Gwiyomi Allura, wanita yang kesuciannya harus terenggut oleh pria yang tidak dikenal dan meninggalkannya begitu saja. Ia hancur dan kehilangan seluruh masa depannya saat dirinya dinyatakan positif hamil sebelum menikah.
Hingga uluran tangan Hazel datang dengan sukarela mau menikahinya meski tahu dirinya sudah ternoda.
Lantas, siapakah yang sebenarnya telah menghamili Gwiyomi?
******
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN SUBSCRIBE YA KAK UNTUK MENDUKUNG KARYA AUTHOR!
Follow Ig : putriaayu_98
FB : Putria R.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur.
Suara itu bukan berasal dari Axel, namun dari Eril yang pagi itu sengaja datang karena ingin mengantarkan pesanan Adiknya. Wajahnya memerah penuh amarah saat melihat Hazel berani menginjakan kaki dirumahnya. Tanpa basa-basi, ia langsung menarik baju Hazel lalu menghajarnya di depan rumah.
Gwiyomi memeluk dirinya sendiri ketakutan, ia terus teringat akan malam menyakitkan itu hingga ia seperti kesusahan bernafas.
"Archie, aku harus membawa Archie pergi. Aku tidak boleh membiarkan Hazel membawanya." Dengan tenaga yang masih tersisa, Gwiyomi segera berlari kearah kamar untuk mengambil Anaknya.
"Kak Eril, aku hanya ingin meminta maaf pada Gwiyomi. Tolong biarkan aku menemuinya Kak," ucap Hazel memohon pada Eril.
"Maaf kau bilang? Dimana otakmu saat dengan tega merusak adikku dan menjadikannya bahan taruhan? Ha!" Hardik Eril dengan suara kerasnya yang menggelegar.
"Kak, aku menyesal. Kak Eril tolong mengertilah, Kakak juga seorang Ayah. Apa Kakak tega membiarkan Gwiyomi membesarkan anak itu tanpa Ayahnya?" Kata Hazel mencoba mengetuk sisi kebapakan Eril, sekeras-kerasnya seorang pria, pasti akan luluh jika menyangkut anak mereka.
"Cih, jangan bertingkah seolah-olah kita yang salah dalam hal ini. Semua kekacauan ini kau yang buat, jangan membuat kita menyesal karena tidak membunuhmu saat itu. Sekarang pergi darisini, jangan pernah menemui adikku lagi," kata Eril bergeming sama sekali, ia masih sangat geram ketika tahu alasan pria ini menikahi Adiknya.
Secara tidak langsung, Hazel bukan hanya merusak masa depan adiknya, tapi juga berniat lari dari tanggung jawab karena telah menodainya. Pria seperti itu sama sekali tidak pantas dimaafkan.
"Nggak bisa, ini masalahku dengan Gwiyomi. Aku harus menyelesaikan ini berdua, Kakak tidak perlu ikut campur." Hazel mulai habis kesabaran, ia langsung merangsek masuk kembali kedalam rumah untuk menemui Gwiyomi.
Eril tentu sangat kesal, ia kembali menarik tangan Hazel. Tapi kali ini Hazel melawan dengan memukul Eril dengan keras.
"Bang sat! Kau memang tidak tahu diri!" Eril yang sudah emosi semakin emosi dengan sikap Hazel ini.
Akhirnya terjadilah adu kekuatan diantara keduanya. Mereka saling menyerang satu sama lain seolah menunjukkan skill mereka masing-masing. Mereka baru berhenti setelah Axel dan Bella datang kerumah. Mereka berdua baru saja pergi untuk membeli barang, tapi saat kembali justru dikagetkan melihat kedua orang itu asyik beradu pukul.
"Hentikan! Apa-apaan kalian ini!" Axel membentak dengan suara keras.
"Ba ji ngan ini datang hanya ingin menganggu Gwi," kata Eril dengan nafas yang tersengal-sengal, pelipis dan pipinya terlihat terluka karena adu jotos barusan.
"Aku hanya ingin menemui anak dan istriku," sahut Hazel tak kalah babak belurnya, justru pria itu lebih parah.
"Anak dan istri? Apa kau lupa dengan apa yang aku katakan? Aku sudah mencabut hakmu untuk menjadi suami putriku." Axel menyahut dengan sinis.
"Pa, aku tidak ingin menggurui atau bersikap kurang ajar. Tapi Papa juga pasti pernah membuat kesalahan, apa aku tidak bisa mendapatkan kesempatan kedua? Aku benar-benar menyesal, Pa." Hazel langsung membela dirinya, ia memang salah, tapi haruskah jika selalu mendapatkan penghakiman tanpa pembelaan?
"Sudah, jangan ribut lagi. Mama capek mendengarnya, sekarang lebih baik kita bertanya kepada Gwiyomi. Dia yang lebih berhak memutuskan masalah ini." Bella segera mengambil alih sebelum situasi kembali memanas. Tidak seharusnya masalah ini terus diperpanjang tanpa ada titik terang, bagaimanapun juga, Hazel dan Gwiyomi berhak menentukan pilihan mereka masing-masing.
