NovelToon NovelToon
Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta

Status: tamat
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:905.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: CovieVy

Blurb:

Humaira ( Ala‐19 tahun) Gadis yang dijodohkan oleh sang ayah dengan putra sahabatnya.

Demi memenuhi permintaan terakhir sang ayah, akhirnya ia menerima perjodohan tersebut dengan ikhlas.

Ternyata, ketika dipertemukan dengan Ustadz Syauqi (Uqi—25 tahun) Ala langsung jatuh cinta dengan begitu saja.

Namun, berbeda dengan Uqi, ia telah memiliki pilihan lain. Namun, terpaksa menerima perjodohan, demi memenuhi permintaan terakhir sahabat ayahnya.

Saat telah resmi menjadi suami istri, jangankan mencintai Ala, memandang wajah Ala pun ia tak sudi.

Bagaimana kelanjutan rumah tangga paksa itu? Apakah Uqi akan mencintai Ala?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

*Jangan lupa bagi-bagi Vote, iklan, bunga, kopi ya kak ... Biar authornya semangat terus buat update*

Ibu-ibu yang bertanya kepada Ala tadi tertawa terpingkal-pingkal. "Sepertinya kita sama-sama salah menduga," ucapnya.

Rafatar menutup mulutnya menahan senyum. "Emangnya kalau iya kenapa, kalau tidak kenapa?" tanyanya.

"Sudah Fatar, jangan godain dulu. Bantu Ama untuk angkat-angkat semua seserahan ini!" ucap ibu yang tadi.

"Hmmm, sepertinya lebih enak menggoda dia dari pada bantu Ama," celetuk Rafatar terkekeh, menunjuk-nunjuk ke arah ibunya yang masuk ke dalam rumah kembali.

Ala tersenyum simpul menggelengkan kepala. Sentuhan Ummi membuat Ala sedikit terkejut. "Siapa laki-laki yang pakai batik barusan?"

"Itu senior Ala di kampus dulu. Ala kira dia yang jadi calon Alya. Soalnya Alya tidak pernah membawa orang yang dekat dengannya ke rumah kan?" ucap Ala.

"Iya, Ummi melarangnya membawa laki-laki ke runah karena di rumah kita tidak ada Abi lagi kan? Ummi takut ada fitn4h kalau membawa laki-laki bukan mahram ke rumah. Tapi, Alya udah perlihatkan fotonya kok, bukan orang itu," terang Ummi.

"Waah, kalau dia juga nggak apa sih, Mi. Soalnya dia itu baik banget seingat aku dulu," ucap Ala.

"Waah, dia udah menikah atau belum?" Ummi terdengar mulai tertarik.

"Kurang tahu juga, Mi. Bisa saja udah, sih. Soalnya udah mapan, tidak hanya itu, dia juga cukup tampan kan? Wanita mana yang tidak mau sama dia?" ucap Ala lagi.

"Waah, sayang juga ya? Ummi kira belum. Kalau belum, bisa buat kamu aja kan?" Ummi berlalu tanpa memikirkan reaksi jantung Ala saat sang ibu berkata demikian.

Ala terkejut dengan saran Ummi tentang pria yang mengenakan batik yang tak lain adalah Rafatar. Ia menggeleng pelan mengikuti sang ibu yang masuk ke dalam rumah.

"Ummi ... Ummi ... padahal sudah jelas kali ini kita ke sini buat penentuan tanggal pernikahan Alya, masih aja sempat memikirkan jodoh untuk Ala," gumam Ala menggelengkan kepala.

Ummi menarik tangan Ala dengan lembut. "Duduk di sini saja. Kita tunggu Om kamu untuk membuka acara," ucap Ummi disambut anggukan dan Ala duduk di samping sang Ibu..

Lalu acara penentuan tanggal pernikahan pun diselenggarakan. Di sini simbol pertunangan bukan dengan tukar cincin, tetapi dengan menyerahkan silamak dan opor ayam. Setelah kesepakatan, maka Alya dan Rizky, sang tunangan akan menikah tepat satu bulan kemudian.

"Nah, apakah masih memiliki anak gadis Ibu-Ibu? Kebetulan, kami memiliki anak yang masih bujang meskipun usianya jauh lebih tua dibanding Rizky," selorong perempuan yang salah duga terhadap Ala tadi sambil tertawa melirik pada orang yang dimaksud.

Seorang pria berbaju batik mencolek sang ibu mengerutkan kening dan menggelengkan kepalanya. Ia tampak tidak setuju kala sang ibu bagai melelangnya di acara pertunangan adik sepupunya tadi.

