Tujuh tahun menikah dan belum di karuniai seorang anak tak membuat cinta Yudistira pada Kamelia meluntur. cinta tanpa syarat dari Yudistira, telah melambungkan Kamelia ke atas awan hingga permintaan sang ibu mertua Kamelia, berhasil menjatuhkannya ke dasar lautan.
Bagaimana tidak, ibu mertuanya, meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa ia kabulkan. seorang anak yang tidak mungkin bisa hadir di dalam rahimnya. namun ibu mertuanya, meminta hal itu dari wanita lain.
Dan yang ia juga tidak pernah tahu Yudistira memiliki rahasia besar di belakangnya.
akankah ia sanggup menerima rahasia terbesar Yudistira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusiana Anwar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
warisan pesona
Kamelia tersenyum melihat seorang laki laki berjalan mendekat padanya, dengan membawa setangkai bunga mawar merah dalam genggamannya.
"I love you," bisik laki laki itu di telinga Kamelia lalu memeluknya.
"I love you to, terimakasih sayang,"
Kamelia membalas pelukan laki laki itu dengan senyum bahagia.
"selamat ya, semoga ilmunya bermanfaat," ucap Kamelia di sela sela pelukan mereka.
"terimakasih bunda," jawab laki laki itu kemudian mengecup puncak kepala Kamelia.
benar, dia adalah Alfin. kini, Alfin telah tumbuh menjadi laki laki dewasa dengan segudang prestasi dan sejuta pesona.
Tak bisa di pungkiri, pesona Alfin mewarisi dari Yudistira. terkadang membuat Kamelia teringat akan sosok yang pernah menempati posisi tertinggi di dalam hatinya. namun, Kamelia segera menepis jauh jauh ingatannya dari sosok Yudistira. ia tak ingin masalalu membelenggunya seumur hidup.
setelah pertengkarannya dengan Yudistira dua puluh tahun yang lalu, Kamelia memilih hidup berdua bersama Alfin. ia membuang semua kenangan yang berhubungan dengan Yudistira, dan membuka lembaran baru hanya dengan Alfin.
hati ya masih sakit jika mengingat bagaimana penghianatan yang di lakukan Yudistira padanya. juga sandiwara yang mereka lakukan depannya.
dan Alfin, apa ia tidak membenci Alfin, karena penghianatan yang di lakukan oleh orangtuanya?
Tidak! Kamelia sama sekali tidak membencinya, ia dan Alfin sama sama menjadi korban dalam hal ini. Alfin tetaplah mahluk suci yang terlahir dari hubungan yang sah.
Jika saja ia tidak pernah tahu hubungan Yudistira dan Inggrid, mungkin hatinya tidak akan merasa sesakit ini. sedalam apapun bangkai di kubur, baunya akan tetap tercium.
" Bunda," Alfin, melambaikan tangannya di depan Kamelia. Kamelia mengerjap sadar dari lamunannya, kemudian tersenyum.
"iya sayang, kita pulang,"
mereka berjalan keluar dari gedung menuju parkiran. kemudian melajukan mobil untuk pulang ke rumah.
hari ini adalah hari bersejarah untuk Alfin. kerena ia berhasil mendapatkan gelar sarjana, dengan nilai IPK tertinggi. tentu itu membuat Kamelia bangga.
biarlah dia tidak terlahir dari rahimnya, tapi ia tetaplah menjadi putra kebanggaannya.
"Kamu jadi,terima tawaran kerja di kota?"
Alfin, mengangguk sambil menyuapkan nasi kuning buatan Kamelia ke dalam mulutnya.
sebelumnya Alfin mendapat rekomendasi pekerjaan di sebuah anak cabang perusahaan di kotanya.
"Mumpung ada kesempatan Bun, sayang kalau gak di ambil," Kamelia mengangguk sambil tersenyum pada Alfin.
"Bunda, gak papakan aku tinggal sendiri?"
"kamu tenang saja Bunda, bisa kok jaga diri sendiri," ucap Kamelia dengan mengelus rambut kepala Alfin.
Tok tok tok.
Kamelia dan Alfin menoleh kearah sumber suara.
"siapa Bun," Kamelia mengedikkan bahu tanda tidak tahu.
"sebentar Bunda lihat dulu, kamu lanjutin aja makannya," ucap Kamelia kemudian berjalan menuju pintu Lalu membukanya.
Kamelia menganga melihat orang yang ada di balik pintu. hidup sebagai singel parents bukan perkara mudah untuknya. bukan karena masalah ekonomi atau yang lainnya, melainkan jajaran para pria yang ingin meminangnya sebagai istri. salah satunya yang sekarang berdiri di depan Kamelia.
"ada yang bisa saya bantu Pak?"
Hamdan Syafi'i, dia adalah seorang pemimpin desa, umurnya sebaya dengan Kamelia. ia menginginkan Kamelia untuk menjadi istrinya.
perjuangannya untuk mendapatkan hati Kamelia, di mulai dari saat Kamelia masih menjadi warga baru. namun hingga saat ini belum membuahkan hasil.
