Kisah seorang Istri yang baik dengan suami yang tidak tahu diri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riando simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32(Tiga puluh Dua)
Bu Mekar, Pak Gali,dan Toni mereka pun makan bersama.Saat Bu Mekar mengatakan pak Gali tentang hal hubungannya dengan Cantika,Pak Gali pun langsung marah sambil menendang kursinya dan pak Gali tersebut langsung pergi ke kamar meninggal mereka.
"Apa mungkin aku bisa bertahan, sementara suamiku tidak menyayangi diriku lagi dan anakku.Ya Tuhan tunjukkanlah jalan mu kepadaku jalan yang terbaik untukku,jika memang harus berpisah dengan suamiku jika memang itu yang terbaik aku ikhlas ya Tuhan" dalam hati Bu Mekar.
Bu Mekar yang tidak terima dengan perlakuan suaminya tersebut,dia pun langsung pergi mengikuti suaminya itu ke kamar.
Bu Mekar yang ingin mendengar perkataan langsung dari suaminya,Bu mekar pun mengulangi pertanyaan nya itu kepada Pak gali tentang hubungan dia dengan Cantika.
Namun hal itu membuat pak Gali malah semakin marah,dia pun langsung menampar Bu Mekar dan mendorongnya hingga sampai terjatuh."Tolong jangan ganggu aku dulu aku lagi butuh ketenangan tidak ada gangguan apa lagi itu dari kamu,kamu pergi keluar dari kamar ini cepat", Ucap pak Gali yang penuh dengan nada keras.
Bu Mekar yang terjatuh,dia pingsan dan tidak bisa bangun.
Toni yang mendengar ayah dan ibunya yang ribut dan kemungkinan menurut Toni bertengkar,Toni pun langsung pergi menjumpai mereka.
Toni yang melihat ibunya sudah pingsan dan melihat darah di sekujur kaki ibunya.Tentu membuat ini Toni langsung histeris menangis dan pergi menolong ibunya,dia ingin mengangkat segera Ibunya dan meminta pertolongan diluar,akan tetapi Toni tidak sanggup mengangkat Ibunya tersebut.
Toni pun meminta pertolongan kepada ayahnya itu agar membawa ibunya itu ke rumah sakit.
Akan tetapi pak Gali sama sekali tidak peduli dengan keadaan Bu Mekar tersebut pak Gali malah pergi keluar dan meninggalkan Toni dan Bu Mekar tersebut.
"Kamu urus saja Ibu kamu itu,kamu bawa sendiri berobat aku sudah tidak perduli dengan kalian lagi",ucap pak Gali.
Toni pun memeluk kaki ayahnya itu saat hendak mau keluar dan meminta bantuan kepada ayahnya agar ibunya segera dibawa di rumah sakit.
Akan tetapi Pak Gali juga tidak perduli sama keadaan Bu Mekar,Pak Gali pun pergi meninggalkan mereka.
Bu Mekar yang terbaring lemah dan tidak bisa bangkit untuk melangkahkan kakinya,Bu Mekar hanya bisa menangisi tentang perlakuan suaminya tersebut.
Darah yang keluar terus dari tubuh Bu Mekar,tentu hal ini membuat Toni sangat cemas dan penuh dengan ketakutan dengan keadaan ibunya itu,apa lagi dia sudah tidak tahu lagi kepada siapa lagi meminta pertolongan Toni pun meminta pertolongan kepada pak Jarwo.
Toni pun menceritakan kepada pak Jarwo tentang kejadian yang terjadi ayah dengan ibunya itu.
Mendengar perkataan dari Toni yang mengatakan ibunya tidak bisa berjalan dan kakinya sudah dipenuhi dengan darah,Pak Jarwo pun segera berangkat dan pergi menjemput Bu Mekar.
Sesampainya dirumah Bu Mekar,Pak Jarwo langsung bergegas masuk ,untuk melihat keadaan Bu Mekar itu.
Pak Jarwo pun meneteskan airmata saat dia melihat Bu Mekar itu kakinya sudah dipenuhi dengan darah.
Pak Jarwo pun langsung membawa Bu Mekar itu ke rumah sakit.
Pak Gali sangat cemas dan takut apabila harus kehilangan Bu Mekar,apa lagi Pak Jarwo yang telah mengetahui Bu Mekar lagi keadaan hamil,dan bisa saja kalau Bu mekar tersebut mengalami keguguran, tentu dalam hal ini mungkin juga akan mengancam nyawa dari Bu mekar itu sendiri.
Sesampainya di rumah sakit tersebut,Bu Mekar pun langsung di check Oleh dokter.
"Maaf ya Pak, Bu,hal duka datang kepada kita Dimana bayi di kandung Bu Mekar mengalami keguguran tidak bisa terselamatkan lagi,dan keadaan dari Bu Mekar baik-baik saja dan sudah bisa dibawa pulang "Ucapan Dokter yang memeriksa Bu Mekar tersebut.
Pak Jarwo pun bersedih dan merenungi kata dari dokter.
Bu mekar pun menangisi kandungan nya yang telah keguguran dia merasa tidak ada semangat untuk hidup lagi.
Pak Jarwo yang selalu ada disamping Bu mekar,dia pun memberi saran kepada Bu Mekar tersebut agar tidak usah menangis lagi.
" kamu yang sabar ya Bu, kita juga tidak meminta keadaan yang datang seperti ini, akan tetapi tidak ada hal apapun yang bisa kita lakukan dalam hal ini karena sudah terjadi, kita hanya bisa mensyukuri dan menjalani nya atas apa yang di berikan kepada kita"Ucap pak Jarwo.
Bersambung...