Novel ini sudah mengalami revisi ulang ya. Judul dan nama tokohnya masih tetap sama, hanya ada beberapa tokoh yang author hilangkan.
Sakila gadis sederhana yang pernah terluka karena kehilangan seseorang Ibu, harus di hadapkan dengan kenyataan pahit, bahwa dia harus menerima pinangan pria yang jauh lebih tua darinya, yakni 23 tahun. Sakila berusia 21 tahun, sementara pria itu 44 tahun. Sakila hidup dengan Ayah dan Ibu tirinya, serta adik lelakinya yang berusia 18 tahun.
Alka Prayoga, duda kaya beranak dua dan telah menikah. Alka di hadapkan dengan peristiwa menyakitkan, yaitu dia harus kehilangan istri tercintanya dalam kecelakaan tragis.
Alka yang menutup hatinya selama bertahun-tahun, di paksa menikah lagi demi anak dan menantunya yang menginginkan seorang mertua. Lalu apa jadinya bila wanita yang di nikahinya hampir seumuran dengan anak dan menantunya? sanggupkah sakila meluluhkan hati Alka yang beku? dan bagaimana cara sakila memenangkan hati para menantunya yang tak pernah menerimanya?
Saksikan kisahnya berikut ini ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suharni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 33. Mimpi Buruk.
Tengah malam menjelang, Alka tertidur sambil menyebut nama Indah Permatasari mendiang istrinya. Pria itu berteriak dan meminta agar jangan meninggalkan dirinya sendirian di dalam rumah itu. Dia tak mau merawat putra mereka seorang diri.
Sembari menangis tersedu-sedu, Alka memohon, meraung, dan mengiba agar mendiang istri tercintanya itu tak meninggalkan dirinya yang kesepian. Namun, dalam mimpi itu Indah tetap pergi dan tak kembali lagi.
Mendengar teriakkan histeris, Sakila pun bangun dan melihat Alka tengah menangis pilu sembari memanggil-manggil nama Indah. Keringat dingin mengucur deras di seluruh wajah Alka.
Tangisan pria itu sangatlah menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya. Mungkin inilah alasan mengapa Alka selalu saja diam menyendiri. Setiap malam pria itu melihat istrinya meninggalkan dia yang sakit dan terluka. Tanpa ada yang tahu seberapa parahnya luka itu.
"Paman Alka, apakah Paman sedang mimpi buruk?" gumam Sakila merasa kasihan pada suaminya itu.
Alka masih terus menyebut nama Indah, hingga ia terbangun dari tidurnya sembari berteriak histeris.
"Indah....!"
Sakila terkejut dengan teriakan Alka yang semakin kencang. Dia seperti baru saja melihat suatu kejadian menyakitkan dalam mimpinya.
Tak lama Alka menoleh pada Sakila, lalu kemudian tanpa sengaja memeluk tubuh wanita tersebut.
Untuk pertama kalinya Alka memeluk tubuh Sakila, setelah sebelumnya Sakila lah yang beberapa kali tanpa sengaja memeluk dirinya.
"Tolong jangan tinggalkan aku. Aku kesepian, aku menderita dalam penantian panjang ini. Tolong bantu aku, aku mohon padamu. Aku mohon Indah, aku sangat mencintaimu, tolong kembalilah padaku. Hu, hu, hu."
Duar!
Bagai petir di siang hari menyambar sudut hati Sakila. Dia semakin merasa iba pada suaminya itu. Sakila tak merasakan sakit hati atau cemburu pada mendiang Indah. Sakila cukup tahu seberapa pentingnya cinta pertama Alka tersebut bagi suaminya. Namun, haruskah Alka terpaku dengan masa lalunya yang kelam? tidakkah dia harus merelakan yang telah terjadi? dia harus bisa membuka diri dan melepas masa lalu itu.
Sakila membalas pelukan Alka dan menepuk-nepuk punggung pria tersebut berusaha untuk menenangkan dia.
"Paman, sebegitu terlukanya kah Paman di tinggal Indah? mungkin inilah yang aku rasakan dulu ketika kehilangan Ibu," batin Sakila sembari menitikan air mata. Dia turut merasakan pedihnya di tinggal seseorang yang berharga.
Menyadari ada sesuatu yang berbeda dari tubuh yang di peluknya, seperti bukan tubuh Indah. Alka pun melepas pelukannya tadi, dan menatap Sakila tengah menangis.
"Maafkan aku karena tak sengaja memelukmu. Aku tadi bermimpi buruk," tutur Alka canggung. Dia pikir Sakila menangis karena merasa terganggu dengan pelukan Alka.
"Tidak apa-apa. Hiks, hiks, hiks," balas Sakila sembari terisak.
Kening Alka berkerut penuh tanya.
"Kalau kau tidak keberatan aku memelukmu, lalu mengapa kau menangis?" tanya Alka heran.