"Kenapa Fatar? Ama sudah pusing sama kamu yang terus menolak dikenalkan dengan anak-anak teman Ama. Nah, kali ini siapa tau ada yang bisa dikenalkan sama anak calon besan kita kan? Benar kan Ibu-Ibu?" tanya wanita itu terus menggoda sang anak.

"Nggak usah, Ma, nggak usah. Malu. Aku bisa mencari pasanganku sendiri kok." Ia menatap lurus pada Ala.

Ummi yang menyadarinya langsung mencolek sang putri. "Denger tu? Dia belum menikah," bisik Ummi.

Sedangkan Ala yang tadinya memperhatikan obrolan ibu dan anak tersebut, langsung menundukan pandangannya kala Rafatar menatapnya.

Saat acara usai, Rafatar berjalan mendekati Ala. "Apa kita bisa bicara sejenak?"

Ala melirik ke kanan dan kiri karena sedikit risih berbicara dengannya. "Apa boleh ditemani oleh Ummi?" pintanya.

"Jangan! Cukup kita berdua saja, karena aku ingin berbicara masalah kita," ucap Rafatar.

Ala melirik kiri dan kanan menundukan wajahnya. "Kira-kira tentang kita yang bagaimana?"

"Coba buka ponselmu, kamu tahu, sudah mengabaikan ratusan panggilan dan pesan dariku?"

Ala mengangguk membuka tas dan memeriksa ponselnya. Ia baru menyadari satu hal. "Maaf, Uda. Aku belum menyimpan nomor ponsel Uda," ucapnya.

"Makanya, kamu cek dulu panggilan yang kamu abaikan itu, aku sudah putus asa mencoba menghubungi orang yang tak kunjung menjawab panggilanku. Namun, ternyata malah bertemu di sini. Apakah ini takdir?" ucap Rafatar dengan spontan.

Ala tidak menanggapi candaan itu. Ia memeriksa kembali pesan yang memang udah ratusan, tetapi tak dibaca sama sekali. Ia memiliki watak yang seperti itu, bilan tidak dikenal dan tidak penting, dia memilih untuk mengabaikan pesan dan panggilan.

"Apa kamu sudah menyimpan namaku pada nomor yang sudah kamu abaikan itu?"

"Udah, maaf ya Uda? Soalnya Uda pakai tebak-tebakan segala waktu itu. Makanya, aku pikir itu adalah nomor pe3n1pu yang suka melancarkan lewat h1pnotis dari ponsel. Dari pada kenapa-napa, ya lebih baik tidak dijawab kan?"

"Astaghfirullah ... Ternyata itu alasanmu mengabaikanku hingga semua pesan yang mengatakan ini adalah aku pun tidak kamu baca sama sekali. Bahkan, aku sudah mengirim fotoku agar kamu percaya. Nyatanya, hmmm ...."

Ala menutup mulutnya menahan tawa. "Uda masih lucu seperti dulu ya?"

Rafatar menahan senyum di bibirnya. "Apa kamu bersedia meluangkan sedikit waktu agar kita bicara pada tempat yang lebih nyaman?"

"Maksudnya?"

"Kalau kamu mau meluangkan waktu sejenak, apa kamu bersedia jalan keluar denganku?" tanya Rafatar.

"Hmm, maaf ... Kalau hanya berdua saja, kayaknya aku agak ... hmmmm ...."

"Oh, kamu tidak bersedia ya? Baik lah. Kalau begitu aku tidak akan menunda-nundanya lagi. Apa boleh aku meminta langsung kepadamu?" tanya Rafatar.

"Uda mau meminta apa?"

"Izin kan aku untuk lebih dekat lagi denganmu. Aku meminta agar kamu mau mengenalku lebih dekat lagi, karena aku sudah sangat mengenalmu. Apakah kamu bersedia, ta'arufan denganku?"

Degh

"U-Uda mau ta'aruf denganku? Kenapa?" tanya Ala dengan gugup.

"Aku tahu, kamu sudah sendiri kan? Jika kamu bersedia, kita akan lewati prosedur saling mengenal secara syariah."

Ala memutar tubuhnya bergerak sedikit menjauh dari Rafatar. "Maaf, Uda. Aku bingung, aku belum bisa memberikan jawabannya sekarang."

"Tidak apa, kirim lah pesan saat kamu sudah membuka hatimu. Aku akan menunggumu. Seperti aku yang masih menunggumu hingga hari ini. Sekedar menunggu pesan, sepertinya hanya hal yang mudah."

Ala menekan dadanya yang berdenyut semakin cepat. "Baik lah, aku pergi dulu."

"Iya, hati-hati." Rafatar menatap langkah yang terus semakin menjauh memasuki kendaraan itu.

