sesekali kamu harus sadar kalau cowok cool, ganteng dan keren itu membosankan. lupakan kriteria "sempurnah" karena mereka tidak nyata.
hal - hal yang harus diketahui dari sosok pian :
1. mungkin, sedikit, agak, nggak akan pernah ganteng, cool, apalagi keren. bukan berarti dia jelek
2. nggak pintar bukan berarti dia bodoh
3. aneh dan gila itu setara
4. mengaku sebagai cucu, cucu, cucunya kahlil gibran
5. mengaku sebagai supir neil armstrong
6. mengaku sebagai muridnya imam hanafi
7. menyukai teh dengan 1/2 sendok gula. takut kemanisan, karena manisnya sudah ada di pika
8. menyukai cuaca panas, tidak suka kedinginan, karena takut khilaf akan memeluk pika
9. menyukai dunia teater dan panggung sandiwara. tapi serius dengan perasaannya terhadap pika
10. menyukai pika
ada 4 hal yang pika benci didunia ini :
1. tinggal di kota tertua
2. bertemu pian
3. mengenal sosok pian, dan....
4. kehilangan pian
kata orang cinta itu buta, dan aku udah jadi orang yang buta karena nggak pernah menghargai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fchrvlr0zak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PIANKU SAYANG, PIANKU MALANG
Liburan panjang kali ini benar-benar membunuh Pika.
Pika dan keluarganya harus pulang ke Jakarta. Berkumpul bersama sanak saudaranya. Otomatis Pika tidak bisa bertemu Pian lagi, melihat sosok Pian lagi meski cuma iseng main ke rumah Sandi.
Pika duduk termenung sambil membaca ulang kumpulan surat-surat pemberian Pian yang masih disimpan rapi di dalam kotak yang diberi judul; 'Dari orang Gila'
Pika menghembuskan napasnya berulang kali. Terasa amat berat. Kali ini dia membuka laptop dan login via Facebook yang saat itu sedang booming-boomingnya.
Pika mengetikan sesuatu di kolom pencarian: Alvian Satria.
Tidak ketemu.
Pika mengetik ulang nama yang lain: Pian Satria. Pian Alvian Satria. Agen Pian. Cucunya Kahlil Gibran. Supir Neil Armstrong. Pian orang gila.
Masih tidak ketemu.
Akhirnya Pika mencari akun facebook Tristan. Ketemu. Membuka kumpulan album Tristan bersama teman-temannya. Banyak foto Pian beserta tag facebooknya.
Pian Tersayang.
Nama username facebooknya. Ketemu! Pika terkikik geli seraya geleng-geleng kepala.
"Pede banget sih nih orang," katanya sendiri. Mulai membuka akun facebook Pian. Tanpa meng-add friend.
Pika membaca semua status beserta foto-foto yang berserakan di wall facebook Pian.
Ulang tahun Bubun. Rindu. Jadi pengen peluk. Peluk kamu. Tapi siapa yang mau dipeluk aku?
*1 Januari 2005*
(Komentar)
Maura sabilah: Keep strong Pian!!! Ada Maura di sini *lov *lov
Pika tersentak kaget melihat komentar Maura. Kembali menscroll ke atas dan melihat foto Maura bersama Pian memakai seragam SMA tengah tersenyum-yang di post oleh Pian.
Dengan caption:
Makasih udah nau kenalan sama Pian. Makasih udah mau bikin Pian senyum. Makasih udah rela sayang Pian. Makasih udah sempat hadir, lalu pergi lagi. Semoga tenang di sana ya, Mau. Maaf Pian nggak mau nyusul karena masih banyak dosa:)
Lalu setelah kejadian itu Pian nggak pernah aktif facebook lagi sampai tahun 2007 dan bikin status nggak jelas.
*Pengen makan orang. Pengen makan kepala orang. Pengen mnakan kepala sama orang-orangnya.*
*Ada anak baru di sekolah. Cantik. Jadi pengen dimakan. Namanya Harpika. Hobbynya dimakan Pian.*
*Dibuka clubfans Pian dan Pika yang diberi nama Pipier. Tapi Pika nggak suka Pian. Jd pengen makan:)*
*Setelah kenyang makan. Sekarang Pian haus. Haus akan kasih sayang Pika. HAHAHA!*
*jujur aku rindu. Tapi kamu terlihat biasa-biasa saja. Apalah daya rinduku yang akhirnya hilang tanpa balasan.*
*Perasaan yang kerap membuatmu bimbang. Ketika kau mencintai seseorang, tapi dia tak pernah menghargai ketulusanmu.*
*Akhirnya ditolak Pika. Sekian dan terima kasih.*
*Suatu hari nanti kau tidak akan menemukan sosok seperti aku pada diri orang lain. Suatu hari nanti meski kau bukan merindukanku, tapi kau pasti akan merindukan kenangan tentangku yang selalu menjadi penyebab kau marah. Pergi menjauh? Gampang. Pergi menjauh tapi melupakanmu? Nah, itu yang susah.*
Itu status terakhir Pian yang membuat bola mata Pika melebar. Setelah itu Pian tidak meninggalkan jejak apa pun lagi di facebooknya.
