NovelToon NovelToon
Bukan Kontrak Pernikahan

Bukan Kontrak Pernikahan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / CEO / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:27.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adinasya mahila

Warning!
(Kram perut yang disebabkan membaca cerita ini tidak ditanggung BPJS, Jika gejala berlanjut hubungi Otor)


Bianca Nataniasunny seorang gadis mandiri dan sedikit arogan harus menjalani pernikahan tanpa cinta dengan seorang pria bernama Skala Prawira yang tak kalah arogan seperti dirinya. Kedua mahkluk itu sama-sama mengincar warisan dari keluarga mereka dan sepakat untuk melakukan kerjasama.

Menikah tidak membuat mereka lantas dengan mudah saling mencintai. Pertengkaran yang berujung kekonyolan menjadi santapan mereka sehari-hari.

"Kalau gue Anaconda loe Piranha Amazon," ~ Ska.

"Hah...ogah gue sehabitat sama loe," ~ Bian.

Tanpa Skala dan Bianca sadari jeratan takdir masa lalu telah mengikat keduanya.

_
_
_

Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Bakat Terpendam

Mata semua orang tertuju pada Bian, bahkan Nuna pun ikut berdebar saat sang tante tiba-tiba duduk di depan piano. Gadis kecil itu mendekat ke arah Skala.

"Kamu bilang Istri om tidak bisa main piano, iya kan?" tanya Ska cemas, ia benar-benar tidak ingin Bian mempermalukan dirinya sendiri di depan banyak orang.

"Iya om, apa onty akan main piano pakai kaki?" Nuna menatap bingung ke arah Ska, hampir saja Ska mencubit pipi Nuna arena terlalu gemas dengan jawaban anak itu.

Bian menatap ke arah Juan, pria itu tersenyum kepadanya sambil mengangguk, memberikan kode kepada MC acara untuk memberikan Bian microphone. Feli yang melihat hanya bisa mengangkat kedua alis matanya, heran bercampur penasaran.

Tangan Bian mulai meniti tuts, perlahan ia membuka mulutnya untuk berbicara.

"Pesta ulang tahun yang menandakan bertambahnya umur entah kenapa selalu membuatku rindu dengan seseorang, mungkin karena aku sadar sudah tidak bisa melihat raganya lagi." Bian menatap Papanya kemudian Prawira. "Kakek selamat ulang tahun untuk PG group, izinkan aku memainkan sebuah lagu yang pernah mamaku ajarkan."

Prawira menganggukkan kepala, bibirnya tersenyum hangat ke arah cucu menantunya itu, kemudian menepuk pundak Nataniel yang berada di sampingnya.

Bianca memainkan sebuah lagu, terlihat mustahil bagi semua orang ternyata gadis itu lihai memainkan piano. Lagu Flight of the Bumblebee milik Rimsky-Korsakov, bahkan begitu apik ia bawakan.

Membutuhkan perpindahan jari yang cepat dari tuts satu ke yang lain, jelas Bian bukanlah amatiran, apalagi saat Juan ikut memainkan biolanya seolah sedang berduet dengan Bian, semua orang terlihat terkagum-kagum.

Skala menatap istrinya, terpana sampai tak mengedipkan mata, membuat Felisya meremas samping gaun yang ia kenakan, terlihat jelas hanya ada Bianca di mata mantan kekasihnya itu.

Bian turun dari atas panggung setelah menunjukkan bakat yang ia sembunyikan selama ini dari semua orang. Ska tersenyum masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Bibir laki-laki itu terus saja melukis sebuah lengkungan sambil menatap ke arah Bian yang berjalan mendekat, saat gadis itu membalas senyumannya, Skala memilih memalingkan muka sambil menenggak minuman di tangannya. Jelas laki-laki itu telah terpesona.

Nuna yang tak kalah kagum dengan penampilan tantenya meminta Bian untuk menundukkan sedikit badannya, anak itu membisikkan sebuah kalimat yang membuat seringai lebar terbit dari bibir tantenya.

"Om Ska menatap onty terus dari tadi."

Malam itu mereka berpesta dan bersenang-senang. Sang nahkoda mengarahkan The Queen Miri menuju pulau yang akan mereka datangi. Menerjang Samudera, kapal itu sesekali bergoyang di terpa ombak.

"Apa tidak dingin?"

Bian yang berdiri di bagian depan kapal menggunakan gaun dengan punggung terbuka lebar menoleh kaget, mendengar suara yang jelas bukan milik suaminya.

"Kamu bisa terkena demam," ucap Tama yang langsung melepas jasnya untuk dikenakan ke pundak Bianca.