"Ala, apakah ini arti jawaban dari doaku yang sulit berpaling dan melupakanmu?"

"Jadi itu?" Seorang wanita paruh baya yang masih berparas cantik muncul dari persembunyiannya.

"Ama? Aduh, jangan-jangan Ama menguping pembicaraan kami?" Kening Rafatar tampak berkerut menghadapi perangai sang ibu.

"Kenapa ta'arufan segala sih? Kan bisa langsung lamar? Kalau kamu beneran suka sama dia, Ama akan keluar dari tata budaya kita, biar Ama yang melamarnya."

Rafatar menundukan kepalanya. "Itu tak mudah Ama. Sepertinya dia trauma dengan masa lalunya."

"Gimana tu masa lalu sampai trauma segala? Paling putus nyambung doang kayak anak-anak zaman sekarang?"

Rafatar menggelengkan kepala. Lalu ia teringat sesuatu yang belum diketahui sang ibu. "Ma, maunya istri buat aku itu yang kayak apa?"

"Kayaknya yang tadi kakak si calon anak daro-nya cocok tu," ucap sang ibu blak-blakan.

"Jadi, kalau aku suka, Ama langsung setuju?"

"Hmmm, nggak juga sih ... Ama rasa kamu udah dewasa dan bisa memilih kriteria pasangan yang baik itu seperti apa. Yang penting jangan istri orang aja. Tapi yang tadi itu cocok banget lho sama kamu? Kenapa tidak kamu kenalkan dari dulu sama Ama? Kalau kamu kenalkan, sekarang mungkin Ama sudah gendong-gendong cucu."

"Ma ... ada satu hal yang Ama belum tahu tentang dia. Alasan kenapa tidak dari dulu. Itu dikarenakan, dulunya dia menikah dengan orang lain."

Raut wajah ibunya yang tadi penuh semangat dan ceria, seketika berubah. "Apa maksudnya dengan itu? Ini dia pernah menikah? Lalu saat ini tidak lagi alias janda?" Nada suara sang ibu semakin lama semakin ditekan.

Rafatar jelas sekali melihat perubahan dari sang ibu. "Kenapa, Ma? Sekarang dia bukan istri orang kok."

Sang ibu tidak memberikan jawaban lagi. Ia pergi dan Rafatar mengikuti di belakang.

"Kenapa diam, Ma? Bukannya tadi Ama bilang aku sangat cocok dengannya?"

"Haaah ..." Sang ibu mengibaskan kedua tangannya dengan terlihat masam.

"Ma? Jawab lah Ma? Biar aku tahu harus bagaimana setelah ini?"

"Cari wanita lain yang bukan istri orang lain, dan belum pernah menjadi istri orang lain!"

1
Nini Tuti
katanya anak ustadz, tp koq berbakti kepada orang tua....
marta💎
ini beneran tamat y?
beneran gk ad kelanjutannya?
gantung bgt thor... ayo dong up lg.
Cici Syafikin
sukurinnnnn...
Cici Syafikin
aku benci sama uqi yang sudah melakukan malam pertama benci benci benci
Merlinda Ani Inda
baguslah kalau Ama sudah sadar
Sri Tati
Luar biasa
Putri Chaniago
Aulia apa Alya istrinya Rizky sepupu Rafatar adiknya Ala sih?
kalo y jgn deh satukan dg Syauqi
SicantikKinyisKinyis
Semangat Kak, jangan lupa mampir juga di karya aku yang berjudul Takdir Cinta Twins D
Susi Yanti
hanya sebagian daerah kecil Minang kabau yg perempuan melamar...sebagian besarnya sama laki2lah yg melamar perempuan..maaf ya saya orang Padang
ummu rekyhan
👍
ummu rekyhan
yaah begitulah...
ummu rekyhan
laah, yang bingung yang baca...
gimana itu...????
ummu rekyhan
gimana ini hukumnya, kok ....????
paham agama kan????
susi lawati
mulai nyesel nihhh pak ustadz
susi lawati
seru...
susi lawati
mampir Thor..
Anha Ruheni
jgn sampai Syifa meninggal yah otor
Erni Kusumawati
Thor please jg siksa Syifa dg penderitaan seperti ini.. saya sbg seorang ibu tdk tahan melihatnya kak.. biarkan karma itu hanya berjalan utk ibunya tp tdk utk anaknya...
Anaknya Syifa tdk tahu apa2 kak😭😭😭 kalo pun boleh memilih tentu Syifa tdk akan memelih utk dilahirkan dr rahim wanita itu😭😭😭
Kasih Bonda
next Thor semangat.
Kasih Bonda
next Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!