sebelum Evelyn kembali."
"Pa, setelah menjual data perusahaan, kita akan langsung menghilang. Pada saat itu, Lucy yang akan menjadi sasaran mereka. Dia akan dianggap tidak mampu lagi meneruskan bisnis keluarga."
Ronald mengangguk pelan.
"Kau benar. Kalau kita tidak bertindak sekarang, kesempatan kita akan semakin kecil. Jangan sampai Damien Lu bergerak lebih dulu."
Rumah sakit.
Lucy duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangan Evelyn.
"Evelyn... Mama hampir pingsan saat melihat berita itu." Mata Lucy mulai berkaca-kaca.
"Mama tidak tahu harus bagaimana kalau sampai sesuatu terjadi padamu."
Evelyn menatap ibunya dengan lembut.
"Ma, bukankah aku sudah sadar? Luka ini tidak akan membunuhku."
Lucy menggeleng pelan.
"Evelyn, Mama tidak bisa melarangmu berhenti dari pekerjaanmu. Mama tahu itu adalah pilihanmu."
Ia menggenggam tangan putrinya lebih erat.
"Tapi Mama hanya ingin meminta satu hal. Ke depannya, berhati-hatilah."
Evelyn terdiam sejenak.
"Ma, aku berjanji."
Ia menarik napas.
"Ada satu hal yang ingin aku katakan padamu. Tapi Mama harus siap mendengarnya."
Lucy menatapnya khawatir.
"Ada apa, Evelyn?"
"Mengenai Papa."
***
Mansion Keluarga Shen.
Di ruang kerja.
Ronald berdiri di depan brankas, mencoba memasukkan kode keamanan.
Beberapa kali ia mencoba, tetapi pintu brankas tetap tidak terbuka.
"Pa, sejak tadi Papa sudah mencoba lima kali. Kenapa masih tidak bisa terbuka?"
Eve menatap layar brankas dengan bingung.
"Bukankah Papa tahu kata sandinya?"
Ronald mengerutkan kening.
"Aku juga tidak tahu sejak kapan wanita itu mengganti kata sandinya."
"Apakah jangan-jangan dia sudah tidak percaya pada Papa? Karena itu dia mengganti kode brankas tanpa memberitahumu?" tanya Eve.
Ronald menggeleng dengan wajah tidak percaya.
"Tidak mungkin."
Ia menatap brankas itu dengan kesal.
"Kalau dia tidak percaya pada Papa, lalu siapa lagi yang harus dia percaya?"
Ronald tersenyum meremehkan.
"Pikirkan saja, perusahaan itu selama ini aku yang mengelolanya. Lucy hanya terlihat berpendidikan dari luar, tetapi sebenarnya dia wanita yang bodoh!"
Ia menyandarkan tubuhnya ke meja.
"Karena mencintaiku, dia selalu percaya sepenuhnya padaku. Dia tidak mungkin mencurigai Papa."
***
Beberapa jam kemudian.
Pintu kamar rawat terbuka.
Suster masuk membawa sebuah berkas di tangannya.
"Detektif Shen, hasil pemeriksaan cairan yang Anda minta sudah keluar," ujar suster sambil menyerahkan dokumen tersebut.
Evelyn menerima berkas itu.
"Terima kasih."
Setelah suster keluar, Evelyn membuka laporan pemeriksaan tersebut dan mulai membacanya dengan serius.
Semakin lama membaca, ekspresinya semakin dingin.
Evelyn menutup berkas itu perlahan.
"Jadi dugaanku benar... Eve memang datang bukan untuk menjengukku."
Evelyn mengambil ponselnya yang berada di meja samping ranjang.
Ia mencari kontak Kapten Wong, lalu segera menghubunginya.
Beberapa saat kemudian, panggilan tersambung.
"Evelyn? Bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Kapten Wong.
"Aku sudah lebih baik, Kapten."
Evelyn menatap laporan pemeriksaan di tangannya.
"Aku ingin melaporkan Eve Shen."
Kapten Wong langsung terdiam.
"Eve Shen?"
"Benar."
Suara Evelyn terdengar tegas.
"Dia datang ke ruang rawatku saat aku masih dalam kondisi lemah. Dia membawa sesuatu dan berniat menyuntikkannya ke infusku."
Kapten Wong mengernyit.
"Apakah kau memiliki bukti?"
"Aku sudah meminta suster memeriksa cairan tersebut. Hasil pemeriksaannya sudah keluar."
Evelyn menarik napas.
"Aku ingin menuntut Eve Shen atas tindakan percobaan pembunuhan terhadapku."
Kapten Wong terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
"Baik. Kirimkan laporan pemeriksaan itu kepadaku. Kami akan memprosesnya sesuai hukum."
"Terima kasih, Kapten. Dan satu lagi, aku ingin menangkapnya dengan tanganku sendiri!"