NovelToon NovelToon
Selenophile

Selenophile

Status: tamat
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Inagrafis

Rasanya sangat menyakitkan, menjadi saksi dari insiden tragis yang mencabut nyawa dari orang terkasih.

Menyaksikan dengan mata sendiri, bagaimana api itu melahap sosok yang begitu ia cintai. Hingga membuatnya terjebak dalam trauma selama bertahun-tahun.

Trauma itu kemudian memunculkan alter ego yang memiliki sifat berkebalikan. Kirana, gadis yang mencoba melawan traumanya, dan Chandra—bukan hanya alter ego biasa—dia adalah jiwa dari dimensi lain yang terjebak di tubuh Kirana karena insiden berdarah yang terjadi di dunia aslinya. Mereka saling berbagi raga yang sama dan saling menguatkan.

Hingga takdir membawa mereka pada kebenaran sejati—alasan di balik kondisi mereka saat ini.

Belenggu takdir itu memang telah lama mengincar keduanya. Menjadikan mereka harus menyelesaikan menghadapi takdir itu bersama untuk bisa kembali ke tempat mereka berasal. Kirana dengan dunianya, dan Chandra kembali ke dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inagrafis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sadara Sandyakala Dipta

Pagi ini, entah karena angin apa, Raja Aetherial tiba-tiba memanggil Arka untuk datang ke ruangannya. Arka segera memenuhi panggilan ayahnya tersebut, meninggalkan aktivitas paginya yang biasa.

Setibanya di depan pintu ruang audiensi yang megah, dua pengawal yang berjaga di sana segera membungkuk hormat dan membuka pintu besar berukir emas itu untuknya. Arka mengambil napas dalam-dalam, berusaha menenangkan degup jantungnya yang semakin cepat sebelum melangkah masuk.

Langkah kakinya yang mantap menggema di lantai marmer, memantul di antara ornamen keemasan dan dinding yang dipenuhi lukisan leluhur mereka. Ruangan itu terasa dengan sejarah dan kejayaan masa lalu, yang bisa dirasakan hingga saat ini.

Raja Yudhistira duduk di singgasana, wajahnya serius, menyiratkan keprihatinan yang mendalam. Arka bisa merasakan beban yang dipikul ayahnya hanya dari tatapan matanya. Ia melangkah mendekat dengan penuh hormat, lututnya menyentuh lantai dingin saat ia berlutut di depan ayahnya.

"Ayahanda memanggilku?" tanyanya dengan suara yang tenang, namun penuh rasa hormat.

Raja Yudhistira mengangguk, matanya menelusuri wajah putranya dengan tajam. "Ya, Arka. Aku ingin tahu, mengapa akhir-akhir ini kau terlihat sering pergi ke Langgar Suci. Apakah ada sesuatu yang menarik perhatianmu di sana?"

Arka menjawab dengan tenang, mencoba memberikan alasan yang masuk akal untuk memuaskan keingintahuan ayahnya. "Ayahanda, aku merasa bahwa Langgar Suci adalah tempat yang memberiku ketenangan. Aku sering pergi ke sana untuk merenung dan mencari kedamaian setiap kali pikiranku sedang kacau."

Raja Yudhistira menatap Arka dengan cermat, mencoba membaca setiap ekspresi di wajah putranya. "Apakah itu satu-satunya alasan, Arka? Atau mungkin, kau sedang menyembunyikan sesuatu di Langgar Suci?"

Meski terkejut, Arka mempertahankan ketenangannya. Dia tahu betul bahwa ayahnya bukanlah seseorang yang mudah dibohongi. Setiap gerak-geriknya harus dikendalikan dengan hati-hati. "Tentu saja tidak ada, Ayahanda. Kau yang paling tahu tentangku. Kau bisa datang langsung ke sana untuk melihatnya sendiri."

