Warning : Cerita ini hanya untuk pembaca dewasa
Pasca berakhirnya pertunangan dengan mantan kekasihnya yang kasar dan super toxic, Lila memutuskan untuk kembali ke Brisbane, kota tempat ia tumbuh bersama empat sahabat masa kecilnya yang dulu ia perlakukan sebagai kacung.
Henry, Jacob, Aiden dan Pierre. Mereka yang dulu Lila anggap sebagai anak buah, kini menjelma menjadi empat pria dewasa yang super tampan dan sangat mapan. Sementara Lila justru bertahan dengan sisa tabungannya dan honor sebagai novelis tidak terkenal yang sangat sedikit.
Setelah dipermalukan oleh Henry di acara reuni SMA, Lila justru mendapatkan kejutan demi kejutan tak terduga dari keempat sahabat masa kecilnya yang diam-diam mencintainya sejak lama.
Jika kamu suka cerita ini, jangan lupa like, coment dan follow ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azmi McFadden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Lengkap
Hari ini...
Henry menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, ia teringat apa yang Aiden ucapkan kemarin bahwa teman yang selalu menolong disaat-saat sulit adalah teman sejati.
Ia mengingat wajah Lila, dari pada benci, rasa cemburu mungkin lebih pantas. Ia cemburu karena Lila jauh lebih kuat darinya, ia cemburu karena Lila selalu tahu apa yang harus ia lakukan. Keberanian dan tekadnya yang kuat itulah yang tidak ada di dalam dirinya sebagai seorang anak laki-laki yang terlahir memiliki begitu banyak keberuntungan dalam hidup.
"Henry, ada apa?" Tanya Amy yang terlihat khawatir padanya. Henry menatap mata Amy, ia tahu bahwa Amy adalah anak perempuan yang baik. Hanya saja ia pun tak bisa melihat sisi baik Lila, sama seperti dirinya.
"Teman-teman maaf, pestanya cukup sampai di sini saja!" Ujarnya.
"Apa maksudnya? Pestanyakan baru saja dimulai, kenapa sudah selesai?" Tanya Charlie. Anak-anak yang lain bingung dengan ucapan Henry. Mereka tak mengerti mengapa mendadak Henry ingin pestanya berakhir.
"Maaf, tapi aku tidak bisa melanjutkannya! Aku-"
"Henry, kami datang...!" Suara penuh semangat Aiden terdengar dari arah pintu. Sontak, Henry dan teman-temannya yang lain langsung menoleh ke sumber suara.
Aiden, Pierre dan Jacob datang dam berjalan menghampirinya dengan bingkisan hadiah yang mereka bawa masing-masing.
Aneh, Henry merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Untuk sesaat ia berharap Lila datang bersama Aiden, Pierre dan Jacob seperti tahun-tahun sebelumnya. Di mana kedatangan Lila langsung membuat suasana menjadi meriah. Namun di pesta ulang tahunnya tahun ini, Lila tidak datang seperti yang ia harapkan sebelumnya.
"Selamat ulang tahun!" Ucap Jacob sembari menyerahkan hadiah yang ia bawa.
"Terima kasih!"
"Aku hanya bawa salah satu koleksi kumbang tanduk yang aku tangkap. Kalau kau mau, ambil ini!" Aiden menyerahkan kotak berisi kumbang tanduk yang ia tangkap kemarin.
"Ini hadiah dariku dan juga hadiah dari Lila!" Ucap Pierre sembari menyerahkan hadiah darinya dan sebuah kotak hadiah yang dititipkan Lila padanya untuk diserahkan kepada Henry.
Tangan Henry gemetar. Matanya mulai basah, ia menerima hadiah dari seorang teman yang telah ia sakiti hatinya.
Melihat Henry yang sepertinya sedang menahan tangis, Aiden bisa memahami penyesalan yang Henry rasakan saat ini.
"Nenekku pernah bilang bahwa luka fisik itu bisa diobati seiring berjalannya waktu, namun luka di hati tidak akan bisa disembuhkan." Kata Aiden. Entah apa maksud dia mengatakan hal ini, namun tampaknya dia hanya ingin mengingat Henry arti sebuah persahabatan
"Hiks..." Henry menangis. Air matanya menetes membasahi hadiah dari Lila yang ada di tangannya.
Dengan rasa penyesalan yang sangat besar, ia membuka hadiah yang Lila berikan. Sepasang sarung tangan tinju berwarna merah dan secarik kertas bertuliskan :
'Selamat ulang tahun, pecundang! Pakai ini dan berlatihlah agar kau menjadi kuat dan menghajar orang-orang tidak berguna itu!'
Henry tertawa membaca surat khas yang hanya bisa ditulis oleh Lila. Dan sekarang, ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia berlari meninggalkan kerumunan teman-temannya yang sudah berkumpul untuk merayakan pesta ulang tahunnya bersama.
Ia berlari cepat menuju rumah Lila dan meminta Lila untung datang ke pestanya.
"Dia pergi? Pergi kemana?"
"Bukankah ke pesta ulangtahunmu? Tadi dia bilang dia akan pergi ke pesta ulangtahun Henry!" Ujar Ibu Lila yang terlihat bingung dengan kedatangan Henry.
"Dia berbohong pada ibunya? Pasti sebelumnya dia sudah bilang tentang pesta ulangtahunku. Bagaimana ini? Di mana dia sekarang?" Batinnya. Ia mulai merasa gelisah.
"Henry, ada apa?"
"Ti-tidak, Bibi! Mungkin dia sedang dalam perjalanan ke rumahku. Baiklah, aku akan mencarinya!"
