Sebuah kasus mengerikan menyerang seorang teman Gevio di sekolah. Demi menyelamatkan teman sang anak, Elden, Erie dan seluruh anggota organisasi harus menghadapi pertarungan penuh intrik dengan para pemimpin negara guna menangkap pelaku sebenarnya. Bisakah mereka melawan para penguasa dan menyelamatkan korban?
Novel ini merupakan kelanjutan dari novel ‘Danke, Häschen !!!’. Dengan mengangkat genre action romance, novel ini ingin menantangmu untuk berpikir, bersimpati dan tentu saja berimajinasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strange (part 2)
Pada hari berikutnya, Erie kembali bertugas menjemput Gevio. Untuk kesekian kalinya Elden tidak bisa menjemput anak mereka. “Ada rapat mendadak, sayang,” katanya ketika Erie menanyakan alasan pria itu. Kata-kata yang sering keluar belakangan ini dari bibir sang suami.
Saat ini, negara mereka sedang dilanda krisis finansial (keuangan). Penyebabnya hanya satu, yakni korupsi. Kementerian keuangan yang baru saja dipilih oleh presiden melakukan penggelapan anggaran negara. Disinyalir, sang menteri bekerja sama dengan berbagai macam perusahaan.
Dan sialnya, Alvaro Group juga menjadi salah satu perusahaan yang disangkakan oleh badan pemeriksa keuangan negara, terlibat dalam tindakan kriminal itu. Entah bagaimana caranya hingga nama perusahaan yang dipimpin Elden itu bisa masuk ke dalam daftar, namun oleh karena itulah, Elden dan Mario sekarang sedang sangat sibuk mengirimkan laporan keuangan perusahaan ke pihak kejaksaan.
Menjelang jam 12 siang, Erie berangkat dari butik untuk menjemput Gevio. Erie berangkat setengah jam lebih cepat dari biasanya. Ia ingin melihat secara langsung bagaimana interaksi antara Gevio dan Rebecca. Lagi pula, Erie ingin memastikan apakah Rebecca benar-benar tipe gadis yang pendiam seperti yang ditunjukkan di video tadi malam, atau gadis itu hanya tidak suka dengan teman-temannya yang merundungnya.
Setibanya di pekarangan sekolah, Erie tidak langsung turun dari mobil. Ia cukup memantau dari dalam mobil sambil meminum segelas cokelat panas yang tadi sempat ia bawa dari butik. Erie memandang ke arah luar jendela. Matanya menangkap beberapa anggota organisasi yang tengah menjaga Gevio. Satu berada di area parkir, dua di taman dekat gerbang, dan dua lagi —termasuk A8— berada di dekat kelas Gevio.
Dengan penjagaan yang seperti itu sudah jelas keamanan Gevio akan terjamin. Dan, bila pun terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan (tapi semoga tidak akan pernah terjadi), mereka bisa langsung mengirimkan sinyal tanda bahaya ke markas besar organisaasi karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari sekolah itu.
Satu hal yang Erie akui dari sekolah itu selain fasilitasnya adalah tingkat kenyamanannya. Yah, maklum saja, meskipun hanya sekolah Taman Kanak-kanak, tetapi biayanya hampir sama dengan biaya mahasiswa yang masuk ke universitas swasta persemester di negeri itu. Sekitar 600 USD perbulan. Biaya yang terbilang fantastis dibandingkan dengan Taman Kanak-kanak lainnya.
Saat tengah melihat-lihat, sebuah suara bell terdengar nyaring dari dalam gedung. Tak lama kemudian, anak-anak mulai keluar dari kelas mereka masing-masing. Berhamburan ke arah gerbang untuk segera menghampiri orang-orang yang menjemput mereka. Tampaknya, di manapun sekolahnya, sifat dasar seorang murid tetaplah sama, sama-sama tidak suka dengan sekolah. Hanya beberapa orang murid saja yang merasa bersuka cita jika tinggal lama di dalam sekolah.
Sekarang Erie melihat sosok yang paling ia kenali. Gevio. Anak itu keluar dari kelasnya dibarisan hampir terakhir. Ia berjalan dengan lesu. Di tangannya terdapat sebuah kotak berhias yang tadi malam ia siapkan sebagai kado untuk Rebecca. Sepertinya hari ini tidak berjalan baik bagi anak itu.