Hal pertama yang terlintas di kepala Pian saat liburan semester datang adalah; nggak bisa narsis di sekolah.
Dan kehilangan Pika lebih tepatnya.
Tapi untuk apa masih memikirkan orang yang belum tentu mikirin kita?
Pian berusaha menghapus bayang-bayang Pika dari benaknya. Menyibukkan diri nongkrong di MTỌ bersama anak seni lainnya. Terkadang mereka melakukan pertunjukan gratis di lapangan. Pian termenung memikirkan percakapan Umi Sandi dan dirinya tadi pagi.
"Besok, Umi, Sandi dan Sasa mau pulang ke Sumatera Barat. Datuknya Sandi lagi sakit. Nah.. mumpung lagi liburan semester, mungkin kami akan lama di sana." Umi menarik napas dalam-dalam.
Menepuk pundak kanan Pian pelan. "Yan, sebaiknya kamu pulang ke rumah. Tinggal di rumahmu duu. Udah bertahun-tahun ndak tinggal di rumahmu sendiri, emangnya ndak kangen sama orang rumah?""
Pian menggeleng tegas. "Jangan paksa saya pulang, Umi. Umi kan tau."
"Terus kamu mau tinggal di mana selama liburan, Menitipkan rumah ini sama kamu? Mana bisa Umi percaya. Nanti yang ada kamu malah bawa teman-teman kamu tidur di sini, terus kalian pada main judi. Jadi ndak barokah rumah Umi."
Pian hanya tertawa memperlihatkan lesung pipitnya saat itu.
"Mungkin kamu memang ndak rindu samna Ayahmu. Tapi masa kamu juga ndak rindu sama saudara tirimu. Katanya sayang, tapi kok ndak pernah dikunjungi sih," lanjut Umi lagi.
Pian mendekatkan bibirnya di telinga Umi. "Asal Umi tau ya. Sebenarnya diam-diam saya sering jengukin Defrian lewat jendela kamarnya. Eh, Defrian malah teriak histeris pikir saya ini maling. Yaudah, besoknya saya beneran jadi maling aja. Tuh..." Pian menujuk tas ransel batman milik Defrian yang kini terletak di atas lemari pakaiannya. "Saya maling beneran tasnya Defrian. Biar dia berupah jadi Superman. Atau superhero Indonesia aja, misalrya si Wiro Sableng."
Kali ini Umi yang tertawa terpingkal-pingkal.
"Lagian Umi. Saya ini banyak temannya, semua warga Pekanbaru pada kenal sama saya. Kecuali Pak Gubernur dan Walikota. Saya juga bisa numpang tidur di rumah Henrik atau Tristan," kata Pian lagi."
"Tapi, Bukannya Tristan juga lagi liburan keluar kota ya? Dan pula, rumahnya Henrik itu kecil, Yan. Cuma cukup buat dia dan Ayahnya tidur. Satu lagi, mana ada orang yang mau tumpangi anak rakus seperti kamu di rumahnya. "
"Umi jangam cemas. Saya bisa cari temat tinggal sendiri kok. Tempat tinggal yang bisa bikin saya kenyang tiap hari."
Maksud Pian mencari tempat tinggal sendiri adalah; Pian berusaha keras membujuk Bu Nova malam ini saat mereka sedang berkumpul di MTQ.
"Ayolah Cikgu. Satu malam saya bayar lima ribu deh. Lumayan buat tambahan jajan anaknya cikgu."
"Is, tak nak lah, Yan! Makan dikau tuh banyak." seru Bu Nova tegas.
"Tambah goceng lagi deh. Masa cikgu yang cantik jelita aduhai sylala-syalili ini tega biarin murid kesayangannya tinggal di simpang lampu merah beralaskan kardus indomi sambil makan kerikil."
Bu Nova berhenti berjalan dan membalikan badannya. Kini berhadap-hadapan dengan Pian.
"Dikau kan punya rumah. Mengapa dikau tak pulang saje, ha? Kenapa harus tinggal-tinggal di tempat orang lain segala."
"Saya nggak akan mau tinggal di rumah kalau Ayah masih ada di sana. Tapi karna rumah itu milik Ayah, makanya saya sendiri yang angkat kaki dari rumah itu." Pian tetap bersikukuh dan keras kepala.
"Tapi, Yan.." Bu Nova diam. Memutar bola matanya ke kiri dan ke kanan.
"Kenapa cikgu?"
"Kemarin waktu saye bawa Sekala ke rumah sakit,"
Sekala adalah anaknya Bu Nova. "Saye tak sengaja tengok Mami dikau ada di rumah sakit."
"Mami di rumah sakit? Ngapain?" Pian tertegun kaget.
"Rasa-rasanya Defrian masuk rumah sakit. Tapi coba dikau pulang dulu ke rumah atau hubungi Mami. Tak ada salahnya kalau sekedar berkunjung kan....."
Setelah mendengar kabar tersebut dari Bu Nova. Saat ini juga, tepat pukul sembilan malam, Pian melajukan motornya pulang ke rumahnya yang berada di jalan Hangtuah.
