NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:49.9k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Fajar baru saja pecah di ufuk timur, tetapi wilayah hulu masih dilingkupi kegelapan yang enggan beranjak. Kabut pegunungan turun begitu tebal, bergulung-gulung menyelimuti hamparan luas perkebunan teh dan menyembunyikan lekuk-lekuk tajam jalanan desa yang sepi.

Dinginnya udara pagi itu terasa menusuk hingga ke tulang, membawa keheningan yang janggal. Di sebuah vila bergaya kolonial yang berdiri tidak jauh dari batas perkebunan Dirgantara Group, sepasang lampu sorot dari dua mobil mewah membelah kabut, berhenti dengan deru mesin yang diredam.

Mahendra melangkah turun dari jok belakang mobil pertama. Ia membetulkan letak kerah mantel tebalnya, sementara matanya menatap tajam ke arah puncak bukit tempat villa Arlan berdiri terisolasi. Di sampingnya, Stella turun dengan gerakan anggun yang dipaksakan. Wajah cantiknya dilingkupi riasan tebal, menyembunyikan gurat kecemasan sekaligus ambisi yang membakar dadanya sejak kemarin.

Di belakang mereka, dua pria paruh baya berpakaian necis dengan tas koper kulit—pengacara korporat paling licik yang bisa disewa dengan uang—berdiri dalam diam. Bersama mereka, ada pula seorang oknum pejabat teras dari agraria wilayah Barat yang wajahnya tampak gelisah, sesekali membetulkan letak kacamatanya yang mengembun akibat udara pegunungan.

Rencana mereka sudah matang, disusun rapi dalam kegelapan malam. Mahendra tahu, menyerang Arlan Dirgantara secara langsung di lantai bursa Jakarta adalah hal yang nyaris mustahil sekarang. Arlan terlalu tangguh, terlalu dingin, dan benteng bisnis Dirgantara Group terlalu kokoh untuk ditembus dengan trik-trik biasa. Maka dari itu, Mahendra memilih jalur memutar. Dia akan menghancurkan Arlan melalui titik lemah baru yang berhasil diendusnya: pelayan misterius bernama Gita Ivara. Menggunakan rekam jejak kelam masa lalu wanita itu, Mahendra berniat menciptakan skandal moral yang cukup besar untuk meruntuhkan legitimasi hukum proyek resort hulu, sekaligus mendepak Arlan dari kursi CEO.

"Pastikan semua berkas penangkapan dan dokumen penyegelan ini tidak cacat hukum," desis Mahendra, suaranya terdengar parau dan dingin di tengah kepungan kabut. "Pagi ini kita akan memberi Arlan kejutan yang tidak akan pernah bisa dia lupakan seumur hidupnya."

Stella tersenyum sinis, matanya berkilat penuh kemenangan yang tertunda. "Aku ingin melihat bagaimana ekspresi mantan suamiku yang angkuh itu saat wanita pelayan kesayangannya diseret dengan borgol di depan matanya sendiri. Kita lihat, apakah dia masih bisa bersikap sok berkuasa."

Sementara itu, di dalam ruang kerja utamanya di lantai dua villa mewah Dirgantara, Arlan sudah terjaga sejak pukul tiga pagi. Ruangan itu hanya diterangi oleh seberkas lampu meja kuningan yang mulai meredup. Kemeja putih yang dikenakannya tidak lagi serapi kemarin malam; kerahnya dibiarkan terbuka, menampilkan guratan lelah yang kontras dengan ketajaman sepasang matanya. Di atas meja jati besarnya, tumpukan berkas hukum berserakan di samping cangkir kopi hitam yang sudah mendingin sejak dua jam lalu.

Tepat pukul tiga pagi tadi, Doni mengirimkan sebuah dokumen penting melalui jalur komunikasi terenkripsi yang paling aman. Berkas itu dikirim secara senyap oleh seorang pria bernama Pak Haryo, perwakilan hukum dari Adytama Properti di Surabaya.

Dokumen itu berisi salinan asli putusan pengadilan Surabaya tahun 2016 yang sudah dilegalisasi oleh Mahkamah Agung—sebuah berkas mutakhir yang secara absolut membersihkan status hukum lahan perkebunan hulu dari segala bentuk tuntutan sengketa yang berusaha digoreng oleh Mahendra.