Erie keluar dari mobil Infiniti G Coupe miliknya yang dibelikan oleh Elden empat tahun lalu. Sebenarnya pasca kejadian penculikan Erie yang menyebabnya mobil meledaknya mobil pertamanya, Elden merasa trauma. Ia ingin membelikan istrinya mobil dengan jenis yang berbeda agar bayang-bayang buruk itu tidak muncul kembali. Akan tetapi Erie menolak. Ia hanya ingin dibelikan tipe mobil yang sama karena merasa sudah nyaman dengan interiornya.
Langkah kaki Erie semakin cepat saat melihat Gevio yang duduk di kursi ayunan dengan memasang wajah kusut. Hingga sampai di depan Gevio, Erie berseru, “My Prince!”
Gevio menengadah. Mendapati bahwa sang ibulah yang menjemputnya, Gevio memaksakan dirinya untuk tersenyum. “Mommy!” sahut anak laki-laki itu sembari berdiri dari ayunan dan memeluk ibunya.
Erie menunduk dan mengelus kepala putranya. “Ada apa?” tanya Erie secara lugas. Ia tahu ada yang tidak beres pada anaknya itu.
“Rebecca tidak masuk sekolah lagi, Mommy,” gumam Gevio. Raut wajah anak itu menampilkan rasa kecewa yang teramat sangat. Padahal tadi malam ia sudah bekerja cukup keras untuk membungkus kadonya. Ia bahkan sudah menyelipkan sepucuk surat di dalam kotak tersebut. Mengetahui gadis itu kembali tidak masuk sekolah, hati Gevio benar-benar kacau.
Sudah Erie duga pasti ini ada kaitannya dengan anak perempuan bernama Rebecca itu. Melihat raut wajah masam dari Gevio sungguh membuat Erie bersedih. Ia tahu betapa semangatnya Gevio tadi malam. Dan sekarang, semua semangat itu seketika luntur begitu saja dari diri anaknya.
Erie bersuara, “Bagaimana kalau kita mengunjungi Rebecca?”
Perkataan Erie itu membuat Gevio tersentak. Anak itu melapaskan pelukannya agar dapat melihat wajah ibunya. “Benarkah? Apakah kita bisa ke sana?” tanyanya antusias.
Erie mengangguk. “Tentu saja bisa. Tapi Mommy harus tanya alamat Rebecca dulu dari wali kelasmu.”
“Baiklah, Mommy! Ayo kita ke kantor. Aku yakin bu guru masih ada di sana,” ujar anak itu bersemangat.
Erie tersenyum. Ia senang melihat wajah Gevio yang kembali ceria. Inilah wajah Gevio yang Erie kenal. Tampan dan penuh semangat.
XXXXX
Lima belas menit kemudian, Erie berhasil mendapatkan alamat tempat tinggal Rebecca. Sebelum pergi ke sana, Erie mengajak Gevio untuk makan siang terlebih dahulu. Gevio menjadi begitu penurut sekarang. Entah apa alasannya. Mungkin karena ia berpikir akan bertemu dengan Rebecca.
Tanpa diminta oleh Erie, anak itu menghabiskan makan siangnya tanpa tersisa. Hal tersebut tidak terlalu buruk menurut Erie. Jika dipantau secara seksama, pertemanan Gevio dengan Rebecca ternyata bisa membawa dampak baik pada putranya.
Usai makan siang, Erie membawa Gevio ke alamat yang ia dapatkan. Ternyata Rebecca dan Nona Jasmine —ibu anak itu— tinggal di kawasan Politelia yang berjarak 40 menit dari pusat kota. Kawasan itu terbilang elit. Hanya beberapa orang berlimpahkan materi saja bisa mempunyai hunian di sana, di tempat yang terkesan ekslusif dan sangat berkelas.
Erie pernah ke sana, beberapa kali malah karena dulu ada kliennya yang mempunyai rumah di kawasan tersebut. Tetapi Erie tidak terlalu suka berlama-lama di sana. Perempuan itu merasa sangat risih dengan orang-orang kaya, terutama terhadap para istru pejabat yang suka memamerkan harta yang bahkan bukan milik mereka sendiri.
Blok B Nomor 11. Erie menoleh keluar jendela untuk mencari tempat itu. Agar lebih menyingkat waktu, A7 memutuskan turun dari mobil untuk bertanya pada satpam kompleks. Setelah mendapatkan arahan dari satpam itu, mereka melanjutkan perjalanan.
Menurut penuturan satpam tadi, mobil mereka harus berjalan dua blok dari pos satpam. Lalu mereka harus belok ke kiri dan tiga rumah dari sana adalah rumah dengan nomor 11. Dengan mengikuti arahan tersebut, akhirnya Erie tiba di alamat yang mereka tuju.
