Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Sementara itu, Bram yang
acara meetingnya jam 2 batal karena ditunda minggu depan, sudah melajukan
mobilnya menuju bandara menjemput Renata tanpa memberitahukan dulu untuk
kejutan. Bram langsung mengarahkan mobilnya menuju gedung parkir. Saat Bram
melintas di dalam gedung parkir, dari jauh sudut matanya melihat sosok Renata
yang berjalan beriringan dengan Erwin akan masuk mobil yang diikuti dengan
sopirnya, dan kemudian mobil berjalan ke arah luar gedung parkir. Hati Bram
benar-benar bergejolak. Marah, sedih, kecewa, menyesal bercampur aduk jadi
satu. Dia menyesal kenapa tidak memberi tahukan lebih dulu pada Renata kalau
dia sudah berada di sekitar bandara. Dia kecewa kenapa Renata yang semula
bilang akan naik taksi ternyata ikut dengan Erwin. Dia sedih dan takut
kehilangan Renata. Tanpa sadar Bram meremas-remas rambutnya ketika mobil yang
ditumpangi Renata dan Erwin sudah tidak kelihatan lagi.
Di dalam mobil, Renata
dan Erwin yang duduk di jok belakang sama-sama diam. Tidak ada yang memulai pembicaraan.
Renata memalingkan wajahnya ke luar jendela, sementara Erwin asyik dengan
ponselnya
Bram dengan segala perasaannya,
akhirnya keluar dari gedung parkir bandara dan melajukan mobilnya ke kantor
papinya. Dia tidak mau balik ke kantornya. Dia butuh orang untuk diajak bicara,
untuk menumpahkan kekesalan dan kekecewaannya, dan orang itu adalah Arya,
sahabatnya.
Setelah menempuh
perjalanan hampir 1 jam, mobilpun sudah sampai di depan rumah Renata. Sopir
turun untuk mengeluarkan koper Renata dari bagasi, sementara Renata turun
diikuti oleh Erwin.
“Makasih pak sudah
mengantar sampai rumah.” Kata Renata
“Oke... sama-sama. Besok
kamu ngantor kan..?”
“Iya pak....”
“Yuuukkk... aku pamit
dulu...” Kata Erwin sambil masuk kedalam mobilnya. Renata mengangguk.
“Pak makasih ya ...” Kata
Renata pada sopir Erwin.
“Iya bu... sama-sama... mari....”
Mobilpun melaju
meninggalkan rumah Renata, yang kemudian masuk ke dalam rumah setelah mbok Jum
membuka pintu. Mbok Jum terlihat senang Renata sudah kembali ke rumah.
“Lhooo... jeng katanya
sampai Jumat.”
“Kerjaan sudah selesai
mbok. Itu oleh-oleh yang sebagian buat di rumah ya mbok, lainnya besok buat
temen kantor, Rena mandi dulu terus mau tidur.” Kata Renata sambil melangkah
menuju kamarnya.
Mbok Jum kemudian
mengeluarkan baju-baju kotor dari dalam koper dan menaruh ke dalam keranjang
cucian.
Sementara itu Bram yang
sudah sampai di kantor papinya, langsung menuju lift untuk ke ruangan Arya
dengan wajah kusut. Para karyawan yang berpapasan dengan Bram heran dan
berbisik-bisik, karena biasanya anak bos yang tinggi gagah dan terkenal ganteng
itu ramah, tapi kali ini wajahnya kusut dan sangat cuek.
“Nita.. Arya ada..??” Tanya
Bram pada sekretaris papinya. Nita terkejut karena tiba-tiba Bram sudah berdiri
di depannya dengan wajah kusut.
“Eeeeehhh.... pak Bram bikin
kaget aja. Pak Arya masih meeting. Mungkin sebentar lagi selesai..”
“Sama papi juga...?”
“Iya pak, sama tamu dari
Singapore..”
Bram langsung menjatuhkan
tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu. Nita makin heran melihat Bram
selonjoran di sofa sambil memejamkan matanya.
“Mau saya buatkan kopi
pak..?”
“Boleh dech. Makasih ya..”