Semuanya langsung bungkam setelah Bella mengatakan hal itu. Akhirnya mereka semua masuk kedalam rumah termasuk Hazel agar bisa membicarakan masalah ini dengan kepala dingin. Meskipun saat ini Hazel berada dibawah tatapan dua pria yang menatapnya dengan tatapan membunuh. Tapi, Hazel berusaha keras untuk tetap menegakan kepalanya.
"Hazel, sebelum aku memanggil putriku kemari. Bolehkan aku bertanya satu hal padamu?" Bella berbicara seraya menatap lurus mata Hazel.
"Ya, katakan saja, Ma." Hazel mengangguk pelan.
"Apa sekarang kau benar-benar yakin mencintai putriku?" Tanya Bella dengan suara lembut, namun suaranya terdengar tegas.
Hazel terdiam sesaat, bola matanya tampak bergerak-gerak menatap Bella.
"Aku yakin, Ma." Setelah cukup lama Hazel baru menyahut dengan serius.
"Dan apa kau bisa berjanji kalau kau tidak akan menyakitinya lagi?" Sekali lagi Bella bertanya.
"Aku janji," sahut Hazel mantap dan tegas.
"Baiklah, aku memegang janjimu itu. Setelah ini biarkan Gwiyomi yang memutuskan, jika dia memang tidak mau, aku tidak bisa berbuat apapun," kata Bella melirik suaminya yang hanya bisa terdiam dengan wajah kesalnya.
"Biarkan aku yang memanggil Gwiyomi," kata Eril saat melihat Mamanya ingin bangkit.
"Baiklah." Bella mengangguk pelan.
Eril segera beranjak, ia sempat melihat Hazel dengan sorot mata penuh kebencian. Namun ia tidak mengatakan apapun, ia fokus ingin memanggil Adiknya. Ia harus memastikan jika Gwiyomi tidak akan mengambil keputusan yang salah nantinya.
Sesampainya di kamar Gwiyomi, Eril langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Tapi ia heran melihat kondisi kamar yang sangat sepi dan tidak ada siapapun.
"Gwi?" Panggil Eril berjalan masuk lebih dalam, ia melihat beberapa alat-alat bayi yang kini sudah memenuhi kamar adiknya.
"Gwi? Ini Kakak." Eril kembali memanggil Adiknya.
"Gwi?" Panggilan ketiga tidak ada sahutan apapun hingga membuat Eril khawatir. Ia bergegas untuk melihat kamar mandi, ternyata kosong.
"Kemana Gwi?" Eril semakin khawatir, ia melihat balkon, tapi juga tidak menemukan Gwiyomi ada disana.
"Apa jangan-jangan Gwi ..." Mata Eril membulat sempurna demi memikirkan kemungkinan yang terjadi. Ia segera berlari kebawah untuk menemui keluarganya kembali.
"Mama! Papa! Gwiyomi tidak ada dikamarnya!" Saat masih di tangga, Eril sudah berteriak begitu panik.
Semua orang tentu terkejut mendengar hal itu, mereka langsung bangkit dari duduknya seraya menatap Eril dengan penuh tanya.
"Maksud kamu apa Eril? Bukannya Gwi ada dikamarnya?" Tanya Bella dengan wajah paniknya.
"Aku sudah mencarinya dikamar, tapi dia tidak ada Ma," jelas Eril.
"Bagaimana bisa? Kakak jangan berpura-pura Kak, tadi Gwiyomi ada dirumah, Kakak ingin menyembunyikannya?" Sergah Hazel malah tidak percaya jika Gwiyomi tiba-tiba hilang.
"Kau pikir aku bodoh? Dan asal kau tahu, aku tidak sepicik itu sampai menyembunyikan adikku!" Bentak Eril marah.
"Lalu dimana dia sekarang? Dia pergi membawa Archie?" Tanya Bella lagi.
"Ya, Archie juga tidak ada, Ma. Gwiyomi membawanya," jelas Eril.
"Ini tidak mungkin, bagaimana Gwiyomi bisa pergi membawa anakku. Aku harus mencarinya," ucap Hazel kesal bercampur panik.
"Hei, jangan coba-coba menakuti Adikku lagi. Kau tahu dia seperti ini gara-gara siapa? Gara-gara kau!" Bentak Eril menunjuk batang hidung Hazel dengan kesal.
Hazel tidak menggubrisnya, ia hanya menepis tangan Eril dengan kasar lalu buru-buru pergi meninggalkan rumah itu untuk mencari Gwiyomi.
"Semoga anak itu tidak membuat kekacauan, kita harus menemukan Gwiyomi terlebih dulu sebelum dia, Pa." Eril melihat kepergian Hazel dengan senyuman sinisnya.
"Eril, kau tidak boleh begitu. Hazel juga berhak atas Archie," kata Bella menasehati putranya.
"Dia memang berhak atas anaknya, tapi dia tidak berhak untuk terus membuat Adikku menderita. Mama tahu Gwiyomi kenapa bisa kabur? Dia pasti masih sangat trauma dengan Hazel, aku yakin hal itu. Sekarang lebih baik kita harus mengamankan Gwiyomi agar Hazel tidak bisa menemuinya."
Happy Reading.
TBC.
eyank kasih mawar cantik buat Gwi yaa