NovelToon NovelToon
Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:926
Nilai: 5
Nama Author: S.Lintang

⚠️⚠️

Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.

⚠️⚠️

~•~

Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -

Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

"Jav," lirih Disty dengan tubuh menegang.

Zayna dan Aurel ikut pandangan Disty, melihat Javeno.

Aurel malah melambaikan tangan pada Javeno yang berwajah datar dengan aura dingin itu.

"Hai Jav, lihatlah, aku berhasil buat mereka baikan akhirnya," ujar Aurel merasa bangga.

Disty memejamkan mata saat mendengar suara Aurel, lalu saat membuka mata lagi, ia melihat senyum miring Javeno yang tercetak jelas.

"Bawa Aurel pergi sekarang," titah Disty menatap Zayna yang bingung namun ia mengangguk.

Disty mendekati Javeno yang hendak mendekat pada Aurel dan Zayna.

"Jav_"

PLAK!!

Aurel dan Zayna menutup mulut mereka yang hendak berteriak saat Javeno malah menampar kuat Disty hingga membuat gadis itu tersungkur ke tanah.

"Dis_"

"Kita pergi sekarang," bisik Zayna dan membawa Aurel segera pergi dari taman.

Sementara Javeno terdiam menatap telapak tangannya sendiri yang baru saja menyakiti gadisnya. Ini pertama kalinya karena sebelumnya ia tidak pernah memukul Disty.

"Sial," umpat Javeno dan segera berjongkok.

Disty menoleh, memperlihatkan pipinya yang membekas merah telapak tangan Javeno dengan sudut bibir yang berdarah. Namun di saat itu, Disty masih bisa tersenyum lalu memeluk erat Javeno.

"Maaf, aku salah, maaf," kata Disty dengan dada yang sesak.

Javeno mengangkat tubuh Disty, membawanya duduk di kursi lalu memperhatikan sudut bibir Disty yang robek akibat tamparannya.

Javeno mendekat, menyesap sudut bibir itu membuat Disty merintih karena perih. Namun Javeno tidak berhenti, setelah di rasa cukup baru ia menjauhkan diri. Mengusap pipi yang memerah itu.

"Jangan keluar kelas. Aku bilang itu tadi kan? Apa telinga mu bermasalah? Kita harus ke dokter?" tanya Javeno dingin dengan tatapan mata tajam.

"Maaf," cicit Disty menunduk, menghapus cepat air matanya.

"Aurel yang paksa kamu hm?" tanya Javeno dingin.

Disty segera menatap dan menggeleng. "Jangan sakiti Aurel atau Zayna. Kamu udah tampar aku, kamu udah lampiasin marah dengan tampar aku, jadi aku mohon jangan apa-apain mereka berdua," pintanya memohon.

"Aurel paksa kamu keluar, dan itu buat kamu ngelanggar larangan aku. Dan Zayna_ kamu peluk dia, padahal jelas kamu sendiri yang janji untuk nggak akan berteman lagi dan menjauh dari Zayna asal aku nggak sentuh buat kasih dia hukuman. Jangan kira aku lupa sama perbuatan dia seminggu lalu Dis," ucap Javeno masih dengan nada dingin.

Disty menggeleng. "Kamu pukul aku lagi gapapa, tapi lepasin mereka ya," pintanya menangis.

"Setidaknya biarin mereka masuk rumah sakit...."

"Enggak, jangan!" Disty langsung memeluk erat leher Javeno, ia terisak di sana.

Javeno mencoba meredam amarahnya tapi tidak bisa, ia diam dan langsung membawa tubuh Disty pergi dari taman dan keluar dari sekolah. Disty diam tidak berani bersuara hingga mereka sampai di mansion.

"AMEL!" teriak Javeno setelah berada di dalam, memanggil kepala pelayan yang bekerja di rumahnya ini.

Disty meremat rok nya. Apalagi saat Amel benar-benar muncul dengan tubuh bergetar takut.

"Ya, Tuan?"

"Siapa yang membuatkan burger pagi ini?" tanya Javeno dingin.

"Jav...."

"Diam Disty!"

"Jawab!" desis Javeno mencekam.

"Sa-saya Tuan," sahut Anggun yang muncul dari dapur.

Javeno mendekat lalu segera mencekik kuat leher Anggun, sedikit tubuh gadis itu terangkat akibat cekikan Javeno.

"Dirimu bosan hidup hm?" tanya Javeno dengan smirk yang keluar.

Cekikan semakin kuat membuat Anggun kesulitan bernapas. Memegang kuat tangan Javeno meminta lepas, tapi tidak bisa.

"JAVENO!!" teriak Gaveno dan langsung mendorong kuat tubuh sang kembaran. "Bangsat, lo ngapain hah?!"