Raja Yudhistira merenung sejenak, matanya masih mengamati wajah Arka yang tetap tenang. Dalam keheningan yang terasa menyesakkan, Yudhistira bergumul dengan perasaannya sendiri. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia merasa sedih dan bersalah karena tidak bisa berbuat apa-apa setelah mendengar bahwa Kerajaan Arutala telah runtuh akibat pemberontakan. Ia tahu bahwa berita itu akan sangat menghancurkan hati putranya, mengingat Putri Mahkota Chandra, yang sangat dicintai oleh Arka, terlibat dalam pemberontakan tersebut.

Rasa bersalah memenuhi hati Raja Yudhistira karena merasa tidak dapat membantu apa pun saat mendengar bahwa Arutala telah mengalami kudeta. Apalagi kerajaan Arutala dan Aethrial terbilang memiliki hubungan yang begitu dekat seperti layaknya keluarga. Namun dalam politik kerajaan, Raja Yudhistira tidak bisa mementingkan keegoisannya semata. Dia tidak ingin menciptakan peperangan yang bisa memberikan dampak buruk dalam berbagai aspek kehidupan dan kesejahteraan rakyatnya. Oleh sebab itu, Raja Yudhistira tidak punya pilihan lain, selain menerima ajakan kerjasama yang ditawarkan oleh Wira, selaku raja yang berkuasa saat ini.

Yudhistira percaya dan sangat meyakini bahwa kejadian tragis itu akan menyisakan luka yang mendalam bagi putranya. Dengan kasih sayang yang dia miliki sebagai seorang ayah, Yudhistira mengalah pada egonya. Mungkin benar, dengan pergi ke Langgar Suci, perasaan putranya itu bisa menjadi lebih baik.

"Baiklah, Arka. Aku percaya pada niat baikmu. Namun, sebagai pangeran dan calon raja, kau harus selalu waspada terhadap setiap tindakanmu. Keseimbangan antara tanggung jawab dan keinginan pribadi harus selalu dijaga."

Arka menegakkan dirinya dengan penuh hormat, menatap ayahnya dengan mata yang bersinar oleh tekad. "Aku mengerti, Ayahanda. Aku akan selalu berusaha menjadi pangeran yang setia pada tugas dan tanggung jawabku."

Pertemuan itu berakhir. Arka membungkukkan sedikit kepalanya sebagai tanda penghormatan sebelum akhirnya mengundurkan diri dari hadapan Raja Yudhistira. Keluar dari ruangan ayahnya, Arka tampak mengembuskan napas kasar, melepaskan ketegangan yang menumpuk.

Sepertinya, Chandra tidak boleh dibiarkan berkeliaran seperti biasa, karena Raja Yudhistira pasti akan melakukan sesuatu untuk mengawasi Langgar Suci. Ini belum saatnya keberadaan Chandra diketahui. Meskipun demikian, dia bersyukur bisa memberikan alasan yang masuk akal untuk menyelamatkan Chandra yang bersembunyi di dalam Langgar saat ini. Sebelum terlambat, dia harus segera mengirimkan pesan pada Chandra mengenai masalah Raja Yudhistira yang memanggilnya hari ini.

***

Chandra merasa hatinya dipenuhi dengan kegembiraan ketika menerima surat yang dikirimkan oleh Arka. Senyumannya meluas ketika membuka gulungan surat itu, namun wajahnya mendadak serius saat membaca isi surat tersebut. Arka menjelaskan bahwa ayahnya, Raja Yudhistira, sudah mulai curiga karena sering melihat Arka keluar masuk dari Langgar Suci. Dalam suratnya, Arka memohon Chandra untuk berhati-hati dan tidak menarik perhatian. Arka sampai menyarankan pada Chandra untuk menggunakan cadar atau penutup wajah sebagai solusinya. Untuk bagian menggunakan cadar atau penutup wajah, Chandra agak tersenyum geli saat membacanya.

Chandra duduk di tepi jendela, pandangannya menyapu pemandangan luar. Dia selalu merasa hangat dan terlindungi di dalam Langgar Suci ini, namun kekhawatiran Arka membuat hatinya ikut gelisah. Dengan lembut, Chandra melipat surat itu kembali dan menyimpannya di dalam lemari kayu berukuran sedang. Meski situasinya berbahaya, seulas senyum manis tidak pernah luntur menghiasi wajahnya.

