NovelToon NovelToon
Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:940.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rosma Sri Dewi

Sering mendapat bully karena penampilannya yang terkesan biasa, Ayesha Candramaya, gadis berusia 17 tahun terpaksa memutuskan untuk pindah sekolah.

Karena ingin membuktikan kalau masih ada pria yang menerimanya apa adanya pada orang-orang yang suka membulinya, Ayesha memposting photo seorang pemuda tampan yang dia klaim pacarnya. Tanpa dia sadari photo pemuda tampan yang dia post itu adalah seorang siswa populer di sekolah barunya yang tidak lain Brian Athariz, seorang pemuda berprestasi baik di akademik maupun di Basket. Selain itu, ia juga putra dari seorang pengusaha yang memiliki perusahaan raksasa dan nomor satu di Indonesia.

Karena hal itu, Ayesha yang merasa tidak enak hati,menjadi sering berurusan dengan Brian yang super dingin. Mereka lambat laun jadi dekat dan tanpa sadar menimbulkan benih cinta di hati mereka berdua.Namun karena kesalahpahaman,mereka saling membenci dan terpisah jarak dan waktu. Akankah mereka bertemu lagi? dan apakah kesalahpahaman mereka akan selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Sri Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana ke Paris

Brian dan Radit kini sudah tiba di apartemen yang disewa Radit setelah mereka selesai sarapan di sebuah food court.

Begitu masuk, Brian langsung menghempaskan tubuhnya baring di sofa.

"Ahh, aku ngantuk. Tadi malam aku gak bisa tidur tenang di pesawat," keluh Brian sembari memejamkan matanya.

Radit meraih bantal sofa dan memukulkannya ke kaki Brian. "Kalau ngantuk, kamu tidur di kamar, biar lebih nyaman. Kalau tidur di sini nanti badanmu sakit," ucapnya.

Brian kembali membuka matanya dan duduk.

"Aku tidur di kamar mana, Sob?" tanya Brian sembari menahan kantuk.

"Tuh!" Radit menunjuk ke arah kamar yang bisa dipastikan bukan tempat Radit biasa tidur.

Brian menganggukkan kepalanya dan berdiri. Baru saja berdiri dan nyaris melangkah, tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Brian mengembuskan napas kesal, karena yakin kalau yang menghubunginya adalah Vania.

"Ahh, bodo amatlah!" Brian mencoba mengabaikan panggilan yang masuk ke handphonenya, mendiamkan sampai ponselnya itu berhenti berbunyi

Setelah berhenti, ia pun kemudian mengayunkan kaki, hendak kembali melanjutkan langkahnya. Namun, lagi-lagi ponselnya berbunyi.

"Sudahlah, Sob, kamu angkat saja!" ucap Radit.

Brian menghela napas dengan sekali hentakan dan merogoh sakunya, untuk. Mengeluarkan ponsel.

"Eh, bukan Vania. Ini Arga," tenyata dugaan Brian salah. Yang menghubunginya adalah sahabatnya.

"Kenapa, Ga?" sahut Brian tanpa basa-basi.

"Kamu di mana? Kenapa tidak ada yang bukain pintu?" terdengar suara Arga yang protes dari ujung sana.

Mata Brian sontak membesar karena tiba-tiba teringat akan sesuatu.

"Astaga, sorry Sob. Aku lupa kalau kamu dan Kenjo akan ke tempatku. Aku sekarang tidak di rumah," Brian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

"What? Jadi kamu di mana? Jangan bilang kalau kamu juga lupa minta Radit datang ke tempatmu juga!" pekik Arga.

Brian nyengir kuda, walaupun sahabatnya di ujung sana tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.

"Justru itu,Sob. Aku tidak minta dia datang, justru aku yang ke tempatnya dan sekarang aku bersama dengan Radit,"

"Eh, ******! kamu yang minta kita ke sini, malah kamu yang pergi. Benar-benar ya!"

