NovelToon NovelToon
Sepenggal Kisah Anak Haram

Sepenggal Kisah Anak Haram

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:178.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Ammi Pooja

Cinta Anarya kepada Daneesa menciptakan masalah berkepanjangan hingga berujung pada menderitanya buah hati mereka. Kehamilan Daneesa menjadi boomerang bagi keluarga besar Bramantyo. Pasalnya, mereka tak setuju dengan hubungan Anarya dengan Daneesa.

Kematian Daneesa menjadi awal penderitaan batin yang harus ditanggung oleh Anarya dari masa ke masa. Setumpuk penyesalan tak mampu mengubah apapun dan tak mampu mengembalikan apa yang telah sirna.

Nesa Putri Anarya, itulah nama buah hati mereka yang juga harus merasakan getirnya perlakuan keluarga Bramantyo yang merasa telah tercoreng dengan kehadiran Nesa kecil.

Pernikahan Anarya dengan Lasmi justru menjadikan kehidupan gadis kecil itu semakin dalam kehinaan. Seorang anak yang tak pernah tahu apa kesalahannya, namun dianggap pantas untuk menerima buah dosa dari kedua orang tuanya.

Kisah yang penuh liku-liku kehidupan sehingga memiliki ending cerita yang tak tertebak seperti rahasia kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 32 Bimbang

"Ayah di sini?" Itulah pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh gadis kecil kepada sosok lelaki dewasa di hadapannya.

"Iya, Sayang. Ayah di sini untuk menemani Resti." Tak kuasa pria itu menahan bulir bening, ia mencoba menyeka dengan telapak tangan dan berusaha menyembunyikan kesedihannya.

"Yah, janji jangan tinggalin Resti lagi, ya? Resti kangen Ayah." Gadis kecil itu terisak.

"Iya, Resti sayang anaknya Ayah yang paling cantik. Ayah nggak akan pernah tinggalin Resti lagi. Sekarang jangan nangis, ya?" Anarya membujuk sembari mengelus kepala putrinya, kemudian mencium tangan mungil Resti.

Resti mengangguk sembari tersenyum. Kini, pandangannya beralih ke wanita yang berdiri di sisi kiri ranjang.

"Bu, jangan marah-marah lagi, ya? Resti janji nggak akan nakal lagi, Resti hanya kangen Ayah dan ingin ketemu saja." Ucapan Resti membuat Anarya mengeryitkan dahi, ada curiga muncul di pemikirannya.

Pandangan Anarya ikut menelusuri wajah milik Lasmi, ingin sekali ia dapatkan jawaban atas maksud dari ucapan Resti. "Resti, katakan pada Ayah. Kenapa Resti bisa jatuh dari tangga?"

"Resti hanya kangen Ayah, tapi ...."

"Aku nggak ijinin Resti ketemu kamu, karena aku tahu kamu sedang bahagia dengan istri barumu itu!" sahut Lasmi ketus dan sengit.

"Aku tanya, kamu apain Resti sampai dia jatuh dari tangga?" Nada suara Anarya tak mau kalah.

"Apa pedulimu dengan Resti? Kamu itu hanya sayang dengan anak hasil kumpul kebomu dengan wanita murahan itu!" hardik Lasmi meluapkan emosi.

"Cukup, Lasmi! Aku dan Daneesa itu menikah, bukan kumpul kebo!"

"Ayah ... Ibu ... kenapa kalian berantem lagi?" rengek Resti ketakutan sekaligus sedih.

Anarya seketika menyadari bahwa sikapnya salah di depan Resti, tak seharusnya orang tua bertengkar di hadapan anak.

"Maaf, Sayang. Ayah hanya sedikit emosi, Ayah janji nggak akan marah-marah lagi." Anarya mengelus lembut kepala Resti, ia mencoba menenangkan bocah kecil itu.

