Refan tega mecampakkan Maira yang sudah lama bersamanya demi orang baru yang bernama Reya. Akhirnya Maira menikah dengan Hendra yaitu temannya Refan sendiri. Akhirnya Maira bahagia bersama Hendra. Refan yang begitu terpuruk dan menyesali keputusannya akhirnya Refan bersimpuh di kaki mantan istrinya untuk mengajaknya kembali rujuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weta anjelina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31 Pov Refan
Aku sedikit lega akhirnya Maira pergi juga di rumah ini, akhirnya aku bisa bersenang-senang dengan istri mudaku itu.
"Mas,apa yang Mas bicarakan sama mantan istri mu itu barusan mas?"
"Ngak apa-apa dek, kenapa emang?"
"Ngak apa-apa gimana sih Mas, jangan bilang kamu mau ngajak balikan mantan istrimu itu ya Mas!" Tiba-tiba saja Reya bicara seperti itu, aku juga binggung apa maksud Reya sebenarnya.
"Ngomong apa sih dek!"
"Reya ngak mau di madu lagi ya Mas!" Tukasnya padaku membuatku sedikit pusing, mana lagi urusan hak asuh anak yang di ambil alih Maira, tentu aku harus mengeluarkan uang yang cukup besar setiap bulan, sementara kebutuhan Reya sangat besar sekali.
Dulu sebelumnya aku berbohong pada Maira soal gajiku yang kecil, padahal aku harus memenuhi kebutuhan Reya selama ini, sekarang bagaimana bisa aku berbohong lagi karena kemaren Reya sempat melihat daftar gajiku, yang empat kali lipat lebih besar dari gaji yang aku beritahu kepada Maira sebelumnya, aku semakin pusing di buatnya.
"Maira udah pergi, tapi dia masih membuatku stres." Gumamku sembari mengacak-ngacak rambut.
"Kamu ngomong apa barusan Mas." Ternyata Reya mendengar ucapanku barusan.
"Nga apa-apa dek, oiya kita kan belum makan malam nih, gimana sekarang kita makan malam aja." Ujarku sembari berlalu keluar.
"Mas tunggu, emang siapa yang masak sih Mas." Aku sedikit tertekun mendengar kata-kata Reya barusan.
"Loh dek, kamu belum masak?"
"Udah sih Mas,,,hemmmm. Eum Mas di rumah ini kan cuma kita berdua, masa Mas suruh aku yang masak, kenapa ngak kita gaji pembantu aja?" Aku sedikit mendelik dengan usulan istriku itu, padahal aku udah pusing mikirin kebutuhannya selama ini, dia masih membebankan ku saja.
berbeda dengan Maira, dia lebih memilih irit tidak mengajikan pembantu.
"Dek kan kita cuma berdua, apa salahnya kamu yang beresin rumah ini dek, kecuali kita udah punya momongan baru ngak apa-apa kita gaji suster." Tukasku pada Reya istri ku itu.
"Mas, aku ini istrimu bukan pembantu ya Mas, kamu wajib bahagiain aku Mas, apa salahnya sebagian gaji mu di gunakan untuk menggaji pembantu!" Reya semakin cerewet saja, nembuat kupingku sakit.
"Iya deh, terserah mu saja dek." Aku mengacak-ngacak rambut sembari meninggalkannya sendiri, sementara aku kehalaman rumah untuk mencari udara segar.
Rasanya sangat lelah kalau harus menuruti keinginan Reya yang tak ada ujungnya, sementara Maira terus saja mengancamku, membuatku semakin panik saja.
"Kenapa jadi begini." Gumamku sembari menatap bintang di atas langit, kebetulan malam ini cuaaca lumayan bersahabat, udara sejuk malam membuat bulu tanganku sedikit mengedik, kulipatkan tanganku sembari menatap ke atas, tanpa sadar entah kenapa air mataku menetes begitu saja, bebanku terasa begitu berat sekali, aku masih mengingat saat aku mengusir Maira tadi di rumah ini,entah bagaimana keadaan Maira saat ini, apa benar keputusanku ini atau malah sebaliknya, entahlah melihat sikap Reya yang berubah drastis aku sangat gelisah sekali, belum semalam maira pergi dari rumah ini, namun Reya malah semakin menjadi-jadi.
Kuputuskan malam ini masuk ke dalam rumah,pelan-pelan aku masuk ke kamar, kulihat Reya sudah tidur duluan, aku keluar dari kamar menuju dapur kulihat makanan udah tersaji namun tidak ada yang memakannya,aku bergegas mengambil piring, kumasukkan beberapa makanan itu di piringku, lalu ku santap dengan nikmatnya, kebetulan perutku dari tadi sudah lapar.