Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Sudah kukatakan tadi, membunuh adalah hobiku. Melihat mereka ketakutan dan memohon padaku adalah kesenanganku. Menyiksa mereka adalah kebahagiaanku. Jadi aku membunuh hanya karena itu menyenangkan hatiku," jawab pria itu.
"Kau menggunakan nyawa mereka sebagai mainanmu? Bagaimana bisa kau tega melakukan itu?" bentak Wesley.
"Kau tidak punya identitas sama sekali? Dari mana kau berasal?" tanya Damien.
"Aku... tidak tahu juga. Mungkin dari batu. Aku tidak punya orang tua. Jadi mana mungkin aku tahu aku berasal dari mana," jawab pria itu sambil tertawa.
Di ruang observasi sebelah, Kapten Wong mengernyitkan dahi.
"Hubungi dokter psikiater."
"Kapten, Anda curiga dia mengalami gangguan kejiwaan?" tanya Joy.
"Kita butuh pemeriksaan resmi," jawab Kapten Wong. "Aku ingin memastikan apakah semua ucapannya memang benar atau hanya upaya mengelabui penyidikan."
Beberapa menit kemudian.
Pintu ruang interogasi terbuka.
Seorang dokter psikiater masuk bersama seorang perawat.
"Saya Dr. Kevin dari bagian psikiatri. Saya diminta melakukan pemeriksaan awal terhadap tersangka," ucap dokter itu.
Damien mengangguk.
"Silakan."
Damien dan Wesley keluar dari ruang interogasi, sementara dokter tersebut duduk di hadapan pria itu.
"Halo, saya hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan."
Pria itu tersenyum tipis.
"Kalau aku tidak mau menjawab?"
"Itu hakmu. Namun akan lebih baik jika kau bekerja sama."
Dokter membuka buku catatannya.
"Siapa namamu?"
Pria itu menggeleng.
"Aku tidak punya nama."
"Lalu, sejak kapan kau mulai membunuh?"
Pria itu menatap langit-langit ruangan.
"Aku lupa. Sudah terlalu banyak."
"Apakah kau pernah merasa bersalah setelah membunuh seseorang?"
"Tidak."
"Kenapa?"
Pria itu kembali tersenyum.
"Karena mereka memang pantas mati."
Dokter mencatat setiap jawabannya tanpa mengubah ekspresi wajah.
Di balik kaca satu arah, Kapten Wong, Damien, Wesley, Andy, Joy, dan Afei terus mengamati jalannya pemeriksaan.
Beberapa saat kemudian.
Pemeriksaan psikologis selesai.
Dokter psikiater keluar dari ruang interogasi sambil membawa catatan hasil pemeriksaan.
Kapten Wong, Damien, dan Wesley langsung menghampirinya.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Kapten Wong.
Dokter itu menghela napas.
"Berdasarkan pemeriksaan awal, tersangka menunjukkan tanda-tanda gangguan kepribadian berat. Ia tidak menunjukkan rasa bersalah atau empati terhadap korban."
"Apakah dia tidak sadar dengan perbuatannya?" tanya Wesley.
Dokter menggeleng.
"Tidak. Dari jawabannya, dia memahami apa yang dia lakukan. Dia tahu membunuh adalah tindakan yang salah, tetapi dia tidak memiliki penyesalan dan justru mendapatkan kepuasan dari penderitaan orang lain."
Damien terdiam.
"Jadi semua itu dia lakukan hanya karena keinginannya sendiri?"
"Benar," jawab dokter. "Namun untuk diagnosis lengkap masih membutuhkan pemeriksaan lanjutan."
Kapten Wong mengangguk.
"Terima kasih, Dokter."
Setelah dokter pergi, mereka kembali menatap ruang interogasi.
Pria itu masih duduk dengan tenang seolah sembilan belas nyawa yang hilang tidak berarti apa-apa baginya.
Pemeriksaan lanjutan berlangsung hingga larut malam.
Setelah beberapa jam, dokter psikiater akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan dengan membawa hasil akhir.
Kapten Wong, Damien, Wesley dan lainnya yang masih menunggu langsung berdiri.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Kapten Wong.
Dokter itu menyerahkan laporan di tangannya.
"Kami sudah melakukan pemeriksaan lebih mendalam. Tersangka dalam kondisi sadar dan memahami setiap tindakannya."
"Jadi dia tidak kehilangan kendali?" tanya Wesley.
Dokter menggeleng.
"Tidak. Dia mengetahui apa yang dia lakukan. Semua pembunuhan tersebut dilakukan dengan kesadaran penuh."
Damien menatap laporan itu dengan wajah serius.
"Artinya dia membunuh bukan karena tidak mengerti, tetapi karena memang memilih untuk melakukannya."