"Yah, Resti kangen juga dengan Kak Nessa. Dulu, Kak Nessa selalu bawa kue lapis kesukaan Resti. Kak Nessa juga sering ngajakin main boneka. Resti pengen Kak Nessa tinggal dengan Resti lagi."

"Iya, Sayang. Besok Ayah bawa Kak Nessa ke sini, ya?"

"Ayah janji?" Binar harap terlihat dalam bola bening itu.

Anarya mengangguk, ia genggam jemari mungil yang masih selamat dari kejadiaan naas yang hampir saja merenggut nyawa buah hatinya.

"Sekarang Resti tidur dulu, ya? Ayah mau bicara dengan Ibu di luar. Ayah janji besok akan bawa Kak Nessa," bujuk Anarya yang dibalas dengan anggukan lemah.

Anarya menarik lengan Lasmi dengan sedikit memaksa keluar dari ruang rawat inap. Sesampai di luar ruangan, ia menghempas kasar tangan Lasmi.

"Kamu lihat dan dengar sendiri bagaimana anak kecil yang begitu punya hati menyayangi saudara meski bukan saudara kandungnya?" tanya Anarya, ia berharap kali ini bisa membuat wanita yang pernah ia nikahi itu sadar dengan perbuatannya.

Lasmi hanya terdiam sembari membuang muka, ia seakan tak ingin membalas tatapan dari pria yang membuatnya gila dan berbuat nekad di masa lalu itu.

Kegilaan yang Lasmi lakukan sudah melampaui batas, hingga ia tak segan-segan menghilangkan nyawa Daneesa yang dianggap sebagai rival dalam merebut hati Anarya.

"Lasmi! Lihat aku!" Anarya mengguncang bahu Lasmi dengan rasa geram.

"Buka sisi baikmu meski sedikit saja, belajarlah dari Resti dan Nessa! Mereka anak kecil, namun mereka mampu saling menyayangi!"

"Cukup, Anarya! Sampai mati aku tidak akan pernah terima dengan kekalahan ini!" Lasmi menepis kuat tangan Anarya.

"Aku sudah memberimu kesempatan, delapan tahun aku membersamaimu tapi kamu justru menyiksa anakku!"

"Aku tidak akan menyiksa anak haram jadah itu kalau kamu menyerahkan hati kamu sepenuhnya untuk aku!" Lasmi tak ingin kalah, ia tunjuk dada Anarya dengan kasar.

"Kamu pikir aku nggak sakit hati ketika tahu suamiku sendiri hidup dalam bayangan masa lalu? Pikir pakai otak kamu! Tanya hati nurani kamu, Anarya yang sok baik hati!" Lasmi semakin sinis.

Perkataan Lasmi membuat Anarya terbungkam, bagaimana pun ia juga salah. Ia menerima perjodohan itu, namun selama menikah tak pernah sedikit pun memberikan hati dan cinta kepada Lasmi.

Ya, hati dan cinta itu telah dibawa oleh Daneesa. Tak tersisa sedikit pun rasa untuk wanita lain kecuali wanita yang telah memberikan permata hati sebagai penebus kesalahan.

"Kenapa diam? Menyesal? Seandainya saja dulu kamu menerimaku dengan cinta yang tulus, maka tak perlu kebencian itu hadir dalam hati ini. Kalau saja kamu tak membawa anak haram itu, maka tak perlu aku menjadi orang jahat."

"Hati tak bisa dipaksa, Lasmi!"

"Terserah apa kata kamu! Yang pasti penyebab aku menjadi seperti ini adalah kamu! Sekarang jangan salahkan aku jika Resti yang akan menjadi pelampiasan kekesalanku!"

"Apa maksud kamu? Resti itu anak kandung kamu!"

"Jika kamu peduli dengan Resti, maka ambillah sikap!" Lasmi menatap lekat ke arah netra Anarya, tatapan tajam dan penuh dendam.

"Semua keputusan ada di tangan kamu, Anarya!" lanjut Lasmi, kemudian melenggang masuk ke ruangan lagi.