Tawa Brian sontak pecah, demikian juga dengan Radit yang mendengar pembicaraan dua sahabatnya itu. Tawa mereka berdua semakin pecah ketika mendengar suara Kenjo yang juga mengumpat.

"Kalian berdua lebih baik menyusul kami ke sini. Nanti untuk ongkos pesawatnya aku yang nanggung, itung-itung konsekuensi kesalahanku," usul Brian setelah tawanya reda.

Terdengar helaan napas Arga dari ujung sana. Sepertinya laki-laki diujung sana sedang berusaha meredam rasa kesalnya.

"Sob, masalahnya sekarang kami ini capek," ucap Arga. "Atau begini saja. Nanti malam saja kami ke sana. Kami istirahat dulu di apartemen kamu," sambung Arga lagi.

"Emm, boleh deh!" sahut Brian, singkat.

"Terus?" tanya Arga, ambigu.

"Terus apa? Kan sudah aku bilang boleh," Brian mengernyitkan keningnya.

"Apa kamu kira kami makhluk astral, yang bisa masuk, dengan menembus pintumu ini? Kami butuh pin pintumu ini, bego!" umpat Arga. Sepertinya kesabaran sahabat Brian itu, setipis tissu.

Brian sontak terdiam. Dari raut wajahnya terlihat bimbang, antara mau memberi tahu pin apartemennya atau tidak.

"Sob, kenapa diam saja? Arga lagi menunggu tuh," tegur Radit.

"Brian, sampai berapa lama lagi kami menunggu?" kekesalan Arga semakin menjadi-jadi.

"Emm, bagaimana kalau kalian berdua menginap di hotel saja?" bukannya menyebutkan PINnya, justru Brian melontarkan saran yang bisa membuat orang naik darah.

"Ian, bukannya kami tadi sudah mengatakan kalau kami ini capek? tapi kenapa kamu malah meminta kami untuk mencari hotel lagi? Itu sama saja kamu membuat kami semakin capek," Arga masih berusaha menekan suaranya.

"Lagian, kenapa kamu berat memberikan PIN nya? Apa kamu takut kalau kami akan mengambil sesuatu milikmu yang berharga? Kamu tidak percaya pada kami?"

Brian kembali menggaruk-garuk kepalanya, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu benar-benar terlihat sangat berat untuk menyebutkan 6 angka yang dia gunakan sebagai PIN apartemennya

"Brian, kamu benar-benar tidak percaya kami ya?" Arga kembali bersuara.

"Bukan seperti itu ... Argh, baiklah, PIN nya ...." Brian akhirnya menyebutkan 6 angka yang sangat dirahasiakannya itu.

"Tunggu, sepertinya aku ingat 6 angka ini. Bukannya ini tanggal__"

"Sudah, jangan banyak tanya lagi! Kalau mau masuk, masuk saja. Sekarang aku juga mau istirahat. Aku ngantuk!" sela Brian, sebelum sahabatnya di ujung sana semakin banyak bertanya.

"Iya, baiklah. Terima kasih!" sahut Arga akhirnya.

"Kata sudah melupakan dan sangat benci dengan Ayesha, tapi PIN apartemen pakai tanggal jadian," celetuk Arga. Sepertinya sahabatnya itu, mengira kalau Brian sudah memutuskan panggilan.

"Hei, aku masih mendengarmu!" pekik Brian.

"Eh, maaf!" panggilan langsung diputuskan oleh Arga dari ujung sana.

"Sialan!" umpat Brian. Rasa kantuk yang tadi sempat dirasakannya, menguap entah kemana.

"Jadi, PIN apartemen kamu tanggal jadianmu dulu dengan Ayesha?" cecar Radit, dengan raut wajah penasaran.

"Kenapa? Kamu mau mengejekku?" Brian melemparkan tatapan tajam ke arah Radit.

"Jangan tatap aku seperti itu! Kamu kira aku akan takut?" tantang Radit.

"Emm, ya ... tentu saja aku takut," sambung Radit lagi, ketika melihat tatapan Brian yang semakin tajam.

