Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 Cara yang Benar untuk Minta Maaf
Selasa pukul enam pagi, Dimas menyeret papan tulis lipat ke dalam suite hotel Navin dan menuliskan tiga baris dengan spidol merah.
1. Sebutkan kesalahannya dengan jelas. 2. Jangan pakai kata "tapi". 3. Jangan meminta apa pun sebagai imbalan.
Navin duduk di tepi sofa dengan secangkir kopi hitam dan menatap papan itu seperti murid menatap soal ujian yang tidak ia pelajari.
"Ini terlalu sederhana," katanya.
"Kalau sederhana, Bapak sudah bisa melakukannya."
"Aku bisa melakukannya."
"Kalau begitu, silakan mulai." Dimas duduk di seberangnya dan melipat tangan. "Saya Sinta. Saya duduk di meja resepsionis. Bapak baru saja tiba."
Navin menatapnya. "Kamu serius?"
"Sangat serius, Pak."
Ia menarik napas, mengatur wajah, dan berbicara dengan nada seorang pria membacakan putusan pengadilan. "Sinta. Saya menegur kamu soal daun dan label harga di depan seluruh staf. Itu keliru. Kamu tidak pantas dipermalukan. Saya... minta maaf."
Dimas mengangkat alis. "Terdengar seperti pembacaan dakwaan."
"Bagaimana seharusnya?"
"Coba lagi. Kali ini seperti Bapak sedang bicara pada manusia."
"Aku memang bicara pada manusia."
"Bapak berbicara pada sebuah berkas."
Dimas kemudian berperan sebagai Rangga, lalu Pak Harto, lalu Bu Retno dengan suara falsetto yang membuat Navin hampir tertawa. "Pak, saya belum sarapan," ujar Dimas dengan nada Rangga, dan Navin harus mengulang dari awal karena menatap jam tangannya sepanjang kalimat.
Mereka mengulang lima belas kali. Pada percobaan ketiga, Navin menambahkan kata "tapi" dan Dimas menghentikannya dengan tangan terangkat. Pada percobaan ketujuh, suara Navin terlalu lembut hingga terdengar seperti menawarkan asuransi. Pada percobaan kesebelas, ia berhenti di tengah kalimat dan menatap langit-langit dengan tatapan orang yang menyesali seluruh hidup.
"Saya bisa mengerti kalau ini sulit," ujar Dimas.
"Bukan sulit." Navin mengusap wajahnya. "Rasanya seperti... membuka pintu yang sudah lama dikunci dan tidak tahu apa yang ada di baliknya."
"Isinya hanya kalimat sederhana, Pak. Dan orang yang mendengarnya. Kadang orang itu menangis. Itu bukan tanda Bapak gagal."
"Bagaimana kalau mereka tidak memaafkan?"
"Bapak tidak meminta maaf supaya dimaafkan." Dimas menunjuk baris ketiga di papan. "Bapak meminta maaf karena itu benar."
Navin menatap kalimat itu lama, lalu mengangguk perlahan.
Pukul 07.40, ia tiba di kantor cabang. Sinta sedang membuka laci resepsionis ketika bayangan tinggi jatuh di atas mejanya. Ia mengangkat kepala, dan wajahnya langsung pucat.
"Se... selamat pagi, Pak."
"Pagi, Sinta." Suara Navin datar, tapi tangannya, yang ia sembunyikan di belakang punggung, gemetar. "Bisa saya bicara sebentar?"
Sinta membeku. Kepalanya bekerja cepat: aku dipecat. Karena label harga. Hari ini. Sekarang. "Ya, Pak."
"Kamu tidak perlu berdiri."
"Ba... baik, Pak."
Navin menarik napas. "Sekitar tiga minggu lalu, di lobi ini, saya menegur kamu di depan seluruh staf karena label harga di daun tanaman. Kalimat saya kejam. Kamu tidak pantas mendengarnya, apalagi di depan orang banyak." Ia berhenti, matanya bergerak ke kiri, ke kanan, lalu kembali ke wajah Sinta. "Itu salah saya. Saya minta maaf."
Sinta tidak bergerak. Ia mengerjap sekali, dua kali, dan mulutnya terbuka sedikit.
"Pak..."
"Tidak perlu dijawab."
"Tapi Pak..."
"Tidak perlu dijawab, Sinta." Ia mengangguk. "Itu saja."