"Aku hanya harus mencari cara agar tidak menarik perhatian, bukan?" gumamnya pada diri sendiri. "Tapi aku tidak ingin kehilangan kebebasanku."

Chandra merenung sejenak tentang cara terbaik untuk mengikuti saran Arka tanpa harus mengorbankan kebebasannya. Sebagai seseorang yang pernah hidup dalam dua dunia yang berbeda, Chandra memiliki ide brilian. Dia ingat bahwa dalam kehidupan modern di dunia Kirana, ada teknologi cat rambut dan kontak lensa mata. Mengapa dia tidak mencoba menerapkan konsep tersebut di dunia ini? Namun, pertanyaan muncul di benaknya: di mana dia bisa mendapatkan hal semacam itu di dunia ini?

Ada satu nama yang melintas dalam pikiran Chandra saat ini. "Sepertinya, aku harus bertanya pada Empu Agung. Dia tahu segalanya. Mungkin, dia bisa membantuku dalam hal ini," bisik Chandra merasa sangat yakin.

Berbekal keyakinan itu, Chandra bangkit dari tempat duduknya. Dia merapikan pakaian dan keluar dari dalam kamarnya untuk segera menemui Empu Agung.

***

Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dan membuat hati berdebar-debar selain menantikan kehadiran kekasih tercinta di malam pertama pernikahan mereka. Pernikahan yang telah lama didambakan pada sosok yang begitu membuatnya jatuh cinta sedalam-dalamnya.

Wanita itu menatap ke luar jendela dengan senyum yang merekah, memandang rembulan yang memancarkan sinar lembut nan menenangkan. Perlahan, dia menyentuh dadanya, mencoba menenangkan degup jantung yang terus berdetak tak karuan.

Detik demi detik berlalu, namun yang dinanti tak kunjung datang, membuat wanita itu merasa cemas. Dia berusaha untuk tetap berpikir positif. "Mungkin ada urusan mendesak yang membuatnya terlambat," bisiknya meyakinkan diri sendiri.

Namun, semakin lama dia menunggu, kegelisahannya semakin membesar. Tak ingin bergantung pada ketidakpastian dan rasa khawatir, wanita itu memutuskan untuk meminta salah seorang dayang mencari tahu keberadaan suaminya saat ini.

"Tolong cari tahu di mana keberadaan Yang Mulia saat ini. Sampaikan kepadaku dengan segera," perintahnya dengan suara yang tenang.

"Baik, Yang Mulia," jawab dayang itu sambil menundukkan kepala dengan hormat sebelum melangkah pergi untuk melaksanakan perintah dari permaisuri.

Tak lama kemudian, dayang yang diberi perintah tadi kembali. Wajahnya tampak canggung saat melaporkan bahwa pengantian pria sudah berada di kamarnya dan sedang beristirahat. Mendengar penjelasan tersebut, perasaan cemas wanita itu berubah menjadi amarah yang meletup-letup.

"Beristirahat? Bagaimana mungkin dia bisa tidur saat malam pertama pernikahan kami?" serunya dengan suara gemetar.

Dengan kesal, dia membanting apa pun yang berada dalam jangkauannya, vas bunga, cermin, bahkan menarik tirai. "Apa ini caranya memperlakukanku sebagai seorang istri?" desisnya dengan nada tajam. Mata wanita itu berkilat-kilat penuh amarah dan kekecewaan, sementara dadanya naik turun menahan emosi.

Sadara Sandyakala Dipta, sudah menunggu malam ini sejak lama. Pernikahan dengan Wira merupakan bagian dari Impian terbesarnya. Tetapi, mengapa suaminya itu malah memperlakukannya seperti ini? Dengan kesal, Dara menyuruh seluruh dayangnya untuk pergi. ""Keluar! Tinggalkan aku sendiri!"