"Terima kasih," ucap Bian yang memandang Tama heran karena laki-laki itu bukannya langsung pergi, tapi malah berdiri di sampingnya untuk sama-sama melihat pantulan bulan dari permukaan air laut.

"Kamu memukul telak Feli, ha?" Tama tersenyum menatap Bian yang tiba-tiba menjadi salah tingkah.

"Semua orang yang mengetahui hubungan masa lalu Feli dan Ska pasti menyadari, bahwa tadi Feli ingin membuatmu malu di depan semua orang."

Bian menyipitkan matanya, entah mengapa merasa laki-laki di sebelahnya seolah tengah menyudutkan Istrinya sendiri.

"Apa menyakitkan untukmu mengetahui bahwa Feli masih mencintai Ska?" tatapan Bian penuh pertanyaan, Tama memandang dalam ke manik Istri sepupunya itu sebelum memalingkan muka dan berdecih.

"Menyakitkan? untukku? aku sama sekali tidak peduli." Jujur, Tama seolah membongkar kondisi rumah tangganya kepada Bian.

"Apa kamu tidak menyukai Feli? meskipun terpaksa, jika sering bertemu dan bersama apa tidak ada sedikit rasa di hatimu? misalnya jantungmu berdetak tak karuan atau mencemaskan keadaannya jika tak melihatnya untuk beberapa saat?"

Mereka saling tatap, Bianca menaikkan alis matanya menunggu jawaban dari Tama. Namun, laki-laki itu hanya terdiam.

Tiba-tiba kapal itu oleng, membuat Bian yang mengenakan heel sepuluh centi limbung. Dengan sigap Tama memegang kedua pundak gadis itu.

"Terima kasih." Bian sedikit salah tingkah. "ini sudah malam sebaiknya masuk ke dalam." ucapnya sambil berlalu masuk ke dalam kapal meninggalkan Tama disana dengan sebuah rasa yang tidak bisa dijelaskan.

***

"Darimana loe?"

Ska yang sudah duduk di atas ranjang menatap tajam ke arah Bian, apalagi tanpa sadar Bian masih mengenakan jas milik Tama.

"Jas siapa yang elo pake?"

"Tama," jawabnya enteng.

"Hah...apa dia ingin merebutmu juga?" gerutu Skala.

"Apa?"

Bian yang sibuk melepaskan kalung dari lehernya menatap ke arah suaminya, sekedar ingin memastikan kalimat yang terlontar dari bibir Skala.

"Tidurlah, kita harus menjelajah pulau besok, sial!kenapa kakek memilih merayakan ulang tahun PG group seperti itu, apa dia pikir kita ini anak pramuka," gerutu Ska sambil membaringkan tubuhnya ke samping.

Bian yang sudah selesai berganti baju ikut merebahkan badannya membelakangi Skala, lalu menarik selimut sampai menutupi dadanya. Kapal itu beberapa kali terasa bergoyang karena terpaan ombak, membuat Bian susah memejamkan matanya.

Melebarkan netranya, Bian terkejut mendapati Ska meringsek ke arahnya, laki-laki itu melingkarkan tangan ke pinggangnya, memeluk erat tubuhnya dari belakang. Mencoba melepaskan pelukannya, Ska malah lebih mempererat pelukannya.

"Loe bakal gue denda, meluk seperti ini ga ada dalam kontrak kita," lirih Bian sambil masih mencoba melepaskan pelukan Skala.

"Hem... berapa lima puluh juta? seratus juta? satu miliar?" jawab Ska. "Jangan Ge-er gue cuma ga mau elo tidur muter-muter kek gangsing yang jelas akan merugikan gue yang satu ranjang sama loe."

"Merugikan apa? aneh?" cicit Bian.

"Kalau elo nendang gue sampai jatuh, terus gue amnesia gimana? gue ga mau om Maher tertawa bahagia." Skala makin mempererat pelukannya.

"Emang kenapa sih sama om loe itu?" Tanya Bianca yang mulai pasrah dipeluk suaminya.

"Udahlah tidur, besok kita main di pantai. Bukannya loe suka pantai?"

"Darimana loe tahu? Ska? ishhh."

Tak mendapat jawaban Bian mencebikkan bibirnya kesal, sementara Ska terlihat tersenyum sambil memejamkan matanya.

***

Pulai bernama Kilikili itu terlihat masih asri, memiliki pasir putih yang masih alami, entah berapa miliar uang yang di keluarkan Prawira untuk membeli pulau itu.

Bian terlihat bermain dengan ombak bersama Brian dan Nuna, sementara Ska hanya memandangi istrinya itu dari kejauhan, ia tak menyangka enam bulan dari awal pertemuaanya dengan Bian bisa membuatnya mulai menyukai gadis itu.