Arlan menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, memijat pelipisnya yang berdenyut kaku. Pikirannya buntu. Bantuan hukum yang datang secara tiba-tiba dan begitu instan dari raksasa properti Jawa Timur itu masih menjadi teka-teki terbesar yang belum terpecahkan.

Mengapa Adytama mau repot-repot turun tangan menyelamatkan proyek miliknya? Mengapa ada nama Bianca Adytama—putri bungsu keluarga Adytama yang sangat misterius dan tidak pernah muncul di depan publik—tertera sebagai pemilik sah dari tanah ulayat yang berbatasan dengan proyek resort hulu?

Arlan sudah mencoba melacak keberadaan Pak Haryo melalui jaringan intelijen bisnisnya di Surabaya, tetapi pria tua itu selalu berhasil menghindar dengan alasan klasik bahwa dia sedang berada di luar negeri untuk urusan kesehatan keluarga. Sifat skeptis Arlan yang terluka akibat pernikahan masa lalunya membuat pria itu curiga. Dia benci situasi di mana dia merasa berutang budi tanpa tahu apa motif di balik bantuan tersebut.

Langkah kaki yang teratur dan halus terdengar berhenti di depan pintu ruang kerjanya. Ketukan tiga kali yang khas memecah keheningan ruangan.

"Tuan Arlan, teh herbal hangat Anda sudah siap," suara Gita mengalun rendah dari balik pintu, terdengar begitu tenang dan dewasa.

Arlan menegakkan tubuhnya. "Masuk."

Pintu kayu jati itu terbuka, menampilkan sosok wanita dalam seragam pelayannya yang bersahaja. Rambut panjangnya digelung rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang anggun. Di tangannya, dia membawa nampan kayu berisi cangkir porselen putih. Bianca melangkah masuk dengan kepala yang sedikit menunduk, namun aura berkelas yang memancar dari caranya berjalan tidak pernah bisa disembunyikan, bahkan di bawah lampu ruang kerja yang temaram.

Bianca meletakkan cangkir itu di sudut meja, lalu bersiap untuk melangkah mundur dengan kedisiplinan seorang bawahan yang tahu batas.

"Gita, tunggu sejenak," panggil Arlan, suaranya bariton dan berat, menghentikan langkah Bianca tepat dua jengkal dari mejanya.

Bianca memutar tubuhnya perlahan, menatap Arlan dengan sepasang mata jernih yang memancarkan ketenangan baja. "Ada hal lain yang perlu saya bantu, Tuan?"

Arlan bangkit dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi besar melangkah memutari meja, menghentikan gerakannya tepat di depan Bianca. Jarak mereka begitu dekat hingga Bianca bisa merasakan kehangatan tubuh Arlan di tengah dinginnya udara subuh pegunungan. Sisi posesif pria itu kembali mencuat saat matanya menatap lekat-lekat ke arah wajah asistennya.

"Doni baru saja menerima dokumen krusial dari Surabaya jam tiga pagi tadi," ujar Arlan, matanya menyipit penuh selidik, mencoba mencari celah rahasia di balik ekspresi tenang Bianca. "Seseorang bernama Pak Haryo mengirimkan salinan putusan Mahkamah Agung yang mengunci pergerakan Mahendra secara total. Dokumen itu diterbitkan atas nama Bianca Adytama."

Arlan memperhatikan setiap perubahan mikro di wajah Bianca, namun wanita di depannya tetap bergeming dengan ketegaran yang matang. Tidak ada setitik pun riak kepanikan di mata Bianca; sepuluh tahun di dalam ruang sunyi penjara Surabaya telah melatihnya untuk menguasai emosinya dengan sempurna di bawah tekanan apa pun.

"Itu sebuah keuntungan besar bagi Anda, Tuan Arlan," jawab Bianca halus, suaranya stabil tanpa ada getaran sedikit pun. "Dengan adanya dokumen itu, Mahendra tidak akan memiliki celah lagi untuk menekan posisi Anda."

Arlan melangkah maju satu langkah lagi, memperpendek jarak di antara mereka hingga Bianca bisa mencium aroma maskulin parfum kayu cendana yang bercampur sisa kehangatan kopi hitam dari tubuh pria itu.

Tangan kekar Arlan bergerak pelan, mencengkeram lembut kedua bahu Bianca, sebuah gestur perlindungan yang egois namun sarat akan ketulusan yang teramat dalam.

"Aku tidak peduli dengan keuntungan bisnis itu, Gita," bisik Arlan, suaranya serak dan rendah, menatap lurus ke dalam manik mata Bianca dengan intensitas protektif yang ekstrem.