Erie keluar dari mobil bersama dengan Gevio. Anehnya, rumah dengan dua lantai itu terlihat sepi. Dari tumpukan debu yang menghiasi gerbang depan, Erie memperkirakan bahwa tidak ada satu pun orang yang tinggal di sana baru-baru ini. Mungkinkah Rebecca dan ibunya berada di rumah sakit sekarang? Karena menurut perkataan Nona Jasmine, Rebecca sedang sakit hingga membuat gadis itu sering tidak masuk sekolah. Jadi sangat masuk akal jika kini mereka berada di rumah sakit.
Erie berjongkok di depan putranya. Ia menyentuh wajah anaknya yang terlihat kembali murung itu. “My Prince, sepertinya Rebecca sedang tidak ada di rumah,” ucap Erie mencoba mengungkapkan hal yang sebenarnya kepada Gevio.
“Kenapa?” tanya Gevio sedih. Sejak tadi, ia tidak melepaskan kotak hadiah dari pelukkannya. Anak itu benar-benar tulus ingin memberikan kado kepada Rebecca. Akan tetapi, lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan.
“Mungkin Rebecca sedang berada di rumah sakit, My Prince,” kata Erie lagi.
“Ke rumah sakit lagi? Apa Rebecca sakit lagi?”
“Mungkin saja.”
“Tapi, sebenarnya Rebecca sakit apa Mommy?”
Erie terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang disuguhkan oleh anaknya. Apa yang harus ia jawab di saat ia saja tidak tahu tentang penyakit gadis itu? Erie memandang mata hazel Gevio yang menatapnya penuh tanya. Anak itu berharap bahwa ibunya memiliki jawaban atas pertanyaannya. Ia terlalu polos karena berpikir jika semua pertanyaan yang dilontarkan harus ada jawabannya. Dan lebih polosnya, anak itu menganggap ibu dan ayahnya adalah orang-orang yang akan bisa memberikannya semua jawaban.
Erie mendesah. Ia menggelengkan kepalanya lemah. “Mommy tidak tahu, My Prince.”
.
“Tapi, waktu itu Mommy pernah mengobrol dengan ibunya Rebecca,” timpal Gevio masih tidak mau menyerah untuk mencari tahu.
“Iya, waktu itu Mommy memang sempat berbicara dengan ibunya Rebecca di telepon. Tapi sayang, aunty itu tidak memberi tahu Mommy masalah penyakit Rebecca. Aunty hanya bilang kalau Rebecca sakit,” jelas Erie.
“Yah,” desah Gevio. “Rebecca sakit apa ya?” katanya sambil berpikir. Tak lama kemudian ia berseru dengan nyaring. “Ah! Jangan-jangan karena gatal-gatal!”
Erie mengernyit. “Gatal-gatal?”
Gevio membalas dengan mengangguk. “Iya Mommy. Kemarin Gevio sempat melihat ada merah-merah di leher Rebecca. Dulu kata Daddy, waktu Gevio masih bayi, leher Gevio juga pernah merah-merah karena gatal-gatal.
Erie mengerti sekarang. Yang dimaksud oleh Gevio adalah kejadian di mana anak itu alergi terhadap susu formula hingga menyebabkan ruam di sekitar lehernya. Kata Elden, ruam itu menimbulkan rasa gatal yang membuat Gevio selalu menangis.
"Ya, mungkin saja Rebecca juga punya alergi sama sepertimu dulu, My Prince,” kata Erie menanggapi walau ia sendiri tidak yakin apakah benar Rebecca terkena alergi? Kira-kira alergi apa yang membuat anak itu terlalu sering tidak masuk sekolah?
XXXXX
Nah, nah alergi apa tuh? Kalau aku, alergi yang buat suka bolos sekolah adalah alergi terhadap pelajaran dan tugas dari guru… Wkwkwk… Harap jangan dicontoh ya…
Kalau ninggalin jejak teman-teman gak alergi kan? Karena aku juga gak alergi untuk menunggu lho… Danke ^^
By: Mei Shin Manalu (Instagram: meishinmanalu)
namun mnrtku. cerita terlalu panjang.
lbh baik berseri, sehingga mdh dibuat film bersepisode. dan mdh dipelajar pr anggota parlemen unt buat atau merevisi sebh uu.
di nkri, dg anggota parlemen yg terlalu banyak dg kw (kualitias) spt sekarang kok sbh mimpi bisa membuat uu apapun yg bagus dan berkualitas. kt gus dus, angg parlemen kita kan spt "taman kawak kawak😜maaaaaf
Udah lama aku gak baca novel, terus keinget Ceritanya Erie eh udah ada anaknya aja🦋🌼