"Aku menangis karena mengingat mendiang Ibuku. Mungkin rasa sakit yang Paman rasakan tadi, sama seperti yang aku rasakan dulu. Tapi Paman lebih beruntung dariku. Paman memiliki dua putra dan dua menantu serta Nenek yang selalu setia menemani Paman. Mereka adalah harta berharga peninggalan Indah. Sementara aku? Ibu hanya meninggalkan Ayah dan sedikit kenangan untukku. Selain dari itu, tak ada lagi yang tersisa," terang Sakila sedih, membuat hati Alka iba.
Ternyata rasa sakit kehilangan itu, juga menghinggapi relung hati Sakila. Bahkan dia tampak seperti seseorang yang sangat terluka di banding Alka. Hal itu Alka bisa lihat lewat sorot matanya yang sayu.
Sebesar apa luka hati Sakila sebenarnya? mengapa wajahnya seperti menyiratkan seseorang yang tengah memendam sesuatu? apakah kehidupannya bersama ibu tirinya tak seharmonis yang di lihat? apakah keberadaan Sakila di tolak oleh ibu tirinya? lalu bagaimana dengan Ayah gadis itu? apakah dia juga mengabaikan Sakila? pikir Alka.
"Sakila, maafkan aku jika pertanyaanku ini sedikit menyinggung perasaanmu. Tapi bukankah kau hidup bahagia bersama ibu tirimu dan saudaramu Aksat?" tanya Alka ragu-ragu, takut Sakila akan terluka dengan pertanyaannya itu.
Sakila tak langsung menjawab pertanyaan Alka. Dia berpikir, apakah akan menjawab jujur atau justru sebaliknya? dia tidak mungkin menjelek-jelekkan Dinda sang ibu tiri. Karena biar bagaimanapun juga wanita itu merupakan bagian dari keluarganya. Sakila harus menjaga nama baik keluarga yang di cintainya itu. Namun, di sisi lain dia tak mungkin berbohong pada Alka. Pria itu juga telah menjadi bagian dari keluarganya. Apakah dia harus berbohong pada keluarganya sendiri?
Untuk sesaat Sakila merasa dilema. Dia bingung harus menjawab apa.
"Kau tidak perlu menjawab jika pertanyaanku sedikit menggangu pikiranmu. Tidurlah," lanjut Alka kemudian. Namun, Sakila menahan tubuh Alka sebelum pria itu berhasil kembali berbaring di tempat tidur (kursi sofa).
"Paman, aku sangat bahagia dengan Mama Dinda. Tentu saja dia menyayangiku seperti putrinya sendiri. Dia tidak pernah membeda-bedakan aku dan Aksat," jawab Sakila bohong. Namun, Alka bisa melihat kebohongan itu di matanya. Akan tetapi, Alka tidak ingin mengorek lebih jauh lagi tentang hidup Sakila, atau wanita itu akan semakin terluka.
"Baguslah kalau begitu. Sebaiknya kau kembali tidur. Besok pagi kita akan pergi ke suatu tempat," balas Alka seakan mengalihkan pembicaraan.
"Suatu tempat? kemana?" tanya Sakila.
"Kau tidurlah dulu. Besok pagi kau juga akan tahu kemana kita akan pergi," titah Alka.
"Baiklah. Selamat malam," balas Sakila tanpa bertanya kembali. Lagi pula, rasa mengantuk telah kembali menggerogoti tubuhnya yang lelah.
Sakila berbaring di tempat tidur dengan posisi membelakangi Alka. Sementara Alka sediri masih tetap terjaga sambil duduk di kursi sofa tempatnya tidur.
"Sakila, aku tahu kau berbohong padaku. Entah mengapa aku merasa kau tidak bahagia bersama ibu tirimu. Kau seperti tersiksa ketika berada di rumahmu sendiri," gumam Alka.
"Paman, maafkan aku karena telah berbohong pada Paman. Aku melakukan ini semata-mata untuk menjaga reputasi keluargaku. Aku tidak mau Mama Dinda seperti tak memiliki harga diri di mata Paman jika aku menceritakan yang sebenarnya," batin Sakila sedih.
Dua insan yang masih belum saling menerima satu sama lain itu pun tertidur dengan pikiran masing-masing. Dimana Sakila merasa bersalah pada Alka, karena telah membohongi pria itu. Sementara Alka merasa iba pada Sakila, karena wanita itu seperti sedang menyimpan duka dalam hatinya. Dimana duka itu hanya dia sendiri yang tahu.
Terkadang cinta itu muncul karena rasa iba atau karena mengalami peristiwa yang hampir sama. Dimana dalam peristiwa itu bermula dari rasa sakit karena kehilangan seseorang yang berharga dalam hidup kita.
Sama seperti Sakila dan Alka. Mereka terikat satu sama lain, karena penderitaan yang mereka alami, sama rasanya. Sakila yang sakit, karena di tinggal pergi sang Ibu kandung. Sementara Alka yang menderita, karena di tinggal pergi oleh Indah Permatasari mendiang istrinya.
Dua hal itulah yang akhirnya membuat mereka semakin dekat dan mendukung satu sama lain. Meski tak semudah membalikkan telapak tangan.