Begitu pintu tertutup dan tinggallah Dara sendirian di sana, tubuhnya merosot di depan pintu. Dia memeluk lututnya sendiri dan menangis dengan pilu. Malam pernikahan yang diimpikannya telah berubah menjadi malam yang penuh dengan kepahitan dan kesepian.

"Aku sudah mengorbankan banyak hal untukmu, Wira. Bahkan persahabatanku dengan Chandra. Aku sudah mengkhianatinya hanya karena aku ingin bersanding denganmu. Aku membuatmu naik ke singgasana, tapi engkau mengabaikanku?"

Tidak ada jalan untuk bisa kembali. Dia harus menerima konsekuensi atas perbuatan yang sudah dia pilih. Menyesal pun tidak ada gunanya lagi. Bahkan jika kembali ke masa lalu, dia akan terus dibutakan oleh cintanya, dan berharap Wira akan membalas perasaan serta pengorbanannya, hingga berhasil membuat pria itu bisa naik di atas singgasana berlapis emas.

Untuk mencapai suatu kekuatan diplomasi, beberapa Kerajaan biasanya melangsungkan pernikahan politik dengan aliansi atau sekutu yang memiliki pengaruh dan kekuatan besar yang setara. Setelah menimbang-nimbang cukup lama, pilihan Wira jatuh pada Dara. Dara adalah gadis malang yang terjerat oleh obsesi dan kekejaman ayahnya yang haus akan kekuasaan. Ayahnya adalah seorang menteri perdagangan yang juga terlibat dalam kudeta, melengserkan raja terdahulu.

Saat ayahnya menawarkan Dara untuk menikah dengan Wira, Dara menerimanya tanpa berpikir panjang. Dia tidak peduli pada gelar permaisuri, kekuasaan maupun harta yang bergelimang, yang ada dalam benaknya hanyalah bisa menjadi istri dari seseorang yang dia cintai. Sementara itu, Menteri Bayanaka memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadikan putrinya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi.

Di kamarnya yang megah namun terasa dingin, Dara terus menangis. Hatinya hancur berkeping-keping, merasakan kekosongan yang menyiksa. Malam pertama pernikahannya telah berubah menjadi malam yang penuh dengan kesedihan dan penyesalan. Dia menatap cermin di depannya, melihat bayangan dirinya yang kacau karena banyak menangis, kemudian berbisik dengan lirih, "Apa yang telah aku lakukan?"

Bersambung

Kamis, 16 Oktober 2025

1
Iin Wahyuni
kok cpt bnget tamatnya thor,nggk ad cerita lanjutan kirana nya💪
Ismi Muthmainnah: Nanti bakal ada season 2 ya kak. Masih digarap hehe. Do'akan semoga cepat terealisasikan dan diupload😍
total 1 replies
Ismi Muthmainnah
Aamiin. Terima kasih atas doanga kak😇
Zeepree 1994
semangat ka othor.. semoga sakitnya cepet sembuh dan segala kesusahan cepat berlalu
Zeepree 1994
bagus ceritanya makin bikin penasaran, semangat ka author semoga rame yang mampir baca
Ismi Muthmainnah: Aamiin. Terima kasihhh💐
total 1 replies
Zeepree 1994
assalamualaikum ka othor semoga sukses ya ceritanya, aku izin baca ya Thor
Ismi Muthmainnah: Wa’alaikumussalaam. Terima kasih sudah tertarik buat baca dan kasih like juga😇 Aamiin, semoga ceritanya menghibur yaa🌹
total 1 replies
MARQUES
lanjutkan terus thor nulis novelnya kalau bisa bikin novel romansa fantasi aja terus tapi bikin nagih dan MC cewenya ga gampang luluh sama cowo🙏😄
Ismi Muthmainnah: Iya nih kak😂😭😭 Makasih banget yaa udah kasih masukan. Lumayan juga menurutku fantasi bangun wordbuldingnya
total 3 replies
Ismi Muthmainnah
Ini cerita pertama aku setelah hiatus lama. Selamat menikmati bagi yang suka cerita fantasi transmigrasi, tapi halal🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!