"maaf mengganggu, saya hanya ingin memberikan ini untuk kamu dan Alfin," ucap Hamdan dengan menyerahkan kresek putih berisi makanan pada Kamelia.
"oh, terimakasih pak, jadi merepotkan," kata Kamelia sungkan. selama ini ia tidak pernah mengijinkan laki laki masuk ke dalam rumahnya. bukan apa apa, statusnya yang tidak memiliki suami akan menimbulkan fitnah di lingkungan sekitarnya.
"kalau begitu saya permisi dulu," Kamelia mengangguk, kemudian segera menutup pintu rumahnya kembali.
"siapa Bun?"
"pak kades," jawab Kamelia dengan hembusan nafas, lalu menaruh kresek pemberian Hamdan di atas meja.
"aku jadi gak tenang ninggalin bunda sendirian, apa aku tolak saja ya tawarannya,"
"jangan, kamu tenang saja, bunda bisa jaga diri kok. enak lagi punya banyak fans, jadi banyak yang ngawasin," ucap Kamelia untuk menenangkan Alfin.
...****************...
Berbanding terbalik dengan Kamelia, Yudistira sangat hancur setelah kepergian Kamelia. ia sangat kesepian tanpa kehadiran Kamelia dan Alfin di sampingnya.
apa Yudistira tidak berusaha mencari keberadaan mereka selama ini?
dua puluh tahun ini, ia sudah berusaha mencari keberadaan mereka. namun, tidak ada tanda-tanda menemukan keberadaan mereka. Kamelia benar benar memutuskan apapun yang berhubungan dengannya. hingga sangat sulit bagi Yudistira menemukan jejak mereka.
Yudistira masuk kedalam rumah dengan langkah gontai, ia menatap seluruh sudut ruangan, terasa kosong dan hampa. kemudian berjalan menaiki anak tangga dan berhenti di depan pintu kamar Inggrid lalu tersenyum.
ia sama sekali tidak pernah masuk kedalam kamar itu lagi setelah pertengkarannya dengan Kamelia dua puluh tahun lalu.
kemudian ia berjalan menuju kamarnya dan Kamelia, dan kamar inilah yang menjadi tempat favoritnya selama dua puluh tahun ini. ia lebih sering menghabiskan waktu di dalam kamar itu dengan memandangi foto foto kamelia yang menempel di dinding kamar.
ia memutar kenop pintu lalu meraba sisi tembok untuk menekan sakelar lampu. ia melempar tas kerjanya ke atas kasur, kemudian berjalan gontai menuju nakas, dengan tangan melonggarkan simpul dasi yang membelit lehernya.
"Hai, aku sudah pulang. apa kau tidak ingin memelukku saat aku pulang kerja?" Yudistira berbicara pada foto Kamelia yang di ambil dari atas nakas.
setelah puas memandangi foto Kamelia ia mengecup foto itu kemudian menaruhnya kembali ke tempat semula.
hidup tanpa orang yang dicintai terasa begitu berat, tapi itu tidak sebanding dengan penghianatan yang ia lakukan pada Kamelia.
menyesal pun tiada guna, karena Kamelia telah pergi meninggalkannya. yang bisa ia lakukan saat ini, hanya mencintainya dari kejauhan.
atau mungkin, itu pembalasan atas penghianatan yang ia lakukan pada Kamelia.
pagi ini Yudistira mengemasi barang-barangnya, ia memasukkan beberapa lembar pakaian kedalam sebuah koper.
"hari ini kita akan pergi jauh, jadi tetaplah bersamaku," ucapnya pada foto Kamelia, kemudian memasukkannya ke koper.
Yudistira memutuskan untuk pergi dari kota itu, tinggal lebih lama di sana semakin mengingatkan luka yang ia berikan kepada Kamelia.
ia telah mempercayakan kantor pusat pada orang kepercayaannya. dan toko roti milik Kamelia, ia telah memasrahkan pada Jaswin. hanya itu peninggalan Kamelia yang bisa ia lihat. ia masih berharap Kamelia akan kembali menamuinya di sana.
sebelum benar benar meninggalkan kota itu, Yudistira terlebih dahulu pergi ke makam Inggrid dengan membawa sebuah buket bunga mawar kesukaan Inggrid.
"apa kabar, apa tidurmu nyenyak? aku akan pergi jauh mungkin tidak akan bisa sering datang kemari. aku berjanji jika menemukan Kamelia dan Alfin, aku akan membawa mereka kemari. kita berdua harus minta maaf kepadanya bukan?"
.
.
.
**udah, segitu dulu ya... biarkan Yudistira benar benar menyesal dulu. baru kita panas panasan lagi.
jangan lupa tinggalkan jejak.
biar lebih panas lagi yuk kita baca novel yang satu ini👇**