Jawab Bram masih dengan mata terpejam. Nita berjalan menuju pantry untuk
membuat kopi. Setelah selesai ditaruh di meja depan sofa. Bram masih tetap diam.
Sekitar 15 menit kemudian, papinya masuk ke ruangan diikuti Arya di
belakangnya.
“Lho Bram... ngapain kamu
di sini...?” Tanya papinya heran.
“Eh... papi... udah
selesai meeting pi...?’ Bram malah balik tanya.
“Sudah. Bram masuk ke
ruangan papi..!!!” Perintah papinya.
“Entar aja pi, mau
ngobrol sama Arya dulu...”
“Ya sudah...” Papinya
melangkah masuk ke ruangan,diikuti Nita yang membawa dokumen-dokumen untuk
ditandatangani.
“Ngapain muka loe kusut
begitu...?” Tanya Arya setelah mereka masuk ke ruangan Arya. Bram langsung
selonjoran di sofa panjang. Bram diam, belum menjawab pertanyaan Arya, tapi
Arya sudah menduga pasti ada masalah yang berhubungan dengan Renata. Arya tahu
persis, kalau soal pekerjaan tidak akan pernah membuat Bram sekacau ini,
sesulit apapun pekerjaan itu. Arya kemudian berjalan keluar, minta tolong Nita
untuk menyuruh OB membuatkan kopi.
“Bram... loe ngapain
kesini kalau cuman mau bengong doank..???” Tanya Arya karena melihat Bram diam
saja, dengan wajah yang masih kusut.
Bram menghela nafas
panjang, kemudian garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
“Gua barusan dari bandara
mau jemput Renata......” Bram diam, kembali menghela nafas panjang
Tak lama seorang OB
datang membawa nampan berisi dua cangkir kopi.
“Makasih...”
“Ya pak.... sama-sama....
permisi...” OB pun keluar.
“Minum dulu kopinya, biar
seger.... baru cerita...” Kata Arya lagi sambil menyeruput kopinya. Bram pun
ikut-ikutan.
“Terus kenapa dengan
Renata..?” Tanya Arya. Kemudian Bram menceritakan semuanya pada Arya. Setelah
cerita, Bram kembali meneguk kopinya. Arya tertawa mendengar cerita Bram
“Kenapa loe malah
ketawa..???” Tanya Bram kesal sambil melotot ke arah temannya.
“Gimana gua gak ketawa....
lha loe kayak anak AGB begitu. Cemburu gak jelas sampai muka loe kusut kayak kucing
kesiram air begitu”
“Terus gue mesti
gimana...???”
“Sekarang gue tanya...,
apa Renata udah resmi jadi pacar loe....??”
Bram menghela nafas lagi
mendengar pertanyaan Arya. Yaaa memang Renata belum resmi menjadi pacar Bram.
Bahkan ungkapan cinta dari Bram pun belum mendapat jawaban sampai sekarang.
Kenapa dirinya jadi se posesif dan sekacau begini?
“Bram coba deh loe pikir
dengan kepala dingin. Loe ngomong nggak kalau mau jemput Renata? Kan loe dah
bilang kalau loe ada meeting terus nggak bisa jemput. Nah... sekarang giliran
Renata bareng ma cowok, kenapa loe yang sewot? Jangan nyalahin Renata donk.
Kali aja rumah mereka searah. Terus Erwin merasa sebagai laki-laki dan bos yang
bertanggungjawab nganterin Renata. Why not???”
“Tapi kenapa mesti Erwin?
Kok loe jadi belain mereka sih...!” kata Bram dengan muka kesal mendengar
pejelasan Arya panjang lebar yang tidak mengenakkan hatinya.
“Gue bukan belain mereka.
Tapi kan benar Renata gak tahu kalau loe mau jemput. Loe nya aja yang ke PD an
mau bikin surprise... ehhh..... malah terkejut sendiri..”
“Terus gue mesti
gimana....???”
“Yaaa.... anggab aja sekarang
lagi ada ajang kompetisi, tinggal lihat siapa yang jadi pemenang... haa.....”
Arya tertawa melihat wajah Bram makin mengkerut
******
Tims kalau masih setia.... ayo mampir terus, beri semangat like komen vote, biar terus rajin up..😍😍😍
next