Brian kemudian berbalik, mengayun kakinya hendak melangkah masuk ke kamar yang tadi ditunjuk oleh Radit

"Brian, tunggu dulu!" Brian kembali menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Radit.

"Apa lagi?" tanya Brian, singkat.

"Emm, bagaimana kalau kita semua libur ke Paris? soalnya aku pengen lihat menara Eiffel," Radit memberikan usul.

Brian terlihat diam sejenak, mempertimbangkan usul yang diberikan Radit.

"Ya, Tuhan mudah-mudahan Brian mau. Gak tenang juga aku kalau di sini. Aku tidak bisa mencegah kalau seandainya bertemu dengan Ayesha dan Retha di suatu tempat yang akan kami kunjungi nanti. Mana Arga juga akan ke sini lagi," batin Radit penuh harap.

"Baiklah kalau begitu. Sepertinya usul kamu boleh juga," Radit mengembuskan napas lega, mendengar Brian mengiyakan usulnya.

"Kamu hubungi saja, Arga dan Kenjo. Bilang agar mereka berangkat langsung dari sana dan kita bertemu di Paris!" lanjut Brian lagi.

"Emm, tapi bagaimana dengan Kenjo? Apa dia punya cukup uang?" ucap Radit. Ya, di antara mereka ber empat, hanya Kenjo lah yang bukan putra seorang pengusaha. Ia hanya putra seorang pria yang bekerja di perusahaan Bima, papanya Brian. Memang, gaji yang di dapatkan papa Kenjo cukup besar mengingat papanya memiliki jabatan yang tinggi di perusahaan itu, tapi tetap saja pria itu tidak sekaya Brian dan dua sahabat lainnya. Bisa dipastikan juga, Kenjo bisa sampai ke Amerika juga karena Arga.

"Kalau untuk masalah itu, biaya dia, aku yang tanggung semua," pungkas Brian.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di lain tempat, tepatnya di sebuah cafe tampak Ayesha sedang duduk sembari menikmati kopi bersama dengan Deril.

"Jadi, nanti malam kamu dan Retha akan ke Paris?" tanya Deril dan Ayesha menganggukkan kepalanya.

"Kenapa aku dan Reza tidak bisa ikut?" wajah pria itu terlihat kecewa.

"Kak, bukannya aku tidak mengizinkanmu ke sana. Silakan kalau Kakak mau! Tapi ...." Ayesha menggantung ucapannya.

"Tapi apa?" Deril mengernyitkan keningnya.

"Tapi, jangan pergi bersamaku!" sahut Ayesha Dena ekspresi wajah, merasa tidak enak.

"Kenapa tidak boleh pergi bersamamu?"Deril terlihat semakin bingung.

Ayesha tidak langsung menjawab. Gadis itu, menggigit bibirnya, karena merasa semakin tidak enak hati, mengucapkan alasannya.

"Kenapa, Ayesha?" ulang Deril.

"Emm, karena aku sudah menekankan dalam hati, kalaupun aku memang harus pergi ke Paris dengan seorang laki-laki ... Laki-laki itu, kalau bukan papaku, setidaknya dia itu harus laki-laki yang aku cintai," ujar Ayesha.

Air muka Deril sontak berubah sendu, mendengar alasan yang cukup menyakitkan baginya.

"Apa itu berarti kamu belum bisa membuka hatimu padaku, Ayesha?" nada suara Deril terdengar sangat lirih.

"Emm, maaf Kak!" sahut, Ayesha lirih.

"Apa itu karena kamu belum bisa melupakan laki-laki itu?" tukas Deril.

Ayesha tidak menjawab sama sekali.Tapi, diamnya gadis itu, sudah bisa membuat Deril mampu untuk mengambil kesimpulan.