Gaveno memeluk gadisnya yang baru saja di cekik oleh Javeno. Tatapan keduanya sama-sama menusuk dalam dan tajam.

"Bagaimana kalau aku yang melakukan itu kepada gadismu?" tanya Gaveno membuat amarah Javeno semakin memuncak.

"Aku akan mematahkan mu, Gav!"

Disty memeluk Javeno dari belakang. "Udah Jav," lirihnya.

"Sebelumnya dia memang maid di rumah ini, sudah tugasnya membuatkan apa saja untuk di makan, namun kau sendiri yang memintanya untuk menjadi gadismu bukan? Lalu kenapa dia berada di sini hari ini? Kenapa dia lancang menyentuh dapur ku?" tanya Javeno dingin pada Gaveno.

"Dia bosan di rumah, dia meminta di antar kesini pagi tadi karena ingin menyapa Disty. Apa salahnya dengan itu coba?" tanya Gaveno.

"Salahnya karena membuat gadisku tersakiti," jawab Javeno menggeram.

Gaveno diam, lalu menatap Anggun yang menangis. "Kamu melakukan apa?" tanyanya.

"Aku membuat burger untuk Nona, sebenarnya Tuan meminta pada Bi Amel, tapi aku ambil alih karena pengen buat sesuatu untuk Nona," jawab Anggun jujur menatap Gaveno.

"Tapi itu terlalu pedas," ucap Disty bersuara pelan.

"Gadisku tidak menyukai makanan yang pedas dan gadismu mencoba menyakitinya dengan itu. Wajar kalau aku ingin membunuhnya saat ini," ucap Javeno.

Anggun mencengkram punggung Gaveno, ia takut.

Gaveno menghela napas. "Aku minta maaf atas nama Anggun, Dis," ucapnya.

Disty mengangguk pelan. "Udah gapapa kok," jawabnya.

"Jangan pernah membawanya masuk ke rumahku lagi kalau ingin nyawa nya baik-baik saja," kata Javeno dingin menatap Gaveno.

Gaveno diam tanpa suara, membawa pergi Anggun dari rumah sang kembaran.

"Gav, aku nggak sengaja, aku nggak tau kalau saus nya terlalu pedas, aku nggak bermaksud nyakitin Nona Disty, aku...."

"Sssttt, udah, gapapa," ucap Gaveno mengusap kepala Anggun. "Kita pulang hm," ucapnya lembut.

Anggun mengangguk patuh, merasa bersalah juga pada Disty karena dirinya memang benar-benar tidak mengetahui ini.

"Maaf Nona," batin Anggun.

Sedangkan di dalam rumah, Disty mendongak menatap Javeno.

"Jav."

Javeno menundukkan pandangan, mencium hidung mancung Disty sebelum menggendongnya, membawa masuk ke kamar.

"Kamu masih marah?" tanya Disty setelah di dudukkan di ranjang empuk ini.

Javeno diam, ia membuka seragam sekolahnya dan melempar seragam itu ke sembarang arah. Naik keatas ranjang dan telungkup, memejamkan mata dengan kepala yang tidak menghadap pada Disty.

Disty membenarkan posisi duduknya, mengusap rambut Javeno yang masih diam.

"Untuk masalah burger tadi, aku beneran udah gapapa, Anggun juga kan nggak tau kalau aku nggak suka pedas, mungkin dia salah takaran saus nya," ucap Disty lembut.

"Dan untuk Aurel_ jangan sakiti dia, karena kalau kamu lakuin itu sama aja kamu nentang Ayah kamu. Aurel itu calon istri kamu, jadi tolong jangan sakiti dia. Lain kali kalau dia maksa aku lagi, aku bisa tolak langsung," ucap Disty lagi.

Javeno masih diam. Disty sebenarnya takut, tapi ia harus bicara.

"Untuk Zayna_"

Disty diam sebentar, mengatur kalimat agar tidak salah.

"Aku janji, ini yang terakhir. Tadi aku cuma nggak bisa nahan diri aja, aku nggak akan interaksi lagi sama mereka berdua," ungkap Disty.

Javeno dengar semuanya, tapi ia tetap diam tanpa menanggapi. Untuk menoleh menghadap pada Disty saja tidak, tetap pada posisinya.

"Aku mau mandi," ujar Disty memancing agar Javeno mau menatap dirinya. Namun Javeno tetap diam.

"Nggak mau mandi bareng? Lakuin itu lagi mungkin?" tawar Disty untuk meredam amarah Javeno.

Disty menghela napas saat benar-benar tidak ada jawaban. Ia bergerak dan memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!