Anarya sejenak terpegun dengan perkataan Lasmi baru saja. Dalam pikirannya melintas hal aneh yang terjadi pada gadis kecil yang sekarang tengah terbaring di ruang inap itu.

Emosi yang semula meledak-ledak seketika melebur, berubah menjadi kecemasan. Anarya tahu betul karakter Lasmi yang nekad. Entahlah, sebagai wanita tak sedikit pun ia menaruh belas kasihan terhadap orang lain.

Bahkan Lasmi menggunakan orang tuanya yang saat itu sedang di puncak kejayaan untuk menekan orang tua Anarya yang sedang terancam bangkrut. Ia menghasut Bu Bramantyo agar membenci Daneesa dan ikut mendukung setiap rencana jahatnya.

Mengingat itu semua, kepala Anarya tetiba berkunang. Ia jatuhkan tubuh di kursi, ia pegang kuat kepala yang serasa hampir pecah.

Entah harus dengan cara apa mengubah wanita tak punya hati itu untuk menjadi sadar. Haruskah dengan kematian semua akan berakhir?

****

Anarya melangkah lunglai menuju pintu rumah. Wajah lesu dan tak semangat terlihat jelas dalam raut muka yang semakin kusut. Perlahan ia dorong pintu, ia langkahkan kaki dan duduk di sofa ruang tamu.

Ia baringkan tubuh lelahnya dan memejamkan mata. Berkali-kali terdengar helaan napas kasar, pertanda ia dalam kekalutan.

"Sudah pulang, Mas? Kok, nggak kasih salam atau langsung ke kamar?" Tetiba suara Daneela memecah keheningan, membuat Anarya sedikit terperanjat dan bangun dari posisinya.

"Mas capek, Sayang."

"Gimana kondisi Resti?" Daneela duduk di sisi Anarya yang menyandarkan kepala ke bantalan sofa.

"Keadaannya membaik, hanya saja ...." Anarya tak melanjutkan kata-katanya, ia seolah takut akan menyinggung perasaan Daneela.

"Kenapa, Mas?" Netra Daneela menelisik.

"Huff ... Resti minta besok aku bawa Nessa ke sana."

"Ooh ... ya, nggak apa-apa. Aku yakin Nessa juga kangen dengan Resti."

"Kamu nggak keberatan kalau aku sering ketemu Lasmi?" tanya Anarya dengan hati-hati.

"Hehehe ... kamu ini, Mas. Kamu ke rumah sakit untuk ketemu Resti, kan? Bukan Lasmi, lalu kenapa aku harus keberatan?" Daneela merasa geli dengan pertanyaan Anarya.

Anarya memandang wajah ayu milik Daneela, ia sibakkan anak rambut yang jatuh ke wajah wanita yang telah menggeser kedudukan Daneesa di hatinya.

"Apa kamu tak cemburu?" tanya Anarya lembut sembari mengelus pipi  halus bak pualam itu.

"Mas ... aku percaya Mas Narya tak akan luluh dengan bujuk rayu Lasmi. Aku tahu kamu begitu membenci dia." Daneela menggenggam erat jemari lelaki yang pada akhirnya meluluhkan hati yang penuh dendam.

"Terimakasih, Sayang." Sebuah kecupan hangat ia daratkan di dahi Daneela.

Senyum penuh rona bahagia mengembang di kedua bibir mereka. Namun, tak ada yang tahu bahwa pikiran Anarya tengah berkelana penuh dengan intrik yang harus ia selesaikan.

Anarya ingin sekali membawa Resti tinggal bersamanya, namun ketika mengingat golongan darah yang berbeda itu ....

Ya, hati Anarya tengah gundah. Di satu sisi ia sangat menyayangi Resti. Namun, di sisi lain ia tak bisa menerima jika benar Resti bukan anak dari benihnya.

Tetapi jika ia tak mengambil Resti, maka bocah itu mungkin saja akan kehilangan nyawa akibat ulah Lasmi.

