maaf, untuk sementara karya ini tidak di lanjutkan dulu dikarenakan authornya sedang sibuk, insyaallah, nanti akan saya lanjutkan kembali🙏🙏
apakah sebuah hubungan rumah tangga akan sakinah mawadah warahmah, jika suami dengan tega mengkhianati istri..??
.
kisah kehidupan yang menguras emosi dan air mata..🥀
Dinda harus menerima kenyataan kalau suaminya harus menikah lagi dengan sahabatnya sendiri karena hubungan terlarang yang mereka lakukan.
Dinda harus menjalani hari harinya dengan penuh kesedihan, ambisi Dewi untuk memiliki kekayaan suaminya membuat Dinda selalu disalahkan, Dewi melakukan segala cara untuk menyingkirkan Dinda dari rumah dia sendiri.
bagaimana ceritanya..?
baca yuk..!!
jngn lupa like, comen n votenya
rate ⭐⭐⭐⭐⭐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawar berduri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pulang kampung
perasaan yang mulai tidak karuan membuat Hendra tidak bisa diam, Hendra terus mondar mandir di kamar sembari memegangi ponsel di tangannya. Hendra bingung kenapa nomor Dinda tidak bisa dihubungi, dia takut apa yang di katakan Dewi itu benar bahwa Dinda sedang pergi bersama laki laki lain.
hendra melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 21.30, dengan hati yang sudah mulai memanas hendrapun berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang bawah, dia duduk di ruang tamu untuk menunggu Dinda. dia sudah tidak sabar untuk mengintrogasi istri pertamanya itu
''mas ngapainn sih masih disini, ayo kita tidur, aku sudah ngantuk mas..'' ujar Dewi mengajak Hendra untuk tidur di kamarnya
''mas belum ngantuk. kamu tidur duluan saja ya..'' ujar Hendra yang terlihat sangat gelisah
''mas kenapa sih..? mas masih mikirin Dinda?, udahlah mas, Dinda lagi asik sama orang lain, kenapa mas harus mikirin dia..'' ujar Dewi mulai memanas manasi
''mas gak mikirin dia ko, kalau kamu mau tidur, tidur duluan saja sana..'' ujar Hendra mulai emosi
''iya mas, aku ke kamar duluan ya..'' ujar Dewi berpura pura sedih "haha, rupanya mas Hendra sudah mulai emosi, rasain kamu Dinda, mas Hendra pasti marah besar.." batin dewi sangat senang
dewipun masuk ke dalam kamarnya sedangkan Hendra masih berdiam diri di ruang tamu sembari menatap layar ponselnya. nomor Dinda masih saja tidak bisa dihubungi, membuat Hendra kesal hingga membanting ponselnya ke lantai
"assalamualaikum..." Dinda mengucap salam lalu membuka pintu rumahnya dengan tubuh yang basah kuyup.
"waalaikumsalam..." ujar Hendra menjawab salam dengan muka yang ditekuk
"maaf mas, mobilku mogok. jadi aku telat pulang ke rumah.." ujar Dinda meminta maaf, dengan tubuhnya yang menggigil Dinda berjalan menuju ruang atas masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan badan
hendrapun bangkit dari duduknya berjalan untuk mengunci pintu rumah, lalu ke ruang atas masuk ke dalam kamar dinda.
Hendra merebahkan tubuhnya di ranjang sembari menunggu dinda selesai mandi, hatinya mulai tenang melihat Dinda sudah pulang dengan selamat meskipun rasa kesal masih bersemayam di hatinya
''kamu dari mana sih?, mas dari tadi khawatir, kamu kan bisa hubungi mas..'' ujar Hendra yang melihat Dinda keluar dari kamar mandi
''maaf mas, tadi aku sempat telpon mas, tapi di luar jangkauan, hujannya deras banget jadi sinyalnya susah..'' ujar Dinda, Dinda berjalan menuju lemari mengambil baju piyama berwarna pink, membuatnya terlihat sexy
''oh gitu, ya sudah gak pp, lain kali jangan kaya gitu lagi ya..'' ujar Hendra. karena hatinya sudah mulai tenang, hendrapun mencoba memejamkan matanya untuk istirahat
Dinda tersenyum menoleh ke arah suaminya tapi sayang, Dia melihat Hendra sudah tertidur pulas padahal dia ingin sekali mempraktikkan apa yang dokter Risa perintahkan kepadanya.
perut yang lapar membuat Dinda tak bisa tidur, diapun terpaksa harus ke dapur untuk mencari makanan, Dinda berjalan keluar kamarnya dengan tubuh lemas
''kamu sudah pulang..?'' tanya dewi yang tiba tiba muncul ketika Dinda membuka pintu kamar.