Dengan kepanikan, ia berlari menyusuri jalan yang biasa Lila lewati setiap hari dan berharap bisa menemukan Lila di sini. Namun, semua jalan sudah dia lewati dan sudah hampir 30 menit berlalu sejak ia meninggalkan pestanya, Lil tetap tidak ditemukan.
Ia yang mulai putus asa memutuskan untuk menyerah. Ia berdiri di depan Taman Rottenbir, di mana suara ayunan terdengar dari sini. Matanya tertuju pada sosok anak perempuan berambut hitam pendek dan memakai kaos serta celana ponggol duduk diayunan seorang diri.
Air matanya mengalir lagi, namun ia tak ingin Lila melihatnya dalam keadaan seperti ini. Buru-buru ia menghapus air matanya dan melangkah menghampiri anak perempuan itu yang menatapnya dengan bingung.
"Sedang apa kau di sini? Bukankah seharusnya pestanya sudah dimulai?" Tanya Lila dengan tenang tanpa menyimpan rasa dendam.
"Iya, pestanya sudah dimulai!"
"Terus, kenapa kau ada di sini?"
"Aku tidak tahu! Entah kenapa aku pergi dari pesta ulangtahunku dan berlari selama 30 menit untuk mencari seseorang. Aku ini benar-benar bodoh ya?"
"Ya, kau memang bodoh! Anak perempuan yang kau sukai, apa dia datang ke pestamu?"
"Iya, dia datang!"
"Baguslah! Kau pasti senangkan?"
"Entahlah, aku merasa tidak terlalu senang!"
"Kenapa? Apa pestanya masih kurang meriah? Kenapa tidak minta pesta di hotel milik ayahmu saja?"
"Tidak, bukan karena itu!"
"Terus kenapa? Apa kue ulangtahunnya kurang bagus? Atau tamu yang datang kurang ramai?"
"Tidak! Semuanya sudah bagus!"
"Kalau sudah bagus, lantas kenapa wajahmu murung begitu?"
"Aku merasa tidak lengkap. Seperti ada yang kurang!"
"Tidak lengkap? Apa yang kurang?"
"Mungkin karena kau tidak ada, raanya jadi tidak lengkap!" Henry tertunduk pilu. Ia malu menunjukkan wajahnya yang seperti ini kepada Lila, seseorang yang ia anggap sebagai rivalnya.
Mendengar pengakuan Henry, Lila menjadi bingung. Dia sudah melakukan apa yang Henry inginkan untuk tidak datang ke pestanya dan membuat kekacauan. Namun sekarang justru Henry yang mencari-cari dirinya dan meninggalkan semua yang sudah menunggunya.
"Kau ini aneh sekali! Kemarin kau yang minta aku untuk tidak datang! Bukankah bagimu, aku ini hanya pembuat masalah?"
"Ya, kau memang pembuat masalah dan kau juga sangat menyebalkan. Tapi, jika kau tidak ada rasanya seperti tidak lengkap. Aku sudah terbiasa dengan kekacauan yang kau sebabkan. Karena itu, lebih baik jika kau mengacau seperti biasanya saja!"
"Hahahaha..." Lila tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan konyol yang keluar dari mulut sang tuan muda yang kaya raya ini. Rasanya sangat mustahil seorang Henry Ferdinand Walter memohon dengan wajah memelas seperti itu.
"Ke-kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?" Henry yang paling benci ditertawakan, merasa harga dirinya diremehkan.
"Hahahaha...ya ampun! Bukan begitu caranya memohon pada seseorang!"
"Memohon? Siapa yang memohon?"
"Kau memohon padaku untuk datang ke pesta ulang tahunmukan?"
"Apa? Untuk apa aku melakukan hal itu? Cih, ya sudahlah! Aku pergi saja dari sini! Aku sudah tidak peduli!" Ucapnya sembari beranjak dengan ragu-ragu.
"Kau serius? Kalau begitu, aku tidak mau datang ke pestamu!"
"Masa bodoh!" Meski bertingkah seolah dia sudah tidak peduli. Namun kedua kakinya masih tertahan dan sulit untuk digerakkan.
"Aku akan datang dengan satu syarat!"
"Apa itu?"
"Kau hanya perlu mengatakan di depan semua orang di pesta bahwa Camila Adriana Cohen adalah yang terhebat dan aku, Henry Ferdinand Walter tidak ada apa-apanya!"
"Apa? Kenapa aku harus mengatakan omong kosong seperti itu? Aku tidak mau!"
"Ya sudah, kalau begitu aku tidak mau datang!"
"Terserah! Aku tidak peduli lagi!" Henry benar-benar menolak permintaan Lila dan memilih untuk angkat kaki sebelum dia berubah pikiran lagi.
Namun, Lila masih tetap tak bergeming di ayunan. Itu membuat Henry semakin kesal karena hati dan pikirannya bertentangan. Ia menghentikan langkahnya, hanya kali ini saja ia mencoba untuk mengalah.
"Baiklah! Aku akan mengatakannya di depan semua orang. Kau puaskan?"
"Hmm...baiklah, aku akan datang ke pestamu!" Lila tersenyum lebar karena berhasil mempermainkan Henry dan sekarang, ia bisa datang ke pesta ulangtahun dan makan sepuasnya seperti yang ia inginkan.
Mereka berjalan berdampingan, namun Henry hanya diam dan terlihat kesal. Ia sedikit menyesal karena sudah menyetujui syarat dari Lila.
"Lupakan saja!"
"Apa maksudmu?"
"Aku hanya ingin makan sepuasnya di rumahmu dan bermain dengan teman-teman yang lain!"
"Benarkah?"
"Ya! Tapi lain kali aku akan menagihnya!"
"Cih, kadang-kadang kau ini baik juga ya?"
"Hahaha...tentu saja karena ada sesuatu yang aku inginkan!"
"Sudah kuduga!"
***