"Kok, ngalamun lagi, Mas? Sebenarnya apa yang sedang Mas pikirkan?" Seolah tahu kondisi sang suami, Daneela merasa ada yang disembunyikan darinya.

"Entahlah ... Masih bingung. Mau cerita juga susah mau mulai darimana," jawab Anarya tak semangat.

"Mas ...."

"Mas capek, Sayang. Mas ke kamar dulu, ya?" Anarya melangkah ke kamar meninggalkan Daneela yang masih terpegun melihat suaminya melenggang dengan lesu.

Firasat Daneela tidak enak. Ada hal yang begitu mengganjal dalam hati, bukan masalah Anarya yang sering ke rumah sakit. Namun lebih pada sikap Anarya barusan.

Dengan langkah tergesa, Daneela menyusul Anarya yang hampir saja sampai depan pintu kamar.

"Sebenarnya apa yang Mas Narya sembunyikan? Aku ini istri kamu, jika kamu ada masalah harusnya cerita dari awal, jangan disembunyikan seperti itu."

"Sayang, kita bahas besok, ya? Serius Mas capek."

Anarya mendorong pintu kamar dan segera masuk. Ia rebahkan tubuh, berharap dengan menutup mata akan ia dapatkan jalan keluar. Berkali-kali ia berpikir bagaimana cara mengatasi Lasmi agar tak menjadikan Resti sebagai pelampiasan.

Kebimbangan merasuki hati, antara harus menolong atau membiarkan. Namun, ketika ingat bagaimana lucunya gadis kecil itu, Anarya tak tega untuk membiarkan tersiksa.

Anarya bangkit dari tidurnya, ia melangkah ke arah jendela. Pandangannya jauh menembus langit, pikirannya tak bisa fokus. Ia serasa berada dalam sebuah kondisi yang membingungkan.

"Sebaiknya aku harus cepat urus masalah golongan darah itu. Apapun hasilnya aku akan tetap ... argh! Apa aku sanggup menerima anak yang bukan anakku?" gumam Anarya.

"Tapi jika Resti benar anakku, maka aku akan menyesal seumur hidup membiarkan ia tersiksa."

Beberapa kali dengus kesal terdengar. Terlalu banyak yang ia pikirkan, sehingga tak tahu harus menyelesaikan darimana.

Tanpa Anarya sadari, Daneela melihat semua tingkahnya. Namun, Daneela sengaja hanya diam dan ingin tahu sebenarya apa yang terjadi.

Tampak lelaki dewasa dengan kumis tipis itu mengambil gawai dari kantong celana. Jemarinya asyik mencari sebuah kontak.

"Ma, Narya sore ini mau ke rumah Mama. Mama nggak ada acara keluar, kan?"

"Mama sore ini mau ke rumah Papa yang deket Pak Kirman. Kenapa?" jawab Bu Bram dari ujung sambungan, suara dari loudspeaker itu terdengar jelas di telinga Daneela yang sengaja menguping di balik pintu yang sedikit terbuka.

"Lasmi, Ma." Tampak Anarya kebingungan untuk menyampaikan isi hati yang terus saja menyesak di dada.

"Kenapa lagi dia? Bikin ulah lagi?"

"Mama tahu nggak, dia mengancam akan menyiksa Resti kalau Anarya tidak menuruti kemauan dia."

"Apa? Sudah gila dia, anak sendiri pun tega dijadikan alat!" Suara Bu Bram terdengar penuh emosi.

Daneela yang mendengar ikut terperanjat. Ia pun tak pernah menyangka jika Lasmi senekad itu, apalagi dengan anak sendiri.

"Ya sudah, kamu ambil saja Resti dari dia. Kasihan anak itu," titah Bu Bram.

"Narya bingung, Ma."

"Bingung kenapa? Kamu tinggal ke pengadilan untuk mengajukan hak asuh Resti, dengan bukti bahwa Resti teraniaya oleh ibunya, maka hak asuh jelas akan jatuh ke kamu."

