Bagaimana jika manusia diibaratkan seperti es krim? Es krim itu dingin dan manis. Akan tetapi, itu adalah es krim dan es krim jelas berbeda dengan manusia yang memiliki hati dan emosi.
Bagaimana jika dingin dan manis, hati dan emosi itu dilebur menjadi satu? Kemudian dibumbui sedikit rasa traumatis yang begitu membekas hingga membuat kisahnya menjadi dramatis.
Ini adalah Ambar dan itu adalah Damar. Ambar adalah penikmat es krim yang sangat menyukai perpaduan manis dan dingin. Sedangkan Damar yang dingin tapi diam-diam manis dan dipenuhi emosi yang dramatis.
Ketika salah satu dari mereka menyadari keberadaan yang lain, itu hanya pertemuan singkat yang melibatkan sebuah kecelakaan kecil. Iya, itu hanya kecelakaan kecil. Namun, bagaimana jika selanjutnya mereka terlibat dalam serangan panik hingga percobaan bunuh diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Istik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 4. P a n n i c A t t a c k
"Selamat pagi rakyat-rakyatku. Ratu datang! Beri hormat!" teriak Lala begitu mencapai ambang pintu kelas. Sedangkan Ambar berjalan di belakang gadis itu sembari menutup setengah wajahnya dengan tangan.
Namun, tidak seperti yang diharapkan. Anak-anak SAIPTA tidak peduli. Mereka sedang sibuk dengan morning routine, apalagi jika bukan mengerjakan tugas. Melihat hal itu, Lala menghampiri meja mereka satu persatu sembari berbisik pamer bahwa tugasnya sudah selesai. Padahal itu hasil menyuap Ambar dengan es krim. Memang kadang manusia yang satu itu tidak tau malunya mengalahkan Ambar.
Saat Lala masih sibuk dengan kegiatan tidak bermanfaatnya, Ambar menghampiri papan pengumuman kelas yang tampak ditempeli kertas baru karena sebelumnya bersih. Ambar membaca isi kertas itu dengan seksama. Isinya adalah jadwal mata pelajaran, tetapi sepertinya tidak ada yang berubah. Jadi Ambar kembali ke tempat duduknya.
Saat sudah sampai tempat duduknya, Lala juga sudah kembali ke tempatnya. Ambar langsung mengajukan pertanyaan pada Lala. "Itu jadwalnya baru gak ada yang berubah, kan?" tanya Ambar.
Lala menggelengkan kepala. "Itu yang barubah kayaknya kelas dua belas. Soalnya penyesuaian buat persiapan UN."
Kemudian tiga jam pelajaran berlalu. Begitu bel berbunyi dan guru pengajar keluar, Ambar segera meregangkan badannya. Dia juga menguap sembari menutupi mulutnya. Setelah itu, mengikuti teman-temannya yang lain, Ambar bergegas menuju kamar mandi untuk berganti pakaian olah raga. Sedangkan anak laki-laki memilih untuk mengganti pakaian di kelas.
Lima belas menit berlalu, bel kembali berbunyi yang menandakan berakhirnya jam istirahat. Tepat saat itu terjeadi, Ambar keluar dari kamar mandi dengan membawa seragam formal di tangan kanannya. Sebenarnya pelajaran olah raga sangat membuat Ambar malas. Namun, jika dia malas-malasan, maka Lala akan menarik-nariknya atau melakukan sesuatu yang membuat Ambar malu sendiri. Itu benar-benar ancamn untuk harga diri Ambar.
"Buruan lempar, Am!" teriak Lala. "Gak usah servis! Lempar aja kalau gak bisa servis!"
Seperti biasa, pelajaran olah raga lebih sering dibebaskan. Guru olahraga kelas sebelas--Pak Gik--yang terpenting baginya adalah selama murid-muridnya mau bergerak untuk berolahraga, apapun olaharaganya, maka akan diberi nilai yang baik. Guru olahraga kelas sebelas memang jauh lebih santai dari pada guru olaharaga kelas dua belas yang hampiri setiap hari selalu marah marah, seperti sekarang contohnya.
Ambar mendudukkan diri di pinggir lapangan karena pipi kanannya baru saja tertampar bola voli. Dari tempatnya, Ambar memperhatikan kelas dua belas yang olaharaganya terhenti karena sedang dimarahi. Tentu saja dari sekian banyak siswa siswi kelas dua belas, mata Ambar langsung tertuju pada Damar. Lelaki itu menundukkan kepala dengan dalam, sesekali dia memundurkan kakinya selangkah, dia juga terus memegangi celananya.
Beberapa saat kemudian kelas dua belas yang berolaharaga dibubarkan. Mereka berpencar dengan arah tujuan masing-masing. Kebanyakan berkelompok, tetapi Damar pergi sendirian. Ambar yang sejak tadi memperhatikan jelas tau ke mana tujuan perginya lelaki itu. Ambar segera berdiri, kemudian berjalan menghampiri Pak Gik.
"Pak, saya izin ke kamar mandi," ucap Ambar sesopan mungkin.
"Iya," jawab Pak Gik sambil menganggukkan kepala.
Namun, alih-alih pergi ke kamar mandi seperti izinnya, Ambar justru mengikuti Damar. Ambar masuk ke dalam UKS selang beberapa saat setelah Damar masuk. Namun, meski begitu, sepertinya Ambar sedikit terlambat. Begitu berada di dalam, Damar sudah memegang gunting dengan satu goresan di lengannya serta kotak p3k yang terbuka di depan lelaki itu.
Ambar secepat mungkin berusaha merebut gunting dari tangan Damar. Entah terpikir ide dari mana, Ambar mendorong Damar hingga menabrak tembok. Tentu saja itu sedikit memberikan rasa sakit pada Damar, tetapi itu setimpal dengan keberhasilan Ambar mengambil gunting dari tangan Damar. Kemudian tak ada lagi perlawanan darinya. "Jangan mati, aku mohon jangan mati."
"Aku bukan mau mati," jawab Damar. "Aku cuma mau nenangin diri."
Ambar bergerak memegangi kerah baju Damar dengan kedua lengannya. "Gak kayak gitu caranya!"
Perlahan, Ambar melepaskan cekalannya pada kerah baju Damar. Kemudian hening, hanya tersisa suara deru napas mereka berdua. Tidak berselang lama, Damar terduduk di lantai. Lelaki itu menelungkupkan kepala sembari memeluk kedua lututnya. Lalu Ambar berjongkok di depannya.
"Kak Damar, maaf ... aku agak kasar tadi," ucap Ambar merasa bersalah. Namun, tidak ada jawaban dari Damar.
Kemudian tangan Ambar bergerak menyentuh salah satu kaki Damar, berniat menenangkan. "Jangan! Jangan kaki!" teriak Damar tiba-tiba. Ambar yang terlonjak kaget spontan menjauhkan dirinya.
"Pergi! Pergi! Jangan sentuh kakiku! PERGI!" Teriak Damar nyaris tak terkendali. Ambar terbelak tidak percaya melihat kejadian di depannya. Sedangkan di pintu UKS mulai ramai orang-orang yang terpancing karena suara teriakan Damar.
"Ja ... ngan! Maaf, maaf! Kakiku."
bagus banget sumpah 😍😍
secara mereka LDR jd bisa buat pemanis cerita angga Nova n lala
Rate-5 ku juga sudah mendarat ya🛬
Jangan lupa feedback ke karyaku 🥰🥰
❤"Meisya & Randi "❤
Kisah sahabat kecil jadi cinta 💕
Terima kasih🙏🙏