NovelToon NovelToon
Destiny

Destiny

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: Typ

Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Berkumpul

Sore hari sekitar pukul empat, Melani bertandang ke apartemen Aditya. Wanita itu secara langsung menjemput Laras. Langkah pelan Laras mendapat perhatian penuh dari Melani yang berjalan di belakang, garis bibirnya melengkung ke atas saat pikiran mulai menebak alasan. Langkah kecil akhirnya dimulai.

"Bagaimana keadaanmu Laras?" pertanyaan yang Melani sudah tahu jawabannya. Melihat kondisi Laras saat ini, kegiatan gadis itu pasti cukup menguras tenaga, wajah lelah serta tubuh yang masih terlihat lemas. Melani tahu Laras berusaha baik-baik saja, tapi Melani juga pernah menjadi pengantin baru.

Tentu Laras tidak akan pernah berkata sejujurnya. "Baik Ibu mertua."

"Selalu saja ibu mertua, panggil aku mami." Melani duduk di sofa tanpa diminta. Wanita itu menatap sekeliling apartemen yang selalu rapi.

Tidak ada bekas-bekas kehidupan seperti cangkir kotor di atas meja, atau sisa bungkus makanan. Pandangan Melani kemudian beralih ke arah Laras yang sedari tadi berdiri. Melani tersenyum, wanita itu tahu Laras masih sedikit canggung padanya.

"Siap-siap sana, kita ke rumah."

"Baik." Laras pergi ke kamarnya.

"Ah, siapkan baju ganti, kamu sama Aditya harus menginap di rumah malam ini." Suaranya sedikit keras. Laras tidak menjawab, dirinya sudah hilang dibalik pintu kamar.

Sembari menunggu, Melani mengambil ponsel kemudian mengambil foto dirinya sedang di apartemen, di kirim foto itu ke Aditya beserta pesan -Aku bawa Laras ke rumah, awas kalau gak mau nyusul!-

Pesan singkat dengan sedikit ancaman.

Melani tidak mengatakan apapun, wanita itu ingin memberi kejutan untuk Laras maupun Aditya. Meramaikan suasana, menjalin keakraban dengan keluarga besan.

Laras kembali dengan cepat, membawa totebag warna cream bertuliskan something yang tidak terlalu besar. Sebagai mertua yang baik, Melani beranjak. Mengambil alih beban yang dibawa Laras.

"Biar mami bantu."

Laras menahan totebag, tidak ingin merepotkan. Tapi Melani bersikeras. "Mami tau kamu lelah."

Sialan! Ucapan itu tepat sasaran. Laras menahan malu, tapi harus tetap bertahan. Dengan kikuk istri muda itu pergi bersama Melani, membiarkan mertuanya membawa tas.

Di mobil, Melani berkendara dengan kecepatan sedang. Kondisi jalan yang lenggang, membuat mobil melaju stabil. Laras beberapa kali melirik Melani, wanita paruh baya itu masih terlihat energik dan awet muda. Beda dengan ibunya dengan beberapa kerutan di wajah.

Melani bukan tidak tahu jika sedang diperhatikan, wanita itu hanya menahan diri dan fokus menyetir. Membiarkan Laras larut dalam pikirannya.

Lampu-lampu jalan mulai menyala, langit mulai kelabu sedikit jingga. Sunset sore ini tidak seindah biasanya, tapi cukup menarik perhatian Laras. Keindahan sore yang selalu di nikmati pada balkon apartemen kini dinikmatinya saat perjalanan menuju rumah mertua. Laras bahkan mulai menguap, matanya berat, pun dengan tubuh yang tidak bisa ditahan. Keinginan untuk tidur tidak bisa dipenuhi begitu Melani mengarahkan mobil melintasi gerbang tinggi, terparkir sembarangan di halaman rumahnya.

"Ayo turun, kau bisa istirahat di dalam." Melani tersenyum menatap menantunya. Matanya sudah sayu.

Melani membawa Laras ke kamar Aditya. Mendorong pelan menantunya masuk. "Anggap saja kamar sendiri... Tidur aja enggak papa, nanti kalau sudah waktunya makan, mami bangunin."

Pintu tertutup, Laras memandang sekeliling dengan singkat. Kamar Aditya sangat maskulin dengan cahaya remang-remang. Terlihat nyaman, apalagi saat matanya menatap ranjang dengan selimut tebal yang warnanya senada dengan sprei. Tebakannya terbukti saat Laras merebahkan diri ke ranjang. Jelas bukan ranjang murahan, tubuhnya langsung rileks begitu menyentuh kasur super lembut dan empuk. Mungkin mirip seperti tidur diatas puluhan kilo dakron, namun teksturnya seperti kapas.

Tidak butuh lama bagi Laras untuk tidur, karena di menit ke lima, dirinya sudah tenggelam di alam mimpi.

Waktu senja berlalu dengan cepat, Melani sudah menyelesaikan 80 persen persiapan acara kumpul-kumpul, wanita itu menatap lampu tumblr berwarna putih kekuningan yang dipasang memutari tembok halaman belakang serta melingkar di batang pohon. Alat pemanggang setinggi pinggang orang dewasa sudah siap dengan kipas angin di sampingnya. Cooler box berisi air mineral, jus jeruk serta minuman bersoda sudah siap di samping meja persegi panjang dengan beberapa kursi portable.