"Narya tahu, Ma. Tapi masalahnya ...." Anarya terdiam sejenak, ia masih saja berpikir apakah orang tuanya perlu tahu masalah perbedaan golongan darah itu.

"Masalahnya apalagi?" Bu Bram semakin penasaran dengan apa yang menimpa anak kesayangannya itu.

Di luar kamar, Daneela juga tak sabar menunggu Anarya mengungkap semua masalah yang sedang ia hadapi.

"Narya!"

"I-iya, Ma." Anarya tergagap oleh teriakan mamanya, sungguh kini ia dalam posisi yang membingungkan.

"Jawab, masalah apa?"

"Kita ketemu saja, Ma. Anarya tidak bisa membahas semua ini di telepon."

"Ya sudah, sore ini kamu datang saja. Mama nggak jadi pergi."

"Iya, Ma. Nanti Narya ke sana. Assalamu'alaikumsalam, Ma."

"Wa'alaikumsalam."

Sambungan telepon diakhiri, namun meninggalkan rasa penasaran yang mendalam bagi Daneela. Ia merasa ada hal besar yang sengaja Anarya sembunyikan darinya, apalagi sampai melibatkan Bu Bram.

Terbersit dalam pikirannya untuk menemui Lasmi dan meminta penjelasan apa yang telah ia lakukan pada Anarya. Tersisip rasa takut jika Lasmi menggunakan Resti untuk memaksa Anarya kembali kepadanya.

Lasmi, ya ... wanita licik dan nekad. Keberadaannya selalu menjadi momok bagi kehidupan Anarya dan Nessa, sekarang Daneela pun harus ikut merasakan bagaimana khawatirnya menghadapi iblis wanita berparas cantik namun hatinya dipenuhi oleh nafsu dan dendam itu.

Daneela menghela napas panjang untuk mentralisir gemuruh di dada, kemudian berjingkat perlahan untuk menjauh dari kamar. Ia tinggalkan Anarya yang kembali merebahkan diri di peraduan dengan pikiran yang terus dibalut kekhawatiran.

1
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
Lasmi klo km masih belum jujur soal siapa ayh biologis Rasti berarti km blm sepenuhnya bertobat, tobatmu masih setengah2 itu😟😟
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
memang benar dan seharusnya Lasmi sadar klo cinta yg dipaksakan itu akn sngt menyakitkan.. lebih baik melepaskannya daripada terus bertahan yg berakibat menderita dihati jg jiwanya😔😔😔
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
cerita yg luar biasa singkat padat dan jelas.. is the best👍💯👍💯
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
Bu Bram seperti kacang yang lupa kulitnya...
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
iya jelas Nesa merasa pernah bertemu Danella soalnya kan Danessa sering muncul di mimpinya Nesa secara Danella kan kembarannya Danessa jadi mngkn wajahnya mirip...
Ayu Dwi S
laki2 lemot emang gk tegas gk ad pendirian patas emg d kibuliin sampe kebenaran istri meninggal pun gk tau,,, tae
Kuswati Kuswati
nangis aq Thor ceritamu bagus banget...
Siti Juleha
emmmm
Siti Juleha
ehem
Delfana
lg nyari bawang
Mikaila Dira Khodijahatika
sex gak butuh cnta
Mikaila Dira Khodijahatika
semangat nessa
Mikaila Dira Khodijahatika
kalau sudah tiada baru terasa
Mikaila Dira Khodijahatika
sedihnya... untung nesa msh unya tante daniela
Mikaila Dira Khodijahatika
smoga nessa bahagia
Mikaila Dira Khodijahatika
lebih baik dgn danela drpd mak tiri kejam
Mikaila Dira Khodijahatika
wanita iblis
Mikaila Dira Khodijahatika
ibu tiri kejam
Mikaila Dira Khodijahatika
kasian nessa
Aran_MouHanAra
bawangnya berapa ton sib ini 😭😭😭😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!