Setelah puas bermain air, mereka mulai menjelajahi pulau, terlihat burung-burung dan pohon mangrove di sisi lain pulau itu. Prawira yang berjalan santai berseloroh ke Nataniel, dan jelas didengar oleh seluruh telinga rombongan.

"Pulau ini akan aku berikan ke Bianca sebagai hadiah jika dia melahirkan anak pertamanya dengan Ska besok."

Tawa Prawira lepas diiringi senyuman Nataniel, pipi yang merona merah dari Bianca dan Ska yang menahan malu sambil menggosok hidungnya, sementara yang lain terlihat tidak suka atau lebih tepatnya iri mendengar ucapan Prawira tadi.

Mereka berkeliling pulau hingga hampir petang, dimana di sudut yang lain dari pulau itu terdapat aktifitas yang mereka tidak tahu.

Brian terlihat berbalik berjalan menjauh dari rombongan yang akan naik kembali ke kapal, menyadari hal itu Bian mengejar sang kakak tiri, sayang ia kehilangan jejak. Kebingungan sekaligus khawatir gadis itu malah semakin berjalan menjauh dari lokasi Brian berada.

Nuna yang diminta Salma untuk mencari Brian terlihat kesal, ia menarik tangan om nya itu sambil cemberut. "Ayo om kita ditunggu, nanti kita ketinggalan kapal!"

Brian malah bercerita soal burung berwarna merah, kuning dan biru yang baru saja ia lihat ke Nuna.

Merasa semua orang sudah naik ke atas kapal sang Nahkoda kemudian menjalankan kemudinya untuk kembali pulang.

Bian yang tersesat terlihat kebingungan, ia berusaha mengingat jalan kembali ke pantai, gadis itu setengah berlari saat melihat lautan.

Ketakutan, matanya melihat kapal mereka sudah menjauh, Bian mengambil ponselnya untuk menelpon Skala, ia menjambak sebelah rambutnya karena ternyata tidak ada sinyal di sana. Gadis itu berjongkok menunduk sambil menangis ketakutan, bibirnya berbisik lirih memanggil nama sang mama dan Skala.

Hari mulai gelap dan Bian masih berjongkok sambil menangis, ia semakin gemetar saat melihat sosok bayangan tinggi berdiri di belakangnya karena sorot cahaya dari bulan yang mulai nampak.

_

_

_

_

_

_

_

_

_

Note : Kilikili sebenarnya sebuah nama pantai di daerah Jawa Timur, Na suka sama namanya jadi disini Na bikin sebagai nama pulau 😍 jangan tanya apa The Queen Miri bisa berlayar sampai ke Indonesia ya, karena Na cuma punya pengalaman naik kapal penyebrangan doank 🤣🤣🤣🤣

LIKE

KOMEN

VOTE

1
febby fadila
masih misteri ya, semoga cepat di temukan pelakunya
febby fadila
aku nggak lihat /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
febby fadila
mantap good bianca salah cari lawan kamu ska istrimu itu lbih segalanya 🤣🤣🤣
febby fadila
ya ampun ya ampun ya ampun 🤣🤣🤣🤣
febby fadila
seharusx ular cobra ya kan 🤣🤣🤣🤣🤣 banyak bisanya
febby fadila
hm hm semoga aja kecentol lagi sama bianca biar cepat hamil
febby fadila
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 astaga suntik mati aja sekalian 🤣🤣🤣
febby fadila
panas panas panas panas wkwkkwwkwk
febby fadila
penasaran ni siapa yg bakalan hamil duluan ini feli apa bianca
febby fadila
sabar ya bayu kedua atasan kamu itu lagi mabuk cinta 🤣🤣🤣
febby fadila
kira² siapa yg duluan hamidun ini
febby fadila
waaa habis mabuk bian sama ska makin mesrah tp beda sama tama dan feli bakalan perang ini mah 🤣🤣🤣
febby fadila
hmmm nggak ada lagi ya cucu laki² prawira ini untuk aku jadikan mantu 🤣🤣🤣🤣
febby fadila
tamia aku kira tomi² 🤣🤣🤣
febby fadila
wooww sial benar pasutri baru ini 🤣🤣
febby fadila
razia di pagi buta 🤣🤣🤣
febby fadila
pacaran setelah nikah tu enak nggak rakut dosa bebas mau ngapain ♥️♥️
febby fadila
hmmm tama mau jadi pebinor sama kek istrinya yg mau jadi pelakor 🤣🤣🤣
febby fadila
uuuuu klw yg ganteng nan cakap bgni jiwa haluku meronta ronta 🤣🤣🤣🤣
febby fadila
sabar ya Skala 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!