Sesampainya di sana Pian langsung memarkirkan motornya di depan rumah. Melihat keadaan garasi rumah yang kosong melompong dan mengetuk pintu rumah berulang kali.
Bi Rini, pembantu rumah tangga yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumah itu yang membukanya.
"Eh si Abang sudah pulang..," teriak Bi Rini kaget. Menyebut panggilan Pian dari kecil. Lalu matanya Memperhatikan penampilan Pian dari atas kepala hingga ujung kaki. Dia menggeleng-gelengkan kepala sejenak; Majikannya itu terlihat semakin kurus.
"Ada Ayah di rumah?" tanya Pian was-was sekali.
Bi Rini menggeleng. "Bapak belum pulang, masih di kantornya. Abang cari siapa? Mami juga nggak ada di rumah."
"Mami kemana?"
"Si Abang nggak tau?"
"Tau apa Bi?"
"Defrian masuk rumah sakit."
Dahi Pian mengkerut semakin dalam.
"Sudah berapa lama masuk rumah sakitnya?"
"Dua hari yang lalu kira-kira."
"Sakit apa Bi?"
"Defrian jatuh dari lantai dua." Bi Rini menunjuk ke arah tangga rumah mereka. "Waktu itu dia nangis tanyain si Abang. Eh tiba-tiba udah guling-guling aja di tangga. Terus sampe sekarang belum sadar katanya Mami."
"Sekarang Defrian di rumah sakit mana?"
"Awal Bross, Bang. Kalau kamarnya Bibi kurang tau. Tapi nanti telfon Mami aja kalau Abang mau ke sana." Bi Rini bergegas memberi nomor ponsel Mami yang ditulis di secarik kertas.
Tanpa perlu berpanjang lebar lagi Pian langsung melajukan motornya menuju rumah sakit.
Pikiran Pian berkecamuk.
Banyak yang bilang; rumah adalah tempat di mana kamu di kelilingi oleh orang-orang yang peduli denganmu.
Iya. Pian merasakan semua kepedulian itu saat dia berada di rumah.
Tapi tanpa Bubun. Rumah terasa hampa. Rumah bukan lagi tempat pulang terbaik; di mana selalu ada orang yang memikirkanmu, mencemaskanmu, dan mengkhawatirkan keadaanmu.
Rumah bukan lagi istana atau pun surga. Melainkan neraka setiap kali Pian harus berpapasan dengan Ayahnya.
Kejadian itu berlangsung cepat. Awalnya Pian hidup di lingkup keluarga yang bahagia. Tapi dua tahun yang lalu, sebuah kejujuran sang Ayah berhasil menghancurkan segalanya.
Selama lima belas tahun menikah, Ayah baru mengakui keberadaan Mami dan Defrian. Mami sendiri sebenarnya sahabat baik Bubun. Tapi entah bagaimana ceritanya Ayah memiliki hubungan khusus dengan Mami dan melahirkan seorang Defrian.
Sejak rahasia Ayah terungkap. Pertengkaran demi pertengkaran terus terjadi. Kehadiran Mami dan Defrian tidak bisa diterima oleh Bubun sama sekali. Akhirnya Bubun dan Ayah memutuskan untuk bercerai.
Yang Pian tahu saat itu; bahwa hubungan antara Ayah dan Bubun sudah tidak bisa diperbaiki seperti semula lagi.
Yang Pian tahu saat itu; bahwa Pian telah kehilangan Bubun.
Yang Pian tahu saat itu; bahwa Ayah adalah penyebab kepergian Bubun.
Dan yang dapat Pian ingat saat itu; bahwa Bubun pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Hanya ada sepucuk surat terakhir dari Bubun sebagai hadiah ulang tahun terburuk Pian yang ke lima belas tahun.
dear beloved son, pian
Percayalah, Nak..
Bubun pergi bukan berarti tak sayang. Bubun yakin sekali kalau Ayah dan Mami bisa menjagamu lebih baik daripada Bubun. Bubun juga sangat yakin tanpa bubun di sini kamu di sana akan hidup lebih bahagia.
Suatu hari nanti kamu akan dewasa dan mengerti mengapa Bubun mnelakukan hal ini. Bergelung dengan rasa sakit dan pergi meninggalkan cinta yang sudah sepantasnya untuk ditinggalkan, yakni Ayahmu.
Kelak kamu akan bisa memahami bagian tersulit dalam menentukan pilihan hidup. Mengizinkan cinta pergi dan berhenti berlabuh dari hatimu.
Bubun berjanji suatu hari nanti kita pasti akan bertemu kembali. Entah itu Bubun yang datang kembali padamu, atau kamu yang berjuang mencari keberadaan Bubun.
Bunyi klakson panjang dari sebuah mobil berhasil menghentak dan menghempas Pian kembali ke masa kini. Pian langsung mengarahkan motornya ke kiri dan rem mendadak. Nyaris saja dia bertabrakan dengan mobil tersebut.
Pian menghela napasnya dalam-dalam. Mengusap dadanya berulang kali. Lalu kelingkingnya mengusap mata. Ada setetes air mata yang tanpa sengaja membasahi wajahnya.