"Aku bingung ... kenapa kamu masih sulit melupakan laki-laki itu, padahal dia sudah menyakitimu, Yesha? Sedangkan aku ... Sudah dua tahun ini, aku selalu ada di sampingmu dan melakukan apapun yang aku bisa, untuk membuatmu jatuh cinta denganku, tapi kenapa sangat sulit untuk kamu bisa membalas perasaanku, Yesha?" Deril terlihat mulai berapi-api.

"Maaf, Kak!" Desis Ayesha, lirih dan dengan raut wajah sendu.

Deril menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara. Ingin dia meluapkan amarahnya, agar perasaannya lega, tapi melihat wajah Ayesha, sungguh dia tidak mampu.

"Untuk apa minta maaf? Kamu tidak salah sama sekali.Aku saja yang terlalu berharap. Itu mungkin karena aku terlalu mencintaimu, tapi sungguh aku sadar kalau cinta tidak bisa dipaksakan, Ayesha. Karena sekeras apapun aku mengejarmu, kalau kamu tidak mau, aku bisa apa," tutur Deril panjang lebar tanpa jeda.

Ayesha kembali menggigit bibirnya. Sumpah demi apapun, perasaan gadis itu benar-benar tidak enak pada sahabat Omnya itu. Kalau boleh meminta, ingin juga dia memaksa hatinya untuk bisa menerima pria yang dewasa di depannya itu, tapi hatinya benar-benar selalu menolak rasa cinta itu untuk hadir.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di lain sisi, tepatnya di Bandara Internasional Jenderal Edward Lawrence Logan yang terletak di sebelah timur Boston, tampak seorang gadis sedang duduk di bangku ruang tunggu. Ia sepertinya menunggu penerbangannya ke California, yang akan terbang sekitar 1 jam lagi. Siapa lagi gadis itu kalau bukan Vania.

Ya, gadis itu benar-benar tidak peduli dengan ucapan Brian. Dia tadi tetap memutuskan untuk menyusul Brian karena dia yakin, kalaupun nanti dia sudah tiba di sana, pria itu tidak mungkin akan mengusirnya.

Selain itu, ada satu hal yang membuat Vania nekad untuk menyusul. Itu karena dia tidak ingin ada wanita yang mendekati Brian saat dia tidak ada di samping pria itu.

Tbc

Vania memang keras kepala kan Guys? Enaknya diapain dia?

Dia tidak tahu kalau kedatangannya ke sana akan sia-sia 😁😁😁

1
Kartika Miranti30
seru
endang nastusil
Luar biasa
lizulfa anjani
setau aku kalo no di blok kalo pun di buka pesan sebelumnya gak mungkin masuk
eva murjani
Selalu Suka dgn Author satu ini.
cerita nya seru...berasa kembali ke Jaman remaja baca kisah"nya
dan special nya cerita novel yg di suguhkan selalu ringkas padat tdk bertele".
sehat dan Sukses buatmu Author 🥰🌹🌹
eva murjani
Baru engeh ini cerita Anak Kembar Bima dan Ayunda rupanya 😘🙏
Felycia Fernandez
😆😆😆😆
Iis Kurniasih
Karya yg bagus....tidak terlalu berbelit² jalan ceritanya..... semangat terus ya author
Iis Kurniasih
Jangan biarkan kendor ttp semangat.... oke author
Rianti Dumai
tinggal pergi menjauh az sudah Brian,,,ngapain kbanyaan drama,,,!!!
Rianti Dumai
Brian az yg kurang tegas sama vania
Nuraini Nuraini
Luar biasa
Sumringah Jelita
keren
Anonim
Keras kepala + gak punya malu and harga diri 😁😁😁🙏🙏
nnk pw
ini bab diambil dr cerita emak bapaknya?
nnk pw
pdhl tinggal beberin semuanya terus vania di rantai di rsj. masa semu nglah demi demit kyk di
nnk pw
vania halal digorok
nnk pw
fix obsesi. maksa banget
nnk pw
vania cew pick me
Bonny Patriadi
emang boleh ya adiknya papa nikah sama anak Kakanya,/Shy/
Gadis Puspa Kartika
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!