''sudah, memangnya kenapa dew..?'' tanya Dinda balik. Dinda tersenyum dengan tenang, karena tidak ada kebencian dalam dirinya
''mana mas Hendra..?'' tanya dewi jutek, Dewi memang sangat membenci dinda
''mas Hendra sudah tidur dew, aku ke dapur dulu ya..'' jawab Dinda tersenyum, Dinda melanjutkan langkahnya menuju dapur meninggalkan Dewi yang berdiri di depan kamarnya
"sialan, mas Hendra ko ga marahin dia sih. awas saja kamu Dinda .." batin dewi menggerutu
dewipun masuk kembali ke dalam kamarnya dengan penuh kekesalan, dia gagal membuat Hendra marah kepada Dinda, tapi dia tidak akan tinggal diam, dia akan tetap berusaha menyingkirkan Dinda dari rumah itu hingga dia bisa menjadi istri satu satunya.
malam semakin larut, dewipun merebahkan tubuhnya mencari sejuta cara untuk menyingkirkan Dinda hingga akhirnya dia tertidur pulas.
...💞💞💞💞💞...
keesokan paginya, seperti biasa Dinda bangun lebih dulu dari Hendra. Dinda melaksanakan shalat subuh, lalu menyiapkan baju untuk suaminya bekerja habis itu dia berjalan ke ruang bawah menuju dapur membuat sarapan untuk suami dan madunya.
dengan semangat Dinda memasak makanan kesukaan Hendra dan Dewi, dia juga mencuci piring hingga merapikannya ke rak. Dinda merasa aneh hari ini, tidak seperti biasanya dapur berantakan seperti ini, dia juga tidak melihat si mbok di dapur karena biasanya si mbok selalu bangun lebih dulu darinya,
''kemana si mbok, apa mungkin dia sakit..?'' Dinda bertanya tanya. tangannya dengan lihai memasak lalu merapikan makanannya ke atas meja.
''non..'' bi Minah memanggil Dinda dengan air mata yang jatuh di pipinya, bi Minah juga membawa 1 tas besar yang tak tau apa isinya
''iya Bi, bibi kenapa, ko nangis..?'' tanya Dinda ingin tau, Dinda langsung berhenti memasak setelah melihat bi Minah menangis
''bibi mau ijin pulang ke kampung dulu ya non, anak bibi kecelakaan..'' jawab bi minah terisak
''loh, kok mendadak gini si bi, tapi anak bibi gak pp kan..?'' tanya Dinda lagi, Dinda ikut merasakan kesedihan bi Minah, tapi berat untuk dinda membiarkan bi minah pergi dari rumahnya
''maaf non, anak bibi ngasih taunya semlm. bibi juga kaget, dari semlm bibi gak bisa tidur gara gara mikirin dia, maaf bibi jadi gak sempet beres beres non..'' jawab bi Minah menundukkan kepalanya, bi Minah merasa tidak enak
''gak pp bi, biar saya yang beresin semuanya. bibi pulang saja, anak bibi pasti sudah menunggu bibi, bibi hati hati ya..'' ujar Dinda tersenyum, Dinda mengerti perasaan bi Minah saat ini, dia mengelus pundak asisten rumah tangganya itu ''yang sabar ya Bi..'' ujar dinda
''trimakasih non, terimakasih..'' ujar bi Minah berterima kasih. BI Minah merasa sangat bersyukur memiliki majikan sebaik Dinda, dia tidak tahu lagi harus mengatakan apa kepada majikannya,
''iya sama sama Bi..'' ujar Dinda tersenyum
Dinda mengantarkan bi Minah sampai depan rumah, air mata jatuh membasahi pipi dinda ketika melihat bi Minah berjalan meninggalkan rumahnya. Dinda merasa sedih melepas kepergian bi Minah yang selalu menghibur membantu dan menyayanginya seperti seorang ibu kepada anaknya.
''sayang, lagi ngapain disitu..?'' tanya Hendra yang melihat Dinda di depan pintu rumah
''bi Minah pulang kampung mas..?'' jawab Dinda menjatuhkan air matanya
''ko mendadak? udah sayang, gak usah nangis. BI Minah pulangnya gak lama ko, paling cuma seminggu..'' ujar Hendra menghapus air mata Dinda
'' iya mas, kita sarapan yuk..'' ajak Dinda, Dinda menggandeng tangan Hendra berjalan menuju dapur
...bersambung...
....itu pembantunya hendra...suruh peka dikit lah.....jgn oon2 amat....
yg ambilnperhiasan Dinda blum tau emg rumah org kaya gk da cctv