Daging marinasi, sosis, kentang serta jagung yang sudah dibumbui berjajar rapi dalam wadah penyimpanan.

Melani menunduk, mengatur rasio proyektor pada layar tripod 72 inch. Wanita itu sudah menyiapkan film keluarga yang cocok untuk di tonton selagi bakar-bakaran.

"Nyonya, Tuan sudah pulang dengan besan. Sepertinya mereka tiba bersamaan."

"Akhirnyaaa." Melani meninggalkan persiapan terlahir, bersiap menyambut keluarga besar.

"Saya akan bangunkan nona Laras." Bibi inisiatif.

"Tidak usah bi, biar Aditya saja yang bangunkan. Hihihi."

"Baik" bibi memandang Melani sejenak, wanita tua itu akhirnya melihat-lihat hasil kerja Melani sembari mengecek yang kurang, seperti tisu atau piring kecil, semua bibi siapkan sebelum wanita itu pulang.

Langkah kaki Melani menggema, wanita itu sedikit berlari. Sandal rumahan warna abu-abu sampai kuwalahan mengimbangi.

Dari jendela, Melani mengintip sejenak keadaan di luar. Aditama, Aditya dan keluarganya besannya sedang sibuk temu kangen. Melani menebak mereka sedang mengobrol acara yang telah disiapkan.

Sedetik kemudian Melani menarik gagang pintu, mengalihkan perhatian semuanya.

"Selamat malam semuanya, wah datengnya bisa barengan gini." Melani memasang senyum paling bahagia. Wanita itu menyalami tangan suaminya terlebih dahulu, kemudian Aditya menunggu di giliran ke dua.

"Istrimu menunggu dikamar," lirih Melani pada Aditya. Namun cukup membuat semua orang mendengar.

Aditya meringis malu, tapi tidak ragukan lagi, maminya tahu yang dirinya inginkan. "Aditya masuk dulu yaa, ibu mertua, pak.... "

Aditya melesat.

Tawa singkat mengawal kepergian Aditya. Harto tidak ambil pusing, pria itu masih dalam keadaan takjub. Rumah mewah Aditama mengalihkan perhatiannya, beberapa kali otaknya berpikir berapa biaya untuk membuat jendela dengan ukiran rumit, sepasang kursi santai dengan bahan kayu jati di pojok halaman rumah. Terletak di luar, tanpa atap, tidak peduli berapa banyak air hujan membasahi. Yang jelas jika kursi itu ada di rumah Harto, tentu perlakuannya akan berbeda.

Rara beberapa kali menyenggol lengan ayahnya, binar ketertarikan itu jelas membuat Rara malu. Ayahnya kali ini gagal menjaga wibawa.

"Bagaimana kabar kalian?" tanya Sari pada Melani dan Aditama.

"Baik, tapi sekarang jauh lebih baik. Iya kan, pa?" Melani melirik suaminya sejenak, melihatnya sampai mendapat anggukan tanda setuju.

"Eh, ayo masuk. Semua udah aku siapin lohh." Melani memberi sambutan paling ramah yang pernah ada. Walau bagaimanapun, wanita itu masih memiliki sedikit rasa bersalah atas kelakuan putranya dulu.

"Wah repot-repot sekali Mba Melani, saya tidak enak." Sari merasa perbedaan ekonomi yang begitu besar saat kakinya mulia melangkah masuk. Semua yang ada di rumah itu sukses membuatnya tidak enak. Apalagi keluarga besan yang begitu hangat menyambut.

Sari mulai berpikir mungkin Laras seharusnya beruntung memiliki mertua seperti Melani. Beruntung mendapat Aditya yang mencintainya, walau dengan jalan yang salah. Sari mulai berharap, Laras akan membuka hatinya untuk Aditya. Bukankah lebih baik dicintai daripada mencintai?

"Tidak perlu sungkan, kita keluarga. Ayo, malam ini kita makan-makan sepuasnya." Melani menarik lengan Rara. "Kamu cantik sekali malam ini nakkk, jangan sungkan yaa, anggap saja rumah sendiri."

Rara bersemu, pujian itu sukses membuatnya terbang. "Tante bisa aja ihh, tapi aku memang cantik sih. Kaya ibu Sari."

Sari membuang muka, godaan Rara membuatnya malu.

"Panggil mami dong..." Melani melirik Sari sesaat seperti meminta persetujuan. Begitu Sari tersenyum wanita itu mengelus rambut Rara. "Mami jadi pengen punya anak gadis."

"Kan udah ada kak Laras."

"Aditya sudah pulang. Anak itu pasti akan menempel terus pada Kakakmu."

"Nanti bagi waktu sama Ibu Sari ya, biar enggak cemburu." Rara oke-oke saja memiliki mami, semakin banyak ibu semakin banyak donatur.

Melani tertawa, sedangkan Sari memutar bola matanya, malas. "Kamu lucu banget Ra."

1
falea sezi
lanjut donk gmna hubungan nya dengan. bule nya😒
falea sezi
ajuin cerai laras😒 cowok. labil anjing amat dah
TSQ
Up nya 3 bab perhari kak
typ: hamba tidak sanggup ya mulia 😭
Terlalu berat untuk manusia pemalas seperti hamba.
total 1 replies
TSQ
Up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!