Ia berbalik dan berjalan menuju lift dengan langkah yang terlalu kaku. Di belakangnya, Sinta masih duduk seperti patung, lalu perlahan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, dan air matanya jatuh tanpa bisa dicegah.
Di dalam lift, Navin bersandar ke dinding dan memejamkan mata. Jantungnya berdegup seperti habis berlari sepuluh kilometer.
Satu.
Rangga ia jumpai di pantry pukul delapan lewat sepuluh, sedang menyeduh teh, dan tangannya langsung gemetar begitu melihat CEO-nya masuk. "Pak Rangga."
"Y-ya, Pak?"
"Grafik Anda dua minggu lalu. Saya menuduh Anda menipu. Padahal saya tidak tahu niat Anda. Saya salah menuduh."
Rangga menjatuhkan sendok. Bunyinya berdenting keras di lantai keramik.
"Saya minta maaf."
"Pak, saya... maksud saya..."
"Dan hari Rabu lalu di rapat, saya membentak Anda. Angka Anda tidak seburuk yang saya katakan. Itu bukan salah Anda. Itu saya."
Rangga menatapnya dengan wajah seseorang yang sedang mempertimbangkan apakah ia sedang bermimpi. "Bapak... sakit?"
"Tidak."
"Bapak akan memecat saya?"
"Tidak."
"Bapak yakin?"
"Rangga." Navin menahan sesuatu yang mungkin tawa. "Saya hanya minta maaf."
"Oh," ujar Rangga, sangat pelan. Lalu, "Terima kasih, Pak."
Dua.
Pak Harto ia temui di lorong menuju ruang rapat. Bu Retno ia temui di tangga, dan perempuan itu hanya berkata pelan, "Terima kasih sudah mengatakannya, Pak," sambil menyembunyikan mata basahnya di balik map. Masing-masing berlangsung kurang dari satu menit, dan masing-masing meninggalkan wajah yang sama: bingung, waspada, dan di bawahnya, samar-samar, sesuatu yang mirip kelegaan.
Ketika semuanya selesai, Navin berdiri di depan jendela lantai tiga, memandang jalanan yang mulai ramai, dan merasakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Bukan kemenangan. Bukan kepuasan. Lebih seperti... ringan. Seperti seseorang yang baru saja mengangkat beban yang tidak tahu ia bawa.
Tapi masih ada satu nama yang belum ia datangi.
Dimas berdiri di sisinya. "Ibu Ophelia, Pak?"
"Dia bilang tidak mau menerima permintaan maaf saya di atap," ujar Navin pelan. "Dan dia benar. Karena waktu itu saya tidak meminta maaf karena menyesal. Saya meminta maaf karena saya menginginkan sesuatu."
"Jadi?"
"Jadi sekarang saya harus melakukannya tanpa menginginkan apa pun."
Ia berjalan ke ruangannya, membuka laci, dan mengambil selembar kertas bersih. Di tempat sampah, dua puluh empat draf sebelumnya masih berserakan. Ia tidak menyentuhnya. Ia hanya mengambil pena, dan untuk pertama kalinya, menulis tanpa berhenti.
Ophelia,
Pada hari Kamis, tiga minggu lalu, saya mengatakan sesuatu tentang statusmu yang tidak pantas, tidak benar, dan sangat kejam. Saya tidak punya pembelaan. Tidak ada alasan yang membuat kalimat itu boleh diucapkan.
Saya minta maaf.
Surat ini tidak meminta apa pun. Bukan jawaban, bukan kesempatan, bukan pengampunan. Ini hanya sesuatu yang seharusnya sudah saya katakan sejak hari itu.
Navin
Ia membacanya sekali, lalu melipatnya tanpa membaca ulang.
Pukul 08.50, sebelum Ophelia datang untuk laporan pagi, ia berjalan ke meja kelima dari kiri. Meja itu kosong. Ia meletakkan surat itu di bawah stapler, di tempat yang pasti akan ia temukan, lalu berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh.
Di dalam ruangan kacanya, ia duduk dan membuka berkas pertama, tetapi tangannya belum berhenti gemetar.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia menyerahkan sesuatu kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan. Dan ia baru mengerti, dengan rasa takut yang jernih, bahwa itu adalah bentuk keberanian yang jauh lebih sulit daripada apa pun yang pernah ia lakukan.