"Yang membuatku bimbang adalah... mengapa Adytama dari Surabaya begitu peduli dengan proyek di desa terpencil ini?"

Bianca merasakan dadanya berdesir hebat, pukulan emosional dari pertanyaan Arlan meremas hulu hatinya dengan kejam. Tarik-ulur perasaan di antara mereka kian menyesakkan dada. Pria dingin ini sedang jatuh cinta secara tulus pada sosok pelayannya, tanpa menyadari bahwa wanita yang sedang dia cengkeram bahunya saat ini adalah sang putri mahkota itu sendiri. Bianca tahu, dia tidak boleh melangkah lebih jauh. Mengungkapkan identitasnya sekarang sama saja dengan membawa badai pertumpahan darah bisnis Jakarta-Surabaya ke dalam vila yang damai ini.

"Saya sendiri juga tidak tahu, Tuan Arlan," tutur Bianca lirih dengan menurunkan pandangannya sejenak.

Arlan menatapnya beberapa detik lagi, mencoba menembus dinding pertahanan tebal yang sengaja dibangun Bianca, sebelum akhirnya menghela napas panjang dan melepaskan cengkeramannya dengan berat hati.

"Kembalilah ke kamarmu. Istirahatlah sebelum pagi benar-benar terang."

Waktu berputar melewati pukul lima pagi. Kabut di luar jendela sayap barat semakin menebal, bergulung-gulung menutup seluruh akses jalan keluar dari kompleks perkebunan teh. Di dalam kamarnya, Bianca tidak bisa tidur. Dia berdiri di dekat jendela kaca besar, menatap kegelapan luar yang perlahan memutih diterpa fajar.

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang berat memecah kesunyian subuh, diikuti oleh suara benturan keras dari arah halaman depan villa. Suara teriakan panik dari Isah dan Minah di lantai bawah langsung terdengar melengking, memutus keheningan pagi yang sunyi.

Bianca dengan cepat melangkah keluar dari kamarnya, menyusuri koridor lantai dua dengan langkah yang teratur dan tenang. Di ujung tangga, dia melihat Arlan sudah melangkah turun dengan jubah rumahnya yang panjang, wajah tegasnya dilingkupi oleh kemurkaan yang luar biasa.

Di teras depan villa yang basah oleh embun, pintu utama telah didobrak paksa dari luar. Mahendra melangkah masuk dengan senyum sinis yang penuh kemenangan, diikuti oleh Stella yang menatap sekeliling bangunan dengan pandangan merendahkan. Di belakang mereka, dua pengacara korporat dan oknum pejabat dinas agraria wilayah Barat berdiri dengan angkuh, memegang map kulit tebal berisi surat perintah penyitaan.

"Arlan Dirgantara!" seru Mahendra, suaranya menggema keras di dalam lobi vila yang megah. "Pagi ini, kesombonganmu akan berakhir! Kami membawa dokumen resmi penyegelan fisik atas seluruh proyek resort dan area perkebunan ini atas tuduhan manipulasi pajak dan penggelapan tanah adat!"

Stella melangkah maju satu langkah, matanya yang tajam langsung mengunci sosok Bianca yang berdiri diam di undakan tangga teratas. "Dan kamu... pelayan miskin bernama Gita Ivara. Aparat di luar sudah bersiap menyeretmu ke Jakarta atas tuduhan spionase bisnis ilegal dan penggunaan identitas palsu untuk merusak stabilitas pasar modal!"

Arlan berdiri di depan undakan tangga bawah, postur tubuhnya yang tinggi besar mengunci ruang gerak Mahendra secara mutlak. Sisi posesif dan protektifnya yang liar bergejolak hebat di dalam dada. Dia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh wanita yang mulai dia cintai secara tulus itu, tidak peduli meskipun jabatannya sebagai CEO di Jakarta harus hancur malam ini juga.

"Langkah satu senti lagi mendekati rumahku, Mahendra..." desis Arlan, suaranya bariton, sangat rendah, namun dilingkupi aura pembunuh yang teramat pekat hingga membuat oknum pejabat agraria di belakang Mahendra bergidik ngeri. "Dan aku pastikan tim hukumku akan membusukkan nama kalian di penjara sebelum matahari terbit besok pagi."

