Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Dokter itu mengangkat spuit di tangannya.
Tatapannya tetap tertuju pada Evelyn yang masih terbaring tak sadarkan diri.
"Selamat tinggal, Detektif Shen," gumamnya pelan.
Perlahan ia mengarahkan tangannya ke selang infus.
Namun tepat saat ujung spuit hampir menyentuh selang, terdengar suara dari belakang.
"Berhenti!"
Dokter itu langsung membeku.
Ia menoleh perlahan.
Damien berdiri beberapa meter di belakangnya.
Tatapannya dingin.
"Permainanmu berakhir di sini."
Dokter itu tersenyum tipis.
"Jaksa Lu... rupanya kau memang tidak mudah dibodohi."
Damien tidak mengalihkan bidikannya sedikit pun.
"Menjauh dari pasien."
Suasana di dalam ICU berubah hening.
Dokter itu tetap berdiri di tempat, sementara senyum di wajahnya perlahan menghilang.
"Karena aku sudah datang, jadi aku tidak akan pulang dengan tangan kosong," ucap dokter itu sambil menyeringai.
Seketika ia menerjang Damien.
Brak!
Keduanya kembali terlibat pertarungan sengit di dalam ruang ICU.
Dokter itu melayangkan pukulan bertubi-tubi, tetapi Damien berhasil menghindarinya satu per satu.
Saat lawannya kembali mengayunkan tangan, Damien menangkap lengannya, memutar tubuhnya, lalu melepaskan tendangan keras ke arah dadanya.
Buk!
"Akh!"
Tubuh dokter itu terpental beberapa meter ke belakang.
Brak.
Punggungnya menghantam pintu ruang ICU hingga pintu terbuka lebar.
Tubuhnya kembali terpental keluar dan terseret ke koridor.
Dokter itu mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya.
Belum sempat ia bangkit, suara langkah kaki berlarian memenuhi koridor.
Wesley, Andy, Joy, bersama belasan anggota kepolisian langsung mengepungnya dari segala arah.
Klik! Klik! Klik!
Belasan pistol serentak terarah kepadanya.
"Jangan bergerak!" bentak Wesley.
"Angkat kedua tanganmu!"
Dokter itu mengangkat kepalanya perlahan sambil tersenyum tipis.
Tatapannya menyapu satu per satu polisi yang mengepungnya.
Damien keluar dari ruang ICU dan berdiri beberapa langkah di belakang mereka.
"Kau sudah kalah!" ucap Damien dingin.
Pria itu tidak menjawab.
Ia hanya mengangkat kedua tangannya perlahan, sementara belasan laras pistol masih mengarah tepat ke tubuhnya.
"Kalian melakukannya dengan baik. Aku tidak menyangka bisa tertangkap secepat ini," ucap pria itu dengan santai.
Damien menatapnya dingin.
"Sembilan belas nyawa melayang di tanganmu. Apa membunuh sudah menjadi kebiasaanmu?"
Pria itu justru tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... mendengar teriakan dan tangisan mereka adalah hal yang paling menyenangkan."
Tatapannya beralih kepada Damien, Wesley, dan Kapten Wong.
"Aku juga tidak menyangka. Setelah kasus ini dialihkan kepada Tim A, kalian bisa menemukanku secepat ini. Bagaimana kalian melakukannya?"
Wesley melangkah maju.
Klik!
Ia memborgol kedua tangan pria itu ke belakang.
"Kalau ingin bicara, ikut kami ke kantor. Di sana kau akan menjawab semua pertanyaan."
Kapten Wong menatapnya tajam.
"Mulai saat ini, kau resmi menjadi tersangka atas pembunuhan sembilan belas korban."
Pria itu hanya tersenyum tipis.
"Lalu... bukankah sebagian besar anggota Tim A seharusnya sedang mengikuti rekanku? Kenapa kalian semua justru ada di sini?"
Kapten Wong menyilangkan kedua tangannya.
"Orang yang kau sandera bukan dokter sungguhan."
Senyum pria itu perlahan memudar.
"Dia anggota kami yang menyamar. Anak buahmu sudah ditangkap di tengah jalan."
Mata pria itu sedikit menyipit.
"Jadi... sejak awal aku yang sedang dijebak."
"Sekarang baru kau dasar? sayang sudah terlambat," ucap Damien.
***
Departemen Kepolisian.
Di dalam ruang interogasi.
Pria itu duduk dengan kedua tangan diborgol di atas meja.
Raut wajahnya tetap tenang, seolah penangkapannya bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Di hadapannya, Damien dan Wesley duduk sambil menatapnya tajam.
"Katakan namamu," ucap Wesley membuka interogasi.
Pria itu hanya tersenyum tipis.
"Bukankah kalian sudah menyelidikiku? Kenapa masih bertanya?"
Damien melemparkan sebuah map ke atas meja.
Brak!
"Sembilan belas korban tewas. Percobaan pembunuhan terhadap Detektif Evelyn Shen. Bukti yang kami miliki sudah cukup untuk menjeratmu."
Pria itu melirik isi map tersebut sekilas.
"Lalu?"
"Siapa yang memerintahkanmu?" tanya Wesley.
Pria itu tertawa pelan.
"Aku tidak bekerja untuk siapa pun."
Damien mencondongkan tubuhnya.
"Kalau begitu, apa motifmu membunuh sembilan belas orang dan berkali-kali mencoba membunuh Evelyn?"
Pria itu menatap Damien tanpa sedikit pun rasa takut.
"Aku hanya menyelesaikan pekerjaanku."
"Pekerjaan apa?" tanya Wesley.
Pria itu kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Pekerjaan yang aku suka."
Brak!
Hentakan keras terdengar saat Damien menghantam meja dan berdiri dari kursinya.
"Membunuh sembilan belas orang yang tidak bersalah, kau menganggapnya sebagai pekerjaan yang kau suka?" bentak Damien. "Apa kau sudah kehilangan rasa kemanusiaan?"
Pria itu hanya tersenyum santai.
"Jaksa Lu, mantan kekasihmu masih hidup. Untuk apa kau begitu marah?"
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Bagaimanapun, aku belum sempat menyentuhnya."
Ucapan itu membuat Damien terdiam.
Di ruangan pengawasan, Andy, Joy, dan Afei yang mendengar melalui kaca satu arah langsung saling menatap dengan bingung.
"Apa maksudnya?" tanya Andy.
Kapten Wong tetap menatap ruang interogasi.
"Kita dengarkan dulu."
Di dalam ruangan, Damien berjalan mendekati pria itu.
"Kau sudah mengetahui Evelyn sejak lama?" tanyanya dengan suara rendah.
Tangannya langsung mencengkeram kerah pria tersebut."Kau mengikutinya selama ini?"
Pria itu tidak terlihat takut.
"Jaksa Lu, aku mengetahuinya secara tidak sengaja."
Ia tersenyum mengejek.
"Mantan kekasihmu itu memang menarik perhatian. Seorang wanita cantik yang menjadi detektif... tentu saja mudah membuat orang tertarik."
Tatapan Damien semakin dingin.
"Diam."
Wesley berdiri dan membentak.
"Orang sepertimu tidak pantas menyebut namanya."
Damien semakin mengeratkan cengkeramannya pada kerah pria itu.
Pria tersebut mulai meringis menahan sakit, tetapi senyum di wajahnya belum menghilang.
"Katakan apa tujuanmu membunuh begitu banyak orang dan juga Evelyn menjadi targetmu!"