"Benar," jawab dokter.
Kapten Wong mengambil laporan tersebut.
"Terima kasih, Dokter."
Setelah dokter pergi, suasana di lorong kembali hening.
Wesley melihat ke arah ruang interogasi.
"Sembilan belas korban... hanya karena dia merasa senang."
Kapten Wong menatap laporan di tangannya.
"Pembunuhan sembilan belas korban sudah bisa dikaitkan dengannya. Namun masih ada satu hal yang belum terjawab."
Ia menatap ke arah ruang interogasi.
"Kenapa dia begitu terobsesi dengan Evelyn?"
Damien yang berdiri di sampingnya terdiam.
"Itu yang harus kita cari tahu."
Wesley mengerutkan kening.
"Dia membunuh banyak orang, tetapi hanya Evelyn yang terus dia incar. Bahkan setelah tertangkap, dia masih membicarakannya."
Andy yang mendengar percakapan itu ikut berpikir.
"Apakah dia mengenal Detektif Shen sebelum semua kasus ini?"
Kapten Wong menggeleng pelan.
"Itulah yang belum kita ketahui."
Damien mengepalkan tangannya.
"Apa pun alasannya, dia sudah mencoba membunuh Evelyn berkali-kali."
Tatapan Damien kembali mengarah ke ruang interogasi.
"Kita harus menemukan hubungan antara dia dan Evelyn."
Di dalam ruang interogasi.
Pria itu masih duduk dengan tenang sambil menunggu.
Pintu kembali terbuka.
Damien dan Wesley masuk ke dalam ruangan.
Kali ini, tatapan Damien jauh lebih dingin.
Ia duduk di hadapan pria itu.
"Aku ingin tahu satu hal."
Pria itu tersenyum kecil.
"Tentang Evelyn?"
Damien langsung menatap tajam. "Kenapa Evelyn?" tanya Damien dingin.
Pria itu tersenyum tipis.
"Karena dia berbeda."
"Berbeda bagaimana? Kau bahkan belum pernah bertemu dengannya."
Pria itu tertawa pelan.
"Benar. Aku tidak pernah berbicara dengannya secara langsung."
Tatapan Damien berubah.
"Lalu?"
"Aku mengenalnya dari berita dan laporan kasus."
Pria itu menatap Damien.
"Detektif Shen adalah orang yang selalu mengejar kebenaran. Dia tidak pernah berhenti meskipun banyak orang mencoba menghentikannya."
Wesley mengerutkan kening.
"Jadi kau hanya mengamatinya?"
"Awalnya hanya rasa penasaran."
Senyum pria itu menghilang.
"Tapi semakin aku melihatnya, semakin aku ingin menghancurkan orang yang selalu percaya bahwa keadilan bisa menang."
Damien mengepalkan tangannya.
"Jadi Evelyn hanya menjadi target obsesimu?"
"Benar."
"Kau benar-benar bukan manusia," ucap Wesley dengan tatapan penuh kemarahan.
"Obsesi, kesenangan... semua itu telah mengorbankan begitu banyak nyawa yang tidak bersalah."
Wesley mengepalkan tangannya.
"Bahkan jika kau dijatuhi hukuman mati, satu nyawamu tidak akan pernah cukup untuk menebus semua dosa yang telah kau lakukan."
Pria itu hanya tersenyum.
"Kalau begitu, biarkan aku tetap hidup."
Ia menatap Wesley dengan tatapan dingin.
"Agar aku bisa meneruskan keinginanku lagi."
Ucapan itu membuat suasana ruangan menjadi semakin berat.
Tiba-tiba suara Kapten Wong terdengar dari ruang observasi.
"Damien, Wesley. Interogasi sampai di sini. Kita lanjutkan besok."
Keduanya terdiam sejenak.
Pria itu hanya tersenyum kecil saat melihat mereka meninggalkan ruangan.
***
Dua hari kemudian
Rumah sakit.
Malam semakin larut.
Eve kembali datang ke rumah sakit dengan langkah tenang. Ia berjalan menyusuri koridor yang mulai sepi menuju ruangan tempat Evelyn dirawat.
Ia melihat ke sekitar.
Tidak ada lagi banyak petugas yang berjaga seperti sebelumnya.
"Setelah pelaku ditangkap, mereka sudah mengurangi penjagaan," gumam Eve dalam hati.
Sudut bibirnya terangkat.
"Ini kesempatan terbaikku."
Ia terus berjalan mendekati area ICU, menyembunyikan niat sebenarnya di balik wajah tenangnya.
"Evelyn Shen... kali ini tidak akan ada yang menghalangiku. Di keluarga Shen, hanya aku putri satu-satunya."