"Jangan menggertak, Arlan!" potong salah satu pengacara Mahendra dengan angkuh, menyodorkan draf berkas penangkapan dari Surabaya. "Kami memiliki bukti forensik digital bahwa asisten pribadimu ini menggunakan nama palsu Gita Ivara untuk menyembunyikan rekam jejak kriminalnya dari lapas Surabaya!"

Tepat pada detik yang teramat menegangkan itu, Bianca melangkah turun dari tangga secara perlahan. Dia tidak lagi menundukkan kepalanya seperti seorang pelayan biasa. Setiap langkah kakinya memancarkan wibawa murni yang begitu berkelas, membuat Stella terdiam kaku karena syok melihat ketenangan dewasa yang terpancar dari wajah wanita berusia tiga puluh tahun itu. Sisi cerdas dan otonomi Bianca bangkit seutuhnya.

"Kalian datang membawa draf dokumen yang salah, Tuan Mahendra," ujar Bianca, suaranya mengalun sangat tenang, jernih, dan begitu dingin, seketika memotong seluruh dominasi perdebatan di lobi villa tersebut. Dia berdiri sejajar di samping Arlan, menatap langsung ke arah sepasang mata musuh bisnis mereka tanpa ada setitik pun rasa takut.

Arlan menoleh cepat ke arah Bianca, keningnya berkerut dalam melihat perubahan drastis dari pembawaan asisten pribadinya.

Bianca mengeluarkan sebuah amplop segel perak dari balik saku sweaternya—berkas asli Mahkamah Agung yang dikirimkan Pak Haryo jam tiga pagi tadi—lalu melemparkannya ke atas meja marmer dengan ketukan yang mantap.

"Pejabat agraria yang Anda suap di belakang Anda itu... tampaknya lupa memberi tahu Anda bahwa hak kuasa mutlak atas seluruh lahan ulayat perkebunan teh ini telah dialihkan secara hukum sejak kemarin sore kepada pemilik sah yang asli."

Mahendra menyipitkan matanya, wajahnya mendadak memucat saat melihat logo segel emas Adytama Properti di atas kertas tersebut.

"Apa maksudmu, perempuan pelayan?!"

Bianca menyunggingkan senyum tipis yang teramat elegan, sebuah senyuman yang seketika meruntuhkan seluruh keangkuhan Stella.

***

1
@Tie
nasibnya mahendra gmn thor
apa dipenjara jg sama spt stell
Mundri Astuti
ngomong" napa jadi muter" y thor si Arlan dan Bianca, ga da kemajuan
✦͙͙͙*͙*ᴍs.ʀ͠ᴇɴᴀ✨: maaf ya, kalo bikin gumoh. pelan-pelan nanti diperbaiki kok 😊🙏
total 3 replies
💟노르 아스마💟
lahhh ...provokatornya gk di habisin itu
Mukeseh
setela salah lawan woe setela setela 🤣🤣
Anonim
😍😍
Anonim
Mantap
ryuka
duuhhh bianca gimana cara nya arlan biar kamu luluhhh 🫠🫠🫠🤭🤭🤭
merry yuliana
jd dejavu sm.kirana yak..
Anonim
😍😍😍😍
Del Vina
cerita bagus cuma alurnya lambat
Tangsah Jagad
gak mungkin Raditya gak ngasih tau kalo di tanya arlan
Mukeseh
hubhihi 🤣🤣🤣🤣 othor pintar bikin q deg deg pyor 😂
Mundri Astuti
Arlan kamu main ke rumah Raditya, sapa tau ada foto keluarga Kirana dan keluarganya
Anonim
😍😍😍😍
@Tie
bianca kabur aja yg jauh ke luar negeri sekalian, kl msh di indo gk aman
mkn maen rahasia arlan makin posesif
fatmawati (pipit)
gita harus jujur saja bahwa dia adalah Bianca aditama yg menyamar sebagai gita ivara
untuk doni harus secepatnya menemukan kejanggalan tentang gita dan bianca adytama
ryuka
bianca.. gapapa kok jujur. kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠
Tangsah Jagad
Bianca apa salah nya sih jujur, dan arlan ngapain juga ngotot hbngan mereka hanya batas pekerjaan
Verawati Naycyl
sudah Bi...jangan maen teka teki terus ...kasihan Arlan sampai puyeng cari tau identitas kamu yg sebenarnya..
Mukeseh
deg deg thor 😂😂tp cepat atau lmbt pasti aksn tsu arlsn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!