⚠️⚠️
Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.
⚠️⚠️
~•~
Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -
Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Di gelap dan sunyi nya malam hari, Aurel masih berjalan pelan seorang diri dengan langkah yang sangat berat.
Tangannya menenteng sepatu heels nya. Ia berjalan tanpa alas kaki dengan makeup yang awalnya ia poles dengan rapi, sekarang menjadi berantakan karena menangis.
Dress yang awalnya tampak indah, kini malah seperti kain lusuh karena si pemilik tidak menikmatinya.
"Aku kira kamu udah mulai mau terima perjodohan kita sewaktu tadi di sekolah kamu setuju untuk ngelakuin dinner ulang dan bilang bakal jemput aku. Aku seneng banget, Jav," ucap Aurel sudah berhenti melangkah dengan kepala menunduk.
Air matanya mengalir sangat deras. "Hati aku berbunga pas Mbak Risma bilang kalau kamu udah sampai di teras. Aku beneran ngira kalau kamu emang udah mulai buka hati buat aku. Tapi pas Mbak Risma bilang kamu datang sama seorang gadis_ hati aku retak bahkan hancur, dan semakin hancur pas aku tau ternyata gadis yang kamu bawa adalah Disty. Orang yang awalnya aku anggap sebagai sahabat perempuan kamu karena sebelumnya Om Robert juga bilang kalau kamu dan Disty hanya bersahabat."
"Tapi ternyata.. kamu justru mencintai Disty. Aku nggak tau kedekatan hubungan kalian kayak gimana. Tapi_ perkataan kamu yang bilang kenapa bukan di jadiin istri Daddy kamu.. itu sungguh nyakitin buat aku, Jav. Kamu bahkan nggak peduli dan nggak mikirin kalau aku bakal tersinggung," lirih Aurel dengan isak tangisnya yang semakin tersedu.
"Aurel?"
Aurel segera menghapus air matanya saat baru menyadari adanya mobil yang berhenti tepat di sampingnya. Saat menoleh, ternyata itu adalah Ayahnya, Victor.
Victor segera keluar dari mobil dan di sambut dengan pelukan erat Aurel. Putrinya menempatkan seluruh tangisan di pelukan seorang Ayah.
"Kenapa? Papa dapat kabar kalau kamu pergi dinner malam ini setelah semalam nggak jadi. Apa Javeno tidak datang lagi? Atau dia menyakiti kamu?" tanya Victor beruntun.
Aurel tidak bisa langsung menjawabnya. Gadis itu masih menangis hingga beberapa menit ia berhenti. Melepas pelukan, lalu menatap Victor.
"Kenapa harus Aurel yang di jadiin sebagai alat untuk pemisah mereka, Pa?" tanya Aurel lirih dengan suara yang mulai serak.
Victor bingung, sampai ia paham setelah Aurel menceritakan kejadian satu jam yang lalu.
"Kamu bukan alat!" tegas Victor dengan kemarahan.
Memeluk putrinya kembali dengan mata yang menyorot tajam.
"Aku kira kamu tulus dengan perjodohan antara anak kita Robert, ternyata kamu memiliki alasan lain dan mempermainkan putriku. Putri yang selama ini aku jaga sepenuh hati malah kamu dan putramu hancurkan begitu saja," batin Victor berdesis.
Di lain tempat, di mansion milik Javeno.
"Kamu kenapa?" Javeno menahan tangan Disty yang hendak menaiki anak tangga.
"Saat makan tadi wajahmu udah lain dan aku nggak suka itu. Bukannya senang, kamu malah cemberut sepanjang makan malam. Kamu nggak menghargai aku?" tanya Javeno marah.
"Mau aku hargai berapa?" tanya Disty lantang dengan berani.
Javeno terkejut, tapi sedetik kemudian ia tertawa kecil. "Wow, sangat berani Disty," ucapnya menganggukkan kepala.
"Kenapa? Kamu yang bilang kalau aku nggak menghargai kamu kan? Sekarang aku tanya, mau aku hargai berapa?" tanya Disty.
Untuk pertama kalinya ia berani berkata lantang dengan kalimat yang tidak seharusnya. Dan untuk pertama kalinya ia berani menatap mata Javeno yang sedang marah dengan keberanian pula.
Javeno mencengkram pipi Disty, matanya terlihat marah.
"Kamu ingin hargai aku dengan apa? Dengan uang? Kamu saja tidak memilikinya Disty. Bahkan kamu lebih rendah dari aku. Sadar lah kalau kamu pelacur pribadi ku. Pelacur yang bahkan tidak mendapatkan bayaran apapun selain hidup dalam kemewahan di sini. Jadi jangan sok berbicara seperti itu di depanku sekarang!!"
Air mata Disty luruh, ia mengangguk dengan senyuman.
"Ya, aku emang pelacur pribadi kamu yang nggak perlu di bayar," kata Disty berani menyingkirkan tangan Javeno yang mencengkram pipinya.
"Aku emang rendah, Jav. Tapi nggak seharusnya kamu malah merendahkan Aurel yang mungkin nggak tau apapun tentang rencana perjodohan yang Ayah kamu buat. Kamu nggak harus bilang kalau Ayah kamu aja yang nikah sama dia, itu nyakitin buat ukuran seorang cewek...."
"I don't care!" Javeno menyela dingin.
Disty mengangguk sambil menghapus air matanya. Senyum nya kembali mengembang.
"Inilah Javeno. Nggak punya hati," kata Disty segera berlari ke kamar dan menangis di sana.
Sedangkan Javeno masih berdiri di tempatnya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya setelah Disty meninggalkannya.