Sang pewaris tunggal telah menghilang bak di telan bumi. Dia mengalami amnesia dan memiliki kehidupan yang baru.
Setelah sekian lama, kebenaran baru terungkap. Akankah dia mengingat keluarganya kembali?
Diantara dua wanita yang ada di dalam hatinya, siapakah yang akan dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerjasamalah!
"Kantor Polisi?" kedua alis Bintang bertaut, menatap halaman kantor Polisi. "Ada apa kau, membawaku kesini?" tanya Bintang menoleh ke arah Bimo.
"Ikuti saja aku." Bimo mengangguk, lalu berrjalan mendahului Bintang memasuki kantor Polisi.
"Selamat siang, Pak." Bimo mengulurkan tangan, menjabat erat salah satu anggota kepolisian dari Hongkong.
"Selamat siang pak Bimo." Alan membalas jabat tangan Bimo, lalu beralih menjabat tangan Bintang. "Apa kabar, Nyonya."
"Kabar baik." Sahut Bintang.
"Mari, ikut saya." Alan, mempersilahkan Bimo dan Bintang. Kemudian, mereka berjalan bersama menuju ruangan lain.
Di dalam ruangan, sudah ada anggota Polisi lain yang sudah menunggu.
"Siang pak!" Bimo dan Alan menyapa Suryo, lalu menjabat tangannya, bergantian.
"Silahkan duduk." Suryo mempersilahkan Bimo dan Bintang, duduk di kursi.
"Maaf, aku masih belum mengerti. Kenapa aku di bawa ke sini?" tanya Bintang, menatap satu persatu kedua anggota Polisi tersebut.
Suryo berdehem sesaat, lalu menoleh ke arah Alan yang mengambil dokumen di dalam laci meja, kemudian di letakkan di atas meja. Satu persatu foto di dalam dokumen tersebut, di letakkan di atas meja.
"Kami minta kerjasama nyonya, untuk mengenali beberapa orang yang ada di dalam foto ini." Jelas Alan, melirik sesaat ke arah Bintang.
Bintang menundukkan kepalanya, menyeret satu persatu foto yang berjajar rapi. Kedua alisnya bertaut memperhatikan foto yang berserakan yang ada di atas meja.
"Aku mengenali mereka semua." Bintang tengadahkan wajahnya menatap Alan, lalu menundukkan kepalanya lagi. "Paman Livian, Mr J, dan ini salah satu ayah dari kedua putranya yang mati dan tuduhan di timpakan pada suamiku." Ungkap Bintang.
"Anda benar, nyonya." Timpal Alan. "Saat ini, mereka bekerjasama menjadi satu komplotan dan menduduki peran penting di perusahaan milik Yong Ma."
"Apa? itu tidak mungkin." Bantah Bintang.
"Apakah anda, mengenal wanita ini?" tunjuk Alan pada salah satu foto yang berada di posisi paling bawah.
"Aku tidak tahu, aku baru melihatnya." Jawab Bintang, menatap tajam wajah seorang wanita cantik di dalam foto tersebut.
"Menurut informasi yang berhasil kumpulkan. Wanita ini adalah dalang dari semua kejahatan, dia juga yang memimpin sebuah gengster yang paling di takuti, Yakuza. Yang mendapatkan posisi ketua pertama."
"Siapa namanya?" tanya Bintang.
"Elena."
"Elena??" Bintang tengadahkan wajah, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Tidak mungkin, Elena sudah lama mati."
"Wanita ini sangat licik dan licin. Sulit sekali kami tangkap, meski rekam jejak kejahatannya sudah kami kantongi." Timpal Alan. "Kami butuh kerjasama Nyonya, dan jika nyonya tidak keberatan. Bekerjasamalah dengan kami."
"Apa maksudmu?" tanya Bimo, menyela.
"Mereka mengenali keluarga milyuner, nyonya Quenby. Tapi tidak dengan nyonya Bintang, jika kau mau. Aku akan mencoba, melibatkan nyonya Bintang untuk masuk ke dalam anggota mereka." Alan, membuka dokumen lain dan menjelaskan keterlibatan wanita yang bernama Elena dan Livian. Target mereka adalah menguasai perusahaan penting milik Yong Ma, dan membalaskan dendam kepada Quenby dan Rava Alexi Ortama.
"Aku tidak mau!" tolak Bintang.
"Tolong bantu kami, demi menjaga keselamatan keluarga anda, nyonya." Alan membujuk Bintang.
"Aku butuh waktu untuk berpikir." Bintang berdiri, di ikuti Bimo.
"Saya cuma punya waktu dua hari, hubungi kami jika nyonya bersedia." Alan mengeluarkan kartu nama dari dalam dompet, lalu di berikan kepada Bintang. "Keselamatan keluarga anad, ada di tanganmu nyonya."
Bintang terdiam sesaat, lalu mengambil kartu nama dari tangan Alan. Setelah itu, ia beranjak pergi di ikuti Bimo dari belakang.
"Bintang tunggu!" Bimo menarik tangan Bintang mundur ke belakang. "Ada aku, aku siap membantumu."
Bintang terdiam menatap kedua bola mata Bimo, mencari kesungguhan di dalam tatapan matanya yang lembut.
"Kau yakin?" tanya Bintang.
Bimo menganggukkan kepalanya. "Aku siap."
"Apa alasanmu, mau membantuku?" tanya Bintang penasaran.
"Cinta." Kata Bimo. "Karena aku mencintaimu, dan aku tidak mau terjadi apa apa denganmu."
Bintang tertawa kecil mendengar penuturan Bimo. "Kau ini, ada ada saja."
Bintang kembali melangkahkan kakinya, di ikuti Bimo dari belakang. Pria itu tidak berhenti membujuk Bintang untuk melibatkannya.